NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 05 - Pernikahan Yang Bisa Berakhir Kapan Saja

Arga membawa Safira bukan ke rumah mewah, bukan juga ke apartemen tinggi seperti bayangan Rania saat mengejeknya.

Mobil tua itu berhenti di depan sebuah rumah kontrakan dua lantai di daerah Antapani. Pagar besinya dicat hitam, halaman depannya kecil, cukup untuk dua pot tanaman dan satu motor. Di sebelah kiri ada warung nasi, di sebelah kanan rumah keluarga muda dengan anak kecil yang sedang bermain sepeda.

Safira turun sambil menatap bangunan itu.

Bersih.

Sederhana.

Jauh lebih tenang daripada rumah keluarga Santoso.

"Ini tempatmu?" tanya Safira.

"Untuk sementara."

"Mess proyek?"

Arga membuka bagasi. "Bisa dibilang begitu."

Bima yang ikut dengan mobil lain langsung memalingkan wajah. Bahunya bergerak sedikit.

Safira melihat itu.

"Mas Bima tertawa?"

Bima cepat menegakkan badan. "Enggak, Mbak. Saya cuma batuk dari hati."

Arga menatapnya.

"Maksud saya batuk biasa."

Safira tidak tahu harus curiga atau tertawa. Ia memilih membantu mengambil tas kecil, tetapi Arga lebih dulu mengangkat dua koper besar seolah isinya kapas.

"Aku bisa bawa satu."

"Tidak perlu."

"Aku tidak selemah itu."

"Saya tahu."

"Lalu kenapa tidak boleh?"

Arga menatapnya sebentar. "Karena hari ini kamu baru akad. Minimal izinkan saya terlihat berguna."

Safira diam.

Jawaban itu terlalu santai, tetapi entah kenapa membuat telinganya hangat.

Rumah itu sudah disiapkan. Ruang tamu kecil berisi sofa abu-abu, meja kayu, rak buku kosong, dan karpet tipis. Dapur berada di belakang, bersih dan lengkap. Ada dua kamar di lantai atas. Satu kamar utama, satu kamar lebih kecil yang bisa dijadikan ruang kerja.

Safira meletakkan tas di kamar utama, lalu berdiri di ambang pintu.

Di atas ranjang hanya ada seprai putih polos.

Satu ranjang.

Tentu saja satu.

Mereka suami istri.

Tapi ia baru mengenal Arga dua minggu.

Arga berdiri di belakangnya. "Kamu bisa tidur di kamar ini. Saya pakai kamar sebelah."

Safira menoleh cepat. "Tidak perlu. Maksudku... kalau kamu memang tinggal di sini juga, ini rumahmu."

"Sekarang rumah kita."

Kata itu membuat Safira terdiam lagi.

Rumah kita.

Ia belum pernah punya kalimat semacam itu.

"Tapi saya tidak akan memaksa kamu berbagi kamar sebelum kamu nyaman," lanjut Arga. "Kita bisa mengatur pelan-pelan."

Safira menarik napas. "Terima kasih."

"Kamu tidak perlu selalu berterima kasih untuk hal-hal dasar."

Ia menatap Arga.

Di rumah Santoso, hal dasar pun harus dibayar dengan ucapan terima kasih. Diberi makan? Terima kasih. Diizinkan memakai listrik untuk menjahit malam? Terima kasih. Tidak dimarahi saat sakit? Terima kasih.

Arga seperti membaca sesuatu di wajahnya, tetapi ia tidak bertanya.

Bima masuk membawa kotak makanan. "Saya beli sate ayam, soto, sama martabak telur. Karena pengantin baru pasti lapar."

Safira langsung tersadar. "Aku bisa masak."

"Hari ini jangan," kata Arga.

"Tapi aku terbiasa."

"Justru karena terbiasa, hari ini istirahat."

Bima mengangguk cepat. "Betul, Mbak. Kalau hari akad masih masak, nanti kami semua kelihatan tidak punya hati."

Safira akhirnya duduk di ruang makan kecil.

Makan malam pertama mereka sebagai suami istri berlangsung dengan sate ayam, soto hangat, martabak telur, dan teh manis yang dibuat Bima terlalu manis. Bima banyak bicara. Ia menanyakan makanan kesukaan Safira, pekerjaannya, jenis desain yang ia buat, dan apakah ia benar-benar bisa menjahit kebaya sendiri.

Arga lebih banyak diam.

Namun diamnya tidak kosong. Setiap kali Safira hendak mengambil sesuatu yang jauh, Arga lebih dulu menggeser piring. Saat sambal hampir mengenai lengan bajunya, Arga menarik tisu. Saat Bima terlalu penasaran bertanya soal keluarga Santoso, Arga menatapnya sekali, dan Bima langsung mengubah topik.

Safira memperhatikan semuanya.

Lelaki ini tidak banyak bicara, tetapi ia melihat.

Setelah Bima pulang, rumah menjadi terlalu sunyi.

Safira mencuci piring meski Arga sudah melarang. Ia tidak tahan melihat meja berantakan. Arga akhirnya berdiri di sampingnya, mengambil piring yang sudah dibilas dan mengeringkannya dengan lap.

"Kamu biasa cuci piring?" tanya Safira.

"Iya."

"Serius?"

"Kenapa terdengar mustahil?"

"Wajahmu seperti orang yang tidak pernah menyentuh sabun cuci piring."

Arga menoleh. "Wajah saya seperti apa?"

Safira baru sadar ucapannya. "Maksudku... terlalu rapi."

"Rapi tidak berarti tidak bisa cuci piring."

"Di rumahku, rapi biasanya berarti tinggal duduk."

