Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL26. Suasana Hangat
Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai kamar Qiera. Suara kendaraan dari jalan depan rumah terdengar samar, bercampur dengan kicauan burung yang bertengger di pohon dekat jendela.
Semuanya terasa begitu akrab bagi Qiera, seolah tidak ada waktu yang berlalu sejak terakhir kali ia terbangun di kamar itu sebagai seorang gadis yang belum mengenal kehidupan pernikahan.
Hanya saja, ketika ia membuka mata dan menyadari ada seseorang yang berbaring di sampingnya, ingatan tentang beberapa bulan terakhir segera kembali memenuhi kepalanya.
Ravian Aryasatya. Suaminya. Dosen yang paling sering membuatnya kesal, sekaligus pria yang belakangan ini terlalu sering membuat jantungnya berulah tanpa alasan yang bisa ia pahami.
Qiera menoleh perlahan. Ravi masih tidur dengan posisi miring, berhati-hati agar punggungnya tidak tertekan. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang daripada ketika sedang mengajar di kelas.
Tidak ada tatapan kritis yang biasa membuat Qiera merasa sedang menjalani ujian lisan, tidak ada komentar menyebalkan tentang argumennya, dan tidak ada senyum tipis yang biasanya muncul setiap kali ia berhasil membuat Qiera kehilangan kata-kata.
Dalam keadaan seperti itu, Ravi justru terlihat lebih muda dan... tampan?
Qiera segera mengerjap, lalu segera menggeleng kecil.
"Astaga, Qiera. Baru bangun tidur, jangan mulai aneh-aneh!"
Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan melihat jam di ponselnya. Namun, ketika hendak meletakkan benda itu kembali, pandangannya tertuju pada notifikasi yang masuk semalam. Ada pesan dari nomor tak dikenal, tetapi ia tidak ingat mendengar suara ponselnya ketika pesan tersebut tiba.
Dengan kening berkerut, Qiera membuka layar.
📱Besok pagi, tanyakan kepada Ravi tentang nama yang pernah ia janjikan untuk dilindungi.
Dahi Qiera semakin berkerut. Pesan itu berbeda dari ancaman sebelumnya. Tidak ada kalimat tentang rahasia pernikahan mereka, tidak ada peringatan agar ia berhati-hati di kampus.
Sebaliknya, pengirimnya menyebut sesuatu yang terdengar sangat pribadi, sesuatu yang berkaitan dengan janji Ravi di masa lalu.
Nama siapa yang dimaksud?
Janji apa yang pernah dibuat suaminya?
Dan mengapa orang asing itu ingin dirinya menanyakan hal tersebut?
Qiera menoleh kepada Ravi. Pria itu masih memejamkan mata, napasnya teratur. Ia teringat pesan serupa yang pernah diterimanya, tentang sembilan tahun lalu, lalu kembali memandang layar ponsel dengan perasaan tidak nyaman.
Ia ingin membangunkan Ravi dan menanyakan semuanya. Namun, saat melihat posisi tidur suaminya yang masih harus berhati-hati karena luka di punggung, niat itu perlahan surut.
"Mungkin nanti saja setelah sarapan," pikirnya.
Setidaknya, ia ingin menanyakan hal itu ketika Ravi sudah benar-benar bangun dan tidak sedang menahan rasa sakit. Ia tidak tahu apakah jawaban pria itu akan menenangkan atau justru membuatnya semakin bingung, tetapi ia tidak bisa terus mengabaikan pesan-pesan tersebut.
Qiera baru saja hendak bangkit ketika suara serak khas orang yang baru bangun tidur terdengar dari sampingnya.
“Kalau kamu terus menatap saya seperti itu, saya bisa salah paham.”
Qiera nyaris melompat dari ranjang.
“MAS RAVI!”
Ravi membuka mata sepenuhnya, lalu tersenyum melihat istrinya yang sudah duduk tegak dengan wajah merah. “Selamat pagi juga, Lily.”
