Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Untuk merangkai seratus detik kehidupan, Ren harus menukar puluhan kematian yang mengerikan di dalam keheningan jiwanya.
Di dalam benak pemuda itu, waktu tidak lagi mengalir dalam garis lurus yang damai. Waktu telah terpecah menjadi ribuan kepingan memori berdarah yang terukir oleh rasa sakit daging yang terkoyak, tulang belulang yang remuk berkeping-keping, dan panasnya darah yang mendidih di tenggorokan. Setiap fase amukan Agares adalah teka-teki pembantaian tingkat bencana yang menuntut keselarasan mutlak antara gerak tubuh manusia, ketahanan senjata, dan batas energi magis di dalam koloseum terkutuk ini.
Bagi manusia biasa, satu kali merasakan ajal menjemput sudah cukup untuk merenggut seluruh kewarasan. Namun bagi Ren, kematian telah menjadi kepingan mata uang yang ia bayarkan berulang kali demi membeli satu petunjuk kecil mengenai kelemahan musuhnya.
Dalam salah satu pengulangan waktu yang membakar ingatan, Vargas terlambat sekejap mata mengangkat perisai bajanya di sektor barat laut. Hujan tombak tulang beracun langsung menembus celah sempit di antara barisan perisai, meremukkan bahu sang veteran dan mencincang seluruh barisan prajurit di belakangnya dalam hujan darah yang memilukan. Ren yang mencoba menerobos maju terhempas oleh pecahan batu dan meregang nyawa di bawah tumpukan kerangka.
Dalam pengulangan lainnya, Riku terpeleset di atas genangan darah licin saat hendak melemparkan bubuk kristal peredam energi. Akibat keterlambatan setengah detik itu, bola plasma darah yang dikumpulkan oleh delapan lengan Agares meledak sebelum waktunya, menyapu separuh arena dan melenyapkan Shizuka dan Riku seketika menjadi kepulan abu panas.
Dan dalam pengulangan yang paling menyakitkan, Elise melepaskan pilar cahaya sucinya setengah tarikan napas terlalu awal. Perubahan ritme yang tergesa-gesa itu membuat delapan lengan Agares membelokkan ayunan rantai berdurinya ke arah jalur lompatan Ren di udara. Tubuh Ren terbelah menjadi tiga bagian di ketinggian enam meter sebelum ujung belatinya sempat menyentuh topeng perunggu sang monster.
Setiap kegagalan menuntut tebusan berupa rasa sakit murni yang membakar setiap serabut saraf di otaknya.
Dunia berputar kembali dengan dengungan menyengat yang merobek bagian belakang kepalanya.
Ren tersentak mundur, berdiri tegak di samping reruntuhan pilar altar yang retak.
Pandangan matanya dipenuhi bintik-bintik putih menyilaukan dan distorsi merah darah yang bergetar hebat. Darah hangat terus merembes tanpa henti dari kedua lubang hidung, sudut bibir, dan telinga kirinya. Seluruh otot dan persendian di tubuhnya terasa begitu berat dan kaku, bagaikan ditarik oleh ribuan rantai timah ke dasar bumi.
Beban penumpukan trauma saraf dari puluhan kematian berturut-turut telah mendorong kesadaran biologisnya ke tepi jurang kehancuran mutlak. Otot-otot di kedua lengannya berkedut tanpa henti, dan suhu tubuhnya melonjak tinggi akibat demam saraf yang membakar bagian dalam tengkoraknya.
Satu kali kematian lagi… dan otaknya akan mengalami kelumpuhan saraf permanen yang tak akan pernah bisa dipulihkan. Kesadarannya akan padam, meninggalkan tubuhnya sebagai cangkang kosong tanpa jiwa.
Namun, di balik penderitaan mental yang melampaui batas kewarasan manusia normal, simfoni seratus detik pertempuran itu kini telah selesai terangkai dengan sempurna di dalam benak Ren. Berkat puluhan rasa sakit yang ia telan sendirian, pola pergerakan sang penguasa koloseum kini terbaca sejelas garis di telapak tangannya.
