Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembersihan di Abadi Permai
Ruang sidang lantai dua yang ku masuki bersama Pak Baskoro dan Rijal nampak terlihat lenggang.
Aku duduk di barisan depan di apit Pak Baskoro dan Rijal, di depan ku sudah duduk berjajar para kepala divisi dan staf administrasi.
Mereka tampak asing di mataku, dengan tatapan sorot mata yang seakan ingin menelanjangi isi pikiranku.
"Mbak di depan kita itu nama nya Pak Pendi, Ia termasuk salah satu tangan kanan Pak Prasetio, di sebelah kanannya Bu Rahma, dia kepala divisi bagian keuangan, dan sebelah kirinya Pak Herman dia adalah kepala divisi bagian logistik." Rijal membisik kan nama-nama orang orang penting dari sekian banyak yang duduk di hadapan mejaku.
"Mereka semua kepercayaan Pak Prasetio kah? " Aku berkata sangat pelan.
"Iya.'' Rijal menjawab singkat.
"Baik rapat di mulai." Aku menjawab bisikan Rijal lalu berdiri tegak untuk memulai pembicaraan.
"Selamat siang bapak ibu kepala divisi dan jajaran staf sekalian, terimakasih kalian sudah hadir tepat waktu di acara siang ini, sebelum rapat di mulai perkenalkan Saya Maya Estianti,"
Aku menarik nafas sebentar lalu melanjutkan, " kenapa Saya berani berdiri di sini, karena Saya adalah pewaris tunggal dan sah dari perusahaan yang di rintis oleh kakek saya dari pihak Ibu Saya Pratiwi.''
Aku menyapu pandangan ke dalam ruang rapat memperhatikan ekspresi masing masing orang orang yang berada di depanku.
"Seperti yang kita ketahui bersama bahwa CV Abadi Permai saat ini sedang di ujung kehancuran, gaji karyawan yang menunggak, belum lagi bayaran listrik yang juga telat, alat untuk beroperasi di lapangan banyak yang rusak, di tambah ada yang hilang." Aku berkata pelan tapi cukup terdengar di ruangan ini dengan tidak menampilkan senyum sedikit pun.
"Untuk itu guna mengatasi kejanggalan yang ada di sini," sengaja ku tekan kalimat ini untuk memancing reaksi semua yang hadir di ruangan ini.
"Aku melakukan pemblokiran atas semua aset, dan semua rekening atas nama CV Abadi Permai ini."
"Hemm." Terdengar suara deheman dan bisik bisik di seluruh ruangan.
"Ijin bicara Bu, perkenalkan Saya Bu Rahma kepala divisi bagian keuangan, yang ingin Saya tanyakan Ibu melakukan pemblokiran, lalu membukanya kembali tanpa ijin semua karyawan dan staf terutama kepala divisi, bukankah itu sebuah pelanggaran Bu Maya?" Suara itu tenang tapi aku tau di balik ketenangan itu dia ingin menjatuhkan ku.
"Ijin bicara juga Bu, Saya Pendi kepala divisi semua operasional di perusahaan ini, mohon maaf sebelumnya pemblokiran itu Ibu lakukan tanpa ijin dari Pak Prasetio dan Bu Prilia, apakah itu pantas ?apa lagi di sana ada dana ekspansi?"
Deg
Jantung ku berdetak lebih kencang mendengar kata ekspansi itu.
"Baik lah Saya jawab dulu pertanyaan Bu Rahma." Ku pandang lekat raut wajahnya, aku sempat menilai wanita yang cantik mulus glowing pasti skin care nya mahal batinku.
"Kenapa Saya blokir sepihak ketika itu? Karena Saya yakin banyak tikus curut di perusahaan ini!" Aku tersenyum tenang ketika mengucapkan kata kata itu, "sebelum Saya sempat tahu bahwa gaji karyawan menunggak dan beberapa keluhan lain nya yang berhubungan dengan keuangan, bahkan setelah Saya tahu lebih banyak, aset perusahaan pun ada beberapa yang hilang, yang Saya tanyakan siapa yang bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi ini." Ku pandang Bu Rahma dengan tatapan tenang tapi menyelidik.
"Pertanyaan dari Pak Pendi Saya jawab, sekaligus Saya ingin bertanya, baiklah tadi anda mengatakan tentang dana ekspansi? Jawab pertanyaan Saya!" nada bicaraku terdengar serius dan tegas.
