Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pertapa dari Lereng Wilis
Hal pertama yang Raka pelajari tentang menunggang kuda adalah bahwa kuda tidak peduli pada gelar sarjananya.
"Condongkan badanmu ke depan," kata Bekel Tarub untuk ketiga kalinya, dengan kesabaran yang jelas sudah menipis. "Bukan ke belakang. Kau menunggang kuda, bukan duduk di kursi malas."
"Saya tahu," jawab Raka, berpegangan erat pada surai kuda cokelat yang tampaknya sedang menikmati penderitaannya. "Tapi dia bergerak terus."
"Tentu saja dia bergerak. Itu gunanya kuda."
Di depan mereka, Wirabhaya memacu kudanya dengan santai, punggungnya tegak dan tak sekali pun menoleh. Namun Raka curiga lelaki itu mendengar setiap kata, dan mungkin menikmatinya.
Pagi itu mereka meninggalkan desa saat kabut masih menggantung di sawah. Sebelum berangkat, Sekar sempat menyelipkan sebuah bungkusan daun pisang ke tangan Raka, tanpa banyak bicara. Isinya nasi jagung dan potongan ikan asin, masih hangat. Ia hanya berkata, "Jangan mati kelaparan," lalu berbalik masuk ke rumah sebelum Raka sempat mengucapkan terima kasih.
Bungkusan itu sekarang tersimpan di dalam ranselnya, dan entah kenapa, setiap kali ia memikirkannya, tenggorokannya terasa sedikit sesak.
Perjalanan memakan waktu hampir sehari penuh. Mereka melewati jalan setapak berbatu, menyusuri tepi hutan jati, menyeberangi sungai-sungai dangkal, dan sesekali berpapasan dengan pedagang yang menuntun sapi bermuatan guci. Setiap kali, orang-orang itu membungkuk hormat pada Wirabhaya dan para prajurit, lalu melirik Raka dengan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.
Raka sendiri hampir tak sempat merasa takut. Matanya terlalu sibuk menyerap segalanya.
Di sebuah persimpangan, ia melihat sebuah gapura kecil dari batu bata, dihiasi arca penjaga bertaring. Di lain tempat, ia melihat sebuah candi kecil yang masih utuh, tidak berlumut dan tidak runtuh seperti yang pernah ia lihat di museum. Di pasar yang mereka lewati sepintas, para pedagang berseru dalam dialek yang belum pernah ia dengar, menjajakan kain, rempah, dan tembikar berwarna-warni.
Sesekali ia bergumam tanpa sadar, "Luar biasa..."
"Apa yang luar biasa?" tanya Wirabhaya, tiba-tiba memperlambat kudanya hingga sejajar dengan Raka.
Raka tersentak. "Eh... segalanya. Negeri ini."
"Negerimu tak seperti ini?"
"Sangat berbeda." Itu kebenaran yang paling aman. "Banyak yang... hilang di tempat asal saya."
Wirabhaya mengangguk perlahan, matanya tetap ke depan. "Tarub bilang kau tidak bisa menunggang kuda."
"Tarub benar."
"Dan kau tidak membawa senjata."
"Saya tidak tahu cara memakainya."
"Dan kau menyuruh seorang gadis desa merebus air supaya ibunya sembuh." Wirabhaya menoleh sedikit, menatapnya dari sudut mata. "Katakan padaku, Raka. Apa kau seorang tabib?"
"Bukan. Hanya... orang yang kebetulan tahu sedikit hal."
"Sedikit hal." Wirabhaya mengulangnya seakan menimbang kata itu. "Pertapa yang akan kita temui bilang hal yang sama tentang dirimu."
Raka menoleh cepat. "Dia bilang begitu?"
"Dalam suratnya. Dia menulis, 'Orang itu akan membawa banyak pengetahuan dan sedikit pengertian tentang cara menggunakannya.'" Wirabhaya mengangkat bahu. "Aku tidak mengerti maksudnya. Mungkin kau mengerti."
Raka diam. Kalimat itu terasa seperti ejekan sekaligus peringatan.
"Boleh saya bertanya sesuatu, Gusti Wirabhaya?"
"Silakan."
"Siapa sebenarnya Mpu Kalandara?"
Lelaki itu terdiam cukup lama sebelum menjawab. Di kejauhan, burung elang berputar-putar di langit yang mulai kemerahan.
"Dulu, di masa Ratu Tribhuwana, dia penasihat di istana," katanya akhirnya. "Orang-orang bilang dia seorang ahli naskah dan pengetahuan gaib. Lalu suatu hari dia meninggalkan segalanya dan mengasingkan diri di lereng Wilis. Tak ada yang tahu alasannya. Sebagian orang menganggapnya gila. Sebagian lagi menganggapnya wali."
"Dan Gusti sendiri?"
