NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Batas yang Dipaksa Pecah

Bab 10

Alarm berbunyi pukul empat lewat tiga puluh pagi.

Ervan Noir membuka mata sebelum bunyi kedua sempat terdengar.

Tangannya meraba ponsel di samping kasur, mematikan alarm, lalu terdiam beberapa detik sambil menatap langit-langit kamar yang masih gelap.

Tubuhnya terasa berat.

Paha, bahu, sampai bagian belakang betis masih menyimpan sisa pegal latihan kemarin. Tidak separah beberapa hari pertama, tetapi cukup untuk membuat kasurnya terasa jauh lebih nyaman daripada biasanya.

Ervan memejamkan mata lagi.

Hanya sebentar.

Lalu pandangannya beralih ke meja di dekat jendela.

Sebuah buku catatan terbuka di sana.

Tulisan yang dibuatnya semalam terlihat samar dalam kegelapan.

PHASE II

TARGET: 3× BASELINE AWAL

Ervan menatapnya beberapa saat.

Ketika pertama menulis angka itu, ia sadar target tersebut terdengar tidak masuk akal.

Orang lain yang seusianya telah menjalani latihan bertahun-tahun. Banyak calon Hunter bahkan sudah dibentuk sejak usia ketika Ervan masih sibuk menjalani pemeriksaan berulang hanya untuk mengetahui kenapa CORE di tubuhnya tidak pernah bergerak dari nol persen.

Mereka punya waktu.

Pelatih.

Fasilitas.

Pengalaman.

Ervan mempunyai kurang dari satu bulan.

Ia duduk di tepi kasur.

"𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, suaranya masih serak oleh sisa kantuk.

Kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.

Ia berdiri.

---

Udara pagi masih dingin ketika Ervan keluar.

Jalanan belum ramai. Beberapa lampu rumah masih menyala, sedangkan sebagian besar toko belum membuka pintu mereka. Hanya suara kendaraan yang sesekali lewat dan gesekan sepatu Ervan dengan aspal yang mengisi kesunyian.

Ia memulai dengan jogging ringan.

Dua kilometer pertama digunakan untuk pemanasan.

Setelah itu kecepatannya naik.

Langkahnya kini jauh berbeda dibanding hari pertama.

Dulu, napasnya mulai berantakan sebelum kilometer pertama benar-benar selesai. Sekarang ia masih bisa mempertahankan ritme sambil memperhatikan pola napasnya.

Tarik.

Buang.

Empat langkah.

Tarik lagi.

Keringat mulai muncul di pelipis.

Ervan melirik angka pada jam di pergelangan tangannya.

Lebih cepat.

Ia melanjutkan.

Ketika mencapai batas jarak yang seharusnya menjadi akhir jogging pagi, ia tidak berhenti.

"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮. 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘪𝘭𝘰𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪," desis 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di sela napasnya.

Kakinya kembali bergerak.

Satu kilometer berubah menjadi satu set interval sprint.

Setelah itu baru ia berjalan pelan, berusaha mengatur napas.

Dada naik turun dengan cepat.

Namun sensasi lelah yang biasanya bertahan lama mulai berkurang hanya dalam beberapa menit.

Ervan menunduk, kedua tangan bertumpu pada pinggang.

"𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lirih, napasnya belum sepenuhnya teratur.

Ia menunggu tubuhnya menjawab.

Tidak ada rasa sakit tajam.

Tidak ada pusing.

Napas mulai kembali normal.

Ervan mengangkat kepala.

"𝘚𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪," putus 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mantap.

Ia berlari.

---

Setelah jogging, latihan berlanjut di area terbuka tidak jauh dari panti.

Push-up.

Sit-up.

Squat.

Burpee.

Plank.

Latihan koordinasi kaki menggunakan garis-garis lantai sebagai patokan.

Tidak ada peralatan mahal.

Tidak ada mesin latihan Hunter.

Yang ia miliki hanya ruang, tubuhnya sendiri, dan beberapa benda sederhana yang bisa digunakan sebagai beban.

Ervan menyelesaikan satu set push-up.

Tangannya gemetar ketika tubuh terangkat untuk repetisi terakhir.

Ia duduk, meraih botol air, lalu melihat catatan latihan di ponselnya.

Waktu istirahat belum mencapai durasi yang ia tetapkan.

Tetapi napasnya sudah mulai tenang.

Tatapannya berpindah dari layar ke kedua tangannya.

Beberapa hari lalu, ia membutuhkan waktu hampir dua kali lebih lama.

Recovery lagi.

Ervan mengepalkan jari.

Tubuhnya memang berkembang karena latihan. Itu jelas.

Namun secepat ini?

Ia belum mempunyai cukup data untuk memastikan apa pun.

CORE miliknya baru aktif setelah bertahun-tahun gagal terpasang sempurna. Luka tusuk yang seharusnya ada pun pernah menghilang tanpa penjelasan.