“Mas sudah bangun dari tadi?”
“Baru saja.”
“Terus kenapa diam saja?”
“Karena saya penasaran berapa lama kamu akan terus memperhatikan saya.”
Qiera meraih bantal dan memeluknya di depan dada. “Aku tidak memperhatikan Mas. Aku cuma memastikan Mas masih bernapas.”
Ravi mengangkat alis. “Memastikan saya masih bernapas dengan cara menatap wajah saya selama beberapa menit?”
“Mas jangan banyak bicara. Nanti punggungnya sakit.”
“Jadi, kamu memang sedang memperhatikan saya.”
Qiera terdiam.
Ravi tersenyum semakin lebar, sementara Qiera hanya bisa memukul pelan bantal yang dipeluknya. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana pria itu selalu bisa menemukan celah untuk menggodanya, bahkan ketika baru bangun tidur.
“Sudah, sana mandi!” perintahnya sambil turun dari ranjang.
Ravi tertawa pelan. “Baik, Bu Dokter.”
Qiera bergegas menuju lemari, berusaha menyembunyikan senyumnya sendiri. Untuk sementara, ia memilih menyimpan pertanyaan tentang pesan misterius itu.
Ia tidak ingin pagi yang seharusnya menyenangkan bersama keluarganya berubah menjadi percakapan penuh kecurigaan.
Namun, ia tidak tahu bahwa Ravi sebenarnya telah membaca pesan yang sama sejak malam sebelumnya. Dan pria itu sudah mulai memikirkan jawaban yang tidak ingin ia berikan.
...🌵🌵🌵...
Sarapan bersama Papa dan Mama berlangsung lebih ramai daripada biasanya. Mama menyiapkan nasi goreng kesukaan Qiera, telur dadar, dan beberapa potong buah. Papa duduk di ujung meja sambil membaca berita dari ponselnya, sesekali ikut menanggapi percakapan yang didominasi oleh putrinya.
Ravi duduk di samping Qiera, berusaha makan dengan nyaman tanpa terlalu banyak menggerakkan punggungnya. Sayangnya, istrinya tampak memiliki rencana lain.
“Mas, telurnya mau?”
Ravi menoleh. “Boleh.”
Qiera langsung mengambilkan sepotong telur dadar dan meletakkannya di piring Ravi.
“Buahnya juga?”
“Boleh.”
Ia menambahkan beberapa potong buah.
“Minumnya?”
Ravi melirik gelas di depannya yang masih terisi setengah. “Saya masih punya air.”
“Ya sudah, minum.”
Ravi menatapnya beberapa detik sebelum menurut. Di seberang meja, Mama memperhatikan mereka sambil tersenyum, sementara Papa akhirnya menurunkan ponselnya.
“Ravi, sepertinya sekarang kamu punya asisten pribadi,” komentar Papa.
Qiera langsung menoleh. “Bukan asisten, Pa. Aku cuma memastikan Mas tidak melakukan hal yang memperparah lukanya.”
“Papa tidak bilang itu hal buruk, Nak.” Papa tertawa. “Papa justru senang melihat kamu memperhatikan suamimu.”
Wajah Qiera menghangat. Ia buru-buru mengambil sendok dan kembali menyibukkan diri dengan sarapan.
Ravi, yang duduk di sampingnya, tampak menikmati situasi tersebut. “Saya juga merasa sangat terbantu, Pa. Hanya saja, terkadang istri saya terlalu tegas.”
Qiera menginjak kaki Ravi pelan di bawah meja.
Ravi menahan senyum.
“Kenapa?” tanya Mama ketika melihat gerakan Qiera yang mencurigakan.
“Tidak apa-apa, Ma,” jawab Qiera cepat. “Ada semut.”
Papa mengernyit. “Semutnya di mana?”
Qiera menunjuk sembarangan ke bawah meja. “Di situ.”
