NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Terjebak dalam Pusaran Hasrat

Sore hari seusai insiden penghinaan di ruang kerja Alya, atmosfer di lantai eksekutif mendadak terasa begitu mencekam. Siska, yang diseret keluar oleh pengawal pribadi Kai, tak lantas menyerah begitu saja. Di dalam dirinya, rasa takut yang membakar akibat ancaman Alya justru berubah menjadi nekat dan penuh keputusasaan. Siska tahu, jika esok pagi rapat komisaris benar-benar digelar, seluruh karier, posisi, dan impian mewahnya akan runtuh seketika.

Hanya ada satu jalan keluar yang tersisa baginya: mengunci Rendy sepenuhnya di bawah kendalinya malam ini juga.

Ia harus membuat Rendy berlutut kepadanya, menyerahkan seluruh akses dokumen kunci, dan berjanji akan membelanya di depan seluruh jajaran direksi esok hari. Dan untuk mencapai itu, Siska tahu persis kelemahan terbesar seorang Rendy—ego, dominasi, dan gairah lamanya yang mudah tersulut.

Pukul delapan malam, di sebuah unit apartemen mewah bernuansa privat di daerah Senopati yang sengaja disewa Rendy atas nama orang lain untuk pertemuannya dengan Siska di masa lalu.

Rendy berdiri di dekat jendela kaca besar, memandangi gemerlap lampu jalanan yang basah oleh sisa hujan. Pikirannya kacau balau. Sikap Alya yang dingin di rumah, gertakan Siska di kantor, serta bayang-bayang kegagalan proyek Aditya Group membuat kepalanya serasa mau pecah. Di satu sisi, ia takut kehilangan Alya dan martabatnya sebagai suami sah; namun di sisi lain, ia merasa begitu kerdil dan tak berdaya saat berhadapan dengan Alya yang kini tampil teramat berwibawa.

Suara denting bel apartemen berbunyi pelan, memecah keheningan ruangan.

Rendy berjalan perlahan dan membuka pintu. Di balik ambang pintu, berdiri Siska.

Napas Rendy seketika tertahan di tenggorokan.

Siska tidak lagi memakai seragam kerja kantornya. Ia mengenakan sebuah gaun malam sutra tipis berwarna merah hati yang terurai membentuk siluet tubuhnya yang molek. Wajahnya dipoles riasan yang teramat memikat—mata yang sayu menuntut iba, serta bibir merah terpoles basah yang memancarkan undangan terselubung. Di leher mulusnya, tercium aroma parfum vanila berpadu dengan mawar malam yang sangat kental—aroma memabukkan yang dahulu selalu menjadi ciri khas perselingkuhan rahasia mereka.

"Siska...?" gumam Rendy, suaranya agak serak. "Kenapa kamu ke sini? Ini sudah malam. Kita tidak boleh terlihat bersama di luar kantor!"

Siska tidak menjawab dengan kata-kata. Air mata buatan mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. Dengan langkah perlahan, Siska menerobos masuk ke dalam apartemen, lalu berbalik dan menutup pintu rapat-rapat.

"Rend..." bisik Siska dengan suara yang begitu bergetar, terisak pelan. "Aku takut... Aku sangat takut, Rend..."

"Takut kenapa? Apa yang terjadi di kantor tadi?" tanya Rendy, berpura-pura keras meski pertahanannya mulai goyah saat melihat wanita itu tampak begitu rapuh di hadapannya.

Siska melangkah makin dekat. Ia menjatuhkan tas kecilnya ke lantai, lalu tanpa ragu mengulurkan kedua tangannya yang halus, melingkarkannya secara lembut di pinggang Rendy. Siska menyandarkan kepalanya di dada bidang Rendy, membiarkan aroma parfumnya meresap langsung ke indera penciuman pria itu.

"Alya..." bisik Siska tersedu-sedu di dada Rendy. "Alya tadi memanggil pengawal untuk menyeretku keluar dari ruangannya, Rend. Dia mengancam akan menghancurkan aku... dia bahkan mengancam akan menjebloskan kamu ke penjara besok pagi di rapat komisaris!"

Rendy membatu. Lingkaran tangan Siska di tubuhnya terasa begitu hangat dan akrab. Pertahanan rasional Rendy yang sejak tadi ia bangun untuk berbuat baik pada Alya seketika runtuh diterjang oleh rasa iba, kejantanan yang tersanjung, dan kelemahan moral yang memang sudah membusuk di dalam dirinya.

"Alya... mengancamku?" tanya Rendy, matanya membelalak kaget.

"Iya, Rend!" tegas Siska seraya mendongakkan wajahnya. Manik matanya menatap lurus ke dalam manik mata Rendy dengan binar pasrah dan penuh hasrat. "Alya itu sudah berubah menjadi monster, Rend! Dia bekerja sama dengan Kai Aditya cuma buat menjatuhkan kamu! Dia tidak pernah menganggap kamu sebagai suami lagi. Cuma aku... cuma aku yang dari dulu tulus mencintai kamu apa adanya, tidak peduli kamu kaya atau miskin..."

