Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 (KASUS 1) SANG PERANTARA SIHIR
Cahaya siang yang terik menerobos lewat celah tirai kaca ruang kerja Unit Jatanras.
Suara-suara ketukan tombol keyboard beradu cepat dengan deru kipas pendingin dari tiga unit komputer server portabel yang terpasang di sudut meja.
Ipda Harumi berdiri membungkuk di belakang kursi Aipda Rudi dan Bripda Aris—ahli teknologi informasi dari Tim Siber Kepolisian.
Di atas meja kerja Harumi, dua cangkir kopi hitam yang mulai dingin berdiri berdampingan dengan berkas penyitaan laptop milik almarhumah Frida Valery.
"Bagaimana, Aris? Folder yang terenkripsi ganda di drive D sudah bisa dibuka penuh?" tanya Harumi dengan suara tegas dan penuh rasa ingin tahu.
Bripda Aris mengusap pelipisnya yang berkeringat, lalu menyunggingkan senyuman lega seraya menekan tombol Enter.
"Beres, Bu Kanit! Dinding pertahanan kata sandinya sudah berhasil kita tembus," jawab Aris antusias. "Mbak Frida rupanya menyimpan catatan agenda harian yang sangat rapi di dalam folder tersembunyi ini. Ada rekaman suara, foto manifes tamu, sampai lampiran undangan khusus bertanda bintang."
"Bagus sekali, Aris!" puji Harumi. "Coba buka agenda satu minggu sebelum kematian Jonathan Nasution. Cari acara-acara luar kantor yang sifatnya tertutup atau tidak masuk dalam jadwal resmi perusahaan."
Jemari Aris bergerak lincah menggeser kursor komputer. Sebuah riwayat kalender digital berwarna merah menyala muncul di layar monitor utama.
"Ini dia, Bu!" tunjuk Aris pada sebuah kolom agenda bertanggal lima hari sebelum kematian Jonathan. "Hari Sabtu malam minggu lalu, jam 8 malam. Ada catatan agenda berjudul 'Gala Dinner Rahasia & Pertemuan Konsorsium Proyek Jawa'."
Aipda Rudi yang berdiri di sebelah Harumi memicingkan matanya. "Gala dinner rahasia? Di mana lokasinya, Ris?"
"Lokasinya di Grand Ballroom lantai teratas Hotel Imperial Bintang Lima," terang Aris sambil mengeklik berkas foto yang terlampir di dalam agenda tersebut. "Acara ini sama sekali tidak ada di rilis pers perusahaan atau media massa. Tamu yang hadir sangat terbatas, khusus pemilik modal kelas atas dan jajaran direksi utama."
Harumi memperhatikan foto-foto dokumentasi rahasia yang diambil secara diam-diam oleh Frida lewat kamera ponselnya.
Di dalam foto-foto tersebut, tampak ruangan megah bernuansa abu-abu dan keemasan. Puluhan pria berjas mewah dan wanita bergaun mahal tampak berdiri mengelilingi meja perjamuan.
Di tengah-tengah kerumunan itu, terlihat Jonathan Nasution sedang berdiri memegang gelas minuman dengan raut wajah yang tampak amat kaku dan tidak nyaman.
"Perhatikan posisi Jonathan di foto ini, Rudi," instruksi Harumi menunjuk layar monitor.
"Iya, Bu Kanit," sahut Rudi cermat. "Pak Jonathan kelihatan dikelilingi oleh Direktur Utama dan Budiarto. Tapi... pria paruh baya bertubuh tinggi besar yang berdiri di sebelah Budiarto itu siapa ya, Bu?"
Harumi mendekatkan wajahnya ke layar monitor. "Aris, tolong zoom-in gambar pria bertubuh tinggi di samping Budiarto itu. perbesar tiga ratus persen di bagian wajah dan pakaiannya."
"Siap, Bu!"
Bripda Aris membesarkan resolusi foto tersebut.
Sosok pria bertubuh tinggi besar berusia sekitar 50-an tahun kini terlihat sangat jelas.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, namun di balik kerah kemejanya, terpapar kain selendang batik tulis bermotif kris kuno berwarna cokelat gelap. Jari-jari tangannya dihiasi beberapa cincin berbatu akik hitam pekat, dan matanya menatap tajam ke arah tengkuk belakang Jonathan.
Di detik itulah...