Terlalu banyak kemungkinan.

Ervan menekan tombol pencatat waktu.

Istirahat selesai.

Ia berdiri.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪..." gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil mengusap keringat di dagu dengan punggung tangan.

Pandangan Ervan jatuh pada target latihan hari itu.

"...𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴," lanjut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pelan, lebih mirip keputusan daripada gumaman.

Set berikutnya dimulai.

---

Beberapa jam kemudian, Ervan sudah berdiri di balik kasir minimarket.

Seragam kerjanya menutupi tubuh yang masih terasa hangat setelah mandi.

Bip.

Satu barang melewati pemindai.

Bip.

Barang kedua.

"𝘛𝘰𝘵𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘥𝘶𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴, 𝘒𝘢𝘬," ucap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan senyum kasir yang sudah ia hafal di luar kepala.

Pelanggan menyerahkan uang. Ervan menghitung kembalian, memasukkannya ke tangan pelanggan, kemudian merapikan barang berikutnya.

Aktivitas itu berlangsung nyaris otomatis.

Namun ketika tidak ada pelanggan, Ervan sesekali menekuk jari di bawah meja kasir.

Otot lengannya terasa kencang.

Bukan sakit.

Hanya lelah.

Ia membuka catatan di ponselnya.

Latihan pagi

Jogging: selesai.

Interval: selesai.

Bodyweight: selesai.

Koordinasi: selesai.

Di bawahnya terdapat jadwal malam.

Ervan menatap daftar itu beberapa detik.

Push-up tambahan.

Squat.

Grip.

Core training.

Mobilitas.

Kemudian belajar teori BETA sebelum tidur.

Masih banyak.

Ia menutup ponsel ketika seorang pelanggan datang.

Hari terus berjalan.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Ervan beberapa kali menguap, tetapi tidak sampai kehilangan fokus saat bekerja.

Anehnya, rasa pegal yang begitu jelas terasa ketika shift dimulai justru semakin berkurang.

Menjelang akhir pekerjaannya, bahunya bahkan hampir tidak terasa sakit lagi.

Ervan memutar lengan perlahan.

Cepat banget.

Ia pernah membaca tentang adaptasi fisik setelah aktivasi CORE. Tubuh Hunter memang memiliki potensi jauh melebihi manusia biasa.

Tetapi dirinya bahkan belum menjadi Hunter.

Dan sekali lagi, ia tidak tahu standar pemulihan seseorang yang CORE-nya baru saja mencapai seratus persen.

Ervan memasukkan ponsel ke saku.

Kesimpulannya tetap sama.

Belum cukup data.

---

Langit telah berubah gelap ketika Ervan kembali ke panti.

Aroma masakan menyambutnya sebelum ia sempat masuk lebih jauh.

Rosaline berdiri di dekat meja makan. Wanita berusia tujuh puluh tujuh tahun itu hanya membutuhkan satu pandangan untuk memperhatikan sesuatu.

"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪? 𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘣𝘢𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 tanpa berhenti menata sendok di atas meja.

Ervan berhenti.

"𝘒𝘰𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶? 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘬𝘶?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, merasa seperti tertangkap basah.

"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯. 𝘓𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘦𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨, 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭," jawab 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 datar.

Ervan melirik kakinya sendiri.

"𝘚𝘦𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶? 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan kening berkerut.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵𝘢𝘯," balas 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲, sudut matanya berkerut menahan geli.

Ervan menarik kursi.

Rosaline meletakkan makanan di depannya, tetapi bukannya langsung pergi, ia memandang wajah Ervan beberapa detik.

"𝘓𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘑𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳," tanya 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲, suaranya melunak.

"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil memutar bahunya sekali sebagai bukti.

"𝘐𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵?" kejar 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

"𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵. 𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘭 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘦𝘩-𝘢𝘯𝘦𝘩," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, memilih tidak berbohong.

Rosaline menarik kursi di seberangnya.

"𝘗𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮-𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘳. 𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪?" tanya 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲, kedua tangannya terlipat di atas meja.

Ervan tidak langsung menjawab.

Kesunyian singkat itu sudah cukup.

Rosaline mengangkat alis.

"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢," tegur 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

"𝘓𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘵𝘶𝘳, 𝘬𝘰𝘬. 𝘈𝘥𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘦𝘥𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, terlalu lancar untuk ukuran orang yang baru saja terdiam.

"𝘐𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬," sahut 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

Ervan mengambil sendok.

"𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵. 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa mengangkat pandangan dari sendoknya.

"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢," jawab 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 tenang.

"𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. 𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘯𝘰𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬," ucap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, suaranya merendah.

"𝘐𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶," balas 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

Sendok Ervan berhenti sebelum menyentuh makanan.