Jemari halus Siska bergerak perlahan ke atas, menyusuri kerah kemeja Rendy, membukanya satu persan satu dengan gerakan yang amat lembut dan memanjakan.

"Siska... jangan..." bisik Rendy, mencoba menahan pergelangan tangan Siska meski genggamannya sama sekali tak berdaya. "Aku... aku sudah janji sama diriku sendiri untuk perbaiki rumah tanggaku..."

Siska menyunggingkan senyum tipis yang amat menggoda di balik tangisannya. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan hembusan napas hangatnya menerpa permukaan kulit leher Rendy.

"Kamu mau kembali pada wanita dingin yang bahkan tidak sudi kamu sentuh, Rend?" bisik Siska, suaranya bagaikan nyanyian siren yang memikat. "Kamu pria yang hebat, Rendy... Kamu butuh wanita yang bisa menghargai kejantananmu, yang bisa melayanimu bagaikan raja... seperti yang selalu aku lakukan di tempat ini..."

Setiap kata yang diucapkan Siska menusuk langsung ke ego Rendy yang sedang terluka. Selama bertahun-tahun, Rendy selalu merasa inferior di hadapan latar belakang keluarga Alya yang kaya raya. Dan di tempat ini, bersama Siska, Rendy selalu merasa menjadi penguasa sejati.

Siska menyentuhkan bibirnya yang basah secara perlahan di sepanjang garis rahang Rendy, memberikan kecupan-kecupan kecil yang liar dan menuntut.

Napas Rendy mendadak memburu.

Aroma alkohol tipis berpadu parfum vanila yang menguar dari tubuh Siska seketika melumpuhkan seluruh akal sehat Rendy. Logikanya sirna. Bayangan wajah Alya yang anggun dan dingin menguap begitu saja dari kepalanya, digantikan oleh gejolak gairah purba yang tak lagi sanggup ia tahan.

"Siska..." erang Rendy rendah, suaranya kini dipenuhi oleh hasrat yang gelap.

"Jadilah milikku malam ini, Rend..." bisik Siska tepat di depan bibir Rendy, jemarinya meremas bahu tegap pria itu. "Bantu aku mengalahkan Alya besok... dan aku akan berikan segalanya untukmu..."

Rendy tak mampu lagi menolaknya.

Dengan dorongan gairah yang membakar, Rendy mencengkeram pinggang Siska dengan sangat erat, menarik tubuh molek wanita itu ke dalam pelukannya secara posesif. Rendy menundukkan wajahnya dan mengunci bibir Siska dalam sebuah ciuman yang liar, panas, dan penuh dengan dorongan rasa lapar yang telah ia tahan berhari-hari.

Siska menyambut ciuman itu dengan desahan puas di dalam hatinya. Pancingannya berhasil seratus persen.

Rendy membimbing tubuh Siska yang menyerah pasrah menuju sofa kulit hitam di tengah ruangan apartemen tersebut—sofa yang sama tempat di mana mereka berulang kali merajut pengkhianatan di masa lalu. Di bawah pendar temaram lampu apartemen, bayangan dua tubuh itu menyatu dalam pusaran gairah dan kebohongan yang membara.

Suara bisikan manja Siska, desahan gairah yang tak terkendali, serta janji-janji manis Rendy memenuhi keheningan malam itu. Rendy benar-benar tenggelam dalam jebakan nikmat yang disajikan Siska, menyerahkan seluruh diri dan sisa kehormatannya tanpa menyadari bahwa perbuatan kejinya malam ini adalah vonis eksekusi terakhir bagi masa depannya.

Dua jam berlalu.

Suasana di dalam kamar tidur utama apartemen kini berubah sunyi. Cahaya remang dari lampu meja membiaskan pemandangan di atas tempat tidur besar. Rendy berbaring telentang dengan dada bertelanjang, napasnya masih agak tidak teratur, matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar seraya menikmati sisa-sisa kepuasan fisik.

Di sampingnya, Siska bersandar ramping di dada bidang Rendy. Jemarinya yang lentik menggambar pola-pola kecil di atas kulit dada pria itu.

"Rend..." panggil Siska dengan nada suara manja yang teramat lembut.

"Hmm?" sahut Rendy seraya mengusap bahu polos Siska secara refleks.

"Besok rapat komisaris dipimpin langsung oleh Alya dan jajaran eksekutif dari Aditya Group, kan?" tanya Siska seraya mendongak, menatap Rendy dengan pandangan memohon.

Rendy mendesah pelan, rasa cemas yang tadinya terendam gairah kini perlahan merayap kembali ke sanubarinya. "Iya. Alya yang memegang kendali penuh atas agenda rapat besok."

Siska merapatkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rendy. "Kamu harus lindungi aku, Rend. Alya pasti mau pakai dokumen pencairan dana kemarin buat menjatuhkan aku dan memecatku secara tidak hormat. Kamu kan Wakil Direktur Utama... kamu punya hak veto untuk membela aku di depan publik, kan?"

