Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
.
Rania menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan napas memburu bersamaan dengan air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya. Jari-jarinya menggenggam ujung gaun putihnya hingga kusut.
"Pantas saja..." gumamnya lirih. Suaranya terdengar seperti bisikan angin yang lemah.
Potongan-potongan kenangan yang selama ini terasa janggal tiba-tiba tersusun menjadi sebuah jawaban yang begitu menyakitkan. Seolah ada tangan yang menyusun semua potongan puzzle yang selama ini tersebar.
Ingatannya melayang pada hari pernikahannya dengan Arga. Hari itu, Pak Hasan juga tidak mau menjadi wali nikahnya. Namun, saat itu alasannya adalah bahwa Pak Hasan sedang sakit sehingga tidak memungkinkan hadir di akad nikah. Hingga kemudian perwalian Rania diserahkan kepada wali hakim.
“Ayahmu tidak bisa datang, Rania. Kondisinya tiba-tiba saja drop," kata Bu Siti saat itu melalui telepon, dengan suara yang terdengar lesu.
Saat itu Rania tidak pernah menaruh curiga sedikit pun. Bahkan wanita itu menangis memikirkan kondisi ayahnya yang dikabarkan sakit. Namun sekarang, setelah mendengar pengakuan itu… Rania memegangi dadanya yang terasa semakin sesak. Seolah ada batu besar yang menekan bagian dalam dadanya.
"Ja... jadi..." Rania mengangkat wajahnya lurus menatap ke arah Pak Hasan. "Apakah... waktu pernikahan Nia dengan Mas Arga... Ayah juga sebenarnya tidak sakit?" tanyanya dengan suara yang bergetar hebat. Matanya yang merah karena terlalu banyak menangis tetap terpaku pada wajah lelaki yang selama ini ia panggil ayah. "Apakah... semua itu hanya... sandiwara?"
Ruangan kembali sunyi. Bahkan semua tamu seperti menahan nafas mereka. Menatap ke arah Pak Hasan menunggu jawaban.
Pak Hasan tidak terlihat terkejut, juga tidak berusaha mengelak. Badannya tetap tegak, tatapannya datar tanpa sedikit pun emosi.
"Memang benar, Ayah selalu sehat dan sama sekali tidak pernah sakit," jawabnya datar. Seolah sedang mengatakan hal yang sepele.
Seketika mata semua orang yang ada di sana membelalak mendengar pengakuan pria paruh baya itu.
Tubuh Rania menggigil hebat, ujung bibirnya sudah memerah karena digigit terlalu kuat.
“Padahal seharusnya hari itu ayah juga datang. Di sana pasti ada banyak makanan enak. Terutama bisa bertemu dengan orang-orang penting." Pak Hasan mengangkat bahu seolah tidak ada beban apa pun di pundaknya. "Tapi apa boleh buat, kalau ayah datang, artinya ayah harus siap menjadi wali nikahmu. Sementara ayah tahu sebenarnya itu sama sekali tidak boleh."
Air mata Rania jatuh semakin deras. Ia tidak bisa lagi menyembunyikannya, tangisan kecil mulai terdengar dari celah bibirnya.
"Lalu kenapa...?" bisiknya hampir tak terdengar. Rania menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa asin oleh darah yang keluar perlahan.
"Kenapa sekarang tidak pura-pura sakit lagi saja? Dengan begitu Nia tidak perlu menjadi tontonan semua orang di sini."
"Enak saja," sahut Bu Siti begitu kasar sebelum suaminya bisa menjawab. Wanita itu menatap ke arah Rania dengan wajah marah. "Keluarga Mahendra itu lebih tinggi statusnya daripada keluarga Pratama. Mana mungkin kami melewatkan kesempatan untuk membuat semua orang tahu, Kalau kami telah menjadi besan keluarga paling terpandang?”
Kalimat itu benar-benar menghancurkan sisa harapan di hati Rania. Wanita itu tersenyum pahit di tengah derasnya air mata. Rambutnya yang acak-acak menutupi sebagian wajahnya, membuatnya terlihat semakin hancur.
Kedua tangan Tuan Aksara Mahendra terkepal erat. Kulit wajahnya memerah karena menahan amarah saat memahami seperti apa posisi Rania di dalam keluarganya. Seorang anak asuh yang sama sekali tidak disayang, bahkan diperlakukan lebih seperti pembantu daripada keluarga.
Tuan Aksara memejamkan matanya sesaat sebelum kemudian menggerakkan tangannya memberikan isyarat kepada anak buahnya yang selalu siaga. “Bawa mereka keluar,” ujarnya dengan suara rendah namun tegas.
