"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sosok itu melangkah keluar dari balik tirai gelap, duduk santai di kursi tertinggi yang menghadap langsung ke tengah arena. Ia mengenakan jaket hitam dengan bandana merah melilit di kepalanya, tersenyum lebar seolah sedang menikmati pertunjukan pribadinya sendiri.
"Selamat datang," suaranya menggema, cukup keras hingga seluruh tribun mendadak senyap. Dia mengeluarkan bukunya sejenak lalu kembali menatap ke arena "Kami sudah menunggumu cukup lama, Juna Adiwiyata."
Juna berdiri tegak di tengah arena, menatap sosok itu dengan tatapan dingin. "Kalau kalian mau ngobrol, harusnya bisa lebih santai. Nggak perlu bawa-bawa sandera segala."
Pria itu tertawa, suaranya berat dan puas. "Gue suka gaya bicara lu. Tapi sayangnya, gue bukan tipe orang yang suka basa-basi terlalu lama."
"Terus apa maunya?" Juna melipat tangan di dada, nada suaranya sengaja dibuat meremehkan.
"gue cuma ingin mempertemukan lu dengan seorang teman baik," pria itu menyeringai lebar, matanya berkilat penuh antisipasi. "Dan lu harus bertarung melawannya, kalau kamu ingin kami melepaskan si kecil Gery itu."
Juna menatap ke arah Gery yang masih dicengkeram dua orang di pinggir arena, wajahnya pucat pasi. Sesuatu yang panas menjalar di dadanya, namun bukan rasa takut yang muncul, melainkan sesuatu yang jauh lebih tajam.
"Mana dia," Juna mengangkat dagunya, suaranya rendah namun penuh ancaman yang tidak main-main. "Bangsat, biar aku patahkan lehernya di sini juga."
Sorakan tribun langsung meledak mendengar kalimat itu, campuran antara tawa mengejek dan siulan menghina yang saling bersahutan.
"Denger tuh, si anak baru mau patahin leher jenderal kita," salah satu penonton berteriak sambil terbahak-bahak, memukul lutut temannya sendiri saking gelinya.
"Songong amat sih, padahal muka aja masih bau minyak wangi bayi," yang lain menimpali, mengangkat kedua tangannya seolah sedang mengejek dari kejauhan. "Kayaknya perlu diajarin sopan santun dulu tuh anak."
"Udah, biarin aja dia sombong sekarang," suara lain menyahut dari sudut tribun, nadanya penuh kepastian yang menjijikkan, "biar makin puas nanti liat mukanya pas dihajar Ben."
Juna tidak bergeming sedikit pun mendengar semua ejekan itu, wajahnya tetap datar, seolah suara-suara itu hanya angin lalu yang tidak layak mendapat perhatian.
Tawa pria berbandana merah itu semakin keras, seolah baru saja mendengar lelucon terbaik minggu ini. "Berani juga lu bicara begitu sebelum lihat siapa lawanmu."
"Aku nggak peduli siapa pun dia," Juna menjawab tenang, matanya tidak berkedip. "Selama itu bisa bikin kalian lepasin Gery, aku bakal hadapin siapa pun yang kalian kirim."
"Wah, mulut doang," seseorang di tribun berseru lagi, "nanti kalau udah babak belur baru tahu rasa. Sombong emang penyakit anak baru."
Pria berbandana merah itu bangkit dari kursinya, mengangkat satu tangan ke arah sisi arena yang gelap, tempat sebuah jeruji besi besar berdiri diam.
"Turunkan jenderal kita," suaranya menggema lantang ke seluruh ruangan, "Ben Si Gorila Gunung!"
Seketika seluruh tribun bergemuruh, ratusan suara berteriak serempak seperti mantra yang sudah lama mereka hafal.
"Raja kita, Kaisar Dirgantara, memerintahkan untuk membuka jeruji!"
Nama itu menempel di benak Juna seperti paku yang ditancapkan dalam.
'Kaisar Dirgantara,' batinnya, menatap pria berbandana merah itu dengan penuh perhitungan. 'Jadi ini rajanya Bully. Pantas anak buahnya berani sombong sampai segini, ternyata cuma ikut-ikutan gaya bosnya.'
"Berdoa aja lu masih bisa jalan sendiri abis ini," salah satu penonton kembali berteriak, disambut gelak tawa yang lebih riuh dari sebelumnya.
"Udah siapin tandu belum tuh buat anak baru," yang lain menambahkan, membuat seisi tribun kembali meledak dalam tawa yang menggema hingga ke langit-langit ruangan bawah tanah.
Suara mekanik berdecit keras memenuhi ruangan, disusul suara rantai yang ditarik perlahan. Jeruji besi di ujung arena mulai terangkat, membuka celah gelap yang menganga seperti mulut monster yang siap menelan siapa pun yang berdiri di depannya.
Getaran kecil mulai terasa di lantai arena, setiap langkah yang mendekat membuat seluruh tribun bergemuruh semakin keras, seolah sedang menyambut kedatangan sesuatu yang sudah lama mereka tunggu.
Juna berdiri diam di tengah arena, kedua kakinya sedikit merenggang, mengatur napasnya perlahan sambil menatap lurus ke arah kegelapan di balik jeruji yang terus terangkat.
'Apa pun yang keluar dari sana,' batinnya, mengepalkan kedua tangannya erat, 'aku harus menang. Bukan cuma buat diriku sendiri, tapi buat Gery juga. Dan setelah ini selesai, aku pastikan setiap mulut yang tadi ketawa bakal nutup sendiri.'