Rosaline tidak meninggikan suara. Justru itulah yang membuatnya sulit diabaikan.

"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲, menatapnya lurus dari seberang meja.

Ervan menatap makanan di depannya.

"𝘈𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

Rosaline menunjuk piringnya.

"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘐𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪," lanjut 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

Ervan menahan senyum kecil.

Rosaline belum selesai.

"𝘋𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳. 𝘛𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘱𝘶," tambah 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

"𝘉𝘢𝘪𝘬," sahut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 patuh, sebelum daftar itu sempat bertambah panjang.

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 '𝘣𝘢𝘪𝘬' 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘭𝘢𝘩𝘳𝘢𝘨𝘢," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 dengan mata menyipit.

Ervan akhirnya tersenyum.

"𝘐𝘺𝘢, 𝘪𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘫𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil mengangkat sendoknya seperti orang bersumpah.

Rosaline menghela napas pendek, lalu berdiri.

"'𝘜𝘴𝘢𝘩𝘢𝘬𝘢𝘯' 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘥𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘢𝘸𝘢𝘭," balas 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲, menepuk bahu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sekilas sebelum berlalu.

Ervan tidak membantah.

Karena memang tepat sasaran.

---

Malam itu Ervan kembali berlatih.

Awalnya sesuai jadwal.

Push-up.

Istirahat.

Squat.

Istirahat.

Latihan grip.

Core training.

Mobilitas.

Semuanya dicatat.

Semuanya diukur.

Tidak ada masalah.

Justru itulah masalahnya.

Ketika seluruh target selesai, Ervan masih merasa bisa bergerak.

Ia berdiri sambil mengatur napas.

Keringat membasahi kausnya, tetapi tubuhnya tidak terasa seburuk yang ia bayangkan.

Matanya jatuh pada catatan.

TARGET HARI INI: SELESAI

Seharusnya cukup.

Ervan mengetahui itu.

Ia bahkan baru saja mendengar peringatan Rosaline beberapa jam sebelumnya.

Namun angka lain muncul dalam pikirannya.

Tiga kali.

Bukan sedikit lebih baik.

Bukan sekadar cukup.

Ia harus mengejar kapasitas tiga kali baseline awalnya.

Ervan menambahkan sepuluh push-up.

Selesai.

Sepuluh lagi.

Masih bisa.

Ia menambahkan squat.

Kemudian plank.

Ketika timer berbunyi, ia memperpanjangnya.

Tiga puluh detik.

Lalu tiga puluh detik lagi.

Otot perutnya mulai terbakar.

Tangannya bergetar.

Ervan jatuh duduk ketika selesai.

Napasnya kasar.

Ia mengambil air.

Beberapa menit berlalu.

Tubuhnya kembali terasa sedikit lebih baik.

Ervan menatap tangannya.

Pulih lagi.

Pikiran yang pagi tadi hanya berupa kemungkinan perlahan berubah menjadi pembenaran.

Kalau tubuhnya mampu pulih—

berarti ia bisa menekan lebih jauh.

Ervan bangkit.

Satu set lagi.

---

Kesalahan pertamanya adalah menganggap rasa lelah yang berkurang berarti tubuhnya sudah pulih sepenuhnya.

Kesalahan keduanya adalah terus menambah latihan setiap kali tubuh memberinya sedikit ruang.

Kesalahan ketiganya adalah tidak berhenti ketika tanda pertama muncul.

Penglihatannya sempat gelap selama sepersekian detik setelah burpee.

Ervan berhenti.

Menelan ludah.

Ruangan kembali jelas.

"𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘶𝘯𝘢𝘯𝘨-𝘬𝘶𝘯𝘢𝘯𝘨. 𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘮𝘢𝘯," ucap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, lebih terdengar seperti membujuk dirinya sendiri.

Ia melanjutkan.

Sepuluh repetisi.

Sebelas.

Dua belas.

Dada mulai terasa berat.

Tiga belas.

Keringat jatuh ke lantai.

Empat belas.

Kakinya kehilangan kestabilan saat berdiri.

Ervan meraih sisi meja.

Ia diam beberapa detik.

Detak jantungnya terasa sampai ke telinga.

Seharusnya cukup.

Namun pandangannya jatuh pada jurnal latihan yang terbuka.

3× BASELINE AWAL

Ervan kembali mengambil posisi.

"𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳. 𝘏𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪," janji 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan suara parau.

Telapak tangannya menempel di lantai.

Tubuh turun.

Naik.

Satu.

Turun.

Naik.

Dua.

Repetisi ketiga terasa seperti tubuhnya bertambah dua kali lipat berat.

Ervan mengertakkan gigi.

Empat.

Siku mulai gemetar.

Lima.

Saat mencoba repetisi berikutnya, lengannya tidak merespons seperti yang ia inginkan.

Tubuh Ervan jatuh ke lantai.

Bruk.

