Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: AKTING SANG MANGSA
Embun pagi menyelimuti permukaan kaca-kaca jendela kamar tidur utama, membiaskan sinar matahari pertama yang menembus kabut perbukitan. Di dalam ruangan yang hangat itu, udara terasa sangat tegang meski suasananya tampak begitu tenang.
Sesil berdiri di depan cermin rias, merapikan gaun tidur sutra putihnya. Tangannya yang tersembunyi di dalam celah kain memegang erat dua benda berharga: flashdisk berisi berkas digital rahasia dan kunci perak biomekanik yang telah dicurinya semalam.
Jurnal hitam yang berhasil dia ambil dari kamar rahasia kini telah tersembunyi aman di dalam kompartemen tersembunyi di dasar lemari pakaian.
Napas Sesil teratur, namun dadanya bergemuruh oleh arus adrenalin yang intens. Ia tahu bahwa bagian paling krusial dari rencananya bukan saat menembus kamar rahasia, melainkan momen beberapa menit ke depan:
mengembalikan kunci perak itu ke saku jas Alden tanpa menimbulkan sedikit pun kecurigaan.
Alden masih terbaring telentang di atas ranjang, mulai bergerak gelisah. Desah napasnya menandakan bahwa pria itu berada di ambang kesadaran.
Sesil bertindak cepat tanpa memicu suara. Dengan langkah-langkah seringan bulu, ia meluncur mendekati kapstok kayu mahoni tempat jas tuksedo Alden tergantung.
Setiap milimeter pergerakannya diperhitungkan dengan presisi seorang buronan yang terlatih.
Ia menyelipkan jemarinya ke dalam saku dalam jas wol tersebut. Sensasi dingin kain pelapis saku menyentuh kulitnya. Dengan gerakan mulus dan tanpa cela, ia meluncurkan kunci perak itu kembali ke kedalaman saku, memastikan posisinya persis seperti semula saat ia mengambilnya beberapa jam lalu.
Sreett.
Kunci itu bersarang sempurna di dasar saku.
Tepat pada detik yang sama, suara erangan pelan terdengar dari arah ranjang. Alden membungkukkan badannya, mengusap matanya yang masih berat, lalu duduk bersandar pada papan tempat tidur.
Sesil tidak panik. Dalam hitungan milidetik, raut wajahnya bertransformasi secara radikal. Sorot mata jurnalis yang tajam dan dingin mendadak padam, digantikan oleh binar mata yang sayu, redup, bingung, dan memancarkan kepasrahan murni.
Bibirnya sedikit mengatup rapuh, sementara bahunya melengkung agak lunglai—sebuah gambaran visual dari seorang wanita korban Compound-9 yang jiwa dan memorinya telah dihancurkan.
Ia memutar tubuhnya perlahan, memegang sebuah sisir kayu, berpura-pura baru saja hendak merapikan rambutnya di dekat kapstok.
"Alden...?" panggil Sesil dengan intonasi lambat, jeda suaranya dibuat agak ragu-ragu dan manja. "Kamu sudah bangun?"
Alden mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menghilangkan rasa pening akibat wiski semalam. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada Sesil. Pria itu menyapu figur Sesil dari ujung rambut hingga ujung kaki—sebuah kebiasaan refleksif dari seorang pemangsa yang selalu memeriksa kondisi buruannya.
"Sesil..." gumam Alden, suaranya parau serak. Pria itu mengusap dahinya. "Sedang apa kamu di sana, Sayang?"
Sesil menundukkan kepalanya sedikit, membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi sebagian wajahnya. Ia berjalan pelan menghampiri ranjang dengan langkah gontai yang dipola sedemikian rupa seolah kakinya masih terasa sedikit lemah akibat pengaruh obat.
"Aku... aku hanya mengambil sisirku yang terjatuh di dekat jasmu tadi, Alden," sahut Sesil polos. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, meletakkan tangannya di atas paha Alden, dan menatap pria itu dengan binar mata ketergantungan yang amat sangat dalam. "Kepalaku... rasanya agak berat pagi ini. Seperti ada mimpi-mimpi aneh lagi..."
Perhatian Alden seketika terfokus sepenuhnya pada pernyataan itu. Rasa curiga yang mungkin sempat terlintas mendadak menguap, tergantikan oleh insting kontrol medisnya.
Pria itu memajukan tubuhnya, meraih kedua tangan Sesil dan menggenggamnya erat.
"Mimpi aneh apa, Sesil?" tanya Alden dengan nada menelisik, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Sesil.