Sembilan fase serangan. Seratus detik waktu nyata. Tiga puluh koordinat pergerakan yang saling bertautan.
Tidak ada lagi ruang untuk keraguan, kecemasan, atau rasa takut.
“Dengarkan aba-abaku sekarang juga!” suara Ren memecah keputusasaan yang menyelimuti arena, terdengar dingin dan berwibawa.
Lady Elise, Paman Vargas, Shizuka, dan Riku menoleh serentak ke arah pemuda itu. Di belakang mereka, tiga puluh ksatria pengawal Althea dan sisa prajurit garis depan mengunci formasi tempur mereka. Tatapan mata mereka semua terpaku pada sosok kurus Ren yang berdiri tegak di tengah banjir darah, memancarkan aura ketenangan yang luar biasa di hadapan ancaman maut.
Shizuka segera melangkah maju, tangannya yang gemetar mengoleskan salep penenang saraf ke pelipis dan leher Ren untuk meredakan kejang otot pemuda itu. “Ren… napasmu sudah sangat tipis…” bisik gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
“Aku masih bisa berdiri, Kak Shizuka,” bisik Ren tenang, merasakan kehangatan ramuan herbal yang sedikit meredakan dengingan di telinganya.
Paman Vargas meletakkan tangan kekarnya yang berlumuran jelaga di bahu Ren. “Katakan saja apa yang harus kami lakukan, Nak. Kami semua menaruh nyawa kami di tanganmu.”
Ren mengangguk pelan, lalu menatap seluruh pasukan penyintas dengan tatapan setajam elang.
“Fase pertama: Detik ke-0 hingga 15!” Ren berbicara cepat tanpa jeda napas, suaranya menusuk langsung ke telinga para prajurit. “Agares akan melepaskan raungan suara dan ayunan rantai sapuan rendah horizontal! Paman Vargas, bawa sepuluh ksatria Althea menancapkan perisai baja di sektor selatan dengan sudut kemiringan tepat tiga puluh derajat! Biarkan gelombang kejut serangannya terbuang membentur dinding luar koloseum!”
“Dimengerti!” raung Vargas sambil menepuk perisai bajanya dengan tangan terkepal. “Perisai kami tidak akan bergeser satu inci pun!”
“Fase kedua dan ketiga: Detik ke-16 hingga 45!” lanjut Ren, menatap tajam ke arah Riku dan Shizuka. “Rawa darah di bawah kaki kita akan meletupkan semburan geyser panas disusul hujan tombak tulang beracun dari langit-langit. Riku, kau adalah mata utama regu! Awasi letupan geyser di tiga langkah di depan formasi dan beri tanda arah menghindar! Kak Shizuka, sebarkan bubuk lumut beku yang kita bawa dari lantai bawah ke dalam parit altar untuk membekukan saluran darah regeneratifnya!”
“Serahkan padaku, Ren!” seru Riku dengan mata menyala penuh tekad, jari-jarinya telah mengunci tali busur kayu hitamnya.
“Aku akan membekukan aliran paritnya tepat waktu, Ren!” sahut Shizuka mantap, merogoh kantung perbekalan medisnya dan menyiapkan kantung-kantung serbuk lumut beku.
“Fase keempat hingga keenam: Detik ke-46 hingga 75!” Ren menatap komandan ksatria pengawal Althea. “Dua puluh ksatria Althea, lemparkan rantai cahaya suci untuk mengikat empat lengan bawah Agares ke pilar-pilar basal yang tersisa! Jangan biarkan dia menyapu lantai dengan putaran penuh!”
“Siap, Pemimpin Regu!” jawab para ksatria Althea serentak dengan pedang terangkat tinggi. Di mata mereka, Ren adalah komandan perang sejati yang telah membuktikan kehebatannya melalui taktik penyelamatan nyata. Keyakinan mereka telah ditempa oleh keajaiban taktis yang berulang kali ditunjukkan pemuda itu.
