Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pameran Sains
Suara deru angin pagi bulan September berhembus lembut melewati pelataran luas SMA Bina Bangsa. Hari ini, kompleks sekolah elit tersebut tampak jauh lebih megah dari biasanya. Spanduk kain rentang berukuran besar bertuliskan "Pameran Inovasi Sains dan Teknologi Pelajar Regional 2026" terpasang megah di atas gerbang utama, menyambut kedatangan puluhan mobil sedan mewah yang mengantar para pejabat tinggi dinas pendidikan, tamu undangan korporasi, serta para juri kehormatan.
Di dalam aula serbaguna berukuran raksasa yang didekorasi dengan konsep modern minimalis, puluhan meja pameran dari berbagai sekolah menengah unggulan berjejer rapi. Setiap kelompok peserta menampilkan proyek ilmiah terbaik mereka—mulai dari robot pembersih sampah otomatis hingga purwarupa energi surya nano.
Di sudut paling barat aula, tepat di bawah sorotan lampu sorot putih bersih, meja pameran milik SMA Bina Bangsa tampak paling mencolok. Di atas meja tersebut, sebuah model 3D interaktif simulasi jaringan energi ramah lingkungan berdiri tegak, didampingi oleh layar monitor beresolusi tinggi yang menampilkan kode pemrograman analitis yang sangat kompleks.
Rian berdiri tenang di samping meja pameran tersebut. Ia mengenakan kemeja putih rapi berbalut jas almamater sekolah dengan emblem kehormatan di dada kirinya. Wajahnya tampak santai, tanpa ada secercah pun rasa gugup meskipun beberapa menit lagi para juri utama dan Direktur Utama Hartawan Kusuma akan mendatangi stan mereka untuk penilaian akhir.
"Rian..." suara lembut Maya terdengar dari arah belakang meja persiapan. Ketua kelas 11-B itu tampak membawa beberapa lembar salinan dokumen spesifikasi teknis dengan tangan sedikit bergetar karena gugup. "Tim juri dari pusat sudah mulai memasuki area aula utama bersama Pak Hartawan. Apakah semua sistem simulasi di laptopmu sudah siap sepenuhnya?"
Rian menoleh pelan, tersenyum tipis menenangkan kegelisahan Maya. "Semua sistem berjalan stabil, Maya. Tarik napas dalam-dalam, kau tidak perlu tegang seperti itu. Kita hanya akan mempresentasikan apa yang sudah kita kerjakan dengan jujur."
Maya mengangguk pelan, berusaha meredam debar jantungnya. "Baiklah... semoga semuanya berjalan lancar."
Tak lama kemudian, kerumunan di depan pintu masuk aula mulai terbelah. Rombongan tamu kehormatan berjalan mendekat ke arah stan mereka. Di barisan paling depan tampak Direktur Utama Hartawan Kusuma yang mengenakan setelan jas abu-abu elegan, didampingi oleh kepala sekolah Pak Handoko, Pak Darma, serta tiga orang profesor senior dari universitas negeri ternama yang bertindak sebagai juri utama olimpiade sains.
Langkah rombongan itu berhenti tepat di depan meja pameran Rian. Suasana di sekitar stan seketika mendadak senyap; puluhan pasang mata dari siswa sekolah lain dan guru pendamping langsung menoleh ke arah mereka, penasaran dengan inovasi apa yang disajikan oleh anak beasiswa yang namanya tengah menjadi buah bibir di seluruh penjuru kota.
Hartawan Kusuma tersenyum ramah, menatap Rian dengan sorot mata penuh apresiasi. "Selamat pagi, Rian. Senang melihatmu memimpin proyek pameran tahun ini untuk sekolah kita."
"Selamat pagi, Tuan Hartawan, Profesor," sapa Rian dengan suara jernih dan sangat sopan, membungkuk hormat sekadarnya. Ia menatap satu persatu para juri di hadapannya tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun. "Selamat datang di stan inovasi energi mikro SMA Bina Bangsa. Hari ini, izinkan saya mempresentasikan sebuah konsep sistem pemodelan matematis untuk mengoptimalkan distribusi energi terbarukan di kawasan perkotaan padat penduduk."
