NovelToon NovelToon
Cinta Dijalur Misi

Cinta Dijalur Misi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.

Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.

Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSETUJUAN

""Baiklah..... mari kita menikah Bang, Tapi Nara harus menyiapkan surat perjanjiannya dulu,"

ucap Nara sambil sedikit menggoda Revan dengan senyuman jahilnya.

"apa,".....

Revan yang terkejut ...sekaligus sangat bahagia.

seketika tak sanggup membendung rasa syukurnya.

Tanpa ragu, ia langsung memeluk erat Nara dan menggendong tubuh Nara ke udara penuh rasa gembira.

Nara yang tak menduga respon spontan dari sang komandan reflek malu .... Namun, detik berikutnya matanya melirik ke arah tempat sang Ayah masih berdiri.

"Bang... Ada Ayah..."

celetuk Nara dengan pipi yang mendadak merona.

Seketika Revan sadar,

lalu buru-buru menurunkan Nara kembali ke lantai.

Wajah sang komandan prajurit yang biasanya garang itu kini memerah padam karena salah tingkah.

"Oh... Maaf, Pak,"

ucap Revan canggung, menggaruk tengkuknya, sambil menunduk malu di depan calon ayah mertuanya.

melihat tingkah sejoli itu, Ayah Nara justru tertawa .

"Kalau begitu, Ayah permisi istirahat dulu,"

sela Ayah Nara dengan senyum hangat , lalu melangkah menuju kamar .

"Nara balik kamar dulu, Bang... Abang jangan lupa istirahat,"

pamit Nara pelan,

menyembunyikan senyumannya sebelum berbalik melangkah menuju kamarnya.

Revan mengangguk,

menatap punggung Nara yang perlahan menjauh dengan tatapan penuh cinta ..

****

Keesokan paginya, suasana rumah terasa begitu hangat dan segar. Suara denting cangkir dan aroma kopi menyapa pagi di Kota Birna.

Revan yang baru saja selesai bertelepon di teras melangkah masuk ke dalam rumah. Wajahnya berseri-seri saat menyampaikan kabar bahagia kepada keluarga Nara.

"Nara... Ibu, Nisa, dan keluarga lainnya sudah di jalan menuju kemari. Kalau tidak ada kendala, nanti siang mereka sampai dan besok akan datang melamar,"

beritahu Revan mantap dengan senyuman lega.

Yola yang baru saja keluar dari kamar dengan rambut sedikit acak-acakan dan mata yang masih mengantuk seketika melotot kaget mendengarnya.

"Apa?! Kak Nara lamaran?!"

jerit Yola terkejut setengah mati. Segala rasa kantuknya menguap begitu saja. Ia melirik kakaknya dengan tatapan tak percaya.

"Nikah juga kau, Kak... Kukira bakal jadi perawan tua!" ejek Yola usil.

"Yola...!" tegur Ibu Nara tajam dari arah dapur. "Nggak boleh gitu sama Kakak."

Nara yang sedang menata piring di meja makan langsung berbalik, memasang wajah melotot dan balik membalas adiknya tanpa ampun.

"Apaan! Kamu tadi malam pulang jam berapa, hah?" skatmat Nara telak.

"Pacaran terus, nikahnya enggak juga!"

Ejek Nara puas, membalas telak ejekan Yola.

Yola seketika bungkam dan mengerucutkan bibirnya, sementara Revan, Ayah, dan Ibu Nara yang melihat pertengkaran khas kakak-beradik itu hanya bisa tersenyum menyaksikan kehebohan pagi tersebut.

"Ibu juga sudah mengabari kerabat untuk datang besok," seru Ibu Nara dengan wajah berbinar bahagia, tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.

"Ayah nanti akan mendatangi perangkat setempat," lanjut Ayah Nara sambil beranjak dari tempat duduknya.

Lalu Ayah Nara pergi menuju teras samping dengan menggenggam telepon di tangannya. Revan selalu memperhatikan calon ayah mertuanya itu dengan tatapan Selidik.

"Aris, makan yang banyak ya,"

kata Ibu Nara ramah sembari menambahkan lauk ke piring Aris.

"Kamu juga, Van."

Nara yang teringat sesuatu tiba-tiba menoleh menatap Revan.

"Ibu nginap di mana, Bang?"

seru Nara penasaran.

"Di penginapan, udah Abang pesankan,"

jawab Revan lembut menenangkan.

Setelah memastikan seluruh persiapan awal berjalan lancar, Revan melirik jam di tangannya lalu berdiri dengan tegap.

"Kalau begitu Abang pamit, besok Abang balik lagi... untuk melamar," seru Revan terhadap Nara, membuat degupan jantung Nara makin berdebar.

Dengan penuh kesopanan, Revan pamit dengan Ayah, Ibu Nara, dan Yola,aris menyalami mereka satu per satu sebelum melangkah keluar rumah menyongsong hari esok yang paling dinantikannya.

*****

Hari lamaran yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Rumah sederhana keluarga Nara tampak begitu meriah dan hangat.

Dua keluarga besar kini telah berkumpul di ruang tamu yang dihiasi dekorasi manis.

