Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
****
Matahari siang merambat makin tinggi di atas langit Jakarta, memancarkan silau terik yang menembus lorong-lorong kaca Fakultas Hukum. Setelah menyelesaikan obrolan ringan di gazebo kantin, Lyn dan Clara melangkah menyusuri koridor utama menuju perpustakaan pusat untuk mengambil buku referensi kuliah.
"Aduh, Lyn, tunggu sebentar ya! Perutku mendadak mulas, kebanyakan makan sambal bakso tadi," puji Clara seraya meringis memegangi perutnya. Ia menunjuk toilet mahasiswa di ujung koridor. "Kamu tunggu di sini sebentar, jangan ke mana-mana, oke?"
Lyn tertawa pelan seraya menggelengkan kepala. "Iya, Clara. Aku tunggu di dekat bangku taman ini."
Begitu sosok Clara menghilang di balik pintu toilet, Lyn menyandarkan tubuhnya pada dinding koridor yang dingin. Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan sisa-sisa gejolak emosi setelah menghadiri seminar Wiliam pagi tadi. Namun, ketenangan sesaat itu mendadak sirna ketika derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat ke arahnya.
"Lyn!"
Sebuah suara pria bernada mendesak memecah keheningan koridor. Lyn menoleh, dan seketika seluruh persendian tubuhnya menegang kaku.
Rian—mantan kekasihnya yang merupakan seorang pengusaha muda—berdiri hanya berjarak dua meter darinya. Di samping pria itu, berdiri sosok wanita yang sama dengan yang dilihat Lyn di pelataran parkir pagi tadi: wanita selingkuhan Rian yang mengenakan pakaian serba ketat dengan tatapan sinis nan angkuh.
"Rian... mau apa kamu ke sini?" bisik Lyn dingin, melangkah mundur satu tapak seraya meremas tali tas ranselnya.
"Lyn, tolong dengarkan aku dulu! Aku mohon!" Rian melangkah maju dengan raut wajah yang penuh penyesalan semu. Pria itu tanpa ragu mengulurkan tangan, langsung mencengkeram pergelangan tangan halus Lyn dengan erat. "Aku tahu aku salah, Lyn! Tapi hubungan kita dulu... kita bisa memperbaikinya! Aku masih mencintaimu!"
"Lepaskan tanganku, Rian!" jerit Lyn panik, berusaha menarik tangannya kembali namun cengkeraman Rian terlalu kuat. "Jangan sentuh aku! Kita sudah selesai sejak kamu berselingkuh!"
Wanita di samping Rian bersedekap dada, melipat bibirnya dengan senyum meremehkan. "Duh, Rian, kenapa sih kamu harus mengemis-ngemis pada cewek ini? Dia kan cuma cewek manja yang sok suci! Lagipula perusahaannmu sedang berkembang, kamu tidak butuh cewek seperti dia!"
"Diam kamu, Siska! Ini urusanku dengan Lyn!" bentak Rian pada wanita itu, lalu kembali menatap Lyn dengan mata memohon. "Lyn, tolong beri aku kesempatan kedua... aku menyesal, Lyn!"
"Aku bilang lepaskan!" pekik Lyn, air mata panik dan kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. Sensasi sentuhan pria lain di kulitnya mendadak memicu rasa takut luar biasa—membayangkan bagaimana reaksi Wiliam jika mengetahui ada pria lain yang berani menyentuh miliknya secara paksa seperti ini.
"WOII! KAN DENGAR TIDAK?! LEPASKAN TANGAN SAHABATKU!"
Sebuah teriakan lantang berwibawa memotong perdebatan itu.
Clara muncul dari balik lorong dengan langkah cepat dan wajah yang memerah padam oleh amarah. Tanpa ragu sedikit pun, Clara berlari mendekat dan langsung pasang badan di depan Lyn. Dengan sentakan kasar dan bertenaga, Clara menepis cengkeraman tangan Rian dari pergelangan tangan Lyn, lalu mendorong dada pria itu hingga Rian terhuyung mundur beberapa langkah.
"Clara...!" desah Lyn kaget sekaligus lega luar biasa.
Clara berdiri tegak bagaikan benteng kokoh di depan Lyn, merentangkan sebelah tangannya untuk melindungi sahabatnya di belakang tubuhnya. Matanya menatap Rian dan Siska dengan tatapan tajam membunuh.
"Pria brengsek tidak tahu malu!" bentak Clara penuh penekanan, suaranya menggema di sepanjang koridor sepi. "Sudah berselingkuh, masih berani menunjukkan muka tidak tahu dirimu di depan Lyn?! Kamu pikir Lyn cewek murahan yang bisa kamu permainkan sesuka hatimu, hmmm?!"
Rian meringis memegangi dadanya, mencoba mengatur napasnya yang tidak teratur. "Clara, ini urusan pribadiku dengan Lyn! Kamu tidak usah ikut campur!"
"Urusan Lyn adalah urusanku juga!" potong Clara tajam tanpa memberi ruang sanggah sedikit pun. "Lyn ini sahabatku! Sekali lagi kamu berani menyentuh atau mendekati dia di kampus ini, aku pastikan kamu dan wanita tidak jelas di sampingmu itu tidak akan pernah bisa melangkah ke area ini lagi! Kamu lupa siapa keluargaku, Rian?!"
