Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
[🚧 🔞AREA DEWASA ONLY 🚧]
Lampu gantung kristal di langit-langit kamar suite hotel mewah bintang lima di dekat universitas memendarkan cahaya keemasan yang hangat dan remang.
Aroma wangi mawar berpadu dengan kelembapan pendingin udara yang membelai kulit.
Di atas ranjang king-size berseprai sutra putih, Cinderella—dalam raga Marcella Ember Vitiello—duduk menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur.
Kemejanya sudah terlepas separuh, memamerkan bahu mulus dan garis lehernya yang jenjang di bawah temaram lampu.
Di samping meja rias, ia menyandarkan ponsel murah berlayar retak milik Ember dalam posisi berdiri, mengarahkan lensa kamera lurus ke arah tempat tidur.
Modul perekaman video sudah menyala, menampilkan durasi angka merah yang terus berjalan.
Draxler Lutolf Ashford berdiri di tepi ranjang. Pemuda tinggi tegap itu bertelanjang dada, memamerkan garis otot dada dan perutnya yang atletis dan sempurna.
Manik matanya yang tajam dan sedikit memerah memandangi ponsel yang sengaja dipasang oleh gadis di hadapannya.
"Kau benar-benar merekam ini, Ember?" suara Draxler terdengar parau, sarat akan hawa panas yang membakar tenggorokannya.
Cinderella menatap Draxler dengan sudut bibir terangkat membentuk senyum sinis yang dingin—senyum yang dirancangnya untuk memprovokasi ego pemuda itu.
"Kenapa? Kau takut, Mr. Ashford?" tantang Cinderella dengan suara serak yang memikat.
"Aku butuh jaminan. Jika besok pagi kau berlari kabur dan menganggap malam ini tidak pernah terjadi, aku punya bukti untuk menghancurkan reputasimu. Kau masih mau bersumpah atas nama cintamu itu?"
Draxler menatap mata bundar Ember.
Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, dan tidak ada penolakan di dalam manik matanya.
Demi membuktikan bahwa perasaannya bukan sekadar rasa penasaran atau permainan ego belaka, Draxler mengangguk pelan.
"Rekam segalanya," bisik Draxler dengan keteguhan mutlak. "Biarkan dunia tahu bahwa malam ini aku merendahkan seluruh hidupku hanya untuk menjadi milikmu."
Draxler merangkak naik ke atas ranjang, mengikis seluruh jarak di antara mereka.
Kehangatan tubuhnya yang perkasa seketika menangkup tubuh tipis Cinderella, mengurungnya rapat di bawah kungkungan dada tegapnya.
Meskipun Draxler memancarkan aura dominan yang kuat, ada getaran halus di jemarinya saat menyentuh kulit pucat Cinderella—sebuah getaran jujur dari seorang pemuda 19 tahun yang belum pernah menyentuh wanita mana pun sepanjang hidupnya.
Ia adalah seorang perj*ka murni yang memegang teguh prinsip ibunya, dan malam ini, seluruh kepolosannya diserahkan sepenuhnya kepada gadis ini.
Begitu pula dengan raga Marcella Ember Vitiello.
Di balik desas-desus keji kampus yang mencapnya sebagai sugar baby dan pelayan bar murahan, raga ini sebenarnya masih murni dan suci, tak pernah tersentuh oleh pria mana pun.
Dua jiwa yang sama-sama awam dalam hal percintaan kini beradu dalam satu ranjang yang sama, bertarung tanpa pengalaman, hanya dipandu oleh naluri g*irah dan desakan emosi yang membakar dada.
Draxler menundukkan kepalanya, menyapu bibir Cinderella dalam ciuman yang dalam, panas, dan menuntut.
Desahan halus lolos dari tenggorokan Ember saat tangan kekar Draxler mulai menjelajahi lekuk tubuhnya dengan canggung namun sarat akan kehangatan yang memabukkan.
Jari-jarinya kini menekan lebih dalam, menyentuh area sensitif yang membuatmu tersentak.
"Kau basah... karena takut atau karena ingin?"
Napasnya yang panas membakar telinga, sementara tubuhnya semakin menempel erat padamu.
Cinderella menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menahan sensasi asing yang mendadak menyerang seluruh kesadarannya.
Napasnya memburu, matanya terpejam erat saat hawa panas yang tak dikenal menjalar dari perut bagian bawah hingga ke ujung jemari kakinya.
Tangannya kini bergerak ke bawah, menyentuh paha bagian dalam dengan sengaja.
"Jangan berkedip... lihat bagaimana kau bereaksi."
Draxler berbisik dengan suara berat yang menggetarkan dada, menatap intens reaksi di wajah cantik Cinderella di bawah temaram pendar lampu.
