DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Pedang yang Tersimpan
Matahari mulai naik perlahan di ufuk timur, menyinari puncak-puncak pepohonan dengan cahaya pucat yang dingin. Kabut tipis masih menyelimuti tanah, membasahi ujung jubah Kakashi yang kini berdebu dan koyak di beberapa bagian. Ia terus berjalan tanpa berhenti, tanpa menoleh ke belakang, tanpa memedulikan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Kakinya melangkah secara otomatis, seakan tahu ke mana harus pergi, meski hatinya masih tertinggal di tempat yang kini telah menjadi kenangan menyakitkan.
Di sela-sela langkahnya, bayangan wajah Tuan Kenzaburo terus muncul — tersenyum ramah, menepuk bahunya, berkata bahwa ia adalah keluarga. Dan di sampingnya, wajah Aoi — matanya yang berbinar, suaranya yang memanggil namanya, senyumnya yang begitu tulus. Semua itu kini terhapus, digantikan oleh darah, keheningan, dan kepergian yang tak bisa ia cegah.
Ia tidak tidur. Ia tidak beristirahat. Sejak meninggalkan Daiki di tepi tebing semalam, ia terus berjalan menembus hutan, menyeberangi sungai kecil, menaiki bukit yang terjal, hanya mengikuti arah ke mana musuh-musuh itu pergi — utara, selalu ke utara. Napasnya memburu, namun bukan karena lelah. Ada rasa panas yang membakar dadanya, rasa bersalah yang menagih setiap detik keberadaannya. Aku seharusnya tidak tertipu. Aku seharusnya tahu. Aku seharusnya menjaga mereka.
Langit semakin terang, namun di matanya, dunia tampak tetap kelabu. Jalan setapak yang ia lalui kini semakin terbuka, menyisakan hutan lebat dan berubah menjadi perbukitan yang dipenuhi semak belukar kering. Tidak ada rumah, tidak ada suara orang, hanya angin yang berhembus pelan membawa debu kering.
Hingga di tikungan jalan, ia melihat sesosok tubuh membungkuk pelan, memungut ranting-ranting kayu yang jatuh ke tanah. Seorang kakek tua, rambut dan janggutnya memutih sepenuhnya, punggungnya sedikit membungkuk, mengenakan pakaian kasar yang sudah bertambal di sana-sini. Ia bergerak perlahan, namun mantap, menyusun kayu-kayu itu ke dalam keranjang besar di punggungnya.
Kakashi melangkah melewatinya tanpa menoleh, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Ia hanya ingin berjalan, mengejar, menemukan, dan menebus kesalahannya.
"Tunggu, Nak."
Suara itu lembut, namun terdengar begitu dekat hingga Kakashi terhenti. Ia tidak menoleh, hanya berdiri diam, tangannya mencengkeram ujung jubahnya erat.
"Kau berjalan sejak fajar menyingsing, bukan?" suara kakek itu terdengar lagi, kini langkah kakinya mendekat. "Mau ke mana secepat itu, sendirian?"
Kakashi tetap diam, matanya menatap ke depan, ke arah jalan yang masih panjang dan kosong. Ia ingin melangkah pergi, namun kakinya terasa berat.
"Kau lapar, kan?" tanya kakek itu pelan, seakan membaca kesunyian pemuda di hadapannya. "Matahari sudah tinggi, dan kau belum makan. Ayo, gubukku tak jauh dari sini. Ada sisa nasi hangat dan sup sayur. Tidak banyak, tapi cukup mengisi perut."
Kakashi menoleh perlahan. Di hadapannya berdiri kakek itu, menatapnya dengan tatapan yang tidak menuntut apa-apa — tatapan yang tenang, seakan ia sudah melihat banyak hal di dunia ini, termasuk kesedihan yang mendalam.
"Saya tidak..." Kakashi mulai berbicara, namun suaranya terdengar serak dan kering. Ia menelan ludah, merasakan perih di tenggorokannya yang kering.
"Tak perlu berterima kasih dulu," potong kakek itu sambil tersenyum tipis, lalu berbalik arah. "Ikutlah. Tubuh yang lelah tak akan mampu menempuh perjalanan jauh, apa pun tujuannya."
Kakashi berdiri diam sejenak, menimbang. Waktu terasa begitu berharga, namun ia tahu benar — perutnya yang kosong dan tubuhnya yang kelelahan perlahan akan melambatkannya. Akhirnya, ia melangkah mengikuti sosok tua itu, berjalan beberapa langkah di belakangnya, menuruni lereng bukit menuju sebuah lembah kecil yang tersembunyi.
