Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: RUTINITAS PERTAMA ASISTEN PRIBADI
Dua hari pascapenanganan darurat di rumah sakit, kondisi Clara berangsur membaik. Walau lingkaran hitam masih bersembunyi tipis di bawah kelopak matanya akibat anemia kronis, ia sudah diperbolehkan pulang ke kediaman Arsen.
Namun, kepulangannya kali ini menandai babak baru. Janji di atas kertas pelunasan utang kini membelenggu kebebasannya sepenuhnya.
Pukul lima pagi. Udara di luar kediaman megah itu masih diselimuti kabut tipis dan hawa dingin yang menusuk tulang. Clara menggosok kedua telapak tangannya yang gemetar, menahan gigil saat melangkah menyusuri koridor lantai dua. Ia mengenakan pakaian pelayan bernuansa hitam-putih yang sangat rapi dan pas di tubuhnya yang ramping.
Ketuk tiga kali, masuk tanpa suara, siapkan seragam dan teh herbal hangat sebelum Tuan Muda terbangun.
Begitu instruksi ketat dari Bi Inah yang terus berdengung di kepalanya.
Dengan napas tertahan, Clara memutar gagang pintu kamar utama milik Arsen. Ruangan itu bernuansa gelap, beraroma kayu cendana dan sedikit campuran minyak cengkeh. Di atas ranjang besar berukuran king-size, Arsen masih terlelap. Wajahnya saat tidur tampak begitu tenang—sangat berbeda dari raut dingin, tajam, dan intimidatif yang selalu ditunjukkannya setiap hari.
Clara melangkah sepelan mungkin mendekati lemari kayu mahoni rapi di sudut ruangan. Ia mengambil kemeja putih bersetrika halus, jas sekolah ber-emblem SMA Garuda Bangsa, serta dasi hitam. Setelah menata pakaian tersebut di atas sofa, Clara menyiapkan cangkir porselen berisi teh chamomile hangat tanpa gula di atas meja samping tempat tidur.
Saat Clara hendak melangkah mundur, sebuah suara berat dan serak khas orang bangun tidur menghentikan langkahnya.
"Siapa yang menyuruhmu bergerak tanpa suara seperti hantu?"
Clara terlonjak kecil. Arsen sudah membuka matanya. Manik matanya yang pekat dan tajam langsung mengunci Clara.
"M-maaf, Arsen. Aku cuma menyiapkan seragam dan teh hangat untukmu," cicit Clara menundukkan kepala.
Arsen mendudukkan tubuhnya yang bertelanjang dada, memperlihatkan bahu tegap dan garis otot perutnya yang terbentuk sempurna. Ia mengusap wajahnya sebentar sebelum melirik cangkir teh di meja.
"Suhu tehnya harus pas. Tidak boleh terlalu panas hingga merusak rasa, dan tidak boleh dingin," cetus Arsen dingin. Ia menyesap teh buatan Clara sedikit, lalu mengangguk tipis—tanda bahwa racikan Clara memenuhi standar ketatnya. "Alergimu... sudah benar-benar pulih?"
"Sudah jauh lebih baik. Terima kasih atas perhatianmu," jawab Clara jujur.
Arsen terkekeh pelan, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Jangan percaya diri. Aku tidak peduli padamu. Aku cuma tidak mau asisten pribadiku pingsan atau mati di hari pertamanya bekerja."
Arsen bangkit dari ranjang, berjalan melintas tepat di depan Clara menuju kamar mandi tanpa canggung sedikit pun. "Tunggu di sini. Rapikan tempat tidurku dan siapkan tas sekolahku."
Clara menghela napas pasrah, lalu mulai merapikan sprei dan bantal ranjang Arsen. Di balik rasa tertekan oleh sifat angkuh Arsen, ada rasa lega tersendiri—sekurangnya, tempat ini memberinya atap yang layak dan makanan bergizi, hal yang tidak pernah ia dapatkan sejak ibunya meninggal dunia.
Siang harinya di SMA Garuda Bangsa, berita kepulangan Clara dari rumah sakit dengan cepat menyebar. Saat jam istirahat, Clara yang bertugas membawa buku-buku catatan milik Arsen ke perpustakaan mendadak dicegat di lorong sepi dekat laboratorium biologi.
Dion berdiri di sana dengan raut wajah gusar dan mata yang memerah.
"Clara!" Dion menahan lengan Clara dengan raut penuh ketakutan. "Aku cari kamu ke mana-mana! Kamu beneran gapapa? Kemarin di rumah sakit Arsen nggak bolehin aku masuk ruanganmu sama sekali!"
Clara buru-buru menarik tangannya, melirik ke sekeliling lorong dengan cemas. "Dion, tolong jangan begini. Nanti ada yang lihat..."
"Kenapa kalau ada yang lihat?!" suara Dion meninggi, bercampur emosi dan rasa frustrasi. "Clara, aku kemarin nekat datang ke kota asal kita! Aku datang ke kontrakan lamamu dan nanya ke tetangga-tetangga!"
Langkah Clara terhenti seketika. "Kamu... ke kontrakan lama?"
"Iya! Dan aku tahu semuanya, Clara!" tegas Dion seraya mencengkeram kedua bahu Clara pelan. "Orang-orang bilang utang almarhumah ibumu puluhan juta melayang gitu aja karena ada orang kaya dari Jakarta yang melunasi semuanya! Dan orang itu Arsen, kan?!"
Mata Clara bergetar. "Dion, stop—"
"Kenapa kamu harus jual diri kamu jadi pembantu pribadi cowok berbahaya kayak Arsen, Clara?!" bentak Dion tak tahan lagi. "Kamu tahu rumor soal Arsen di sekolah ini? Dia itu dingin, kejam, dan nggak punya empati! Kenapa kamu harus ketergantungan sama dia?!"
"Karena aku tidak punya pilihan lain, Dion!" potong Clara dengan suara gemetar, mata cokelatnya berkaca-kaca menatap Dion. "Ibuku meninggal! Aku tidak punya uang sama sekali! Rentenir itu hampir memperkosaku kalau Arsen tidak datang malam itu! Kamu mau aku gimana?! Mati kelaparan di jalanan?!"
Dion membeku. Kalimat tajam dari Clara menghantam dadanya dengan telak.
"Arsen melunasi utang ibuku," lanjut Clara dengan suara bergetar namun penuh ketegasan. "Sebagai gantinya, aku bekerja padanya. Ini hidupku, Dion. Tolong... jangan campuri urusanku lagi kalau kamu tidak mau diseret ke dalam bahaya oleh Arsen."
Clara membalikkan badan, berjalan cepat meninggalkan Dion yang terpaku seribu bahasa di lorong sepi itu.
Namun, dari balik dinding sudut laboratorium, sebuah bayangan tinggi berdiri diam. Arsen menyandarkan punggungnya di sana, mendengar setiap patah kata konfrontasi tersebut. Jemari Arsen yang mengetuk-ngetuk dinding terhenti, matanya berkilat tajam dalam kegelapan.