Arga meletakkan piring ke rak. "Di rumah saya, Papa selalu bilang laki-laki yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri akan menyusahkan istrinya."

Safira terdiam.

"Papamu bilang begitu?"

"Iya. Mama saya tidak akan membiarkan laki-laki malas hidup tenang di rumah."

Ada senyum tipis di sudut bibir Arga saat mengatakan itu. Safira tiba-tiba membayangkan keluarga yang berbeda. Rumah di mana anak laki-laki diajari memasak bukan karena miskin, tetapi karena menghargai perempuan.

"Papamu hebat," kata Safira pelan.

"Dia akan senang mendengar itu."

Setelah dapur selesai, Safira mengambil laptop tua dari koper dan duduk di ruang tamu. Arga muncul membawa dua gelas air putih.

"Masih mau kerja?"

"Sedikit. Ada pesanan kebaya untuk pelanggan minggu depan."

"Hari ini kamu baru menikah."

"Pelanggan tidak peduli."

"Suamimu peduli."

Safira menatap gelas di tangannya.

Kata `suami` masih asing. Apalagi saat diucapkan oleh orang yang menjadi suaminya.

"Mas Arga."

"Hm?"

"Kita perlu bicara."

Arga duduk di sofa seberang. "Silakan."

Safira membuka buku catatan kecil. Ia sudah menulis beberapa poin sejak semalam.

"Aku tahu pernikahan ini terjadi mendadak. Kamu mungkin punya alasan sendiri menerima aku. Aku juga punya alasan sendiri menerima kamu."

"Jalan keluar," kata Arga mengingatkan.

Safira mengangguk. "Iya. Jadi supaya tidak ada salah paham, aku ingin kita punya kesepakatan."

Arga bersandar. "Kesepakatan seperti apa?"

"Pertama, kita tidak saling mencampuri pekerjaan kecuali diminta."

"Baik."

"Kedua, soal uang. Aku akan tetap bekerja. Aku tidak mau semua kebutuhanku jadi bebanmu."

"Kamu istri saya. Kebutuhanmu bukan beban."

Safira berhenti menulis.

"Aku tahu kamu ingin terdengar baik. Tapi aku serius. Aku tidak mau suatu hari ada yang bilang aku menumpang hidup."

"Saya tidak akan bilang begitu."

"Bukan cuma kamu. Keluargamu, keluargaku, siapa pun."

Arga memperhatikannya. "Baik. Kamu tetap bekerja. Tapi kalau kamu butuh bantuan, kamu bicara."

Safira menimbang. "Itu bisa."

"Poin ketiga?"

Safira menghela napas. Inilah bagian tersulit.

"Kalau suatu hari kamu ingin mengakhiri pernikahan ini, katakan baik-baik. Aku akan bekerja sama. Kita bisa urus semuanya secara benar. Aku tidak akan menahan kamu."

Wajah Arga berubah sedikit.

Tidak banyak. Tapi cukup untuk membuat udara di ruang tamu terasa lebih berat.

"Kamu sudah memikirkan perceraian di hari pertama pernikahan?"

"Aku memikirkan kemungkinan."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak mau dibuang tiba-tiba."

Kalimat itu keluar lebih jujur dari rencananya.

Safira langsung menunduk.

Arga tidak bicara beberapa detik.

"Saya menerima akad tadi dengan sadar," katanya akhirnya.

"Aku juga."

"Maka jangan bicara seolah kamu barang yang bisa dibuang."

Safira menggenggam pena. "Orang bisa berubah."

"Benar."

"Perasaan juga."

"Benar."

"Jadi?"

Arga mencondongkan tubuh. "Jadi kalau suatu hari ada masalah, kita bicara sebagai suami istri. Bukan langsung menyiapkan pintu keluar."

Safira menatapnya. "Kamu terdengar yakin sekali."

"Saya jarang mengambil keputusan tanpa memikirkan akibatnya."

Safira ingin bertanya, apakah menikah dengannya juga sudah dipikirkan. Tapi ia takut mendengar jawaban yang terlalu jujur.

Malam semakin larut. Arga akhirnya naik ke kamar kecil, sementara Safira masuk ke kamar utama. Sebelum menutup pintu, ia melihat Arga berdiri di lorong.

"Safa."

"Iya?"

"Kunci kamar kalau itu membuatmu merasa aman."

Safira memegang gagang pintu.

"Kamu tidak tersinggung?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena rasa amanmu lebih penting daripada egoku."

Safira tidak menjawab. Ia masuk, menutup pintu, lalu berdiri lama di baliknya.

Kunci ada di tangannya.

Tapi malam itu, entah kenapa, ia tidak memutarnya.

Di kamar sebelah, Arga duduk di tepi kasur lipat dan menatap pintu yang tertutup. Ia mendengar langkah Safira berhenti cukup lama di balik pintu utama kamarnya. Ia tahu perempuan itu sedang menimbang apakah harus mengunci atau tidak.

Ketika tidak ada suara kunci diputar, Arga justru merasa lebih tegang.

Kepercayaan kecil kadang lebih berat daripada penolakan besar.

Ia membuka ponsel. Pesan dari Nenek Suryani sudah menumpuk sejak sore.

`Bagaimana akadnya?`

`Cucu menantu Nenek cantik?`

`Kirim foto.`

Arga mengetik singkat.

`Semua lancar. Dia sedang istirahat.`

Balasan Nenek datang cepat.

`Jaga dia baik-baik. Jangan mentang-mentang kamu cucu Nenek, kamu pikir perempuan bisa ditinggal bingung.`

Arga menatap pesan itu lama.

Ia belum tahu bagaimana menjadi suami Safira.

Tapi ia tahu satu hal: perempuan di kamar sebelah tidak boleh merasa sendirian lagi.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!