Salah seorang juri utama—seorang profesor pria paruh baya berkacamata tebal dengan rambut putih—maju setengah langkah, menatap layar monitor dengan pandangan tajam penuh selidik.
"Anak muda, rumus algoritma optimasi yang kau tampilkan di layar ini menggunakan prinsip matriks non-linear tingkat lanjut," kata sang profesor dengan nada menguji. "Bahkan sebagian besar mahasiswa tingkat akhir teknik elektro sering kali keliru menerapkan prinsip ini pada sistem skala mikro. Dari mana kau mempelajari metode penyelesaian seefisien ini?"
Rian menjawab dengan tenang, tanpa tergesa-gesa sedikit pun. "Matematika adalah tentang mereduksi kompleksitas menjadi bentuk yang paling murni, Profesor. Jika kita memahami pola dasar aliran energi di alam, maka rumus apa pun akan menemukan jalurnya sendiri secara alami."
Jawaban filosofis namun sangat logis itu membuat sang profesor tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyuman kagum terukir di bibirnya. Ia mengangguk-angguk puas. "Luar biasa... Jawaban yang sangat cerdas dan tajam. Analisis teoritis dan implementasi praktismu berada di tingkat yang sama sekali berbeda."
Hartawan Kusuma tersenyum bangga mendengar pujian dari juri utama tersebut. Ia hendak membuka mulut untuk memberikan apresiasi lebih lanjut, ketika tiba-tiba suara dengung bising bergemeresik dari arah layar monitor utama di atas meja pameran.
Bzzzzt...
Layar monitor yang tadinya menampilkan barisan kode pemrograman bersih tiba-tiba berkedip hebat. Warna layar mendadak berubah menjadi merah pekat, menampilkan deretan kode error acak dan tulisan peringatan besar berkedip-kedip:
[ PERINGATAN SISTEM: DATA UTAMA TERDETEKSI SEBAGAI FILE PLAGIAT DAN HACKING ILEGAL DARI DATABASE SINDIKAT EKSTERNAL. ] [ SUMBER KODE: ANOMALI SERVER TERSENDIRI (VIKTOR SYNDICATE NETWORK). ]
Suasana di sekitar stan pameran seketika mendadak riuh rendah. Bisik-bisik kejut bergemuruh di antara para pengunjung dan siswa dari sekolah lain yang menyaksikan kejadian tersebut. Beberapa guru pendamping tampak saling berpandangan dengan ekspresi kaget dan curiga.
Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya memucat pasi. "Ya Tuhan... Rian! Apa yang terjadi dengan sistem monitor kita?! Ada orang yang meretas server stan kita dari luar!"
Di barisan belakang kerumunan penonton, Kevin dan Bara—yang sengaja datang menonton bersama beberapa anak buah kelompok mereka—tersenyum menyeringai puas melihat kekacauan mendadak yang menimpa Rian.
"Rasakan itu, anak sialan!" bisik Kevin dengan nada penuh kemenangan kepada Bara. "Trik murahanmu meretas sistem sekolah akhirnya terbongkar di hadapan seluruh petinggi kota dan direktur utama hari ini!"
Bara tertawa kecil tertahan, matanya berbinar penuh kepuasan. "Tepat sekali! Mari kita lihat bagaimana si anak genius sombong itu membersihkan namanya sekarang di hadapan para juri!"
Hartawan Kusuma mengerutkan keningnya, menatap layar monitor yang menampilkan tuduhan plagiat tersebut dengan ekspresi dingin. Ia menoleh menatap Rian, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan tatapan penuh selidik. "Rian, apa maksud dari peringatan sistem ini?"
Di hadapan seluruh mata yang menatapnya dengan penuh kecurigaan dan tanda tanya, Rian tetap berdiri dengan postur yang sangat tenang. Tidak ada kepanikan di wajahnya; bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin.
Melalui Mata Dewa Pengamat, sistem di dalam kesadaran Rian sudah mendeteksi persis dari mana sinyal peretasan paksa itu dikirimkan—sebuah titik router nirkabel tersembunyi di dalam van hitam yang terparkir di luar pagar tembok gedung aula utama, dikendalikan langsung oleh anak buah Viktor Tan.
