NovelToon NovelToon
I AM The Mirecle Itself

I AM The Mirecle Itself

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad wahyu

I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Arc: Beyond Sol-Vane

Angin malam menyapu dataran tandus di luar Sol-Vane.

Di kejauhan, kubah pelindung kota yang sebelumnya menjulang seperti matahari buatan perlahan mengecil, tertelan oleh gelapnya cakrawala.

Ren tidak menoleh.

Ia terus berjalan.

Langkahnya tidak cepat, tetapi juga tidak pernah ragu.

Di belakangnya, tiga sosok mengikuti dalam diam.

Rayker berjalan paling depan setelah Ren, sesekali menekan bagian dadanya. Lyra berada di sampingnya, sementara Caelum berjalan paling belakang dengan tatapan terpaku pada layar transparan yang terus berkedip di depan wajahnya.

Mereka sudah cukup jauh dari Sol-Vane.

Tidak ada pasukan pengejar yang terlihat.

Tidak ada suara alarm.

Tidak ada cahaya dari kota yang mengejar mereka.

Namun ketenangan itu justru membuat Lyra semakin gelisah.

"Ren."

Ren berhenti.

"Apa?"

Lyra menatap ke belakang.

"Menurutmu... mereka benar-benar tidak mengejar kita?"

"Belum."

Jawaban itu membuat Lyra mengernyit.

"Belum?"

"Kalau mereka mengejar sekarang, berarti mereka hanya ingin menangkap kita."

Ren kembali berjalan.

"Tapi kalau mereka menunggu..."

Ia berhenti sejenak.

"...berarti mereka sedang menunggu sesuatu."

Rayker mendengus pelan.

"Seperti biasa. Jawabanmu selalu membuat keadaan terasa lebih buruk."

"Karena keadaan memang buruk."

"Setidaknya sekali saja katakan sesuatu yang menenangkan."

Ren menoleh sebentar.

"Tenang."

Rayker menatapnya.

"Jangan bercanda."

"Aku tidak bercanda."

Lyra hampir tertawa, tetapi menahannya.

Untuk beberapa detik, ketegangan yang sejak mereka meninggalkan Sol-Vane sedikit mencair.

Namun hanya beberapa detik.

Rayker tiba-tiba berhenti.

Tubuh besarnya sedikit membungkuk.

Tangannya mencengkeram dada.

"Rayker!"

Lyra segera menghampirinya.

Rayker menarik napas panjang.

"Aku tidak apa-apa."

"Kau mengatakan itu setiap kali sesuatu terjadi."

"Aku masih bisa berdiri."

"Itu bukan berarti kau baik-baik saja."

Caelum akhirnya mengangkat wajah dari layar.

"Dia benar."

Rayker melirik tajam.

"Kau juga?"

"Stabilitas organikmu turun lagi."

Layar Caelum menampilkan beberapa angka.

[CORE FLUID REACTION]

[ORGANIC STABILITY: 71.4%]

[DECLINE RATE: 0.8%]

[ESTIMATED SYSTEM FAILURE: UNKNOWN]

Lyra melihat angka itu dengan wajah pucat.

"Turun lagi..."

Caelum mengangguk.

"Efeknya tidak langsung membunuh kita. Itulah masalahnya."

Rayker terdiam.

Caelum melanjutkan.

"Core Fluid tidak sekadar mengisi tubuh kita dengan energi. Ia sudah terintegrasi ke dalam sistem biologis. Kalau kita mencoba memisahkannya secara paksa..."

Ia berhenti.

Lyra memahami maksudnya.

"Organ tubuh kita akan ikut rusak."

"Benar."

Rayker mengepalkan tangan.

"Kalau begitu kita tinggal mencari cara untuk menghancurkan Core Fluid itu."

Caelum menggeleng.

"Masalahnya bukan Core Fluid."

Ren yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Living Fuse."

Ketiganya menoleh.

Ren berdiri beberapa meter di depan mereka.

"Nama itu lebih tepat."

Caelum menatap Ren.

"Jelaskan."

"Core Fluid hanya bahan."

Ren berjalan mendekati mereka.

"Yang membuat kalian menjadi Living Fuse adalah sistem yang menghubungkan tubuh kalian dengan sumber energi."

Ia menunjuk dada Rayker.

"Kalau kita hanya menghancurkan Core Fluid, sistemnya masih ada."

Kemudian ia menatap Lyra dan Caelum.

"Dan selama sistem itu masih ada, seseorang masih bisa mengaktifkannya."

Caelum terdiam.

Matanya perlahan menyipit.

"Itu berarti..."

"Ya."

Ren menyelesaikan kalimatnya.

"Architect Core bukan sumber masalah sebenarnya."

Angin kembali bertiup.

Lyra menatap Sol-Vane yang kini hampir tidak terlihat.

