NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:65.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Ampun, Mayor!

Sore itu, terik matahari yang menyengat perlahan mereda, menyisakan bias jingga keemasan yang menembus celah rimbun pepohonan mahoni di sudut kompleks perumahan militer. Di teras belakang rumah dinas nomor A-12, aroma harum cat kayu baru dan serbuk gergaji berpadu pekat dengan angin sore yang bertiup sepoi-sepoi.

Di atas meja kayu lipat pinjaman dari pos ronda, sebuah buku tulis bergaris lusuh terbuka lebar. Halamannya dipenuhi oleh coretan angka-angka acak, sketsa logo warung sederhana, dan hitung-hitungan kalkulasi modal yang ditulis dengan jemari lentik Vina. Di samping buku itu, sebuah kaleng bekas biskuit khong guan berkarat diletakkan berdampingan dengan beberapa ikat uang kertas hasil tabungan lamanya.

"Gimana, Ta? Hitungan kita udah pas belum?" tanya Vina serius. Ia menghentikan goresan pensil di tangannya, lalu mendongak menatap Ita yang duduk bersila di kursi plastik seberang meja.

Ita, dengan balutan daster hijau tua bermotif bunga, serius memperhatikan coretan angka di buku tulis itu. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu. "Kalau dari hitungan modal beli es serut, sirup, cup plastik, sama bahan baku pisang nugget, uang tabungan kita dari hasil jual kue kering bulan lalu sih cukup, Vin. Cuma ... yakin kamu nggak mau pakai uang bulanan dari Mayor Yudhana? Kan, sisa uang belanja dari beliau lumayan banyak tuh di laci."

Mendengar nama sang suami disebut, Vina langsung mendengus pelan. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu menggeleng tegas dengan sorot mata lurus yang tidak bisa diganggu gugat.

"Enggak, Ita. Gue tidak mau sepeser pun menyentuh uang Om Tentara itu," jawab Vina dengan intonasi tenang, mengubah panggilan akrabnya menjadi lebih formal dan berjarak. "Mulai sekarang, gue harus belajar mandiri. Buat apa pakai uang dia kalau sebentar lagi kami mau cerai? Kalau gue pakai uangnya, nanti gue dikira parasit yang betah nebeng fasilitas negara. Gue pengen keluar dari rumah ini dengan kepala tegak, pakai hasil keringat gue sendiri."

Ita menatap sahabatnya itu dengan binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan. Sejak insiden amnesia yang memulangkan ingatan Vina ke usia delapan belas tahun, gadis di hadapannya ini menjelma menjadi sosok yang mandiri dan bertekad bulat memutus ketergantungan finansial pada sang suami.

"Hebat bener mental gadis panti asuhan satu ini," puji Ita tersenyum lebar sambil menepuk pundak Vina. "Oke deh! Kalau gitu, besok pagi kita langsung belanja bahan-bahan ke pasar tradisional. Kita sewa lapak kecil di dekat lapangan bulu tangkis depan kompleks atau tempat yang dekat panti!"

"Siap!" sahut Vina bersemangat, matanya berbinar cerah menatap kaleng biskuit lusuh yang menjadi saksi bisu awal perjuangan kemandiriannya.

***

Tanpa mereka berdua sadari, di balik daun pintu dapur yang terhubung langsung ke arah teras belakang, seseorang berdiri mematung.

Mayor Yudhana baru saja tiba di rumah dinas. Pria berbalut seragam dinas lengkap itu tadinya berniat langsung menuju dapur untuk meneguk segelas air dingin setelah seharian memimpin latihan taktis di lapangan tembak Batalyon. Namun, langkah kakinya terhenti secara mutlak saat sayup-sayup ia mendengarkan percakapan di teras belakang.

“Enggak, Ita. Gue tidak mau sepeser pun menyentuh uang Om Tentara itu...”

“...Buat apa pakai uang dia kalau sebentar lagi kami mau cerai? Kalau gue pakai uangnya, nanti gue dikira parasit...”

Setiap kata yang meluncur dari bibir Vina menghantam dada Yudhana bagaikan hantaman martil bertalu-talu. Pria tegap itu berdiri kaku, cengkeramannya pada tas kerjanya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

Kalimat itu menohok ulu hatinya dengan sangat telanjang. Vina bukan hanya ingin pergi meninggalkannya; gadis itu bahkan menolak untuk menghirup udara yang dibiayai oleh uangnya. Vina bersiap membangun hidup baru yang bersih dari jejak kepemilikannya.

Rasa tertohok, rasa bersalah, dan ego seorang perwira yang terluka bergemuruh hebat di dalam dada Yudhana. Selama ini, sebagai seorang Mayor yang memegang kendali penuh atas finansial rumah tangga, ia selalu merasa di atas angin. Ia pikir Vina tidak akan bisa bertahan hidup sehari pun tanpa fasilitas dan uang belanja yang ia berikan setiap tanggal satu.

Namun kenyataannya? Istrinya itu justru dengan bangga menyusun rencana membuka warung kecil-kecilan bersama Ita, menghitung koin demi koin dari tabungan sejak tinggal di panti asuhan, dan mengembalikan status ketergantungan itu ke titik nol.

Dengan rahang mengeras kaku dan napas yang memburu perlahan, Yudhana memutar langkahnya. Ia tidak jadi keluar lewat pintu dapur. Pria itu berjalan lambat menuju kamar utama, melepas baret hijau tuanya dengan gerakan kasar, lalu menghempaskan tas kerjanya di atas sofa kamar.

