Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: TARI-MANIS DI ATAS KRISTAL DINGIN
BAB 21: TARI-MANIS DI ATAS KRISTAL DINGIN
Denting sirine darurat yang meraung dari langit-langit Grand Ballroom kapal pesiar MS Royal Sovereign memantul kasar pada dinding-dinding kaca berukir. Udara di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat padat dan menggigit. Setiap hembusan napas yang keluar dari mulut Reno Devano dan dr. Sara Maheswari langsung berubah menjadi kabut putih tebal yang membeku cepat di udara.
dr. Julian Vance berdiri tegak di atas panggung beludru merah, memutar tongkat perak bertakhtakan kristal biru raksasa dengan kelenturan jemari yang sangat presisi gerakan khas seorang ahli bedah saraf tingkat tinggi yang terbiasa mengendalikan instrumen hidup dan mati.
"Tiga ratus penumpang di ruangan ini adalah para elit dunia, Detektif," kata dr. Julian dengan nada suara yang begitu lembut, hampir bagaikan bisikan lagu pengantar tidur, namun memancarkan kejam yang tak bertepi.
"Tubuh mereka berada dalam fase krio-stasis buatan. Pembuluh darah mereka diisi oleh mikroskopis larutan krio-toksin. Jika suhu ruangan ini turun dua derajat lagi dalam waktu sepuluh menit, kristal-kristal es itu akan membesar dan merobek dinding sel jantung mereka secara serentak dari dalam."
"Kamu tidak akan pernah dibiarkan menyelesaikan kegilaan ini, Vance!" pangkas dr. Sara dengan nada tegas yang membelah keheningan maut.
Sang dokter forensik melangkah maju dua tindak di samping Reno, tangannya dengan lincah membuka pengunci tas taktisnya. Ia menarik dua tabung kaca berisi serum indikator fluoresensi dan injektor tekanan tinggi.
"Racun krio-toksin buatanmu memanfaatkan struktur protein Kristin sintesis untuk membekukan sel secara paksa. Tapi setiap reaksi krio-kimia punya titik jenuh kinetik yang bisa dinetralkan!"
dr. Julian menghentikan putaran tongkatnya, menatap dr. Sara dengan binar mata yang dipenuhi ketertarikan dingin.
"Mengagumkan, Dokter Sara. Kamu mengenali struktur rantai Kristin hanya dari pendaran sinar ultraviolet di meja otopsimu. Tidak heran Raymond Devano begitu terobsesi untuk merekrutmu ke dalam 'Mata Timbangan'. Tapi sayangnya... waktu tidak berada di pihakmu."
dr. Julian menekan bagian dasar tongkat peraknya keras-keras ke atas panggung kayu!
PLAK!
Empat katup pembuangan tersembunyi di sudut-sudut ballroom mendadak terbuka lebar!
Gelombang uap biru keruh bertekanan tinggi menyembur deras, bergulung-gulung memenuhi lantai porselen dan merayap cepat mendekati kaki Reno dan dr. Sara!
"Dion! Putus rantai daya ke katup pembuangan di lantai sembilan!" teriak Reno seraya menarik dr. Sara mundur ke balik pilar kristal utama.
"Gue nggak bisa, Ren!" balas Dion histeris melalui earpiece, suara ketukan papan ketiknya terdengar gila-gilaan dari balik transmisi.
"Sistem kontrol MS Royal Sovereign udah diisolasi pakai protokol hardware-bypass langsung dari konsol panggung tempat Vance berdiri! Satu-satunya cara mematikan sistem itu adalah meretas konsol fisik di panggung atau merebut kristal utama di tongkatnya!"
"Bara, amankan jalur evakuasi bawah!" perintah Reno singkat.
"Siap, Bos!" sahut Bara dari koridor luar, suara tembakan taktis beruntun terdengar samar saat Bara menghalau dua tentara bayaran Orde 'Mahkota Kristal' yang mencoba mengunci pintu keluar utama.
Reno memiringkan kepalanya sedikit, melirik bahu kirinya yang masih terbalut perban tipis dari pertarungan di Zurich. Rasa nyeri bekas jahitan masih menyengat, namun konsentrasi di dalam kepalanya telah mencapai tingkat ketajaman yang luar biasa. Ia melirik dr. Sara yang sedang dengan sigap memasang masker respirator mini pada wajahnya sendiri dan memasangkan satu lagi pada Reno.
"Sara," bisik Reno, suaranya teredam dibalik masker namun memancarkan ketenangan membaja.
"Berapa lama waktu yang kita punya sebelum krio-toksin di udara melumpuhkan saraf refleks?"
"Tanpa penawar aktif... kurang dari tiga menit sebelum paru-parumu mulai membeku dari dalam, Reno," jawab dr. Sara, matanya menatap tepat ke manik mata sang detektif.
"Tapi aku bisa meracik serum penetral skala luas jika aku bisa mendapatkan sampel larutan murni langsung dari inti kristal di tongkat Vance."