"Aku menganggapnya lelaki tua yang terlalu banyak membaca." Wirabhaya menyeringai tipis. "Tapi aku juga pernah melihatnya meramalkan hujan tiga hari sebelum turun, dan melihat panen padi di desa tempat ia bermukim tak pernah gagal sekali pun. Aku tidak bisa menjelaskannya, jadi aku memilih tidak menghakiminya."
Raka mengangguk. Sikap yang cukup bijak untuk zaman ini.
Malam turun saat mereka mencapai kaki gunung Wilis. Udara berubah dingin dan lembap. Hutan di sekeliling mereka menggelap, pepohonannya menjulang seperti penjaga bisu. Hanya cahaya obor dari tangan para prajurit yang menjadi sumber penerangan, dan bayangan mereka menari-nari di batang pohon.
"Dari sini kita berjalan," kata Wirabhaya, turun dari kudanya. "Kuda tak bisa naik ke tempat pertapaan."
Raka turun dengan susah payah, kakinya gemetar seperti jeli. Ia nyaris jatuh, dan Bekel Tarub terpaksa menangkap lengannya.
"Terima kasih," gumam Raka, malu setengah mati.
"Jangan berterima kasih padaku," gerutu Tarub. "Terima kasih pada kudamu, karena tidak melemparmu ke jurang."
Mereka mendaki jalan setapak yang berkelok di antara batu dan akar, dengan tangga-tangga tanah yang licin. Suara serangga malam bersahut-sahutan, dan sesekali terdengar lolongan jauh yang membuat Raka merinding. Setelah hampir satu jam, jalan itu membuka ke sebuah dataran kecil yang rata.
Raka berhenti.
Di tengah dataran itu berdiri sebuah pondok sederhana dari kayu dan bambu, dikelilingi pagar batu tanpa pintu. Di pekarangan, sebatang pohon kamboja tua mekar putih dalam gelap, kelopaknya memantulkan cahaya obor. Dan di depan pondok, di atas sebuah batu datar, duduk seorang lelaki tua berambut putih panjang, mengenakan kain putih kusam, tubuhnya begitu tak bergerak sampai Raka mengira ia sebuah arca.
"Mpu Kalandara," kata Wirabhaya, membungkuk hormat. "Saya membawa orang yang Mpu minta."
Lelaki tua itu perlahan membuka mata.
Tatapannya bukan tatapan orang tua pada umumnya. Mata itu jernih, tajam, dan entah kenapa terasa jauh lebih tua daripada wajahnya, seakan telah menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya dilihat manusia. Pandangan itu meluncur melewati Wirabhaya, melewati para prajurit, dan berhenti pada Raka.
Raka merasa lututnya melemah lagi, kali ini bukan karena kuda.
"Terima kasih, Wirabhaya," kata Mpu Kalandara. Suaranya serak dan dalam, seperti gesekan batu di dasar sumur. "Kau boleh pergi. Tinggalkan kami."
"Mpu, saya diperintahkan untuk..."
"Aku tahu apa yang diperintahkan padamu. Tapi kau juga tahu kau tak bisa mendengar apa yang akan kami bicarakan." Pertapa itu tersenyum samar. "Tunggulah di bawah. Besok pagi, kau boleh bertanya apa pun yang kau mau."
Wirabhaya ragu selama beberapa tarikan napas. Ia menatap Raka, lalu Mpu itu, lalu mengangguk pendek. "Tarub, kita pergi."
Para prajurit mundur ke jalan setapak, langkah mereka perlahan menghilang di kegelapan. Kini yang tersisa hanya Raka, sang pertapa, dan bunyi serangga yang tiba-tiba terasa begitu keras.
"Mendekatlah, Nak," kata Mpu Kalandara. "Duduk. Kakimu pasti sakit."
Raka mendekat dengan hati-hati dan duduk bersila di atas tanah, canggung. Pertapa itu mengamatinya lama sekali, dan Raka mulai merasa seperti sedang dipindai oleh sesuatu yang lebih tajam daripada mata manusia.
"Kau Raka Aditya," kata Mpu Kalandara.
"Bagaimana Mpu..."
"Aku tidak tahu namamu. Tapi aku tahu bahwa kau memakai nama itu, karena jiwamu mengingatnya." Pertapa itu menegakkan tubuhnya sedikit, lalu mengucapkan sesuatu yang membuat dunia Raka berputar untuk kedua kalinya dalam dua hari.
Ia berbicara dalam bahasa Indonesia modern. Fasih. Jernih. Tanpa aksen.
"Selamat datang, Raka. Sudah lama aku menunggu seseorang dari zamanmu."
Raka tak bisa bergerak. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.
"Itu... itu bahasa saya," akhirnya ia berhasil berbisik. "Bagaimana mungkin Mpu..."
"Karena aku juga pernah memasuki gerbang itu," kata Mpu Kalandara lembut. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah batu bata kecil berwarna merah tua. Di permukaannya terukir lambang matahari delapan sinar, dan bata itu berdenyut halus dengan cahaya hangat, persis seperti bata gapura di Laweyan.
"Dan kau," lanjutnya, "bukan yang pertama."
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.