"Ekspansi yang mana?! Pengembangan apa yang sudah di lakukan perusahaan ini, jangankan untuk melakukan perluasan, gaji karyawan pembayaran listrik saja menunggak!"Ku tatap mata Pak Pendi tanpa berkedip.
"Atau jangan jangan memang sudah ada yang melakukan pengembangan membuka cabang, dan mengambil dana ekspansi dari sini!"
Pak Pendi tidak berkutik dengan pertanyaan ku.
"Saya hadir dan berdiri di sini hari ini karena Saya ingin perusahaan kakek yang sudah dirikan nya dengan susah payah ini tidak mengalami gulung tikar, Saya tidak menuduh Bapak dan Ibu semua atas apa yang terjadi di perusahaan ini, Saya hanya ingin mengajak mari sama sama bebenah, kita perbaiki situasi darurat ini." Aku berhenti sebentar menarik nafas sambil menelan ludah membasahi tenggorokan ku yang kering.
"Saya minta semuanya melakukan audit mandiri, atas pekerjaan dan tugas masing masing, laporan paling lambat Saya terima besok pagi, dan mulai detik ini Saya yang memimpin perusahaan ini untuk itu Saya akan mengubah struktur mana yang kooperatif dan tidak, mungkin besok ada yang naik jabatan, atau sebaliknya."
Semua kepala divisi dan para staf itu hanya menunduk, lalu ku tutup rapat pertamaku ini dengan ucapan selamat siang, dan menyuruh Mereka kembali ke ruang masing masing.
Satu persatu kepala divisi dan jajaran Staf itu meninggalkan ruangan dengan mengangguk hormat dulu padaku yang masih duduk di ruangan ini bersama Pak Baskoro dan Rijal.
Begitu bayangan mereka menghilang dan langkah kaki di koridor mulai sepi, aku langsung menyandarkan punggung ke kursi, melepaskan napas panjang yang sejak tadi seakan tertahan . Sumpah, rasanya pegal sekali harus berakting sok galak dan tenang di depan belasan orang tadi.
"Gimana, Pak Baskoro? Pas kan gertakan saya tadi?" tanyaku sambil memijat pelipis pelan sambil terkekeh.
Pak Baskoro yang duduk di sampingku tertawa pelan. Beliau melepas kacamata minusnya, lalu menyekanya santai dengan saputangan kain.
"Luar biasa, May. Muka Bu Rahma sama Pak Pendi tadi sampai pias begitu. Tapi jujur, Bapak kaget waktu kamu langsung skakmat Pak Pendi soal dana ekspansi. Kok kamu bisa seyakin itu menargetkan dia?"
Aku tersenyum tipis, lalu menatap Pak Baskoro dan Rijal bergantian.
"Begitu Rijal memberitahu nama-nama orang yang dipercaya Prasetyo sebelum rapat dimulai tadi, di sana naluri saya langsung berjalan, Pak," kataku dingin.
"Saya tahu betul karakter Prasetyo. Dia itu tidak secerdik itu untuk bisa main rapi menguras aset perusahaan sendirian. Naluri saya bilang, mereka yang mengaku sebagai 'orang kepercayaan' Prasetyo ini sebenarnya cuma memanfaatkan ketidakpahamannya. Setiap kali dipojokkan, nama Prasetyo yang mereka tameng kan. Padahal di belakang, mereka sebenarnya main mata sama Prilia!"
"Oalah... jadi itu alasannya Mbak Maya langsung 'nembak' Pak Pendi tadi?" timpal Rijal sambil mengangguk-angguk paham. Binar matanya kelihatan kagum. "Saya kira Mbak Maya sudah pegang data ekspansi itu dari kemarin."
"Belum, Jal. Itu murni naluri dan gertakan saya saja begitu melihat reaksi mereka kamu tahu sendiri kan baru hari ini aku berada di sini, semua petunjuk justru ku dapatkan darimu," jawabku jujur.
Aku memajukan dudukku, menatap meja panjang yang kini terasa lengang. "Tapi ingat... orang kalau memang menyimpan bangkai, biasanya cuma punya dua reaksi. Kalau tidak panik setengah mati, ya malah makin nekat karena merasa posisinya masih aman." Aku menjawab kalem.