"Kalau begitu, aku akan mengambilkannya untukmu," kata Reno pelan.
"Reno, jangan nekat bertarung jarak dekat tanpa sarung tangan!" cegah dr. Sara cepat, menahan lengan mantel Reno dengan cengkeraman erat.
"Suhu tubuh Vance dipenuhi paparan zat krio murni. Sentuhan psychometry langsung pada fisiknya dalam suhu ekstrem ini bisa memicu pendarahan otak padamu!"
Reno menatap tangan dr. Sara yang memegangi lengannya. Senyum tipis yang hangat terukir di balik maskernya.
"Kamu selalu ada untuk menyembuhkanku, Sara. Itu sudah lebih dari cukup."
Sebelum dr. Sara sempat membantah, Reno melepaskan sarung tangan kulitnya, melemparnya ke lantai yang mulai tertutup lapisan es tipis, dan melompat keluar dari balik pilar kristal!
SREET!
Reno melaju menembus gulungan uap biru dingin, mengayunkan besi pertahanan dirinya lurus mengincar pergelangan tangan dr. Julian Vance!
"Pergerakan yang sangat bisa ditebak, Detektif!" seru dr. Julian seraya memiringkan tubuhnya dengan kelincahan yang luar biasa. Pria berjas putih itu mengibaskan ujung tongkat peraknya, menangkis benturan besi pertahanan diri Reno dengan dentang logam yang memercikkan bunga api di udara!
PRANG!
Kekuatan sabetan dr. Julian ternyata jauh melampaui perkiraan. Energi dorongan itu melempar tubuh Reno hingga menghantam panggung kayu secara keras!
dr. Julian tidak memberi jeda. Dengan senyuman dingin yang mengerikan, ia menarik pisau bedah bermata intan dari saku jasnya dan menerjang turun dari panggung, mengayunkan bilah tajam itu lurus menuju leher Reno!
"Reno!" jerit dr. Sara dari balik pilar. Sang dokter forensik tanpa ragu melompat keluar, menembakkan cairan indikator asam dari injektor tekanan tingginya tepat ke arah wajah dr. Julian!
BZZZZT!
Cairan asam reaksi cepat itu mengenai bagian pipi kanan dr. Julian, memicu uap panas yang membakar kulit porselen sang dokter jahat!
"Argh!" dr. Julian mengerang kesakitan, refleks menutupi wajahnya dengan lengan kiri saat kulit pipinya terkelupas dan membakar syaraf wajahnya.
Momentum singkat itu dimanfaatkan oleh Reno secara sempurna! Alih-alih berguling menjauh untuk menyelamatkan diri, Reno justru menerjang maju di bawah jangkauan pisau dr. Julian.
Dalam posisi sangat terdesak dan tanpa sarung tangan, jemari bertelanjang milik Reno mencengkeram erat leher dan rahang kanan dr. Julian yang baru saja terkelupas oleh larutan asam!
Kulit bertelanjang jemari Reno menyentuh langsung darah dan jaringan saraf terbuka di wajah dr. Julian Vance!
DEG!
Hantaman psychometry kali ini meledak bagaikan pecahan badai salju gila di dalam ruang kesadaran Reno! Sensasi dingin yang ribuan kali lebih membekukan daripada kasus di kapal kargo menyengat seluruh sistem saraf pusat sang detektif. Pendarahan tipis mendadak keluar dari hidung Reno, pandangannya mengabur dipenuhi kilatan putih dan biru neon!
Visualisasi masa lalu memutar memori kelam dr. Julian Vance tiga hari lalu di sebuah laboratorium rahasia di kedalaman Pegunungan Alpen.
Reno melihat dr. Julian berdiri di hadapan belasan tabung reaksi raksasa yang diisi oleh cairan biru berpendar. Di sampingnya, sebuah cetak biru mekanis besar terpampang—menampilkan struktur jaringan pipa kapal MS Royal Sovereign.
"Setiap penumpang yang terinfeksi krio-toksin memiliki simpul katup penetral utama yang tertanam di balik permukaan kristal utama pada tongkat ini..." suara seorang wanita tua tak dikenal terdengar membisikkan instruksi dari balik speaker laboratorium dalam memori tersebut.
"Tekan inti kristal dengan tekanan tepat tiga kilogram pada sudut empat puluh lima derajat ke kiri untuk memicu reverse-dispersion serum pembalik."
Namun, di balik rincian ilmiah tersebut, ketajaman psychometry Reno menangkap satu fakta paling mengerikan dalam memori dr. Julian: Orde 'Mahkota Kristal' menjadikan kapal pesiar ini sebagai eksperimen awal untuk meluncurkan serangan krio-toksin skala global di lima kota pelabuhan utama dunia minggu depan!
BRAK!
Sensasi kilas balik itu pecah berantakan saat tubuh dr. Julian menghentak keras, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Reno!