Rasa canggung yang sempat menghampiri mereka perlahan melebur dalam gelombang keputusasaan dan cinta yang tak terbendung.
Penyatuan panas itu berlangsung tanpa kepiawaian atau taktik terencana.
Tanpa pengalaman sebelumnya, setiap sentuhan, rintihan, dan gesekan kulit terasa begitu polos, jujur, dan menyengat dada.
Draxler menyatukan tubuh mereka dengan kehati-hatian yang teramat sangat, menahan erangan tertahannya saat menyadari rintihan perih dari bibir Cinderella—sebuah bukti tak terbantahkan bahwa ia adalah pria pertama dan satu-satunya yang berhasil mendobrak benteng keperaw*nan gadis ini.
Di bawah naungan malam hotel mewah itu, dua jiwa yang sama-sama asing tenggelam dalam lautan gairah yang membakar, mengabaikan kamera ponsel yang terus merekam setiap inci dari penyatuan panas mereka tanpa henti.
***
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang sedikit terbuka, membiaskan garis-garis cahaya di atas lantai kayu kamar suite.
Draxler terbangun saat rasa hangat matahari menyentuh wajahnya.
Pria muda itu menggeliat pelan.
Seluruh tubuhnya terasa pegal, namun ada kepuasan dan kehangatan aneh yang memenuhi dadanya. Ia mendapati dirinya terbangun dengan tubuh tanpa sehelai benang pun di bawah balutan selimut tebal.
Secara refleks, Draxler meraba sisi tempat tidur di sampingnya.
Kosong.
Kasur di sampingnya sudah dingin. Draxler membuka matanya cepat, menyipitkan pandangan menatap sekeliling kamar yang hening.
Pakaian Cinderella, tasnya, serta ponsel berlayar retak yang semalam terpasang di atas meja rias... semuanya telah hilang tanpa jejak.
Draxler terduduk kaku di atas ranjang.
Manik matanya yang tajam mendadak terpaku pada bagian tengah seprai putih yang tergelak di bawah tubuhnya.
Di sana, terukir bercak darah merah pekat yang telah mengering—sebuah jejak kesucian yang semalam ia puja dan ia renggut dengan penuh kelembutan.
Sebuah bukti mutlak bahwa Marcella Ember Vitiello adalah gadis yang murni, sama sekali tak tersentuh oleh pria mana pun seperti yang dituduhkan oleh rumor jahat kampus.
Ukiran senyum tulus sempat terbit di bibir Draxler. "Dia benar-benar murni..." bisiknya lirih dengan dada yang berdesir hangat.
Namun, sebelum rasa bahagia itu sempat meresap lebih dalam, ponsel pintar mahal milik Draxler yang tergeletak di atas meja nakas mendadak berdering nyaring.
Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!
ID pemanggil yang tertera di layar seketika membuat darah Draxler membeku: Mommy (New York).
Draxler berdehem pelan, menetralkan suaranya yang serak sebelum mengangkat panggilan tersebut.
"Mommy? Ada apa pagi-pagi begini—"
"DRAXLER LUTOLF ASHFORD! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?!"
Suara jeritan penuh amarah dan histeris dari Glow Ashford menggema keras dari seberang telepon, memotong ucapan Draxler seketika.
Draxler terkesiap, menjauhkan ponselnya beberapa senti dari telinga.
"Mommy? Ada apa? Kenapa Mommy marah-marah?" tanya Draxler bingung, dahinya berkerut dalam.
"Keluarga kita baru saja mendapatkan video ancaman pagi-pagi buta!" bentak sang ibu dengan suara yang bergetar hebat menahan syok dan amarah yang meledak-ledak.
"Seorang wanita mengirimkan rekaman video mesum dirimu di sebuah kamar hotel ke surel pribadi ayahmu dan seluruh jajaran direksi Ashford Group di New York!"
Deg.
Jantung Draxler rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Wajah tampannya mendadak pucat pasi.
"Apa... video apa?"
"Video dirimu sedang bersama dengan seorang gadis!"
Jerit Parrie Ashford penuh penekanan.
"Wanita itu mengancam akan menyebarkan dan memviralkan video pewaris Ashford Group ke seluruh media nasional dan internasional jika kita tidak mengirimkan uang tutup mulut sebesar sepuluh juta dolar ke rekening anonim sebelum jam dua siang ini!"
Draxler membeku di tempatnya.
Ponsel di genggamannya terasa begitu berat dan dingin.
"Draxler!" tangis sang ibu pecah di seberang telepon.
"Mommy sudah berkali-kali mengingatkanmu! Jangan pernah berhubungan dengan wanita sembarangan! Jangan bermain-main! Siapa wanita gila uang yang tega memeras keluarga kita seperti ini, Draxler?! Siapa dia?!"