"Betul kata Mbak Maya," sela Rijal seraya teringat sesuatu. Dia memajukan posisi duduknya, menatap kami berdua secara bergantian.
"Apalagi kalau kita ingat lagi catatan penjualan aset yang dikasih Pak Prasetyo ke saya kemarin." Jawab Rijal.
Tek
"Nah itu." Aku menekan jari jempol dan tengahku hingga berbunyi Tek nyaring dan kuat tanda setuju karena Rijal mengingatkan kembali tentang berkas itu.
"Catatan dari Prasetyo itu sudah jadi bukti kuat kalau hubungan dia sama Prilia di belakang memang sudah retak," kata Pak Baskoro seraya mengelus dagunya, mengingat kembali isi dokumen tersebut.
"Tapi yang bikin saya heran... kenapa penjualan aset oleh Prilia itu alurnya rapi sekali sampai para kepala divisi seperti Pak Pendi dan Bu Rahma ikut pasang badan?"
"Karena naluri Mbak Maya tadi seratus persen tepat, Pak," sahut Rijal dingin. "Di halaman belakang catatan yang dikasih Pak Prasetyo itu, ada aliran dana jumlah fantastis dari Prilia yang bukan lari ke rekening pribadi, melainkan ke satu PT misterius. Sepertinya Prilia dan para kepala divisi itu memang punya permainan sendiri di luar pengetahuan Pak Prasetyo."
"PT apa, Jal?" tanyaku memastikan kembali.
"PT Mahkota Jaya Utama," potong Pak Baskoro cepat. Suaranya berubah jadi sangat berat saat menyebut nama itu.
Aku memandang Pak Baskoro dan Rijal bergantian. "PT Mahkota Jaya Utama? Perusahaan apa itu sebenarnya, Pak? Kok saya tidak pernah mendengar Kakek atau Ibu cerita soal nama PT itu?"
"Ya jelas kamu tidak pernah dengar, May. Wong PT itu memang tidak pernah terdaftar di buku resmi keluarga," sahut Pak Baskoro seraya menghela napas panjang.
"Tapi nama PT itu... pernah seliweran di lembar draf pengalihan aset rahasia waktu Ayahmu masih terbaring sakit sebelum meninggal."
Jantungku rasanya seperti berhenti sejenak. Dahi dan tengkukku mendadak merinding dingin. Prilia dan para kepala divisi menggerogoti aset perusahaan untuk PT misterius.
"Jadi... lingkaran pengkhianat ini saling sikut di belakang kita, Pak?" tanyaku dengan suara bergetar menahan amarah.
Pak Baskoro menyandar ke kursi, tatapannya menerawang jauh menatap pintu ruang rapat.
"Lingkaran racun ini lebih busuk dari yang kita duga, May, dan tugas kita sekarang... manfaatkan catatan dari Prasetyo ini buat menghancurkan permainan Prilia dan PT misterius!"
"Tapi bagaimana caranya kita menekan Pak Pendi dan Bu Rahma tanpa membuat Prilia sadar kalau pergerakannya sudah terbongkar?" tanya Rijal seraya mengetukkan jarinya ke atas meja.
"Sederhana, Jal," jawabku seraya tersenyum tipis, sebuah gagasan cemerlang mendadak terlintas di benakku.
"Audit mandiri yang ku tetap kan tadi bukan sekadar gertakan kosong. Kita gunakan tenggang waktu besok pagi sebagai umpan. Siapa pun yang menyerahkan laporan paling panik dan penuh kejanggalan malam ini, dialah yang sedang berusaha menutupi aliran dana ke PT Mahkota Jaya Utama."
Pak Baskoro tersenyum penuh arti mendengar penjelasanku. Beliau menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan rapat yang sunyi, lalu kembali menatapku penuh rasa bangga.
"Langkah yang sangat cerdas, May. Kakekmu pasti bangga melihat keberanian dan ketajaman nalurimu hari ini. Sekarang, mari kita bersiap. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai."
"Iya Pak sekarang kita istirahat dulu pulang ke rumah masing masing, rasanya aku sudah lama sekali meninggalkan Siska dan Rian bersama Bu Aminah." Jawabku seraya merapat kan ke dua tangan lalu menarik lurus ke depan tanda aku sangat lelah
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