Rasa haru dan bahagia membuncah di udara, menyatukan takdir Revan dan Nara dalam ikatan yang lebih suci.

Di hadapan seluruh keluarga, Revan menyerahkan mahar lamaran berupa emas 10 gram yang dibalut indah dalam bingkai transparan.

Tidak hanya itu, sebagai tanda keseriusan dan rasa tanggung jawabnya yang luar biasa, Revan juga menyampaikan rincian mahar pernikahan kelak: emas Antam sebesar 30 gram, uang tunai sebesar 200 juta rupiah, kelengkapan isi kamar, serta uang hangus senilai 100 juta rupiah.

Ayah Nara yang mendengar rincian sesumbar itu mendadak tertegun.

Dengan lembut namun penuh ketegasan seorang kepala keluarga, beliau merentangkan tangannya pelan, menolak jumlah uang yang sangat besar tersebut.

"Maaf... saya tidak menjual putri saya,"

ucap Ayah Nara dengan suara bergetar menahan haru.

"Saya hanya menginginkan putri kami hidup bahagia."

Mendengar ketulusan calon besannya, Ayah Revan tersenyum hangat dan melangkah mendekat.

"Bapak... ini bukan untuk membeli putri Bapak,"

sahut Ayah Revan tulus.

"Ini murni karena kami sangat menghargai dan memuliakan putri Bapak. Mohon diterima niat baik kami ini."

Ayah Revan menerangkan Ayah Nara dengan rasa hormat.

"Untuk pernikahan, kami serahkan tanggalnya kepada pihak Bapak. Tapi, kami sangat berharap untuk disegerakan," lanjut Ayah Revan.

Ayah Nara menatap Revan dan Nara bergantian, lalu mengangguk mantap dengan senyuman lega.

"Baik, kami juga akan menyegerakannya."

"Alhamdulillah..." seru seluruh keluarga yang hadir secara serentak, menyelimuti ruangan dengan rasa syukur yang membuncah.

Setelah acara inti usai dan dilanjutkan dengan makan bersama, suasana santai mulai mencair.

Nisa, adik perempuan Revan, yang sejak awal sudah sangat mengagumi calon kakak iparnya,dan merindukan nya langsung berlari kecil menghampiri Nara.

Tanpa ragu, Nisa melingkarkan tangannya erat-erat, memeluk Nara dan menciumi pipi Nara tanpa henti.

"Makasih ya Kak Nara udah mau jadi Kakak ipar Nisa!"

serunya riang tak henti-henti.

Di sudut ruangan, Yola berdiri menyendiri memperhatikan pemandangan itu.

Dadanya mendadak terasa sesak melihat sang Kakak yang selama ini selalu bersamanya kini dihujani kasih sayang oleh keluarga baru.

Revan yang sangat peka memperhatikan perubahan raut wajah calon adik iparnya. Ia tersenyum tipis lalu .....

"Dek Nisa... ada yang cemburu tuh," gelagat suara Revan sambil mengarahkan pandangannya menunjuk ke arah Yola.

Nisa dan Nara seketika menoleh. Yola yang sadar dirinya sedang diperhatikan langsung melipat tangan di dada, mencoba menutupi matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Ih! Siapa yang cemburu?! Ambil saja!" cetus Yola gengsi, berusaha menyembunyikan nada suaranya yang bergetar.

Yola buru-buru berbalik dan berjalan cepat menuju kamar untuk menahan rasa sedihnya. Di balik tingkah gengsinya, Yola akhirnya sadar sepenuhnya... bahwa kakak perempuannya sebentar lagi benar-benar akan menikah dan melangkah ke kehidupan yang baru.

" Aris "....

seru Nara

" kenapa nangis adek "...

Lanjut Nara.

" kalau mbak nikah Aris ikut siapa" ...

pilu Aris sambil menunduk..

" kemari sini ....peluk mbak"... Nara merentangkan tangannya.

sebelum Aris sampai dipelukan Nara , Revan sudah terlebih dulu menahan bahu Aris .

" apaan sih bang ..." Nara menatap Revan.

Nara pergi bersama Nisa dan aris meninggalkan revan .

" Nara ...."

panggil Revan putus asa.

" kamu sudah besar Aris, nggak boleh peluk mbak Nara lagi ".. tegas revan..

1
Gabutz
double up dongs thor
Gabutz: wahhh makasih ya thor, sering-sering double up hihihi
total 2 replies
Lestari Muji
lanjut Thor gak ikhlas Nara Revan gak nikah🥹
es moon: 🙏🙏🙏
sip .... ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Lestari Muji
duhh deg"an
sakura
....
es moon: terima sudah mampir, semoga suka ,happy reading
total 1 replies
Rian Moontero
Mampiiirr
es moon: terima kasih, semoga suka..happy reading
total 1 replies
Apis
huuu revan belum jadian asal main kokop aj
es moon: Wkwkwk 😂 Revan emang gercep ya, Kak. Belum jadian udah berani macam-macam.
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Revan dan Nara ❤️ , DiTunggu ya kak kelanjutannya,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!