Gubuk itu sederhana sekali — terbuat dari kayu gelap dan atap jerami yang sudah mulai menguning, berdiri di samping mata air kecil yang airnya jernih dan mengalir tenang. Di sekelilingnya tumbuh tanaman obat dan bunga liar yang berwarna lembut, menciptakan suasana damai yang kontras dengan kekacauan di dalam hatinya.
"Masuklah, Nak. Anggap saja di rumah sendiri," ajak kakek itu sambil meletakkan keranjang kayunya di sudut ruangan.
Kakashi melangkah masuk perlahan. Ruangan itu bersih dan tertata rapi. Di tengahnya ada tungku api kecil yang masih menyisakan bara hangat, dan di atasnya tergantung panci yang mengeluarkan uap tipis beraroma menenangkan. Kakek itu segera menyendok nasi ke dalam mangkuk kayu, lalu menuangkan sup bening berisi sayuran segar ke dalamnya, dan meletakkannya di meja rendah di hadapan Kakashi.
"Makanlah selagi hangat."
Kakashi menatap makanan itu, lalu ke arah kakek yang kini duduk di seberangnya, menyilangkan kaki dengan tenang. Ia tidak terbiasa menerima kebaikan dari orang asing, namun perutnya yang melilit dan rasa lelah yang tak tertahankan membuatnya tak bisa menolak. Ia makan perlahan, tanpa suara, merasakan kehangatan yang menjalar dari perutnya ke seluruh tubuhnya.
"Terima kasih," ucapnya pelan setelah suapan terakhir masuk ke mulutnya.
"Sama-sama," jawab kakek itu sambil tersenyum. Ia menatap Kakashi lekat-lekat, seakan melihat sesuatu yang tersembunyi di balik wajah pemuda itu. "Kau membawa beban berat, Nak. Lebih berat daripada yang bisa ditanggung seorang manusia sendirian."
Kakashi menunduk, menatap mangkuk kosong di depannya. "Saya... saya gagal melindungi orang yang harus saya lindungi. Orang yang memperlakukan saya seperti keluarga. Dan sekarang dia pergi. Gadis yang dicintainya dibawa pergi." Suaranya pecah, meski ia berusaha menahannya. "Saya mengejar mereka, tapi saya tidak tahu ke mana mereka pergi. Saya bahkan tidak tahu siapa mereka sebenarnya."
Kakek itu mengangguk pelan, tidak terkejut sama sekali. "Cerita yang sama... pernah terjadi di sini, tiga puluh tahun yang lalu."
Kakashi mendongak, matanya melebar sedikit. "Benarkah?"
"Benar." Kakek itu menatap ke arah jendela kecil, tempat cahaya matahari masuk menimpa lantai kayu. "Seorang pemuda seperti kau. Pengawal setia seorang tuan yang dicintai rakyatnya. Suatu malam, musuh menyusup. Ia tertipu oleh jejak palsu, pergi mengejar, dan saat ia kembali, tuannya sudah tewas. Orang yang dicintai tuannya dibawa pergi. Ia mengejar mereka sendirian, sama seperti kau."
"Dan... apa yang terjadi?" tanya Kakashi, suaranya bergetar. "Apakah dia menemukannya?"
Kakek itu terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Itu bukan bagian yang paling penting, Nak. Yang penting adalah apa yang terjadi pada dirinya setelah itu. Ia tidak lagi memiliki tuan. Ia tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Di dunia ini, orang seperti itu disebut dengan satu nama — Ronin."
Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya menjadi lebih serius namun tetap lembut.
"Ada dua jenis ronin di dunia ini," lanjutnya. "Yang pertama, mereka yang memilih untuk melepaskan masa lalu. Mencari tempat baru, hidup tenang, melupakan sumpah yang tak bisa lagi ditepati. Mereka membiarkan pedangnya berkarat dan memilih hidup damai. Yang kedua... mereka yang terjebak dalam kegelapan. Menjadi pembunuh bayaran, menjual pedang mereka kepada siapa saja yang membayar, demi bertahan hidup. Mereka melupakan kebaikan yang pernah diajarkan, dan hanya mengingat kebencian yang membakar hati."
Kakashi mengepal tangannya di atas lutut. "Lalu apa yang harus saya lakukan? Membiarkan kejahatan itu berlalu begitu saja?"
