NovelToon NovelToon
I AM The Mirecle Itself

I AM The Mirecle Itself

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad wahyu

I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

​Lampu-lampu gantung berbahan kristal Aether membiaskan pendar keemasan hangat di dalam Atelier Apex—penjahit paling eksklusif di pusat distrik kerajaan Sol-Vane. Di tempat di mana para bangsawan dan pejabat tinggi biasanya mengantre berbulan-bulan untuk selembar gaun magis, malam ini suasananya mendadak riuh oleh kedatangan tamu yang teramat tidak biasa.

​Seorang pemuda berjubah sutra gading yang robek di mana-mana sedang berdiri santai di atas podium pengukuran, memegang cangkir teh manis panas dengan uap tipis yang membumbung.

​Di sekelilingnya, Penjahit Kepala Atelier—seorang pria paruh baya berewok rapi dengan kacamata pembesar kuantum—terlihat mengucurkan keringat dingin. Pita pengukur Magitech otomatis yang melayang di sekitarnya mendadak berasap dan berkedip-kedip liar.

​"A-Aneh..." bisik sang penjahit dengan jemari gemetar. "Pita pemindai serat tidak bisa membaca kepadatan massa tubuh Anda, Tuan. Setiap kali energi pemindai menyentuh kain jubah Anda, angkanya melompat dari ukuran manusia biasa menjadi... tak terhingga."

​"Gunakan pita kain biasa saja, Maestro," potong Rayker yang sedang duduk bersandar di sofa kulit VIP sambil mengunyah buah persik magis. Pahlawan tertinggi itu sudah menanggalkan zirah beratnya, menyisakan kemeja tanpa lengan hitam yang memperlihatkan otot otentiknya. "Temanku ini tidak suka hal-hal yang terlalu rumit."

​Lyra menggelengkan kepala melihat tingkah Rayker, sementara Caelum duduk di sudut ruangan dengan layar holografik yang masih tak berhenti menampilkan barisan kode galat (error logs).

​"Kau memanggil entitas yang baru saja memadamkan Supernova Burst-mu dengan sebutan 'teman'?" gumam Lyra dingin sambil menyilangkan kakinya.

​"Pria yang sanggup menahan tebasanku tanpa menumpahkan teh di tangannya layak jadi temanku," jawab Rayker sambil tertawa lepas. "Lagi pula, aku yang berjanji mengganti bajunya. Pakai kain Aether-Silk kualitas nomor satu, Maestro! Masukkan semua tagihannya ke rekening garnisun militerku."

​Ren menyesap tehnya pelan, mengabaikan kekacauan instrumen pemindai di sekitarnya. "Kainnya terasa nyaman. Yang penting tidak gampang robek kalau terkena gesekan angin."

​"Gesekan angin?" Caelum akhirnya mengangkat wajah dari layar holografiknya. Matanya yang cekung menatap Ren tajam. "Yang menghancurkan jubahmu tadi bukan gesekan angin, Ren. Itu adalah gelombang kinetik bertekanan lima puluh ribu atmosfer dari benteng Aegis-Dreadnought dan tebasan Rayker. Dan kau menyebutnya... gesekan angin?"

​"Sama saja," sahut Ren santai sambil menurunkan cangkirnya. "Kalau bajunya rapuh, angin kencang pun bisa merobeknya."

​Caelum menghela napas panjang, mematikan antarmuka kuantumnya dengan kepasrahan mutlak. Logika ilmuwan militer terbaik Sol-Vane runtuh total di hadapan cara berpikir Ren.

​Satu jam kemudian, Ren keluar dari bilik ganti dengan penampilan baru.

​Ia kini mengenakan kemeja sutra tebal berwarna hitam gading dengan sulaman garis perak redup di sepanjang kerah dan pergelangan tangan, dipadukan dengan mantel panjang bergaya oriental modern tanpa lengan yang melambai lembut. Kesederhanaan pakaian itu justru mempertegas pendar dingin dari mata peraknya dan aura tenang yang memancar dari tubuhnya.

​"Lumayan," ujar Ren sambil meregangkan bahunya. "Jauh lebih leluasa dari jubah lama."

​"Sangat cocok," puji Rayker sambil menepuk bahu Ren kuat-kuat—meski kali ini ia berhati-hati agar tidak mengalirkan Mana kinetiknya. "Nah, karena urusan bajumu sudah selesai, bagaimana kalau kita minum? Ada restoran melayang di puncak menara Sol-Vane yang punya anggur reaktor terbaik di benua ini."