Mendengar ancaman tegas mengenai kekuasaan keluarga Wiliam, wajah Rian seketika pucat pasi. Ia menelan ludah kasar, mengingat kembali gertakan dan ancaman dingin yang pernah disampaikan oleh Wiliam secara pribadi saat berada di villa Italia tempo hari.
Siska yang tadinya berlagak angkuh pun mendadak mati kotor, menarik lengan Rian dengan ketakutan. "R-Rian... ayo pergi saja! Jangan cari masalah dengan dia..."
Rian menatap Lyn yang berada di balik perlindungan Clara dengan tatapan pasrah dan penuh kekecewaan, sebelum akhirnya berbalik melangkah pergi meninggalkan koridor bersama selingkuhannya dengan terburu-buru.
Setelah kedua orang itu benar-benar menghilang di balik belokan lorong, Clara menghembuskan napas panjang, lalu berbalik menghadapi Lyn.
"Kamu tidak apa-apa kan, Lyn? Ada yang sakit?" tanya Clara penuh nada cemas seraya memegangi kedua bahu Lyn, memeriksa pergelangan tangan sahabatnya yang sempat memerah akibat cengkeraman Rian.
Lyn mematung. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes deras membasahi pipinya. Namun kali ini, bukan air mata ketakutan, melainkan kombinasi rasa terharu yang mendalam dan gumpalan rasa bersalah yang teramat pekat menyiksa dadanya.
Clara—sahabat terbaiknya yang berdiri begitu berani menjadi benteng pelindung baginya dari pria jahat—sama sekali tidak tahu bahwa di belakang punggungnya, Lyn telah menyerahkan jiwa dan raganya pada Wiliam, ayah kandung Clara sendiri.
"C-Clara... hiks... terima kasih..." bisik Lyn serak, suaranya tercekat di tenggorokan.
Tanpa berpikir panjang, Lyn langsung merengkuh tubuh Clara, memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat. Dahi Lyn bersandar pada bahu Clara, menangis sesenggukan meluapkan seluruh pergolakan emosi yang menghimpit jiwanya.
"Duh, Lyn, kenapa malah menangis?" ujar Clara lembut, membalas pelukan Lyn seraya mengusap-usap punggung sahabatnya dengan penuh kasih sayang. "Sudah, jangan menangis lagi... Si brengsek itu tidak akan berani mengganggumu lagi. Selama ada aku di sini, tidak akan ada seorang pun yang boleh menyakitimu atau membuatmu menangis, oke?"
"Maafkan aku, Clara... hiks... maafkan aku..." rintih Lyn lirih di balik bahu Clara, kalimat yang mengandung makna mendalam yang tak mungkin bisa ia jelaskan pada sahabatnya.
"Kenapa harus minta maaf, sih? Kamu tidak salah apa-apa, Lyn," jawab Clara terkekeh pelan seraya melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipi Lyn. "Kamu itu terlalu baik dan polos, makanya pria-pria seperti Rian suka memanfaatkanmu. Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, bilang padaku!"
Lyn mengangguk pelan secara pasrah, mengulas senyum tipis yang dipaksakan di tengah derai air matanya. "Iya... terima kasih banyak ya, Clara..."
Sementara itu, di sudut koridor atas yang berseberangan dengan lokasi kejadian, berdiri dua orang pengawal pribadi berbusana serba hitam yang ditugaskan secara rahasia oleh Wiliam. Salah satu dari mereka memegang ponsel yang terhubung langsung dalam saluran panggilan privat.
"Tuan Wiliam," panggil pengawal itu dengan nada suara yang teramat hormat dan berbisik. "Rian baru saja mencoba menghadang dan menyentuh tangan Nona Evelyn di lorong fakultas. Pria itu mengabaikan peringatan yang Anda berikan saat di Italia."
Di dalam ruang kerja lantai teratas gedung pencakar langitnya di pusat kota, Wiliam yang sedang duduk di kursi kebesarannya seketika menghentikan jemarinya yang sedang mengetik di atas meja.
Aroma dingin dan kejam seketika membakar mata sehitam jelaga milik pria paruh baya itu. Rahangnya mengeras kaku, dan aura dominasi yang mematikan merebak di seluruh ruang kerjanya. Pria itu menekan tombol intercom di mejanya untuk memanggil asisten pribadinya.
"Marco," suara berat dan dingin Wiliam menggelegar tenang—sebuah nada suara yang mengisyaratkan kehancuran mutlak bagi siapa pun yang berani mengusik milik pribadinya. "Rian ternyata tidak mengindahkan peringatan yang kuberikan padanya di villa Italia."
"Baik, Tuan Wiliam. Apa perintah Anda?" sahut Marco dari seberang saluran dengan patuh.
Wiliam menyunggingkan senyum dingin yang sangat tipis namun mengerikan di sudut bibirnya. Pria tua itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mahal, mengusap rahang tegasnya dengan jemari tangan yang besar dan kuat.
"Batalkan seluruh kontrak kerja sama, suntikan dana, dan akuisisi aset perusahaannya sebelum hari ini berakhir. Pastikan bisnisnya hancur tanpa sisa," perintah Wiliam mutlak tanpa memberi ruang ampun sedikit pun. "Dan pastikan malam ini... Evelyn berada di dalam kamar apartemennya saat aku datang."
Bersambung.....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