"Tuan Hartawan, para juri yang terhormat," ucap Rian dengan suara yang tenang dan jernih, menggema dengan sangat jelas di tengah keheningan aula yang mulai meredam bisik-bisik penonton. "Peringatan di layar monitor ini bukan bukti bahwa proyek kami adalah hasil plagiat. Ini adalah bukti nyata bahwa ada pihak luar yang panik dan mencoba meretas sistem kami secara paksa."
Salah satu juri mengernyitkan dahi. "Meretas secara paksa? Apa buktinya, anak muda? Tulisannya sangat jelas menuduh sumber datamu berasal dari jaringan eksternal ilegal."
Rian tidak panik. Ia meraih keyboard di samping laptopnya, lalu mengetik beberapa baris perintah cepat dengan jari-jarinya yang bergerak sangat lancar bagaikan penari piano profesional.
"Karena orang yang meretas sistem ini lupa menghapus jejak alamat IP digital mereka sendiri di balik enkripsi lapisan kedua," jawab Rian tenang.
Enter.
Rian menekan tombol terakhir. Seketika itu juga, tampilan layar monitor yang tadinya berwarna merah peringatan berubah total menjadi jendela terminal transparan berwarna hijau. Di layar tersebut, tertera jelas peta pelacakan GPS real-time yang menunjukkan titik koordinat persis dari sebuah mobil van hitam di luar gedung, lengkap dengan rekaman data transfer file ilegal serta identitas akun peretas yang terhubung langsung dengan jaringan komunikasi Viktor Tan.
Tidak hanya itu, layar utama aula juga menampilkan transkrip rekaman suara percakapan antara agen sindikat Viktor dan seseorang yang merencanakan sabotase pameran sains hari ini untuk menjatuhkan nama baik Rian di hadapan para petinggi kota.
Suasana di dalam aula serbaguna seketika mendadak sunyi total bagaikan kuburan.
Wajah Kevin dan Bara di barisan penonton mendadak kehilangan warna; senyuman kemenangan di wajah mereka membeku seketika, berganti dengan rasa ngeri yang luar biasa saat menyadari bahwa rencana sabotase tersebut justru berbalik menghantam kelompok di belakang layar.
Hartawan Kusuma menatap tajam ke arah layar monitor, lalu mengalihkan pandangannya kepada para juri utama yang tampak tercengang luar biasa melihat keahlian tingkat dewa yang ditunjukkan oleh remaja di hadapan mereka.
"Luar biasa..." gumam sang profesor juri utama dengan suara bergetar kagum, menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Bukan hanya merancang proyek ilmiah tingkat tinggi, anak ini bahkan memiliki kemampuan analisis keamanan siber setingkat intelijen militer untuk melacak balik serangan peretas dalam hitungan detik!"
Hartawan tersenyum lebar, rasa bangga terpancar jelas di wajahnya. Ia menoleh ke arah kepala sekolah Pak Handoko dan berbisik tegas, "Hubungi pihak kepolisian kota sekarang juga. Tangkap pemilik kendaraan van hitam yang terparkir di luar gerbang itu. Kita tidak boleh membiarkan sindikat kriminal mana pun mengganggu lingkungan pendidikan di yayasan kita."
"Baik, Pak Direktur!" jawab Pak Handoko sigap, langsung mengeluarkan ponselnya untuk memberikan instruksi kepada pos keamanan utama.
Rian menutup jendela terminal di laptopnya, lalu merapikan sedikit kerah jas almamaternya. Ia menatap lurus ke arah para juri dan Hartawan dengan senyuman tenang.
"Demikian presentasi dari stan SMA Bina Bangsa," ucap Rian dengan nada sopan dan penuh wibawa. "Semoga inovasi ini tidak hanya bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, tapi juga membersihkan lingkungan kita dari segala bentuk gangguan yang tidak terlihat."
Seisi aula seketika gemuruh oleh tepuk tangan meriah yang begitu panjang dari para penonton, juri, dan tamu undangan. Di tengah sorotan lampu pameran yang bersinar terang, Rian berdiri tegak—bukan lagi sekadar seorang siswa beasiswa biasa, melainkan arsitek sejati yang memegang kendali penuh atas takdir masa depannya sendiri.