Kakek itu menggeleng pelan. "Bukan begitu maksudku. Ada satu hal lagi — peraturan tak tertulis di antara para ronin, yang sudah dijunjung sejak zaman dahulu. Ronin tidak boleh membalas dendam pribadi. Jika ia melakukannya, jika ia membiarkan kebencian menjadi satu-satunya penuntun hidupnya, maka ia tidak lagi sekadar ronin. Ia menjadi..."
"Dark Ronin..." gumam Kakashi, seakan kata itu keluar sendiri.
"Ya. Dark Ronin. Ia tidak lagi hidup untuk melindungi, melainkan untuk menghancurkan. Ia tidak lagi memiliki jalan pulang. Dan biasanya, jalan itu berakhir dengan kehancuran juga." Kakek itu menatap Kakashi lekat-lekat. "Aku juga seorang ronin, Nak. Dulu, persis seperti kau."
Kakashi tertegun, menatap sosok tua itu dengan pandangan baru. "Lalu... bagaimana Anda bisa hidup tenang seperti ini?"
"Karena aku memilih untuk berhenti sebelum kegelapan menelan sepenuhnya," jawab kakek itu lembut. "Namun aku tahu, ada luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan duduk diam. Dan aku tidak akan menyuruhmu berhenti, karena aku tahu betul rasanya — rasa bersalah yang tak akan hilang sebelum kau menebusnya."
Kakek itu bangkit berdiri, berjalan ke sudut paling gelap di gubuk itu, dan mengangkat sebuah kotak panjang yang terbuat dari kayu gelap yang sudah tua. Ia meletakkannya di meja, tepat di depan Kakashi.
"Buka," ucapnya pelan.
Kakashi membuka tutup kotak itu perlahan. Di dalamnya terbaring sebilah pedang panjang, sarungnya berwarna hitam pekat, gagangnya diukir dengan wajah iblis yang menatap tajam, seakan hidup. Ketika ia mengeluarkan pedang itu sedikit saja, cahayanya memantulkan dingin yang tajam, tak bercacat sedikit pun.
"Ini pedangku dulu," kata kakek itu. "Aku tidak pernah menggunakannya untuk hal yang tidak benar, dan aku juga tidak membiarkannya berkarat. Kini waktunya pedang itu kembali berjalan."
Ia menatap Kakashi dalam-dalam.
"Selesaikan misi terakhirmu, Kakashi. Temukan mereka. Selamatkan gadis itu. Tegakkan keadilan yang seharusnya ditegakkan. Tapi ingatlah satu hal — jangan biarkan kebencian menguasaimu. Saat semuanya selesai, saat gadis itu aman dan kejahatan itu dihukum... tinggalkan jalan itu. Jangan kembali ke jalan hitam. Jangan biarkan dirimu menjadi seperti mereka yang kau kejar."
Kakashi menggenggam gagang pedang itu. Terasa berat, namun bukan karena beban besinya — melainkan karena beban harapan yang disematkan di dalamnya. Ia mengangkat wajahnya, menatap kakek itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mengapa Anda melakukan ini untuk saya? Kita tidak saling kenal."
Kakek itu tersenyum, senyum yang penuh pengertian. "Karena aku melihat diriku sendiri di matamu, puluhan tahun yang lalu. Dan aku berharap kau memiliki kesempatan yang lebih baik dariku."
Kakashi berdiri, memeluk pedang itu di dadanya, lalu membungkuk dalam-dalam. "Saya berjanji. Saya akan menyelesaikan ini. Dan jika saya berhasil... saya akan kembali menjadi orang yang layak dipercaya."
"Pergilah," kakek itu menepuk bahunya pelan. "Jalan masih panjang. Dan mereka tidak akan menunggu selamanya."
Kakashi melangkah keluar dari gubuk itu, menatap ke arah utara sekali lagi. Matahari sudah tinggi, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Ia tidak lagi berjalan sendirian dalam kegelapan yang tak berujung. Ia membawa pedang ini, membawa nasihat ini, membawa harapan ini.
Langkah kakinya kini lebih mantap. Lebih teguh. Ia tahu bahaya masih menanti, ia tahu musuh lebih kuat dari yang ia bayangkan, namun ia tidak lagi berjalan tanpa arah. Ia punya tujuan. Ia punya pedang. Dan ia punya janji untuk ditepati — kepada Tuan Kenzaburo, kepada Aoi, kepada Daiki, dan kepada kakek tua yang memberinya cahaya di tengah kegelapan.