​Di ruang VIP puncak Menara Aetheria, puluhan kilometer di atas permukaan jalanan neon Sol-Vane, pemandangan malam metropolis terhampar bagai lautan bintang buatan. Kapal-kapal terbang melintas seperti garis-garis cahaya keemasan di antara pencakar langit berarsitektur kristal.

​Di atas meja bundar dari kaca tembus pandang, terhidang berbagai hidangan kelas atas Kerajaan Sol-Vane. Namun atmosfer di antara mereka bertiga berubah perlahan saat cangkir-cangkir minuman mulai terisi.

​Lyra menyesap anggurnya, matanya menatap tajam ke arah Ren yang sedang mengamati pemandangan kota di luar jendela kaca.

​"Jadi, Ren," buka Lyra dengan suara tenang namun berbobot. "Kota ini tampak megah, bukan? Teknologi Magitech yang sanggup memanipulasi gravitasi, penerangan abadi, dan benteng perisai otomatis yang melindungi jutaan nyawa. Menurutmu, dari mana semua keajaiban ini berasal?"

​Ren memiringkan kepalanya sedikit, menatap pendaran cahaya biru-keemasan yang memancar dari fondasi paling bawah kota Sol-Vane di kejauhan.

​"Cahaya di bawah sana," kata Ren pelan. "Itu bukan pendaran Mana murni dari alam. Rasanya seperti... bangkai sesuatu yang dipaksa bernapas."

​Keheningan mendadak melingkupi meja tersebut. Rayker meletakkan gelasnya tanpa suara, sementara Caelum mengunci pandangannya pada Ren.

​"Pengamatan yang mengerikan... dan sangat akurat," bisik Caelum.

​Caelum menekan satu tombol di jam tangannya. Seketika, kaca tembus pandang ruangan terisolasi secara kedap suara, dan sebuah peta holografik tiga dimensi dari struktur bawah tanah Kerajaan Sol-Vane muncul melayang di tengah meja.

​Di kedalaman sepuluh kilometer di bawah fondasi kota, terlihat sebuah bola kristal raksasa yang retak, terikat oleh ribuan rantai energi buatan. Bola kristal itu memancarkan pendar cahaya yang tidak stabil—sesekali meluap, sesekali meredup gila-gilaan.

​"Dunia luar mengenal Sol-Vane sebagai puncak peradaban Magitech," terang Caelum dengan nada suara berat. "Tapi rahasia sebenarnya dari seluruh kejayaan ini adalah apa yang ada di bawah tanah kita: Inti Arsitek yang Membusuk."

​"Inti Arsitek?" ulang Ren, menaikkan satu alisnya.

​"Sisa-sisa organ atau artefak purba dari pencipta benua ini yang ditemukan oleh pendiri Sol-Vane lima ratus tahun lalu," lanjut Lyra. "Seluruh listrik, energi perisai, dan daya tempur militer kota ini disedot langsung dari jantung purba yang terikat di bawah sana. Tanpa Inti itu, Sol-Vane hanyalah tumpukan besi tua di tengah padang pasir."

​"Tapi ada harganya," potong Rayker, suaranya kehilangan nada gurauan khasnya. Matanya menatap tajam pada hologram bola kristal yang retak. "Sejak sepuluh tahun lalu, Inti itu mulai membusuk. Ekstraksi berlebihan oleh Dewan Agung Kerajaan membuat kestabilannya hancur. Radiasi pembusukan itulah yang menarik monster-monster seperti Titans-Behemoth di perbatasan."

​Caelum menunjuk struktur rantai energi di sekitar hologram. "Dan di situlah Proyek Apotheosis masuk."

​Ren menatap ketiga pahlawan di hadapannya. "Eksperimen yang menciptakan kalian bertiga?"

​"Kami bukan cuma diciptakan untuk jadi pahlawan perbatasan," jawab Caelum dingin, memperbesar tampilan struktur jiwa Rayker, Lyra, dan dirinya sendiri di hologram. "Dewan Agung menyuntikkan pecahan cairan Inti Arsitek ke dalam tubuh kami bukan hanya untuk memberi kami kekuatan kasta Sovereign... tapi untuk menjadikan kami Wadah Penampung."