Reno tersentak kembali ke realita. Kesadarannya hampir runtuh sepenuhnya, matanya memerah oleh pendarahan kapiler, dan fisiknya gemetar parah akibat efek hipotermia psychometry.
Namun, jemari tangan kirinya berhasil memutar dan mencabut kristal biru utama dari ujung tongkat perak dr. Julian dengan sudut pemutaran empat puluh lima derajat!
KRLAK!
"Tidak! Kristal intiku!" jerit dr. Julian histeris saat menyadari inti senjatanya telah direbut.
"Sara! Tangkap kristalnya!" teriak Reno dengan sisa-sisa tenaga di tenggorokannya, memutar tubuhnya dan melemparkan batu kristal biru berpendar itu melintasi uap dingin ballroom!
dr. Sara Maheswari melompat dengan ketepatan refleks yang luar biasa, menangkap batu kristal biru itu tepat di udara!
Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, sang dokter forensik menusukkan jarum ekstraksi mikro dari tasnya langsung ke bagian poros kristal yang telah retak!
Cairan murni berwarna biru neon menyembur masuk ke dalam tabung injektor bertekanan tinggi milik dr. Sara. Dengan kepresisian tangan seorang pakar forensik jenius, dr. Sara mencampurkan cairan itu dengan dua ampul serum stabilisator, lalu mengarahkan injektornya lurus ke dalam pipa pasokan udara utama di dinding panggung!
BAM!
dr. Sara menekan pemicu injektor tekanan tinggi tersebut!
WUUUSHHH!
Serum pembalik terurai secara instan dalam bentuk uap hangat berwarna keemasan, menyebar cepat menembus uap biru krio-toksin di seluruh Grand Ballroom!
BIP! BIP! BIP!
Suhu udara di dalam ruangan mendadak merangkak naik secara drastis dari minus tiga derajat menuju suhu ruangan normal! Lapisan es tipis yang menyelimuti dinding kaca, lantai porselen, dan tubuh tiga ratus penumpang VIP meluruh cair seketika!
Di atas panggung dan kursi-kursi ballroom, ratusan penumpang yang tadinya membeku kaku mulai tersentak hebat, menghirup udara segar seraya terbatuk-batuk terengah-engah saat kesadaran dan sirkulasi darah mereka pulih secara serentak!
"Sistem krio-stasis berhasil dinetralkan sepenuhnya!" jerit dr. Sara penuh kemenangan seraya berlari kencang menuju Reno!
Di panggung utama, dr. Julian Vance tersungkur lemas. Wajahnya yang terbakar larutan asam dan kekalahan mutlak atas senjatanya membuat pria aristokrat itu meraung frustrasi. Sebelum ia sempat menjangkau pisau intannya kembali, Bara dan lima personel taktis amfibi yang berhasil membongkar pintu utama menerobos masuk, langsung mengunci tubuh dr. Julian ke lantai dan memasang borgol baja khusus.
"Amankan seluruh sampel dan kunci ruangan ini!" perintah Bara tegas pada timnya.
dr. Sara berlutut di samping Reno yang terkulai lemah bersandar di pilar kayu panggung. Air mata lega menetes perlahan di pipi sang dokter forensik saat ia menyapu darah dari bawah hidung Reno menggunakan kasa steril dan memeluk bahu mitranya dengan erat.
"Kamu berhasil lagi, Reno..." bisik dr. Sara lembut dengan suara bergetar haru. "Kamu menyelamatkan mereka semua."
Reno perlahan membuka matanya yang melelahkan, menatap dr. Sara dengan senyuman tipis yang sangat tulus dan hangat. Rasa dingin yang sempat merusak sarafnya perlahan meluruh, digantikan oleh kehangatan murni dari genggaman tangan dr. Sara yang tak pernah melepaskannya.
"Kita yang berhasil, Sara," sahut Reno pelan, membalas genggaman tangan sang dokter forensik dengan sisa tenaganya.
"Keahlianmu adalah alasan mengapa penglihatanku bisa mengubah takdir."
Sinar fajar pertama di atas perairan Selat Malaka perlahan menerobos masuk melalui dinding kaca Grand Ballroom, memancarkan pendar hangat yang mengusir sisa-sisa kegelapan maut.
Di bawah naungan fajar yang baru, gelombang ancaman Orde 'Mahkota Kristal' di atas kapal pesiar telah dipatahkan secara mutlak.
Reno Devano dan dr. Sara Maheswari berdiri berdampingan di tepi geladak kapal, menatap garis cakrawala laut yang membentang luas.
Meski perjalanan membongkar jaringan kejahatan medis dunia masih panjang, mereka tahu bahwa selama perpaduan abadi antara ketajaman indra ke-6 dan kepresisian sains forensik itu berdiri kokoh, tidak ada kegelapan yang tidak bisa disingkap oleh VPCI.