Draxler tidak sanggup membalas sepatah kata pun.
Panggilan telepon itu terputus setelah rentetan kemarahan dan kekecewaan keluarga besarnya di New York bergema di telinganya.
Draxler menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Otaknya bekerja keras mencoba mencerna kenyataan yang baru saja menghantamnya bagaikan petir di siang bolong.
Video perekaman semalam... ancaman pemerasan uang... tuduhan gila harta...
Semua ini dilakukan oleh Cinderella—dalam raga Ember—hanya demi satu tujuan tunggal: membuat dirinya terlihat hina, jahat, dan gila uang di mata Draxler dan keluarga Ashford.
Sebuah skenario cermat yang dirancang Cinderella agar Draxler membencinya, menganggapnya sebagai wanita pemeras yang tak punya martabat, dan melupakannya selamanya.
Draxler menatap bercak darah di atas seprai putih di bawahnya.
Air mata amarah dan kepedihan merembes di sudut mata Draxler.
Hatinya terasa diiris-iris oleh kenyataan: gadis yang baru saja menyerahkan kesuciannya untuk pertama kali padanya semalam... adalah gadis yang sama yang pagi ini mengirimkan video pemerasan ke keluarga besarnya di New York.
Namun, di balik kekecewaan berat dan amarah yang membakar dadanya... otak rasional dan naluri cinta Draxler justru menolak untuk percaya begitu saja.
Tidak... ini tidak masuk akal, batin Draxler murka pada dirinya sendiri.
Jika dia benar-benar wanita murahan yang gila uang sejak awal, untuk apa dia menyerahkan keperawanannya padaku?! Untuk apa dia menangis dan menatapku dengan mata sesak itu semalam?!
Draxler menyambar pakaiannya dengan gerakan cepat, mengenakannya secara asal-asalan tanpa peduli kancing kemejanya yang berantakan. Ia tidak akan percaya pada jebakan atau sandiwara murahan ini sebelum ia mendengar penjelasan langsung dari mulut gadis itu.
Dengan langkah lebar dan rahang terkatup rapat oleh emosi yang membara, Draxler keluar dari kamar hotel mewah tersebut, meninggalkan kamar yang menyisakan kenangan manis dan perih malam sebelumnya.
****
Sinar matahari pagi sudah membakar pelataran Universitas California saat mobil sports hitam milik Draxler berhenti secara mendadak di depan gedung Asrama Putra dan Putri.
Draxler melompat keluar dari mobilnya, berlari kencang menyusuri lorong asrama lantai satu tanpa memedulikan tatapan heran dari puluhan mahasiswa yang melintas.
Brak!
Draxler memukul pintu kamar nomor 104 dengan telapak tangannya keras-keras.
"Ember! Buka pintunya!" teriak Draxler dengan suara serak yang memecah keheningan koridor.
"Marcella Ember Vitiello! Buka pintunya sekarang! Kita harus bicara!"
Klek.
Pintu terbuka.
Namun bukan Cinderella yang berdiri di sana, melainkan Prilly yang menatap Draxler dengan raut wajah panik dan cemas.
"Mr. Ashford?" panggil Prilly gagap.
Draxler menerobos masuk ke dalam kamar tanpa izin, matanya menyapu seluruh sudut ruangan yang rapi. Ranjang milik Ember tampak kosong, lemari pakaiannya terbuka separuh, dan beberapa barang pribadinya sudah tidak ada di tempat.
"Di mana dia?!" bentak Draxler seraya memutar tubuhnya menatap Prilly dengan mata memerah.
"Di mana Ember, Prilly?!"
Prilly mundur satu langkah, ketakutan melihat aura gelap dan histeris dari pemuda Ashford di hadapannya.
"A-aku tidak tahu, Mr. Ashford! Pagi-pagi tadi Ember datang ke kamar, mengemas Barangnya, dan... dan dia bilang dia pergi."
"Pergi ke mana?!" tuntut Draxler dengan napas memburu.
"Dia tidak memberitahuku!" jawab Prilly dengan mata berkaca-kaca.
"Dia hanya bilang dia punya urusan besar yang harus diselesaikan, dan dia menyuruhku untuk tidak mencarinya."
Draxler meremas rambutnya kasar, mengerang frustrasi yang amat sangat. Ia keluar dari kamar asrama, berlari menuju gedung fakultas ekonomi, mengecek setiap ruang kelas, perpustakaan, hingga kafetaria utama.
Namun, hasilnya nihil.
Marcella Ember Vitiello telah menghilang sepenuhnya dari area kampus.
Ponselnya tidak aktif, keberadaannya menguap bagaikan ditelan bumi, meninggalkan Draxler seorang diri di tengah puing-puing skandal video pemerasan dan kerinduan mendalam yang membakar jiwanya.