Alur cerita ringan...
Dan novel ini berisi beberapa cerita dengan karakter yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arran Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenzo & Naya [Bab 1]
Minggu, Pukul 9 Pagi Jakarta
Matahari pagi Jakarta yang biasanya terik terasa sedikit teduh oleh rimbunnya pohon di pekarangan sebuah Mansion mewah bergaya Victorian klasik. Kesunyian megah itu mendadak terpecah saat sebuah mobil sedan hitam mulus meluncur perlahan dan berhenti tepat di depan tangga utama. Pintu mobil terbuka, dan dari dalamnya keluarlah dua sosok: seorang pria dewasa berusia 25 tahun dengan raut wajah tegas dan kemeja rapi bernama Narendra, dan seorang gadis remaja berwajah manis, Nayara, yang baru menginjak usia 19 tahun.
Mereka disambut dengan kehangatan yang kontras dengan kemewahan dingin Mansion itu. Di ambang pintu berdiri Kenzo, pemilik Mansion yang sebaya dengan Narendra, dengan senyum ramah dan mata teduh. Pria berpostur atletis itu adalah sahabat karib Narendra, dan kini, ia akan menjadi wali sementara bagi sang adik, Naya.
"Ken," panggil Narendra seraya menghampiri Kenzo, tangan kanannya menggandeng erat tangan Nayara, seolah enggan melepaskan satu-satunya harta berharganya.
"Ken, gue titip Naya selama tiga hari ya..." ucap Narendra, nada suaranya dipenuhi rasa tak enak hati. "Gue janji bakal cepet kelarin kerjaan gue di luar kota. Sorry banget kalau ngerepotin lo."
Sebagai seorang kakak tunggal, Narendra selalu dihantui rasa khawatir meninggalkan Naya sendirian. Karena itu, setiap kali ada urusan pekerjaan di luar kota, Kenzo adalah satu-satunya orang yang ia percaya untuk menjaga adiknya.
Kenzo terkekeh pelan, menepuk bahu Narendra dengan keakraban seorang saudara. "Apaan sih, lo. Gue nggak keberatan sama sekali lo nitip Naya di sini. Gue udah bilang berulang kali, nggak perlu sungkan. Dan adik lo bakal aman sama gue. Udah deh, mending lo berangkat sekarang, jangan sampai ketinggalan pesawat."
Narendra tersenyum lega. Ia merasa sangat bersyukur memiliki sahabat yang bisa ia andalkan melebihi saudara kandung. "Ya udah, gue berangkat ya. Makasih banget, Ken."
Ia lantas membalikkan badan, menoleh menatap adiknya yang tampak sedikit murung. "Dek, Abang pergi dulu ya... Ingat, jangan nakal, jangan buat Kak Ken pusing, mengerti?"
Nayara, yang dipanggil Naya, langsung cemberut. Pipi chubby-nya menggembung lucu. "Ihh, kapan aku nakal! Aku nggak pernah tuh buat Kak Ken pusing!" rengeknya, berusaha membela diri.
Kenzo yang menyaksikan interaksi manis kakak beradik itu mengulum senyum gemas. Wajah cemberut gadis itu selalu berhasil membuatnya merasa hangat.
"Haha, iya, iya, maaf..." ujar Narendra, mengalah. "Ya udah, Abang berangkat dulu ya." Ia mencium lembut kening Nayara, memberinya pelukan erat, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil yang ditumpangi Narendra berlalu dari pandangan, Kenzo mengarahkan Nayara masuk ke dalam Mansion. Ia menuntunnya melewati ruang tamu yang dihiasi lampu kristal mewah.
"Udah makan?" tanya Kenzo lembut, tangannya mengelus kepala Naya dengan gerakan kasih sayang yang tak disadari olehnya mulai mengandung makna berbeda dalam setahun terakhir.
"Udah kok, Kak," jawab gadis remaja itu, membalasnya dengan senyuman manis yang selalu berhasil meluluhkan hati Kenzo.
Kenzo tersenyum gemas. "Gemes..." bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Kalau gitu, kamu nonton di sini aja ya. Kakak mau periksa beberapa pekerjaan dulu di ruang kerja." Gadis manis itu hanya mengangguk patuh, matanya langsung terfokus pada layar televisi berukuran raksasa di depannya, menelusuri acara kartun atau drama remaja.
.
.
Satu jam berlalu. Suara dentingan keyboard Kenzo yang semula memenuhi ruang kerjanya yang sunyi kini terhenti sejenak.
Tok... tok... tok...
Kenzo mendongak. Di ambang pintu, tampak Nayara berdiri dengan bibir mengerucut, menunjukkan tanda-tanda kebosanan.
"Kenapa, baby?" tanya Kenzo, melembutkan suaranya seketika.
"Bosen, Kak. Jadi ngantuk," rengek Naya manja, melangkah mendekati Kenzo.
Tanpa sungkan, Nayara langsung berjalan menuju kursi executive Kenzo. Gadis itu lalu duduk di pangkuan Kenzo, menyandarkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kenzo, mencari kehangatan.
Kenzo terdiam, jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan. Ia menelan salivanya dengan susah payah kala merasakan paha mulus Nayara yang terpampang di hadapannya. Gadis itu memang hanya mengenakan rok pendek selutut yang tersingkap saat ia duduk.
Selama setahun terakhir, Kenzo menyadari ada perubahan signifikan dalam perasaannya. Tarikan halus yang ia rasakan pada adik sahabatnya itu kini telah berubah menjadi ketertarikan yang nyata. Ia menyukai gadis lugu dan polos ini, dan kedekatan fisik seperti ini menguji batas-batas kendalinya.
"Terus mau ngapain hmm? Mau bobo aja?" tanya Kenzo, berusaha terdengar biasa saja, tangannya tanpa sadar mengelus paha Nayara dengan sangat lembut, gerakannya menenangkan namun memabukkan bagi dirinya sendiri.
"Ngantuk sih, tapi nggak mau bobo, deh. Aku mau liatin Kak Kenzo aja," ucapnya manja, suara Nayara terdengar seperti bisikan di telinga Kenzo.
Kenzo tersenyum getir, mencoba mengalihkan pikirannya. "Atau mau Kakak teleponin Gaby, biar temenin kamu di sini?" Gaby adalah teman sekelas Nayara yang juga sering bermain di Mansion itu.
Naya menggeleng cepat. "Nggak mau! Gaby lagi pergi tes keρerάωαηαη," ucapnya polos, membuat Kenzo terhenyak, bingung, dan terkejut.
"Hah? Tes keρerάωαηαη?" ujar Kenzo terbelalak.