Rendy menelan ludah kasar. Mengingat bagaimana berapi-apinya ia menikmati tubuh Siska beberapa saat lalu, rasa tanggung jawab moralnya sebagai 'pria pelindung' seketika melonjak tinggi.

"Kamu tenang saja, Ka," janji Rendy dengan suara yang mantap, terbuai oleh ilusi bahwa ia adalah pahlawan bagi Siska. "Aku tidak akan biarkan Alya menyentuhmu. Di depan para komisaris besok, aku yang akan pasang badan. Kalau Alya berani menuduhmu memalsukan dokumen, aku akan bilang kalau itu semua atas perintah dan persetujuanku sebagai suaminya."

Siska menyunggingkan senyum kemenangan di balik leher Rendy—sebuah senyuman licik yang sarat akan rasa puas karena berhasil menjadikan Rendy sebagai perisai hidupnya.

"Terima kasih, Suamiku..." bisik Siska manja, sengaja menggunakan panggilan 'suamiku' untuk makin mengikat ego Rendy. "Aku tahu kamu pria sejati yang tidak akan pernah membiarkan wanitanya terluka."

Rendy tersenyum bangga, memeluk Siska makin erat di dalam selimut, tanpa menyadari bahwa kalimat yang baru saja diucapkannya adalah bukti pengakuan dosa sempurna yang akan meruntuhkan seluruh hidupnya esok hari.

Sementara itu, di sebuah sudut privat restoran berkelas di kawasan Dharmawangsa, Alya duduk anggun berhadapan dengan Kai Aditya.

Suasana restoran begitu tenang dengan iringan musik piano lembut. Alya mengenakan gaun malam berwarna biru navy yang amat elegan, tampak begitu rileks dan damai seraya menikmati hidangan makan malamnya.

Kai menatap wanita di hadapannya dengan binar mata yang penuh dengan kekaguman. Pria itu meletakkan gelas anggurnya secara perlahan.

"Tim keamanan saya baru saja mengonfirmasi pergerakan Rendy," tutur Kai dengan suara rendah yang amat tenang.

Alya menyapu bibirnya dengan serbet kain secara halus, lalu mendongak menatap Kai. "Rendy pergi ke apartemen Senopati?"

Kai mengangguk tipis. "Pukul delapan malam tadi. Siska sudah menunggunya di sana, dan sampai jam sepuluh ini, Rendy belum juga keluar dari apartemen tersebut."

Alya tidak terkejut. Tidak ada rasa cemburu, tidak ada rasa sakit hati, dan tidak ada air mata yang menetes. Yang ada di wajah cantik Alya hanyalah sebuah senyuman tipis yang sangat anggun dan penuh pembebasan.

"Sudah kuduga," kata Alya pelan, suaranya sejernih kristal. "Rendy tidak akan pernah bisa menolak godaan Siska. Pria itu selalu mencari jalan termudah untuk memuaskan egonya yang rapuh."

Kai mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Alya yang hangat dan lembut dengan erat.

"Semua kamera pengawas privat di koridor apartemen dan data log akses keluar-masuk sudah direkam secara sah oleh tim investigasi kita," kata Kai, matanya memancarkan ketegasan seorang pelindung mutlak. "Termasuk rekaman suara percakapan Siska yang mendesak Rendy untuk memalsukan alokasi anggaran perusahaan."

Alya menatap genggaman tangan Kai di atas mejanya, merasakan kehangatan dan rasa aman yang tak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun menikah dengan Rendy.

"Terima kasih, Kai..." panggil Alya tulus, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu. "Terima kasih karena selalu memastikan semua langkahku berjalan tanpa celah."

Kai menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan, mengusap punggung tangan Alya dengan ibu jarinya.

"Saya hanya menjalankan peran saya sebagai pria yang beruntung bisa berdiri di sampingmu, Alya," bisik Kai hangat. "Besok pagi pukul sembilan, seluruh jajaran komisaris, perwakilan hukum Aditya Group, dan media bisnis sudah dikondisikan di ruang rapat utama."

Alya menegakkan tubuhnya, binar matanya berkilat oleh kesiapan seorang ratu yang siap merebut kembali mahkotanya.

"Esok hari," tegas Alya dengan nada suara yang berbobot, "bukan cuma akhir dari hubungan pernikahan busukku dengan Rendy. Tapi esok hari adalah awal dari kebebasan sejatiku."

"Dan saya," sambung Kai seraya mendekatkan wajahnya, menatap Alya dengan pancaran cinta yang tak terbatas, "akan menjadi orang pertama yang menggandeng tanganmu keluar dari ruangan itu untuk memulai lembaran baru kita bersama."

Alya tersenyum manis—sebuah senyuman yang memancarkan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Malam kian larut, dan di bawah pendar lampu kota Jakarta, takdir telah menggariskan bahwa esok pagi, panggung sandiwara, pengkhianatan kejih, dan dosa-dosa Rendy serta Siska akan runtuh berantakan di tangan wanita yang pernah mereka remehkan.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!