​Lyra mengepalkan tangannya di bawah meja. "Jika suatu hari Inti di bawah kota ini meledak total, jaringan sihir kerajaan akan secara otomatis mengalihkan seluruh beban radiasi pembusukan itu ke dalam inti jiwa kami bertiga. Kami diciptakan untuk menjadi sekring hidup yang akan hancur meleleh demi menyelamatkan struktur kota."

​Ruangan hening sejenak. Angin malam Sol-Vane berhembus menabrak dinding kaca tebal.

​Ren menyesap tehnya kembali, menatap bola kristal holografik yang retak di tengah meja. Bagi manusia biasa atau pahlawan terkuat benua sekalipun, kenyataan bahwa mereka adalah wadah pengorbanan adalah sebuah tragedi kelam. Namun di mata Ren Vaelen, ia melihat hal yang jauh lebih mendasar.

​"Konstruksi penstabilan energinya sangat buruk," cetus Ren santai.

​Rayker mendongak, terperangah. "Apa?"

​"Pola susunan rantai buatan dewan kalian itu," kata Ren sambil menunjuk salah satu sudut rantai holografik dengan ujung jarinya. "Mereka mencoba mengikat energi berkepadatan kosmik menggunakan hukum sihir tingkat rendah. Itu seperti mencoba menahan aliran air terjun menggunakan jaring ikan dari benang sutra. Pantas saja intinya retak."

​Caelum membelalak. "Kau... kau bisa memahami struktur formasi pengikat Arsitek hanya dalam satu kali lihat?!"

​"Strukturnya terlalu sederhana," jawab Ren jujur. "Tapi yang lebih menarik... pendaran energi di bawah sana bukan cuma membusuk. Ada sesuatu di dalam Inti itu yang sedang berusaha bangkit karena dibangunkan secara paksa oleh Dewan Agung kalian."

​Kata-kata Ren membuat ketiga pahlawan Sol-Vane merinding seketika.

​Sebelum Rayker atau Lyra sempat bertanya lebih jauh, alarm darurat tersembunyi di dalam saluran komunikasi Caelum mendadak berbunyi nyaring dengan nada frekuensi khusus—frekuensi milik Dewan Agung Sol-Vane.

​Sebuah pesan enkripsi tingkat tertinggi muncul di pergelangan tangan Caelum:

​[PERINTAH DARURAT DEWAN AGUNG: Tiga Bintang Divisi Penumpas diminta segera menghadap ke Ruang Reaktor Inti Bawah Tanah. Ditemukan anomali penyusupan di Ruang Segel Utama.]

​Caelum menatap layar itu dengan waut wajah pucat, lalu menatap Ren dan kedua rekannya.

​"Dewan Agung memanggil kita ke ruang reaktor..." bisik Caelum. "Sesuatu terjadi di bawah sana."

​Rayker berdiri, menegakkan tubuhnya kembali sembari tersenyum kecil ke arah Ren. "Yah... sepertinya malam santai kita harus dipotong singkat."

​Ren ikut berdiri, merapikan mantel panjang hitam barunya. "Aku ikut."

​Lyra menatap Ren terkejut. "Kau yakin? Itu adalah area paling berbahaya dan terlarang di kerajaan ini. Kau tidak punya kewajiban untuk terlibat dalam masalah kota kami."

​Ren menepuk-nepuk saku mantel barunya yang nyaman. "Anggap saja ini bonus karena kalian sudah membelikanku baju baru. Lagi pula... aku agak penasaran dengan 'bangkai' yang ada di bawah sana."

1
indah Mayaddah f
Kerja berat tiap hari, di panggil si nol terus di hina tapi Ren diam aja. Sabar sekali dia 😔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Saya biasanya lihat kultivasi, hari ini belajar sihir🤣
Myz Pena
waoow meskioun makhluk itu sebesar bukit kecil namun kekuatannya tidak kaleng - kaleng.. sungguh dahsyat
CNNTAYY
haha rahasia valeria aja sampai ketahuan mana ukuran sepatu dan rambut lagi🤭
iorlif
siapakah sosok tanpa tubuh pasti itu?
Siti Aisyah
Hebat sekali valeria bisa mengalahkan seekor calamity wolf itu👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
mampir auhtor. mau tanya mau ikut masuk grup aku gak. saling berbagai ceritaa dan support
Muhammad Wahyu: gimana kak?
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!