Saat mata tajam Ipda Harumi menatap sosok pria berjas dengan selendang batik kuno di layar monitor, kekuatan Mata Batin Murni milik jiwa Harumi seketika bereaksi!
Srrttt!
Pandangan batin Harumi menembus citra digital di layar.
Di sekeliling tubuh pria bertubuh tinggi besar itu, Harumi melihat pendaran kabut aura berwarna hitam pekat bercampur merah darah membara—aura kejahatan gaib kasta tinggi yang persis sama dengan gelombang sihir yang mencengkeram tengkuk Jonathan dan membunuh Frida Valery di ruang rapat pagi tadi!
Bahkan di dalam foto digital tersebut, mata batin Harumi bisa melihat benang-benang aura hitam halus yang memancar dari jari-jari bertato cincin milik pria itu, menjalar lembut di udara menuju ke arah leher belakang Jonathan!
Harumi menahan napasnya, matanya berkilat tajam oleh kebenaran gaib yang baru saja terkuak.
"Ketemu..." bisik Harumi dengan intonasi suara dingin dan berbobot.
"Hah? Ketemu apa, Bu Kanit?" tanya Rudi heran menatap atasan wanitanya.
"Pria berjas dengan selendang batik ini..." tegas Harumi menunjuk layar monitor. "Dia bukan pengusaha, bukan pula jajaran direksi. Dialah Sang Perantara Sihir—eksekutor ilmu hitam elit suruhan keluarga Taipan!"
Rudi dan Aris terbelalak kaget. "Hah?! Perantara sihir, Bu?!"
"Tepat sekali!" pangkas Harumi mantap. "Di acara gala dinner rahasia inilah sihir pencuri usia itu pertama kali distempelkan secara halus ke tubuh Jonathan! Pria inilah yang menanamkan benang sihir di tengkuk Jonathan saat mereka berinteraksi di perjamuan tersebut, sebelum akhirnya sihir itu meledak mencabut usianya pada jam 3 dini hari!"
Di tengah keseriusan mereka bertiga, tiba-tiba saja...
Krieeet...
Pintu ruang kerja Jatanras berderit pelan.
dr. Haruma melangkah masuk ke dalam ruangan. Dokter forensik anggun itu sudah mengganti jas laboratoriumnya dengan jaket dinas kepolisian yang rapi. Ia membawa sebuah map bening berisi salinan laporan pemulasaraan jenazah Frida.
"Assalamu'alaikum... Rumi," sapa Haruma dengan suara lembutnya yang menenangkan.
"Wa'alaikumussalam! Kak Haruma!" jawab Harumi seketika, raut wajah tegasnya berganti dengan senyuman hangat dan renyah khas adik kandung. "Sini, Kak! Pas banget Kakak datang! Rumi sama tim siber baru aja ngebongkar foto kuncinya!"
Haruma melangkah mendekati meja kerja adiknya, menyapa Rudi dan Aris dengan senyuman ramah. "Gimana temuan tim siber, Dek?"
Harumi merangkul bahu kakaknya, menunjuk foto pria berjas dengan selendang batik di layar monitor. "Lihat foto ini, Kak! Satu minggu sebelum tewas, Jonathan sama Frida ternyata menghadiri gala dinner rahasia para taipan di Hotel Imperial. Dan mata batinku melihat pria berjas selendang batik ini sebagai perantara sihir utama yang menanamkan cap luka bakar geometris di tengkuk Jonathan!"
Haruma membungkuk, meneliti wajah pria bertubuh tinggi besar di layar komputer dengan ketelitian dokter forensiknya.
"Pria ini..." gumam Haruma pelan. "Coba perhatikan garis hitam di balik kukunya dan pendaran pucat di sekitar matanya, Rumi. Secara medis kedokteran dan tanda-tanda batin, ciri-ciri fisik pria ini menunjukkan dia rutin mengonsumsi racun bahan alami untuk menjaga daya tahan tubuhnya dari efek samping sihir pencuri usia."
"Tepat sekali, Kak!" timpal Harumi tertawa puas. "Gimana, Kak? Analisis dokter forensik sama insting polwan Jatanras kita selalu klop kan?"
Haruma terkekeh renyah, mencubit pelan pipi adiknya dengan gemas. "Selalu klop dong, Dek. Kamu memang kalau urusan melacak jejak penjahat gak pernah meleset instingnya."
Harumi berbalik menatap Bripda Aris kembali, intonasi suaranya berubah menjadi sangat profesional dan tegas.
