Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kesepakatan di Bawah Bayang-Bayang
Malam di ibu kota kekaisaran selalu menyimpan dua sisi. Di satu sisi, lampu-lampu kristal dari aula pesta para bangsawan berpendar megah, memamerkan kekayaan dan kemunafikan. Di sisi lain, kegelapan pekat merayap di gang-gang sempit dan sudut kastil tua, tempat di mana konspirasi berdarah dirajut.
Elena berdiri di dekat jendela besar kamar penginapannya yang tersembunyi. Gaun sutra berwarna biru safir yang ia kenakan tampak kontras dengan kulitnya yang pucat. Tangannya mencengkeram erat pinggiran langkan kayu. Tatapannya kosong, menembus kegelapan malam, namun pikirannya berputar hebat menembus sekat waktu.
Tiga tahun.
Itu adalah sisa waktu yang ia miliki sebelum pernikahan terkutuk dengan Gavin terjadi. Di kehidupan pertamanya, malam seperti ini biasanya ia habiskan untuk menyulam saputangan bertabur benang emas untuk Gavin, atau memeriksa laporan keuangan wilayah keluarganya demi menyokong ambisi pria itu. Elena mengingat betul bagaimana ia dengan naifnya percaya bahwa keringat dan pengorbanannya adalah wujud cinta yang suci.
Sebuah senyuman dingin, sarat akan kepahitan, terukir di bibirnya yang kemerahan. "Betapa bodohnya aku dulu," bisiknya lirih. Suaranya tenggelam oleh desau angin malam.
Bayangan mengerikan itu kembali terlintas tanpa bisa dicegah. Bau gosong kulitnya yang terbakar di sel bawah tanah, jeritan melengking putra kecilnya yang dibantai tanpa ampun di depan matanya sendiri, dan tawa kemenangan adik tirinya, Misha, yang bersandar mesra di dada Gavin. Setiap jengkal ingatan itu bukanlah mimpi buruk, melainkan bahan bakar yang mengobarkan api dendam di dalam dadanya. Api yang tidak akan pernah padam sebelum ia menyeret mereka semua ke neraka paling dalam.
Ketukan pelan namun tegas di pintu membuyarkan lamunan Elena.
"Masuk," ucap Elena tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Langkah kaki yang teratur dan berat itu hanya milik satu orang di kekaisaran ini.
Pintu terbuka, dan hawa dingin seketika merangsek masuk ke dalam ruangan. Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti, pria yang dirumorkan tak memiliki hati nurani—melangkah maju. Jubah hitamnya berkibar pelan, menyembunyikan siluet tubuhnya yang tegap dan tinggi. Sepasang mata merah pekat miliknya langsung tertuju pada Elena, tajam bak mata elang yang mengunci mangsa.
"Kau terlambat sepuluh menit, Duke," ujar Elena, berbalik untuk menghadap sang penguasa wilayah utara tersebut.
Killian tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju kursi beludru di sudut ruangan dan duduk dengan gestur yang sangat elegan namun dominan. Aura intimidasi yang memancar darinya begitu kuat, tipe aura yang akan membuat bangsawan biasa berlutut ketakutan seketika. Namun, Elena tetap berdiri tegak. Di kehidupan ini, rasa takutnya telah mati bersama jasadnya di sel bawah tanah.
"Ada sedikit tikus yang mencoba menghalangi jalan saya di koridor bawah, Nona Elena," jawab Killian datar. Nada suaranya rendah dan serak, mengirimkan sensasi dingin yang ganjil. "Tapi jangan khawatir. Tikus-tikus itu sudah dibersihkan secara permanen."
Elena tahu persis apa arti 'dibersihkan' bagi seorang Killian. Pria ini tidak pernah membiarkan musuhnya bernapas dua kali. Justru karena kekejamannya itulah, Elena memilihnya. Hanya iblis yang bisa menghancurkan iblis lainnya.
"Baguslah. Saya tidak suka sekutu yang membiarkan rahasianya bocor karena kelalaian kecil," balas Elena sembari berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berseberangan dengan Killian. Meja kayu kecil berlapis marmer memisahkan mereka berdua.
Killian mencondongkan tubuhnya ke depan. Sepasang mata merahnya menyipit, mengamati setiap jengkal ekspresi di wajah Elena. "Saya masih penasaran, Nona Muda dari Keluarga Marquess. Seorang wanita yang dikenal lemah lembut, naif, dan begitu memuja Gavin... tiba-tiba datang ke kediaman saya tengah malam, membawa informasi rahasia pergerakan militer perbatasan, dan menawarkan aliansi untuk menjatuhkan suaminya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi pada Anda?"
Pertanyaan itu adalah ujian. Elena tahu Killian bukanlah pria yang mudah percaya. Pria ini dikelilingi oleh pengkhianatan sepanjang hidupnya, menjadikannya makhluk paling waspada di kekaisaran.
Elena menatap lurus ke dalam manik mata Killian. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan. Hanya ada kekosongan yang dipenuhi oleh kebencian yang mendalam. "Gavin bukan suami saya, setidaknya belum. Dan dia tidak akan pernah menjadi pemilik sah dari pengaruh keluarga saya lagi. Mengenai alasan saya... anggap saja saya telah melihat akhir dari dunia ini jika pria itu naik takhta, dan saya menolak untuk menjadi korbannya."
"Jawaban yang abstrak," dengus Killian pelan. "Namun, informasi yang Anda berikan tentang penyelundupan senjata di pelabuhan selatan terbukti akurat. Gavin kehilangan salah satu jalur pendanaan utamanya malam ini berkat informasi Anda."
Elena tersenyum tipis. Tentu saja akurat. Di kehidupan lalu, Gavin menghabiskan waktu berbulan-bulan merencanakan penyelundupan itu, dan Elena sendiri yang membantu memalsukan dokumen bea cukai dengan menggunakan stempel keluarganya. Ironisnya, kini pengetahuan itu ia gunakan untuk memotong kaki-kaki penyokong Gavin sebelum pria itu sempat melangkah jauh.
"Itu baru permulaan, Duke," kata Elena, suaranya melembut namun terdengar sangat berbahaya. "Gavin adalah ular yang cerdik. Dia menyembunyikan taringnya di balik senyuman yang menawan. Saat ini, dia sedang mendekati ayah saya untuk meminta bantuan dana guna memulihkan reputasinya di mata kaisar setelah insiden pelabuhan."
"Dan apa rencana Anda? Menghasut Marquess untuk menolaknya?" tanya Killian, menopang dagunya dengan tangan yang terbalut sarung tangan kulit hitam.
"Tidak," jawab Elena cepat. "Jika ayah saya menolaknya sekarang secara mentah-mentah, Gavin akan mencari sekutu lain yang mungkin lebih sulit saya lacak. Saya ingin dia tetap merasa bahwa dia memiliki kendali. Saya akan membiarkan ayah saya memberikan dana itu... namun dengan syarat yang akan mencekik leher Gavin secara perlahan."
Killian menaikkan satu alisnya, mulai tertarik dengan jalan pikiran wanita di hadapannya. "Jelaskan."
"Saya akan mengatur agar dana bantuan itu diberikan dalam bentuk kontrak pinjaman bersyarat besi dengan jaminan seluruh aset pribadi yang dimiliki Gavin di wilayah barat. Aset yang ia dapatkan dari hasil memeras para petani lokal secara ilegal," papar Elena. "Gavin sangat percaya diri bahwa proyek tambang barunya di wilayah timur akan berhasil dalam dua bulan ke depan, sehingga dia tidak akan ragu menandatanganinya. Dia berpikir dia bisa melunasi pinjaman itu dengan mudah."
"Namun, tambang di wilayah timur itu akan runtuh," potong Killian, matanya berkilat paham.
"Tepat sekali. Dua minggu dari sekarang, hujan badai ekstrem akan melanda wilayah timur, memicu tanah longsor yang akan menimbun seluruh area pertambangan itu. Struktur tanah di sana sangat labil, sesuatu yang belum sempat disadari oleh para ahli sewaan Gavin," jelas Elena. Tentu saja, ia mengetahui fenomena alam ini karena di kehidupan lalu, runtuhnya tambang tersebut adalah bencana besar yang membuat Gavin frustrasi, dan Elena-lah yang mengorbankan tabungan pribadinya untuk menutupi kerugian pria itu. Kali ini, Elena akan memastikan kerugian itu tetap menjadi milik Gavin seutuhnya.
Killian terdiam sejenak. Informasi mengenai cuaca dan struktur tanah sedetail itu adalah sesuatu yang bahkan jaringan intelijen terbaiknya pun belum bisa konfirmasikan. Siapa sebenarnya Elena ini? Apakah dia seorang peramal? Ataukah dia memiliki mata-mata tersembunyi yang jauh lebih hebat dari siapa pun? Namun, apa pun jawabannya, Killian tidak peduli selama keuntungan berada di pihaknya.
"Jika tambang itu runtuh, Gavin akan gagal membayar pinjaman tepat waktu. Dan asetnya di wilayah barat akan jatuh ke tangan Keluarga Marquess," Killian menyimpulkan dengan nada puas. "Rencana yang bersih. Anda memotong keuangan dan merampas wilayah kekuasaannya sekaligus."
"Dan di sinilah peran Anda masuk, Duke Killian," Elena memajukan posisinya, menatap Killian dengan intensitas tinggi. "Saat Gavin berada di titik terendahnya, dia pasti akan mencari perlindungan dari faksi Pangeran Kedua. Saya ingin Anda menekan Pangeran Kedua agar menutup pintu bagi Gavin. Biarkan ular itu terpojok tanpa tempat bersembunyi."
Killian bersandar kembali ke kursinya, mengetukkan jarinya di atas meja dengan irama yang lambat. "Saya bisa melakukan itu dengan mudah. Pangeran Kedua berutang banyak nyawa pada saya di medan perang utara. Dia tidak akan berani menolak permintaan saya demi seorang bangsawan rendahan seperti Gavin. Namun, Nona Elena... aliansi adalah bisnis yang adil. Apa yang akan saya dapatkan dari semua ini? Informasi cuaca dan kehancuran Gavin tidak cukup untuk menggerakkan seluruh pengaruh saya."
Elena sudah menduga pertanyaan ini. Killian adalah seorang tirani; dia tidak bertindak atas dasar belas kasihan atau keadilan. Dia bertindak berdasarkan keuntungan materi dan kekuasaan.
Elena mengambil sebuah gulungan perkamen kecil yang sejak tadi tersembunyi di dalam lipatan gaunnya, lalu meletakkannya di atas meja, mendorongnya perlahan ke arah Killian.
"Ini adalah peta jalur rahasia melintasi Pegunungan Kaukas," kata Elena.