Tok... tok...

Ketukan pintu kamar utama terdengar pelan sebelum akhirnya terbuka. Vina melangkah masuk ke dalam kamar dengan membawa setumpuk kain lap kotor yang hendak dicuci. Ia terperanjat kecil saat mendapati Yudhana sudah berdiri tegak di dekat meja rias, menatapnya dengan sorot mata pekat yang menyimpan badai emosi.

Vina menghentikan langkahnya, menjaga jarak dua langkah, lalu menatap suaminya dengan dagu terangkat dingin.

"Ada apa, Om?" tanya Vina datar, suaranya terdengar formal dan sama sekali tidak menyisakan kehangatan. "Kalau mau pakai kamar mandi, silakan duluan. Saya cuma mau naruh kain lap."

Yudhana tidak langsung menjawab. Manik matanya yang tajam mengunci sosok Vina dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pria itu melangkah maju satu tapak, merogoh saku celana dinasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih tebal berisi lembaran uang tunai jutaan rupiah—jatah uang belanja bulan ini yang ia ambil langsung dari ATM.

Yudhana meletakkan amplop tebal itu di atas meja rias, tepat di hadapannya, dengan gerakan yang ditekan kuat.

"Pakai uang ini," ucap Yudhana, suara baritonnya rendah, kaku, namun diwarnai getaran aneh yang berusaha ia sembunyikan. "Jangan membuat malu keluarga dengan membuka warung murahan di pinggir jalan kompleks. Kamu istri seorang perwira, Vina. Kebutuhan finansialmu adalah tanggung jawab saya. Kalau uang belanja bulanan kurang, saya bisa tambahkan kartu kredit ini."

Vina menatap amplop putih berisi uang tebal itu sekilas. Tidak ada binar silau, tidak ada rasa tergiur, apalagi rasa terima kasih. Yang terpancar dari manik mata cokelat beningnya hanyalah senyum sinis yang sangat menyebalkan bagi Yudhana.

Vina melangkah mendekati meja rias. Dengan ujung jarinya yang lentik, ia mendorong amplop putih itu menjauh dari hadapannya, hingga benda tersebut jatuh meluncur dan berhenti di tepi meja.

"Simpan saja uang Om untuk keperluan Om sendiri atau buat traktir Tante-tante menor kesayangan Om itu," balas Vina dingin, menatap lurus ke dalam manik mata Yudhana tanpa sedikit pun rasa gentar. "Saya sudah bilang berulang kali, dan sepertinya Om butuh alat bantu dengar supaya paham: saya pantang minta uang sama Om-om yang bukan siapa-siapa."

***

Assalamu'alaikum Kakak Cantik semuanya, hari ini saya kembali mencoba ajukan kontrak di sini. Harapan saya, lulus kontraknya agar bisa melanjutkan ceritanya di sini. Namun, kembali lagi keputusan ada di editor NT.

Nanti akan saya kabari lagi kelanjutannya

1
Akasia Rembulan
semangat mom.. lanjut terus ❤️❤️❤️
Nur Cahaya
semangat Vina 💪
Daneen
Wkwkwkk
Daneen
Duh bahaya kali Vina kalau bersuara
Mulaini
Jangan-jangan opa Gema sudah tahu atau memang belum tahu ya kalau cucunya Yudhana telah mengabaikan Vina sebelum kecelakaan.
Daneen
Alhamdulillah ikut senang thor
Mulaini
Vina katakan aja ke kakek Gema kalau kamu tidak mengenalnya dan kita lihat gimana reaksi Yudhana.
Teh Euis Tea
alhamdulilah akhirnya lolos jg, srmangat mommy
Mulaini
Yudhana jadi nikmati aja hasil dari keegoisan mu.
Esther
Kapok kamu Yudhana, hadapi tuh Opa Gema yang datang disaat yang tepat saat Vina tidak ada dirumah
Mulaini
Yudhana kamu jadi panik kan secara kakek mu datang berkunjung dan Vina gak ada di rumah.
Mulaini
Yudhana pelihara aja tuh gengsi mu.
Mulaini
waalaikumsalam...
Alhamdulillah 🤲
Daneen
Semoga thor
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
merry
Vina jjur np si ksh pljrann buat lakimu, dan si Tanti itu biar kapok,, gmn kelakuannya kmu di abaikan minta cerai trss,, trs msk RS siumann br dtgg di kiriin kmu cm akting ,, kuasin kmr gede kmu dpt kmr kcil,,, ceritaiin biar cerai cpt kmu fokus sm hdpmu klo jdoh kembali versi terbaik ajj vin,, tentara ko gk bs hargai istri ya heran jg 🤔🤔🤔🤭🤭
merry
asik dtg jg opa gema,, Vina gk drmh ceritaiin Vina kelakuan laki mu biar di tempeleng tu 😆😆😆😆
Kar Genjreng
kurang setuju' mommy kenapa Vina main sandiwara. biar saja untuk apa menutupi aib orang yang tidak perduli dan menyakiti,,, harusnya biar yudhayana merasakan sakit seperti yang Vina rasakan
Mommy Ghina: nanti bakal ketahuan kok
total 1 replies
Kar Genjreng
🤭🤭wah bisa gaswat nihh,,,Vina bingung yudhayana kecut dan pucat pasi mana Vina bau keringat seharian jualan Es coklat dan mampir pasar tradisional,,,kontras dengan peran istri rasa babu nya mayor jossss semoga lekas terbongkar,,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!