"Kalau begitu apa sumber sebenarnya?"

Ren memandang lurus ke depan.

"Orang yang pertama kali menciptakan sistem Living Fuse."

Tidak ada yang menjawab.

Rayker akhirnya berkata,

"Jadi kita mencari penciptanya?"

"Lebih tepatnya, mencari jejaknya."

Caelum menatap layar.

"Data mengenai Project Apotheosis disegel oleh Grand Council. Bahkan aku hanya memiliki sebagian informasi."

"Berarti kita mulai dari informasi yang tidak disegel."

Caelum mengerutkan kening.

"Informasi apa?"

Ren menjawab dengan tenang.

"Kenapa sistem itu dibutuhkan sejak awal."

Caelum terdiam.

Ren melanjutkan.

"Sol-Vane memiliki teknologi yang jauh lebih maju daripada sebagian besar wilayah yang pernah kulihat. Architect Core mampu menopang sistem energi sebuah kota. Kalau teknologi mereka memang sehebat itu, mengapa mereka membutuhkan manusia sebagai bahan bakar?"

Rayker menyilangkan tangan.

"Karena mereka tidak mampu membuat sumber energi yang sempurna."

"Kalau begitu mengapa harus tiga orang?"

Rayker terdiam.

Ren menatap Caelum.

"Kenapa tiga?"

Caelum tidak langsung menjawab.

Ia membuka beberapa data lama.

Satu layar.

Dua layar.

Lima.

Kemudian belasan.

Semuanya memperlihatkan diagram yang sama.

Tiga jalur energi.

Tiga titik.

Satu pusat.

Caelum perlahan berkata,

"Karena Architect Core membutuhkan tiga jenis resonansi."

"Jenis?"

"Fisik."

Ia menunjuk Rayker.

"Magis."

Kemudian Lyra.

"Dan neural."

Terakhir ia menunjuk dirinya sendiri.

"Ketiganya diperlukan agar Core dapat beroperasi secara stabil."

Ren mengangguk kecil.

"Jadi kalian bukan dipilih secara acak."

"Tidak."

"Berarti Project Apotheosis sudah dirancang jauh sebelum kalian dilahirkan."

Caelum membeku.

Lyra menatapnya.

"Caelum?"

Jarinya berhenti di udara.

"Benar."

Ia membuka satu file yang hampir rusak.

Tanggalnya tidak terbaca.

Namun ada satu simbol di bagian bawah.

Simbol yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

Rayker mendekat.

"Apa itu?"

Caelum memperbesar gambar.

"Entahlah."

Ren memandang simbol tersebut.

Aneh.

Tidak ada bentuk khusus.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada pola energi.

Namun ketika Ren melihatnya, Cosmic Perception Eye miliknya secara otomatis aktif.

Dunia seakan melambat sepersekian detik.

Ren melihat simbol itu bukan sebagai gambar.

Ia melihatnya sebagai sebuah referensi.

Sebuah tanda yang menunjuk kepada sesuatu.

Namun sesuatu yang ditunjuknya...

Tidak berada di tempat mana pun yang dapat dipahami.

Ren memejamkan mata.

Kemudian membukanya kembali.

"Jangan buka file itu lagi."

Caelum terkejut.

"Kenapa?"

"Karena file itu bukan arsip."

"Apa?"

"Itu umpan."

Suasana berubah.

Rayker langsung menarik pedangnya.

Lyra mengangkat tangannya.

Caelum mematikan semua layar.

"Bagaimana kau tahu?"

Ren tidak menjawab.

Ia hanya menatap langit.

Tidak ada apa-apa.

Bintang.

Awan.

Kegelapan.

Namun beberapa detik kemudian—

Caelum tiba-tiba memegang kepalanya.

"Ah..."

"Caelum!"

Lyra menghampiri.

Layar QNI miliknya menyala sendiri.

Bukan karena perintah.

Bukan karena sentuhan.

Sistemnya berjalan tanpa izin.

[UNKNOWN SIGNAL DETECTED]

Caelum mencoba mematikannya.

Gagal.

"Matikan!"

[COMMAND DENIED]

"Kenapa sistemku menolak perintahku?!"

Rayker mengangkat pedangnya.

"Ada yang meretasnya?"

Caelum menggeleng.

"Ini bukan peretasan."

"Lalu?"

Caelum menatap layar dengan wajah yang untuk pertama kalinya benar-benar menunjukkan ketakutan.

"QNI-ku sedang menerima sesuatu."

Ren mendekat.

"Apa?"

Caelum membaca data yang muncul.

[SOURCE: UNRESOLVED]

[DISTANCE: UNRESOLVED]

[DIMENSION: UNRESOLVED]

[PROTOCOL: VOID]

Lyra mundur satu langkah.

"Void..."

Rayker menggenggam pedangnya lebih erat.

"Apakah itu mereka?"

