Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di atas meja makan deretan hidangan makan malam yang tertata rapi. Sup iga hangat, tumis buncis daging cincang, dan sambal terasi kesukaan Rian masih mengepulkan asap tipis. Semuanya dimasak sendiri oleh Nadia sejak pukul empat sore.
Nadia duduk sendiri didepan meja makan, lalu melirik jam dinding berbingkai kayu jati. Pukul sembilan malam.
Suara deru mesin mobil yang familiar terdengar memasuki garasi. Nadia menghela napas pelan, mengusap telapak tangannya ke apron yang dikenakannya, lalu melepaskan apron tersebut dan meletakkannya di sudut dapur. Ia melangkah menuju pintu depan dengan senyum yang dipaksakan.
Pintu terbuka. Rian masuk dengan langkah berat, bahunya tampak lelah, setelan jas abu-abu yang tadinya rapi sekarang sedikit kusut di bagian lengan. Jas itu tampak melonggar di bagian kerah, seolah menunjukkan betapa melelahkannya hari yang baru saja ia lewati.
"Kamu baru pulang, Mas?" tanyakan Nadia lembut, meraih tas kerja kulit hitam dari genggaman suaminya.
Rian hanya mengangguk tipis tanpa menatap mata Nadia. "Ada rapat mendadak dengan klien baru. Harusnya selesai jam tujuh, tapi membengkak karena mereka masih ingin ngobrol."
"Pasti capek banget," ujar Nadia mengekor di belakang Rian yang melangkah menuju sofa panjang dan merebahkan tubuhnya disana. "Aku sudah siapkan makan malam. Sup iganya masih hangat. Kamu mau makan dulu atau mandi?"
"Aku sudah makan di luar, Nad. Tadi tidak enak menolak ajakan klien," jawab Rian datar.
Nadia terpaku di tempatnya. Senyum tipis yang tadi sempat menghiasi bibirnya perlahan memudar. "Oh... begitu. Tadi sore kamu bilang mau makan di rumah, jadi aku masak agak banyak."
"Lain kali tidak usah repot-repot kalau sudah lewat jam delapan," potong Rian dingin. "Aku ini pria dewasa, Nad. Kalau lapar ya aku makan di luar. Kamu tidak perlu bertindak seperti pengasuhku."
Kata-kata itu menancap telak di dada Nadia. Pengasuh? Apakah perhatian seorang istri yang menunggu suaminya pulang kini bergeser makna menjadi beban di mata Rian?
"Ada yang harus kita bicarakan! "
"Aku, capek, Nad. Besok saja kita bicara."
"Kapan besok?" Nadia mendekat, suara mulai bergetar, bukan karena marah, tapi karena sudah lelah. "Besok kamu juga akan bilang capek, nanti kita bicara. Sudah terlalu sering seperti itu. Kapan kita akan benar-benar bicara, mas.!"
Rian menegakkan badannya, menatap Nadia denga tatapan asing. Ia tidak pernah melihat Nadia berbicara seperti ini kepadanya. Ia menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak frustrasi.
"Tolonglah, Nadia. Aku baru saja pulang dari kerja seharian dengan pekerjaan yang menumpuk. Jangan mulai drama malam-malam begini. Aku cuma mau mandi dan istirahat. Nggak usah bicara yang aneh-aneh."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Rian menunduk, ia tau apa yang dikatakan Nadia benar. Mereka tidak pernah bicara selayaknya suami istri. Dia pulang hanya untuk istirahat, dan waktunya ia habiskan di luar sana untuk bekerja. Tapi entah kenapa, lidahnya tak bisa mengucapkan kata-kata manis atau sekedar meminta maaf. Yang keluar justru kalimat yang membuat istrinya mungkin sakit hati.
"Kamu selalu saja merasa yang paling benar. " Setelah mengatakan itu, Rian segera melangkah masuk ke kamar dan menutup pintu, meninggalkan Nadia yang terpaku sendirian di ruang keluarga.
Nadia berjalan kembali ke dapur dengan langkah berat. Ia menatap meja makan yang dipenuhi makanan hangat yang tak tersentuh dengan perasaan yang campur aduk.
Dua tahun lalu, ruangan ini selalu dipenuhi gelak tawa. Rian akan memeluknya dari belakang saat ia memasak, mencuri potongan sayuran, dan memujinya setinggi langit. Dulu, Rian adalah pria hangat yang berjanji akan menjaganya selamanya.
Namun, semuanya berubah sejak insiden kelam dua tahun lalu.
Sejak ia keguguran dan sulit memiliki anak lagi. Sejak saat itu, ada tembok kaca tebal yang tak kasat mata berdiri kokoh di antara mereka. Rian tak pernah lagi menyentuhnya dengan penuh kasih sayang, dan komunikasi mereka berubah dingin.
Setelah membereskan semua makanan di meja makan, Nadia masuk kedalam kamarnya dan melihat Rian baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar. Ia menghela nafasnya, dan menatap Rian dengan tatapan sendu.
"Mungkin aku yang salah. Aku salah karena berharap kamu masih ingat bahwa di rumah ini bukan cuma ada istri yang melayani semua kebutuhan suami, dan suami yang mencari nafkah. Tapi ada kita."
Setelah mengatakan itu, Nadia merebahkan tubuhnya dan memunggungi Rian yang berdiri terpaku menatapnya.
"Selamat istirahat. Jangan lupa kunci pintu."
Rian tersadar dari keterpakuannya, ia segera berganti pakaian dan keluar kamar untuk memeriksa pintu yang belum di kunci. Biasanya Nadia-lah yang akan mengunci semua pintu dan pagar. Tapi sekarang sepertinya Nadia sedang tidak enak hati.
Ia lalu duduk lagi di ruang keluarga sendirian, menatap ke arah meja makan yang sudah bersih. tidak ada deretan makanan lagi disana. lalu pandangan matanya beralih ke seluruh penjuru rumah ini. Rapi, bersih dan nyaman untuk sebuah hunian rumah tangga. Semua ini karena Nadia yang selalu menjaga rumah ini dengan baik.
"Apa sebenarnya yang sudah terlewatkan di rumah ini. Kenapa aku tidak tau apa-apa. Aku merasa semua baik-baik saja. Tapi kenapa malam ini Nadia begitu sensitif." gumamnya.
Rian meraih ponselnya, tapi ia tak tahu mau membuka apa disana. Rumah ini sangat tenang, tapi hatinya terasa sangat berisik. Lidahnya terasa kaku, setiap kata yang terucap diantara mereka terasa tajam menusuk bukan hanya dihatinya tapi juga dihati Nadia. Ia bisa melihat tatapan terluka dimata Nadia tadi.
Ingin sekali ia kembali masuk kedalam kamar, tidur di samping istrinya, memeluknya dan meminta maaf. Tapi kakinya terasa berat, egonya terlalu tinggi untuk melakukan itu semua, seperti ada dinding tak kasat mata yang tumbuh perlahan diantara mereka. Yang dibangun dari ribuan kata yang tak terucap, perhatian yang tertahan, dan malam-malam uang dingin tanpa kehangatan cinta seperti dulu.
Saat ia sedang larut dalam pikirannya, pintu kamar di dekat meja makan terbuka. Terlihat wanita paruh baya dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya, keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati Rian dan duduk di sampingnya.
"Ibu sudah mendengar semuanya, Nadia itu selalu begitu, terlalu sensitif dan tidak pengertian. Padahal kamu pulang dengan rasa lelah. Seharusnya dia tau diri. Bukan malah menyambutmu dengan semua sikapnya itu. Apa-apaan sikap seperti itu. "
"Sudahlah, bu. Tidak perlu di perpanjang lagi. Mungkin Nadia lelah." Rian mencoba membela istrinya.
"Lelah apanya, dia seharian juga nggak ngapa-ngapain. Kenapa tidak kamu ceraikan saja dia. "