NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adik Kecil

"Hari ini ada kelas?" tanya Gala seraya memakai sepatu miliknya.

"Enggak. Lo mau kerja?"

Gala mengangguk, lalu beralih memasang arloji hitam di tangan kiri.

"Kerjanya dimana?"

"Cafe."

"Gue boleh ikut?"

"Ngapain?"

Gala menghampiri Rea yang duduk bersandar di ranjang. Gadis itu sudah mandi dan menggunakan baju miliknya.

Kaos over size menutupi sebagian paha, yang hanya tertutup boxer karakter miliknya.

"Ganti baju dulu."

"Kan gak ada baju?" tanya Rea menatap Gala dengan raut menggemaskan.

Gala sontak mencubit hidung gadis itu, sebelum berlalu keluar kamar dan pergi ke kamar Ibunya.

"Ibu sudah pulang?" Gala mengetuk pintu sembari bertanya perihal Ibunya yang mungkin baru pulang, setelah semalam menginap di rumah Kakeknya yang bertetangga dengan mereka.

"Ada apa, Bang? Masuk aja!"

Mendengar seruan itu, Gala segera membuka pintu di hadapannya dengan perlahan, mendapati Ibunya tengah duduk bersandar pada ranjang.

"Ibu, kenapa? Tumben jam segini di kamar?" Berjalan mendekat, Gala kemudian duduk menatap sang Ibu dengan lekat. "Ibu, sakit?"

Revin menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis, mengusap kepala putranya dengan lembut.

"Ibu gak apa-apa," jawab Revin meski sedikit ragu. "Cuma ... Agak mual aja."

Gala mengerjapkan matanya beberapa kali, ia semakin dalam menatap mata Revin yang tampak gelisah.

"Ibu nyembunyiin sesuatu dari Gala?" kata Gala penuh selidik.

"Ah, enggak kok. Kamu mau apa ke sini? Bukannya mau berangkat kerja?" sangkal Revin cepat.

Gala menghela nafas pelan, kemudian menganggukkan kepalanya. "Gala mau pinjam baju buat Rea, Bu. Dia mau ikut ke cafe katanya."

Revin membulatkan bibirnya, mengangguk mengerti. "Ambil aja di lemari, kayaknya ada rok atau enggak celana kulot. Kalau mau, pakai aja."

Gala bangkit menuju lemari, dimana Ibunya menyimpan baju-baju. Kebanyakan gamis, namun ada beberapa celana dan rok yang mungkin bisa dipakai oleh Rea.

"Bawa aja, Bang. Itu yang di lemari bagian bawah sudah jarang dipakai, tapi masih bagus kok. Itu baju-baju Ibu waktu masih muda dulu."

Melihat beberapa tumpuk baju di sana, Gala segera mengambilnya.

"Assalamualaikum, rujak datang!"

Kegiatan Gala terhenti, ia menatap ke arah Saka yang baru datang dengan menenteng kresek berwarna putih berisi dua kotak rujak.

Gala mengernyit heran melihat pemandangan di hadapannya. "Papa kok gak kerja?"

Saka yang semula fokus menyiapkan rujak untuk istrinya, pun dibuat menoleh ke arah putra sulungnya.

"Kamu ngapain di sini?"

Mata Gala menyipit, kala melihat Revin yang lahap memakan potongan-potongan buah yang dicelupkan ke dalam bumbu rujak.

"Rujaknya enak banget, Bu? Sampai segitunya," ringis Gala yang merasakan keasaman dari buah-buah itu, meski Revin tampak biasa saja.

"Papa kenapa gak kerja? Terus kenapa Ibu tiba-tiba mau makan rujak? Padahal dulu paling malas, apalagi sama buah-buah yang asam itu."

Saka menyengir lebar, lalu duduk dan merangkul pundak Revin di sebelahnya.

"Apa senyum-senyum?" Gala heran melihat Saka yang sejak tadi tak berhenti tersenyum ke arahnya, sok imut pula.

Tatapan Gala beralih pada tangan Saka yang kini memegang permukaan perut Revin. Matanya membulat, jantungnya berdebar kencang, ia seolah tahu maksud dari semua itu.

"Ibu hamil."

Nah, kan.

Gala terdiam dengan tatapan kosong ke arah kedua orang tuanya.

"Bang?" panggil Saka pada putra sulungnya, saat anak itu hanya diam dengan tatapan kosong.

"Gala?" Revin ikut memanggil putranya, sambil memegang tangan anak itu.

Tanpa mengatakan apapun, Gala berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang menatap dia dengan cemas.

Memasuki kamar, ia segera merebahkan diri di samping Rea yang tengah duduk bersandar sambil bermain ponsel.

Gala memeluk perut Rea yang sejajar dengan kepalanya. Rea sontak menegang dan hendak melepas paksa pelukan itu.

Namun, melihat raut tak biasa Gala dari arah samping, membuat Rea urung melakukannya.

Rea mengusap kepala Gala, menyisir rambut hitam pendek itu dengan jemarinya. "Lo kenapa?" tanyanya dengan heran.