Caelum tidak menjawab.

Sebuah suara statis terdengar.

Kemudian layar berubah.

[SEARCHING...]

[SEARCHING...]

[SEARCHING...]

Caelum mencoba menghentikannya lagi.

Tidak berhasil.

"Ren..."

"Aku tahu."

[TARGET COUNT: 3]

Rayker menatap layar.

"Tiga?"

Caelum menggeleng.

"Bukan."

"Apa?"

Caelum menatap Ren.

"Tiga target."

"Siapa?"

Caelum membaca hasil akhirnya.

[TARGET: LOCATED]

[STATUS: TRACKING]

[IDENTIFICATION: FAILED]

Layar mendadak mati.

Hening.

Tidak ada suara angin.

Tidak ada suara langkah.

Bahkan Rayker tidak bergerak.

Lyra menatap sekeliling.

"Di mana mereka?"

Caelum menjawab lirih.

"Aku tidak tahu."

Rayker melihat ke belakang.

"Kalau begitu bagaimana sistem bisa mengatakan mereka sudah ditemukan?"

Caelum tidak menjawab.

Ren justru tersenyum tipis.

Rayker melihatnya.

"Kau terlihat terlalu tenang."

"Aku sedang berpikir."

"Dan?"

Ren mengalihkan pandangan ke arah cakrawala.

"Mereka tidak menemukan kita."

Caelum langsung memahami.

"QNI-ku..."

"Ya."

Ren menatap layar mati milik Caelum.

"QNI-mu menemukan mereka."

Caelum mengerutkan kening.

"Tapi sistem mengatakan target berada di lokasi kita."

"Itu bukan lokasi mereka."

Ren mengangkat wajah.

"Itu titik kontak."

Lyra merasakan bulu kuduknya meremang.

"Jadi..."

Ren mengangguk.

"Seseorang baru saja menyadari bahwa kita memiliki sesuatu yang mereka cari."

Rayker menatapnya.

"Project Apotheosis?"

"Belum tentu."

"Lalu apa?"

Ren terdiam beberapa saat.

Ia melihat simbol yang tadi muncul di pikirannya.

Kemudian berkata,

"Mungkin bukan kalian yang mereka cari."

Caelum membeku.

"Ren..."

"Ya?"

"Kalau bukan kami..."

Ren menatap mereka bertiga.

"...berarti siapa?"

Ren tidak menjawab.

Karena pada saat yang sama—

jauh di atas langit yang tidak dapat mereka lihat—

sebuah retakan tipis muncul di antara bintang-bintang.

Bukan portal.

Bukan gerbang.

Bukan distorsi ruang.

Sesuatu yang bahkan tidak memiliki alasan untuk disebut sebagai ruang.

Retakan itu terbuka selama kurang dari satu detik.

Kemudian tertutup.

Namun cukup lama untuk mengirimkan satu sinyal.

QNI Caelum kembali menyala.

[INCOMING RESPONSE]

Caelum pucat.

"Ini mustahil."

Rayker mengangkat pedangnya.

"Apa sekarang?"

Caelum membaca pesan terakhir.

Hanya ada satu kalimat.

[WE FOUND THE IRREGULARITY.]

Ren menatap layar.

Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sol-Vane, ekspresi wajahnya berubah sedikit.

Bukan takut.

Bukan terkejut.

Melainkan...

tertarik.

Ia kemudian berjalan kembali ke arah depan.

"Bagus."

Rayker menatapnya.

"Bagus?"

Ren tersenyum tipis.

"Kalau begitu kita tidak perlu mencari mereka."

Ia terus berjalan.

"Mereka yang akan datang kepada kita."

Dan jauh di belakang mereka—

di tempat Sol-Vane berdiri—

seluruh kubah pelindung kota tiba-tiba bergetar.

Bukan karena serangan.

Bukan karena kerusakan.

Melainkan karena sesuatu dari luar sistem pertahanan mereka...

baru saja mencari jalan masuk.

BERSAMBUNG.

1
indah Mayaddah f
Kerja berat tiap hari, di panggil si nol terus di hina tapi Ren diam aja. Sabar sekali dia 😔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Saya biasanya lihat kultivasi, hari ini belajar sihir🤣
Myz Pena
waoow meskioun makhluk itu sebesar bukit kecil namun kekuatannya tidak kaleng - kaleng.. sungguh dahsyat
CNNTAYY
haha rahasia valeria aja sampai ketahuan mana ukuran sepatu dan rambut lagi🤭
iorlif
siapakah sosok tanpa tubuh pasti itu?
Siti Aisyah
Hebat sekali valeria bisa mengalahkan seekor calamity wolf itu👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
mampir auhtor. mau tanya mau ikut masuk grup aku gak. saling berbagai ceritaa dan support
Muhammad Wahyu: gimana kak?
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!