Ren menoleh ke arah Elise. Sepasang mata hitamnya yang dipenuhi guratan merah darah mengunci sepasang mata perak sang putri suci. Keduanya saling bertatapan dalam keheningan yang sarat pemahaman mendalam tanpa perlu banyak kata; Elise tahu seberapa besar harga nyawa yang telah dibayar Ren untuk memperoleh detik-detik berharga ini, dan ia bersumpah di dalam hatinya untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan tersebut.
“Fase ketujuh dan kedelapan: Detik ke-76 hingga 95. Nona Elise, ini adalah bagian paling krusial dari seluruh pertaruhan kita. Anda harus menahan seluruh sisa kekuatan sihir suci Anda sampai detik ke-92. Tepat saat delapan lengan Agares membentuk sangkar pelindung… tembakkan pilar cahaya pemurnian tepat di bawah telapak kaki Agares untuk mengangkat tubuh raksasa itu setinggi dua meter dari tanah!”
Mata Elise membelalak saat memahami maksud perhitungan taktis Ren.
“Dua meter… untuk mengubah sudut jatuh tubuhnya dan memaksa topeng perunggunya terangkat miring ke atas?!” bisik Elise dengan napas tercekat.
“Tepat sekali,” bisik Ren, suaranya sedingin es di puncak gunung salju. “Tepat pada detik ke-99… topeng perunggu di wajahnya akan bergeser ke atas selama sepertiga detik untuk membuang uap panas dari inti kristal di tengkoraknya. Di sanalah aku akan menancapkan belati taring bayangan ke dalam inti kristal abadi miliknya.”
“Dan jika kau meleset sepersekian detik saja…” bisik Elise dengan bibir gemetar, menyadari betapa tipisnya batas antara kemenangan dan kehancuran mutlak.
“Maka kita semua akan musnah terbakar menjadi abu dalam ledakan plasma darah,” jawab Ren tenang tanpa setitik pun getaran rasa takut. “Tidak ada rencana cadangan. Tidak ada pengulangan waktu berikutnya. Ini adalah seratus detik terakhir kita di Lantai 15.”
Ren menarik napas dalam-dalam, merasakan udara berbau tembaga dan belerang yang menusuk tenggorokannya. Ia merapatkan jari-jarinya di sekeliling gagang belati taring bayangan yang kini diselimuti racun pekat dan retakan halus sisa benturan.
Di sekelilingnya, tiga puluh ksatria Althea dan belasan prajurit jelata yang tersisa saling merapatkan bahu. Di tanah yang becek oleh darah, mereka bukan lagi prajurit dari kasta yang terpisah oleh jurang kemewahan dan kemiskinan; mereka adalah sesama manusia yang menolak untuk mati sebagai korban sia-sia.
Di kejauhan dinding batu, Julius von Ravensburg terkapar di bawah tumpukan reruntuhan dengan mata nanar, menyaksikan bagaimana para prajurit yang ia hinakan kini justru melangkah maju dengan disiplin baja yang melampaui seluruh ksatria elit kekaisaran.
Di hadapan mereka, Agares menegakkan tubuh raksasa setinggi sepuluh meter. Topeng perunggu kuno di wajahnya berpendar dengan lidah api merah membara, delapan lengan di punggungnya merentangkan rantai berduri ke udara, bersiap melepaskan badai pemusnahan total ke seluruh penjuru koloseum. Uap panas mendesis dari setiap pori dagingnya saat sang raksasa menarik napas dalam-dalam.
Raungan ultrasonik raksasa meledak membelah udara beracun koloseum, mengguncang fondasi amfiteater hingga ke batu dasarnya.
Mata Ren berkilat dingin saat detik pertama mulai bergulir di dalam benaknya.
“MAJU!” teriak Ren saat melesat menembus kubangan darah, mengawali pergerakan terkoordinasi seluruh regu di tengah dentuman amukan Agares.