Gala masih diam, ia menenggelamkan wajahnya di pinggang Rea. "Ibu hamil, gue gak mau punya adik."

Rea mengangkat alisnya. "Kenapa?"

"Nanti kalau Papa sama Ibu lebih sayang ke dia, gue disayang siapa?"

Nada bicara Gala yang terdengar ... manja? Membuat Rea menahan senyum. Ternyata begini sifat asli Gala, si galak nan manja. Ah, menggemaskan sekali suaminya ini.

"Kan ada gue?"

Gala melirik wajah Rea dari bawah. "Lo gak sayang gue."

Rea mengerutkan keningnya. "Kata siapa?"

"Lo, kan punya cowok."

Rea mengangguk pelan. "Kasih sayang bukan cuma dari cewek ke cowok, tapi bisa antar saudara, sahabat, teman, keluarga."

"Memang gue siapanya lo?"

"Suami."

Gala beralih merebahkan kepalanya dalam posisi telentang di pangkuan Rea, menatap wajah gadis itu lebih jelas.

"Lo sayang sama gue sebagai apa?"

Rea berpikir sejenak, sebelum menjawab, "Banyak. Lo bisa jadi abang gue, sahabat gue, teman gue cerita, saudara gue."

"Sebagai suami?"

Rea mengangguk. "Sayang juga."

Pintu di ketuk dari luar, membuat mereka menoleh. Tak lama, pintu itu terbuka dan menampilkan wajah Saka.

Seolah tidak melihat kedatangan pria itu, Gala kembali memeluk pinggang Rea, menyembunyikan wajahnya di sana.

Rea sedikit risi karena ada Saka di sana, ia meringis tak enak hati.

"Abang," panggil Saka dengan lirih.

"Gala bukan Abang."

Saka menghela nafas, lalu bergerak mengusap kepala putranya. "Ibu ngerasa bersalah loh, Bang."

"Ini Gala, bukan Abang."

Lagi, Saka membuang nafas berat, lalu duduk di samping Gala. "Lihat sini."

Gala membalikkan tubuhnya saat mendapat tarikan di pundaknya. Ia menatap Saka dengan tatapan datar.

"Gala sudah besar, kan?"

Gala mengangguk pelan atas pertanyaan yang Saka ajukan.

"Gala sudah besar, sudah jadi suami. Entah sekarang atau nanti, Gala akan hidup bersama istri dan anak-anak Gala."

Gala terdiam, mendengarkan apapun yang akan Saka katakan padanya.

"Kalau Gala sudah pindah ke rumah Gala sendiri, nanti siapa yang akan menemani Papa sama Ibu di rumah ini?"

"Papa gak bermaksud membuat kamu sedih dan Papa juga gak ada niat untuk berhenti sayang sama kamu. Ada atau pun gak ada adik, Papa sama Ibu akan tetap sayang sama kamu."

"Rezeki itu datang gak bisa dicegah, Bang. Kita gak akan bisa nolak, kan? Kecuali kalau kita tega membunuh dia."

Gala sontak menatap mata Saka, tampak kesenduan di sana.

Gala bangkit dan bergerak memeluk Saka. "Gala minta maaf," bisiknya, yang membuat Saka dan Rea tersenyum lega.

Tak lama, Revin datang dengan wajah sembabnya. Wanita itu berjalan mendekat dengan perlahan, menatap putranya penuh kesedihan.

Gala bergerak bangkit dan memeluk wanita itu dengan erat. "Maafin Gala. Gala gak bermaksud bikin Ibu sedih."

Revin terisak pelan dalam dekapan hangat putranya. "Kalau Gala gak mau--"

"Enggak," potong Gala seolah tahu maksud ucapan Revin selanjutnya.

Cowok itu melepas pelukannya, lalu mengusap air mata di pipi Revin.

"Gala gak apa-apa. Gala senang punya adik," kata Gala seraya tersenyum menenangkan.

Cowok itu bergerak jongkok di depan perut Ibunya yang masih rata. "Hai, adik kecil. Ini Abang ganteng. Sehat-sehat, ya?" Gala mengecup permukaan perut itu, singkat. "Entar gede, kita baku hantam," bisiknya kemudian, yang mendapat toyoran dari Papanya.

"Adiknya diajarin yang benar, masa belum lahir sudah diajak baku hantam?"

Gala terkekeh dan meringis pelan, lalu kembali bangkit. Ia tersenyum lagi, dan mencium kening Ibunya.

"Sudah sana, Papa sama Ibu keluar. Gala mau manja-manja sama istri."

Gala kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan menarik tubuh Rea agar berbaring di sebelahnya, memeluknya erat.

"Ngusir!"

Saka akhirnya keluar sambil merangkul pundak Revin. Rea meringis pelan karena masih canggung dengan mertuanya, sedangkan Gala dengan seenak jidat memeluknya erat seolah dia adalah bantal guling.

"Gue bukan anak tunggal lagi, gak jadi kaya raya."

Rea sontak menepuk kening cowok itu, saat mendengar rengekan unfaedahnya.

"Ayo Re, kita bikin keponakan buat adik gue. Biar Om sama keponakannya lahir barengan."

.

To be continue ....

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!