Ravi menunduk sebentar, berusaha menyembunyikan tawanya. Qiera menatapnya tajam, mengirimkan peringatan tanpa suara agar suaminya tidak berani membongkar kebohongannya.
Namun, setelah sarapan selesai, Papa justru mengajak Ravi berbicara sebentar di ruang tengah. Qiera membantu Mama membereskan meja, sesekali melirik ke arah kedua pria itu yang tampak berbincang serius.
“Ravi itu anak yang baik,” ujar Mama tiba-tiba sambil membilas piring. “Mama senang melihatnya semakin terbuka sejak menikah denganmu.”
Qiera terdiam. “Maksud Mama?”
“Dulu, Kakek Ravi sering cerita kalau Ravi terbiasa mengurus semuanya sendiri. Jika ada masalah, dia jarang bercerita. Bahkan ketika sedang kelelahan, dia tetap mengatakan baik-baik saja.”
Mama mengeringkan tangannya, lalu memandang putrinya. “Sekarang, Mama lihat dia mulai membiarkan orang lain memperhatikannya. Termasuk kamu.”
Qiera menunduk, teringat bagaimana Ravi mulai meminta ditemani, bagaimana ia mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil, dan bagaimana pria itu selalu berusaha membuatnya nyaman tanpa memaksanya melakukan apa pun.
“Padahal, aku sering sekali mengomelinya, Ma.”
Mama tertawa lembut. “Mungkin justru itu yang membuatnya merasa punya teman.”
Qiera tersenyum kecil. Ada kehangatan yang merambat di dadanya ketika menyadari bahwa perhatian yang selama ini ia berikan ternyata berarti bagi Ravi. Ia memang belum memahami perasaannya sendiri, tetapi satu hal mulai terasa semakin jelas, ia tidak ingin Ravi merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Bahkan jika pria itu tetap menyebalkan. Terutama jika pria itu tetap menyebalkan.
Menjelang siang, Qiera dan Ravi berpamitan kepada Papa dan Mama untuk kembali ke apartemen. Mama membekali mereka dengan beberapa wadah makanan, sementara Papa kembali mengingatkan Ravi agar tidak memaksakan diri bekerja sebelum benar-benar pulih.
“Jangan sungkan meminta bantuan kalau kamu membutuhkannya,” ujar Papa sambil menepuk bahu Ravi dengan hati-hati. “Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.”
Ravi mengangguk tulus. “Terima kasih, Pa. Saya akan mengingatnya.”
Qiera berdiri di samping mereka, diam-diam memperhatikan cara Ravi menjawab. Pria itu selalu bersikap sopan kepada orang tuanya, tetapi ada ketulusan yang terasa berbeda setiap kali ia berbicara tentang keluarga.
Ia tidak pernah berusaha mengambil hati mereka dengan janji berlebihan. Sebaliknya, ia menunjukkan tanggung jawab melalui tindakan-tindakan sederhana.
Ketika mobil mulai meninggalkan halaman rumah, Qiera melambaikan tangan kepada Mama sampai sosok ibunya menghilang dari pandangan. Setelah itu, ia bersandar di kursi dengan napas lega.
“Aku senang kita menginap di sana,” katanya. “Rasanya seperti kembali menjadi anak kecil.”
Ravi meliriknya sekilas. “Kamu memang masih suka bertingkah seperti anak kecil.”
Qiera langsung menoleh. “Mas!”
“Saya hanya menyampaikan pengamatan.”
“Kenapa pengamatan Mas selalu menyebalkan?”
“Karena kamu selalu bereaksi.”
Qiera mendengus, memalingkan wajah ke jendela. Namun, beberapa menit kemudian, ia kembali menoleh. Pertanyaan yang sejak pagi ditahannya kini terasa semakin sulit diabaikan.
“Mas, aku boleh tanya sesuatu?”
.
.
To be continued
See you 🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