"Aris! Lacak identitas pria berjas selendang batik ini sekarang juga! Gunakan sistem pencocokan wajah berbasis data kependudukan dan intelijen kepolisian!" perintah Harumi.
"Siap, Bu Kanit! Sedang diproses!" sahut Aris dengan jemari menari cepat di atas kibor.
Sistem face-recognition komputer kepolisian berputar cepat, membandingkan raut wajah pria tersebut dengan jutaan data kependudukan. Hanya dalam hitungan 15 detik, sebuah rekaman identitas resmi muncul di layar monitor dengan lampu hijau berkedip.
"Dapat, Bu!" seru Aris gembira. "Nama terdaftarnya adalah Suroto, usia 52 tahun. Resmi terdaftar sebagai konsultan spiritual dan pemilik sebuah padepokan pengobatan alternatif elit di daerah perkebunan pinggir kota!"
"Padepokan pengobatan elit? Saya tidak paham semua ini." ulang Rudi mengerutkan kening.
"Iya, Pak Rudi," terang Aris sambil membuka peta peta lokasi digital. "Tapi padepokan ini cuma kedok. Tempat ini sebenarnya adalah sanggar ritual rahasia tempat berkumpulnya para pengusaha papan atas untuk meminta ajian penglaris dan ritual pesugihan. Dan dari data GPS ponselnya 10 menit lalu, Suroto terdeteksi sedang berada di lokasi padepokan tersebut!"
Harumi menepuk mejanya mantap. Mata tajam sang polwan Jatanras memancarkan kilatan semangat bertempur yang membara.
"Lokasinya di mana, Aris?" tanya Harumi cepat.
"Di kawasan Perkebunan Teh Sirah Lazuardi, Bu. 30 kilometer di selatan kota. Arah menuju bukit yang sepi," jawab Aris seraya mencetak peta navigasinya.
Harumi berbalik menatap Aipda Rudi dengan ketegasan tak tergoyahkan.
"Rudi! Siapkan dua regu tim taktis Jatanras berpakaian sipil sekarang juga!" komando Harumi dengan suara berbobot yang menggetarkan ruangan. "Siapkan senjata api dinas lengkap dengan rompi anti-peluru! Kita akan melakukan penyergapan dan penggerebekan langsung ke padepokan Suroto sebelum dia sempat melarikan diri atau mengirim serangan sihir berikutnya!"
"Siap, Bu Kanit! Saya kumpulkan anggota di halaman sekarang!" jawab Rudi penuh semangat seraya memberi hormat tegap dan segera melangkah cepat keluar ruangan.
Haruma memegang lengan adik bungsunya dengan rasa kasih sayang dan perhatian yang mendalam.
"Rumi..." panggil Haruma lembut. "Sepertinya... Suroto ini bukan penjahat biasa. Dia adalah dukun elit penyedia sihir bagi sekte THE ONE. Dinding padepokannya pasti dilapisi oleh berbagai jebakan sihir dan racun gaib yang berbahaya."
Harumi menatap mata kakak sulungnya, menyunggingkan senyuman manisnya yang paling hangat dan percaya diri.
"Kak Haruma tenang aja," ujar Harumi renyah seraya merapikan sabuk kopel dan sarung senjata api di pinggangnya. "Mata batin Rumi bakal jadi pemandu jalan buat anak-anak Jatanras. Rumi gak bakal biarkan ada satu pun anggota yang terluka."
Haruma tersenyum haru, mengusap bahu adiknya dengan penuh ketulusan. "Kakak ikut dengan tim helikopter Dokpol dari belakang ya, Dek. Kakak bakal siap siaga di lokasi kalau ada anggota atau warga yang butuh penanganan medis darurat."
"Sip! Makasih banyak ya Kak Haruma tersayang!" balas Harumi penuh rasa kasih sayang.
Dua bidadari penegak keadilan itu saling berhadapan, menyatukan keteguhan niat dan doa tauhid di dalam dada mereka.
Dan petunjuk penting dari laptop almarhumah Frida Valery telah membuka pintu tempat persembunyian Sang Perantara Sihir secara terang benderang.
Dan siang ini, operasi penggerebekan yang dipimpin oleh Ipda Harumi siap meluncur deras, menerjang benteng sihir Suroto demi menegakkan keadilan bagi para korban di Tanah Jawa.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu