Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa 'Non'?
Beberapa saat kemudian, Adira akhirnya sampai di kamar Areksa.
Begitu ia masuk, Areksa segera menutup pintu di belakangnya. Bahkan terdengar suara kunci diputar.
Klik.
Adira spontan menoleh. “T-Tuan, kenapa dikunci?”
Areksa memasukkan kunci itu ke saku celananya. “Ini kamar saya. Jadi suka-suka saya.”
Adira berusaha tetap tenang. “Tuan memanggil saya karena ada apa?”
Areksa mengangguk ke arah sofa. “Itu semua untuk kamu.”
Adira mengikuti arah pandangannya. Di sana terdapat begitu banyak paper bag.
“Itu apa?”
“Buka aja.”
Dengan sedikit ragu, Adira mendekati sofa. Ia mengambil salah satu paper bag, kemudian membukanya.
Matanya langsung membulat. Sebuah dress berwarna biru langit terlipat rapi di dalamnya.
ia mengambil paper bag lain. Dress berwarna merah marun dengan model yang berbeda.
“Baju siapa, Tuan?”
“Kamu.”
Adira menatap Areksa. “Untuk saya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Areksa menjawab santai. “Ya saya mau membelikan istri saya baju. Memangnya salah?”
Adira kembali melihat pakaian di tangannya. “Pasti harganya mahal sekali.”
“Tidak. Bagi saya semuanya murah.”
Adira menghela napas. “Kenapa Tuan belikan?”
Ia menatap pakaian-pakaian itu dengan sedikit ragu. “Apa baju saya jelek?”
Areksa hendak menjawab, tetapi Adira kembali bicara.
“Kan saya sudah bilang apa. Saya itu tidak pantas jadi istri Tuan. Jadi mungkin itu sebabnya Tuan membelikan semua ini.”
Suaranya semakin pelan. “Mau saya pakai apa pun yang mahal, tetap saja saya—”
“Adira.” Areksa memotong.
Namun Adira masih ingin menyelesaikan kalimatnya. “Saya tau saya tidak selevel dengan Tuan. Jadi kalau Tuan merasa malu melihat saya memakai pakaian sederhana—”
"Cup!"
Areksa membungkam bibir Adira dengan bibirnya. Ia tak ingin Adira melanjutkan ucapan yang merendahkan dirinya sendiri.
Sedangkan mata Adira terbelalak ketika bibirnya dikecup oleh Areksa.
“Cukup. Bisa berhenti berbicara?"
Adira yang masih syok oleh serangan tiba-tiba itu hanya mengangguk pelan.
Areksa menatapnya beberapa saat sebelum berkata, “Bisa berhenti merendahkan diri kamu sendiri? Saya tidak membelikan pakaian ini karena pakaian kamu jelek.”
“Lalu karena apa?”
“Karena saya mau.” Jawaban itu sederhana, tetapi justru membuat Adira bingung.
Areksa mengambil salah satu dress dari tangannya. “Selama ini saya lihat pakaian kamu. Kaus sederhana, rok panjang, kemeja yang itu-itu saja.”
Adira menunduk. “Saya memang tidak butuh banyak.”
“Saya tau.”
Areksa mengembalikan dress itu kepadanya. “Tapi saya ingin membelikan kamu sesuatu.”
“Kenapa?”
Areksa menarik napas pelan. “Karena kamu istri saya. Dan saya ingin kamu punya pakaian yang kamu suka. Bukan karena saya menganggap kamu kurang, bukan karena saya malu dengan pakaian kamu, apalagi karena saya ingin mengubah kamu. Kalau kamu tidak suka salah satunya, tidak perlu dipakai. Kalau ukurannya tidak cocok, kita tukar.”
Areksa menunjuk seluruh paper bag yang memenuhi sofa.
“Tidak ada kewajiban kamu memakai semuanya.”
Suasana kamar kembali hening.
Adira mengambil satu per satu pakaian yang dibelikan Areksa. Ia memeriksa ukuran dan mencoba beberapa di antaranya. Anehnya, hampir semuanya terasa pas di tubuhnya.
Ia bahkan menemukan beberapa dress dengan resleting di bagian depan sehingga lebih mudah digunakan saat menyusui Aretha.
Adira mengangkat salah satunya.
“Bagaimana? Kira-kira pas, enggak?”
“Sepertinya pas.”
Adira memperhatikan detail pakaian tersebut. “Tuan tau saya masih menyusui Aretha, jadi ada resletingnya. Ukurannya juga pas sekali.”
Areksa mengangguk santai. “Tentu. Saya sudah mengukurnya malam itu, meskipun waktu itu saya tidak sadar.”
Gerakan tangan Adira langsung berhenti.
Ia perlahan menoleh. Tatapannya berubah tajam.
Barulah Areksa menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Maaf.” Suaranya seketika melunak.
“Saya... tidak bermaksud mengungkitnya.”
Adira menundukkan pandangan pada pakaian yang masih berada di tangannya.
Areksa menarik napas. “Saya seharusnya tidak mengatakan itu.”
Adira akhirnya menatapnya. “Ya. Memang tidak seharusnya Tuan.”
"Padahal sekarang sudah sah.”
Adira tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana. “Tidak begitu, Tuan.”
Ia merapikan pakaian yang tadi dipegangnya. “Malam itu tidak sah. Tapi Tuan tetap melakukannya.”
Areksa langsung kehilangan kata-kata.
Adira memasukkan kembali pakaian tersebut ke dalam paper bag.
“Sudah.” Ia berusaha terdengar biasa.
“Oh iya, terima kasih untuk bajunya. Saya bawa ke bawah.”
“Adira, bukan begitu maksud saya.”
Namun Adira sudah melangkah menuju pintu.
“Adira.”
Tangannya sudah lebih dulu meraih kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
“Adira, tunggu.”
Tetapi perempuan itu tidak menoleh.
Ia keluar dari kamar, lalu menutup pintu di belakangnya.
Areksa masih berdiri di tempatnya. Tatapannya jatuh pada pintu yang kini sudah tertutup.
Kalimat Adira terus terngiang di kepalanya.
Malam itu tidak sah. Tapi Tuan tetap melakukannya.
Areksa menundukkan wajah. Ia tau Adira benar.
Status mereka sebagai suami istri hari ini tidak mengubah kenyataan tentang apa yang telah terjadi malam itu.
Dan mungkin, seberapa pun besar keinginannya untuk memperbaiki hubungan mereka, ada luka yang tidak bisa sembuh hanya karena sebuah akad.
***
Malam pun tiba.
Adira sudah selesai menata makan malam di meja makan. Beberapa hidangan tersusun rapi, mulai dari ayam bakar madu, tumis jamur, hingga sambal dan potongan buah sebagai pelengkap. Segelas jus buah dengan gula yang tidak terlalu banyak juga sudah ia siapkan di sisi piring Areksa.
Beruntung tadi Aretha berada bersama Areksa, sehingga Adira bisa memasak tanpa diketahui olehnya.
Tak lama kemudian, Areksa muncul dari arah ruang keluarga sambil menggendong Aretha.
Namun, baru beberapa langkah menuju meja makan, langkahnya mendadak melambat.
Pandangan Areksa jatuh kepada Adira.
Perempuan itu mengenakan dress biru langit yang dibelinya siang tadi. Warnanya lembut, dan potongannya jatuh pas di tubuh Adira. Sederhana, tetapi membuat Adira terlihat semakin anggun.
Areksa bahkan sempat lupa hendak mengatakan apa.
Adira yang menyadari tatapan itu akhirnya bertanya, “Kenapa, Tuan?”
Areksa segera mengalihkan pandangannya. “Tidak apa-apa.”
Adira kemudian menghampirinya. “Biar Non Aretha sama saya, Tuan. Tuan bisa makan dengan tenang.”
“Biar sama Mbok Iyem saja di ruang keluarga.” Areksa menyerahkan Aretha kepada Mbok Iyem yang sudah mendekat. “Kamu temani saya makan.”
“Ah, iya, Tuan.”
Mbok Iyem membawa Aretha kembali ke ruang keluarga.
Adira kemudian menarik kursi untuk Areksa dan mulai mengambilkan nasi beserta lauk-pauk ke piringnya.
Areksa memperhatikan meja makan yang penuh dengan makanan kesukaannya.
“Wah... semua makanan saya.” Ia menatap satu per satu hidangan di depannya. “Tumben Bik Tini tidak kelihatan dari tadi.”
“Bik Tini sedang istirahat, Tuan.”
“Kenapa?”
“Katanya badannya kurang enak.”
Areksa mengangguk pelan. “Kamu juga makan, Adira.”
“Iya.”
Adira mengambil nasi untuk dirinya sendiri, lalu duduk di seberang Areksa.
Areksa mengambil satu potong ayam bakar madu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Adira diam-diam memperhatikan wajahnya.
Ia menunggu reaksinya.
Areksa mengunyah beberapa saat. “Hm...”
Adira semakin memperhatikan.
“Ini yang masak Bik Tini?”
Adira langsung menggeleng. “Bukan, Tuan. Bik Tini sedang sakit. Jadi Mbok Iyem yang masak.”
Areksa menghentikan gerakan tangannya. “Mbok Iyem?”
“Iya.”
“Yakin dia bisa masak seenak ini?” Areksa menatap Adira dengan curiga. “Kok saya baru tau?”
Adira hanya tersenyum kecil. “Memangnya tidak boleh?”
“Boleh.” Areksa kembali menyantap makanannya. “Cuma rasanya beda.”
“Beda bagaimana?”
“Lebih enak.”
Adira spontan tersenyum.
Namun sebelum sempat mengatakan apa-apa, Mbok Iyem datang menghampiri mereka.
“Tuan, ada Dokter Kenzo.”
Areksa langsung menghela napas panjang. “Hadeh... ganggu saja. Suruh aja dia masuk, Mbok.”
Tidak lama kemudian, Kenzo muncul dari arah ruang keluarga sambil menggendong Aretha. Tadi saat melihat mbok Iyem menggendong Aretha, ia pun mau menggendong juga.
“Wih! Lagi makan, nih?”
Areksa menatapnya datar. “Kenapa? Lo mau?”
“Kalau dipaksa sih... ayo aja.”
Ia langsung menarik kursi dan hendak duduk. Namun sebelum itu, ia menyerahkan Aretha kembali kepada Mbok Iyem.
“Pegang dulu, Mbok.”
“Baik, Dok.”
“Cih.” Areksa mendengus pelan.
Kenzo tertawa.
Adira yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum kecil. “Biar saya ambilkan, Kak.”
Adira hendak bangkit, tetapi Areksa langsung menghentikannya.
“Enggak perlu. Dia bisa ambil sendiri.”
Kenzo menoleh ke arah Areksa. “Wah, benar-benar. Lo ganggu gue diurus calon bini gue.”
Areksa yang sedang minum langsung terbatuk. “Calon bini?”
Kenzo santai mengambil piring. “Ya... kalau Adiranya mau.”
Areksa langsung menoleh kepada Adira. “Kamu mau, Adira?”
Adira yang tidak menyangka ditanya begitu buru-buru menggeleng. “Ah... enggak, Tuan.”
Beberapa detik hening.
Kemudian Areksa tertawa. “Ditolak lu!”
Kenzo justru ikut tertawa. “Enggak apa-apa. Kita kan baru kenal.”
Ia melirik Adira. “Nanti juga lama-lama Adira suka sama gue.”
“Pede banget!”
Kenzo hanya tertawa.
Mereka akhirnya kembali makan.
Namun tanpa disadari siapa pun, piring Areksa perlahan kembali kosong.
Ia mengambil nasi lagi. Kemudian menambah ayam. Tumis jamur. Sedikit sambal. Lalu menambah nasi sekali lagi.
Adira memperhatikan diam-diam. “Tuan...”
“Hm?”
“Itu sudah tambah berapa kali?”
Areksa berhenti mengambil nasi. Ia melihat piringnya sendiri.
“Dua kali?”
“Empat.”
Kenzo langsung tertawa. “Empat kali? Gila, Reksa. Lo lapar banget?”
Areksa mengabaikannya. Ia kembali mengambil sedikit sambal.
“Masakannya enak.”
***
Begitu selesai makan, Adira segera bangkit dan hendak membereskan piring-piring di atas meja.
Namun, Areksa lebih dulu menahannya.
“Tidak perlu. Ada Bik Kusum yang merapikan.”
Adira menoleh kepada Bik Kusum yang sudah mulai mengumpulkan piring. “Iya, biar saja, Non.”
Adira akhirnya mengurungkan niatnya. “Makasih ya, Bik. Maaf banget.”
“Enggak apa-apa, Non.”
Setelah itu, Adira bersama Areksa dan Kenzo menghampiri Aretha yang masih terjaga di ruang keluarga.
Aretha berada dalam gendongan Mbok Iyem. Bayi kecil itu tampak tenang, matanya masih terbuka lebar.
Areksa mendekat.
“Mbok.”
“Iya, Tuan.”
Areksa tersenyum. “Saya enggak nyangka Mbok bisa masak seenak itu. Biasanya masakan Mbok suka keasinan atau... ya, kadang enggak sesuai sama selera saya.”
“Maaf, Tuan. Tapi bukan saya yang masak.”
Areksa langsung mengernyit. “Lah, kata Adira tadi Mbok yang masak.”
Adira yang berdiri di sampingnya segera menatap Mbok Iyem. Tatapannya jelas berharap perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.
Namun Mbok Iyem justru mengabaikannya. Ia ingin sekali melihat Adira dan Tuan Areksa benar-benar bersama. Karena itu, baginya tidak ada alasan untuk menutupi kebaikan Adira.
“Bukan, Tuan,” jawab Mbok Iyem santai. “Yang masak Non Adira.”
Areksa langsung menoleh kepada Adira. “Kamu yang masak?”
Adira mengangguk kecil. “Iya, Tuan.”
Areksa baru hendak mengatakan sesuatu ketika suara Kenzo lebih dulu terdengar.
“Non Adira?”
Kenzo menatap Mbok Iyem, lalu mengalihkan pandangan kepada Adira. “Kenapa Mbok panggilnya Non?”
Adira mulai salah tingkah.
Namun Kenzo belum selesai.
Ia melirik ke arah meja makan, kemudian kepada Bik Kusum yang masih membereskan peralatan makan.
“Terus tadi Bik Kusum juga manggil dia Non.”
Kenzo menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Hmm...”
Tatapannya berpindah dari Adira kepada Mbok Iyem, lalu kembali kepada Areksa.
“Udah dua orang nih yang manggil Adira ‘Non’.”
Deg!
Adira langsung menahan napas.
Areksa yang tadi hendak berbicara pun ikut diam.
Kenzo menyipitkan mata. “Memangnya Adira ini sebenarnya siapa?”
Suasana mendadak berubah.
Adira melirik Areksa sekilas.
Areksa menangkap tatapan itu.
Keduanya sama-sama tau, satu jawaban yang salah bisa membuat Kenzo mulai menghubungkan banyak hal.
Kenzo malah tersenyum tipis. “Jangan-jangan...” katanya menggoda.
Adira buru-buru menyela, “Panggilan saja, Kak.”
“Panggilan?”
“Iya.”
“Kenapa bukan Mbak Adira?”
Adira terdiam sesaat.
Sebelum ia sempat menjawab, Areksa langsung mengambil alih.
“Kenzo, lo datang ke sini mau makan atau interogasi orang?”
Kenzo terkekeh. “Ya gue cuma penasaran.”
“Enggak perlu penasaran.”
“Lah, makin dilarang malah makin mencurigakan.”
Areksa menghela napas. “Sudah. Duduk sana.”
Kenzo akhirnya tertawa dan mengangkat kedua tangannya. “Iya, iya. Gue enggak nanya lagi.”
Namun sebelum berbalik, ia kembali melirik Adira.
Tatapannya penuh rasa ingin tau.
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