Sesil menyandarkan kepalanya di dada telanjang Alden, menghirup aroma sandalwood yang dulu sempat memicu kebingungan emosionalnya, namun kini hanya memicu rasa jijik yang berhasil ditutupinya dengan sempurna.
"Aku bermimpi... berada di sebuah ruangan gelap yang penuh layar," desis Sesil pelan, suaranya terdengar seperti bisikan anak kecil yang ketakutan. "Ada suara-suara orang berbisik... tapi aku tidak bisa melihat wajah mereka. Aku takut sekali, Alden. Saat aku terbangun dan melihatmu tidur... aku merasa sangat lega. Hanya kamu yang punya jawaban untuk semua pusing di kepalaku..."
Alden menghembuskan napas lega yang tak tertahan. Pengakuan polos Sesil justru menjadi konfirmasi baginya bahwa senyawa Compound-9 masih bekerja meretas ingatan wanita itu, mengubah sisa-sisa rekaman bawah sadarnya menjadi bentuk rekaman mimpi yang tak berujung.
Sosiopat itu tersenyum lebar—senyuman penuh rasa puas dari seorang penguasa yang merasa berhasil mempertahankan kendali mutlak atas objek eksperimennya.
Ia merengkuh tubuh Sesil ke dalam pelukannya, mengusap punggung wanita itu dengan kelembutan yang sangat manipulatif.
"Itu hanya efek samping dari proses penyembuhan syarafmu, Sayang," bisik Alden di rambut Sesil. "Sudah kubilang, jangan pernah takut. Selama kamu ada di sisiku dan mematuhi semua petunjukku, mimpi-mimpi buruk itu tidak akan pernah bisa menyakitimu."
"Kamu tidak akan meninggalkanku, kan, Alden?" bisik Sesil, menatap Alden dari bawah dengan mata berkaca-kaca yang diproduksi secara sempurna. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kamu... Jika kamu pergi, aku tidak tahu harus ke mana..."
Kata-kata Sesil adalah musik terindah bagi ego psikopat Alden. Pria itu menangkup wajah Sesil dengan kedua telapak tangannya, mengecup bibir Sesil dengan rasa kepemilikan yang menggebu.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sesil. Kamu adalah milikku, selamanya," janji Alden dengan nada hangat yang beracun.
Alden kemudian melepaskan pelukannya dan berdiri dari ranjang. Pria itu berjalan santai menuju kapstok, meraih jas tuksedonya, dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku dalam jas tersebut.
Di balik wajahnya yang tertunduk lesu di atas ranjang, napas Sesil tertahan selama sepersekian detik. Matanya melirik tajam dari balik helai rambutnya.
Jemari Alden meraba bagian dalam saku, menyentuh permukaan dingin kunci perak biomekaniknya. Pria itu menarik kunci itu keluar sebentar, memeriksa indikator LED-nya yang masih padam, lalu memasukkannya kembali ke saku tanpa kecurigaan sedikit pun. Kunci itu berada di tempatnya, tidak tersentuh dan tidak ternoda.
Alden berbalik menatap Sesil dengan senyuman yang sangat hangat. "Aku akan mandi dulu. Setelah ini, aku akan meminta Ibu Marta membawakan obat harianmu dan sarapan hangat."
"Terima kasih, Alden..." sahut Sesil lembut.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan suara gemericik air shower mulai terdengar bergema di dalam, figur rapuh dan bergantung yang ditunjukkan Sesil seketika runtuh tanpa sisa.
Sesil menegakkan punggungnya. Raut wajahnya berubah total menjadi dingin, keras, dan penuh kalkulasi matematis.
Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan, menghapus rasa bekas kecupan Alden dengan rasa jijik murni.
Ia telah berhasil melintasi ujian paling berbahaya. Alden sepenuhnya percaya bahwa ia masih merupakan boneka tak berdaya yang terjebak dalam ilusi kepatuhan.
Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam kamar tidur mewah ini, mangsa yang dikurungnya telah bertransformasi menjadi seorang pemburu yang hanya menunggu waktu tepat untuk menjatuhkan perangkap pemungkas.
Sesil berjalan mendekati lemari pakaian, menatap pintu lemari tempat jurnal hitam dan flashdisk rahasianya tersembunyi.
Aktingnya pagi ini telah berjalan dengan sangat sempurna. Kini, langkah selanjutnya adalah membangun komunikasi rahasia dengan Rian di luar untuk mengatur skenario pembongkaran bukti-bukti tersebut ke publik.
Alden mungkin merasa dirinya adalah sutradara dari kehidupan Sesil, tetapi pria itu tidak sadar bahwa panggung sandiwaranya telah diambil alih, dan tirai penutup kerajaannya akan segera dijatuhkan dengan amat sangat menyakitkan.