Udara terdorong keluar dari paru-parunya.

Ia terdiam.

Beberapa detik kemudian, Ervan mencoba mendorong lantai.

Tangannya bergetar.

Tubuhnya tidak terangkat.

"𝘚𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴...? 𝘔𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢?" desis 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di sela napas yang tersengal, pipinya masih menempel di lantai.

Ia mencoba sekali lagi.

Gagal.

Ervan membalik tubuh dan berbaring menatap langit-langit.

Napasnya terdengar kasar memenuhi ruangan.

Jantung berdetak liar.

Pelipisnya basah.

Lengan dan kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri.

Tidak ada BETA.

Tidak ada musuh.

Tidak ada orang yang menyerangnya.

Ia hanya kalah terhadap target yang dibuatnya sendiri.

Ervan menutup mata.

Peringatan Rosaline kembali terngiang.

Tapi tubuhmu tidak punya utang sepuluh tahun yang harus dibayar dalam satu malam.

"𝘚𝘪𝘢𝘭... 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯," umpat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lirih, matanya masih terpejam.

Untuk pertama kalinya sejak Phase II dimulai, Ervan tidak mencoba bangkit.

Ia membiarkan tubuhnya tetap di lantai.

Bukan karena menyerah.

Karena akhirnya ia memahami bahwa memaksa tubuh sampai tidak bisa bergerak bukanlah bentuk latihan yang cerdas.

Beberapa menit kemudian, getaran di tangannya mulai berkurang.

Ervan duduk perlahan.

Kepalanya masih terasa ringan.

Ia meraih botol air, minum sedikit demi sedikit, lalu menunggu sampai napasnya kembali stabil.

Setelah cukup kuat untuk berdiri, Ervan menghampiri meja.

Tangannya masih gemetar ketika memegang pena.

Ia membuka jurnal.

Di bawah catatan latihan hari itu, ia menulis:

Target latihan: gagal diselesaikan sesuai rencana tambahan.

Ervan berhenti.

Mencoret kata gagal.

Kemudian menulis ulang dengan lebih jelas.

Kondisi akhir: collapse.

Kemungkinan penyebab: overtraining.

Recovery: tetap lebih cepat dari perkiraan.

Ujung pena berhenti lagi.

Ervan menatap seluruh catatannya.

Selama ini ia berpikir mengejar ketertinggalan berarti melakukan lebih banyak daripada orang lain.

Lebih jauh.

Lebih lama.

Lebih keras.

Padahal latihan yang membuatnya ambruk sampai tidak mampu bangun justru merampas kesempatan untuk berlatih dengan benar keesokan harinya.

Ia menambahkan satu kalimat terakhir.

Evaluasi: intensitas harus diatur. Menambah beban tanpa tujuan hanya membuang tenaga.

Ervan menyandarkan tubuh ke kursi.

Masih ada rasa tidak puas.

Bagian dirinya tetap ingin berdiri dan mencoba lagi.

Tetapi kali ini ia menahannya.

Tiga kali lebih keras tidak boleh berarti tiga kali lebih bodoh.

Ia membalik halaman.

Menulis jadwal untuk besok.

Volume latihan dikurangi pada bagian tertentu. Waktu istirahat diperpanjang. Interval disusun ulang. Tidak ada set tambahan di luar program.

Setelah selesai, Ervan menatap satu kalimat besar di bagian atas halaman.

PHASE II — 3× BASELINE AWAL

Target itu tetap ada.

Ia tidak menurunkannya.

Hanya caranya yang berubah.

Ervan menutup jurnal.

"𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pada sampul jurnal yang sudah tertutup.

Ia hendak berdiri, lalu berhenti sejenak ketika kedua pahanya masih memprotes.

Ervan mendecakkan lidah.

"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯," tambah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil meringis memijat pahanya.

Di atas meja, ponselnya masih menampilkan beberapa tab yang belum sempat ditutup.

Latihan fisik.

Metode recovery.

Klasifikasi BETA.

Teori CORE.

Semua sudah ia pelajari sedikit demi sedikit.

Ervan mengambil ponsel itu dan mematikannya.

Ia belum menyadari satu kekosongan paling besar dalam seluruh persiapannya.

Tubuhnya mulai menjadi lebih kuat.

Staminanya meningkat.

Recovery-nya semakin cepat.

Tetapi selama berminggu-minggu menyusun cara mengejar orang lain—

Ervan belum pernah benar-benar mempelajari bagaimana menjaga posisi tubuh ketika diserang.

Bagaimana menghindar.

Bagaimana bertahan.

Bagaimana membaca gerakan lawan.

Atau bahkan bagaimana melayangkan pukulan dengan benar.

Dan tidak lama lagi, sebuah kesalahan yang selama ini tidak pernah ia anggap penting akan memaksanya membayar pelajaran itu dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!