Segera saja empat pengawal berjas hitam mendekat ke arah Pak Hasan dan Bu Siti. Pria dan wanita itu begitu terkejut saat dua tangan mereka sudah dicekal oleh para bodyguard.
“Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan kami!” teriak Pak Hasan sambil meronta-ronta.
“Kami adalah keluarga dari mempelai wanita! Kalian tidak berhak menyuruh kami pergi!” jerit Bu Siti dengan wajah kesal.
Namun pengawal itu sama sekali tidak mempedulikannya. Mereka dengan tegas membawa kedua orang itu keluar dari ruangan ballroom, melewati barisan tamu yang hanya bisa menyaksikan dengan tatapan campur aduk antara lega dan prihatin.
Setelah pintu ballroom tertutup kembali, suasana perlahan menjadi hening kembali.
Tuan Aksara Mahendra menghela napas panjang lalu mendekati penghulu yang masih berdiri di posisinya.
“Bapak Penghulu,” ucapnya dengan hormat. “Apakah ijab kabul antara Rania dengan putra saya bisa tetap dilaksanakan? Seperti yang telah Bapak dengar, ternyata Pak Hasan bukan ayah kandungnya.”
Penghulu mengangguk perlahan. “Tentu saja bisa. Sesuai dengan aturan agama, jika mempelai wanita tidak mengetahui siapa ayah kandungnya dan tidak memiliki wali yang sah lainnya, maka perwalian bisa diwakilkan kepada wali hakim. Dalam hal ini saya sebagai penghulu bisa menjadi wakilnya, jika memang tidak ada keluarga lainnya yang bisa menjadi wali,” ujarnya dengan suara yang jelas terdengar di seluruh ruangan.
Tuan Aksara menghela nafas lega. Begitupun dengan seluruh yang hadir di dalam ruangan tersebut. “Baiklah, Pak. Kalau begitu langsung kita lanjutkan saja prosesi ini.”
Pria paruh baya itu kemudian mendekat ke arah Rania yang masih menangis sesenggukan di dalam pelukan Alvino dan Bu Soraya. Tangannya dengan lembut menyentuh bahu Rania.
“Semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan tetap menjadi menantu kami, tidak ada yang berubah. Keluarga Mahendra menerima dirimu apa adanya.”
Rania mengangkat kepalanya menatap ke arah Tuan Aksara. Matanya yang masih basah oleh air mata tampak terkejut. Wanita itu sama sekali tidak menyangka, setelah mengetahui bahwa dirinya hanya seorang anak panti asuhan yang tidak jelas asal-usulnya, keluarga Mahendra masih tetap mau menerimanya menjadi bagian dari mereka.
“Tuan…” ucapnya dengan suara bergetar, air mata kembali mengalir.
“Panggil saja Papa,” ucap Tuan Aksara dengan senyum hangat. “Sudah saatnya kamu memanggil kami dengan sebutan yang benar.”
Bu Soraya mengelus-elus rambut Rania dengan lembut. “Betul, Nak. Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.”
Alvino yang masih memeluk Rania erat mengangkat dagunya. “Kamu tidak sendirian lagi, Sayang. Kami semua akan selalu ada untukmu.”
Setelah beberapa saat menenangkan diri, Rania dan Alvino kembali ke tempat di mana akan diadakannya ijab kabul. Suasana yang tadinya penuh dengan kekacauan kini kembali tenang dan sakral.
“Baiklah, mari kita lanjutkan prosesi ijab kabul,” ucap penghulu dengan suara yang begitu berwibawa. “Untuk mempelai wanita, Mbak Rania, perwalian akan saya wakili sebagai wali hakim."
Rania mengangguk, matanya yang semula basah kini telah kering meskipun masih terlihat merah. “Terima kasih, Pak.”
Penghulu kemudian menghadap Alvino.
“Dan untuk mempelai pria, Alvino Mahendra. Apakah Anda siap untuk mengucapkan ijab?”
“Iya, Pak. Saya siap.”
Suasana ballroom menjadi sangat sunyi, semua tamu menahan napas menyaksikan momen sakral itu. Beberapa orang terlihat mengangkat ponselnya dengan mode kamera. Penghulu menjabat tangan Alvino dengan kedua wajah mereka saling berhadapan.
“Ananda Alvino Mahendra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ananda Rania binti Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Rania binti Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Seketika itu juga sahutan kata "Sah” terdengar bergema dalam ballroom hotel tersebut. Ucapan hamdalah saling bersahutan seiring sebagian tamu yang tanpa sadar menghapus air mata mereka.
Di ambang pintu Arga Pratama berdiri dengan jas hitam yang sedikit kusut. Rambutnya terlihat acak-acakan, matanya merah seperti baru saja menangis, dan napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari jauh.
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.