NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Istri

Kekesalan Nadira semakin menjadi-jadi. Sekarang, dia dan suaminya sedang dalam perjalanan. Nadira begitu benci melihat senyum simpul di wajah Rayzan. Sangat terlihat jelas bahwa lelaki itu sedang mengejek dirinya.

"Rayzan ... Kamu ini nggak laku, ya, sampai mau menikah sama aku?"

"Apa kabar dengan kamu yang menerima pernikahan ini?" tanya Rayzan. "Atau jangan-jangan kamu sudah nggak suci lagi? Makanya kamu cinta mati sama Daulat. Dia yang sudah mengambil keperawanan kamu?"

Mata Nadira membulat. Dia tersulut emosi hingga langsung mencekik leher pria itu. Rayzan yang sedari tadi fokus menyetir pun kehilangan kendali.

"Na-Nadira, lepas! Kita bisa mati!"

"Kata-kata kamu sudah kurang ajar. Kamu pikir aku semurah itu memberikan kehormatanku kepada Abangmu?"

"Na-Nadira ... A-aku bilang le-lepas. Kita bisa kecelakaan."

Nadira tidak memedulikan perkataan lelaki itu. Hingga akhirnya, Rayzan benar-benar kehilangan kendali dan mobil mereka menabrak sebuah pohon besar.

"Aw!"

"Uhuk ... Uhuk ... Kamu nggak apa-apa?" tanya Rayzan sambil langsung mengusap pundak wanita itu.

"Sakit banget."

"Aku minta maaf, ya. Aku nggak sengaja menabrak pohon."

Rayzan terus mengusap lengan Nadira, memastikan istrinya tidak mengalami luka serius.

"Hidung kamu berdarah," ucap Nadira.

Rayzan memeriksa hidungnya dengan tangan. Kemudian dia mengambil selembar tisu dan mengusap darah yang keluar dari hidungnya.

"Hidung kamu kebentur, ya?" tanya Nadira.

Rayzan tidak menjawab. Dia masih fokus membersihkan darah tersebut.

"Lho, kamu kenapa nangis? Sakit banget, ya?" tanya Rayzan.

"Ucapan kamu tadi sakit banget tau." Nadira terisak. "Aku nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku masih suci."

"Hei..."

"Lepas!"

Nadira memalingkan wajah dari pria itu. "Aku mau pulang."

"Tapi kita kan mau makan siang."

"Aku mau pulang! Aku benci sama kamu. Kamu sudah menghina aku!" Nadira mengusap air matanya.

"Asal kamu tau, aku masih suci dan belum pernah melakukan apa-apa sama Daulat. Aku seperti ini bukan berarti aku cinta mati sama dia."

"Oke, aku salah. Jangan nangis lagi, ya."

"Aku mau pulang ke kantor. Aku mau ambil mobil, terus pulang. Aku menyesal ikut sama kamu."

"Kita pulang sekarang. Urusan mobil kamu nanti aku ambil lagi."

"Tapi—"

"Ssst..."

Ucapan Nadira terhenti saat jari telunjuk Rayzan menyentuh bibirnya.

"Jangan membantah, ya. Kamu lagi sakit."

Nadira kembali menoleh ke arah luar dan memalingkan wajahnya. Tanpa disangka, dia justru merasa nyaman ketika lelaki itu mengusap kepalanya dengan lembut.

"Jangan nangis lagi, sayang."

[] [] []

Pasangan suami istri itu akhirnya sampai di rumah. Tanpa menunggu Rayzan, Nadira langsung keluar dari dalam mobil. Lelaki itu merasa bersalah atas ucapan yang telah dilontarkannya kepada sang istri.

Rayzan pun keluar dari mobil dan menyusul istrinya. Rumah terlihat kosong karena anggota keluarga yang lain masih berada di luar.

"Nadira..." panggil Rayzan ketika sudah berada di dalam kamar.

"Aku benci kamu, Rayzan! Aku mau kita cerai! Aku menyesal menikah sama kamu."

"Cerai?" Rayzan menatapnya tajam. "Jangan pernah ucapkan itu di depan aku. Kita nggak akan cerai."

"Kamu harus sadar. Kalau pernikahan ini terus berlanjut, semakin lama kita hanya akan saling menyakiti. Lebih baik kita putuskan hubungan ini."

"Aku sudah janji sama Ayah dan Umi. Kita nggak akan pernah cerai."

"Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini? Kita sama-sama nggak saling kenal. Nggak ada perasaan apa pun di antara kita, Rayzan!"

"Aku akan membuat perasaan itu ada. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan mencintai aku seperti kamu mencintai Daulat."

"Diam kamu! Jangan pernah sebut lelaki itu di depan aku!"

Nadira mengubah posisinya hingga membelakangi pria itu. Dia tidak mau bertatapan dengan suaminya sendiri.

"Kamu jangan menyesal kalau hidupmu akan berakhir di tanganku."

"Silakan. Aku menantangmu," balas Rayzan.

[] [] []

Tok! Tok! Tok!

Pintu rumah diketuk oleh seorang wanita cantik dengan rambut sebahu. Saat ini, dia masih mengenakan pakaian kerja sebagai seorang dokter.

Wanita itu kembali mengetuk pintu karena belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka.

Tok! Tok! Tok!

"Assalamualaikum..."

Ceklek!

"Waalaikumsalam ... Meidra."

"Tante..." sapa wanita itu. Kemudian dia mengecup punggung tangan Indah.

"Tante apa kabar?"

"Baik. Kamu bagaimana?"

"Baik juga, Tante. Aku mau cari Rayzan. Soalnya sudah satu minggu dia nggak ada kabar."

"Rayzan..." lirih Indah.

"Eummm ... Kamu nggak coba hubungi dia?"

"Sudah, Tante. Tapi nggak ada respons apa pun. Bahkan kalau aku telepon, langsung dimatikan begitu saja."

Meidra sedikit memiringkan kepalanya, memandang ke arah dalam rumah. Matanya membulat saat melihat sebuah foto pernikahan terpampang jelas di sana.

"Ta-Tante ... Rayzan sudah nikah?"

"Hah? Kamu tanya langsung saja sama dia."

"Foto itu..." lirih Meidra

Indah pun menoleh ke belakang. Dia sendiri tidak tahu harus menjelaskan seperti apa.

Perlahan, Meidra berjalan masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui siapa pengantin wanita dalam foto tersebut.

"Nadira! Tante, apa maksud semua ini?"

"Rayzan sudah menikah dengan Nadira."

"Kenapa bisa, Tante? Nadira kan pacarnya Bang Daulat."

"Maafin kami ... Kami terpaksa menikahkan Rayzan dengan Nadira."

Air mata Meidra mulai menetes. Dia tidak menyangka kekasihnya kini sudah menjadi suami dari wanita yang dia kenal.

Gadis itu keluar dari rumah dan pergi begitu saja tanpa berpamitan lagi kepada Indah.

Wanita paruh baya itu mengkhawatirkan pernikahan putra keduanya. Dia takut Meidra akan meminta Rayzan untuk bercerai.

[] [] []

"Hei."

Plak!

"Aku sudah bilang, jangan sentuh aku!" ucap Nadira setelah menampar wajah Rayzan.

"Aku lapar ... Tolong masakkan sesuatu."

"Aku nggak mau! Aku bukan pembantu kamu!"

Nadira menatap tajam suaminya sendiri.

"Aku sama sekali nggak menganggap kamu sebagai pembantuku. Aku akan menghormati kamu sebagai istriku."

"Aku benci kamu, Rayzan!"

Brak!

Rayzan terjatuh dari atas ranjang setelah didorong oleh istrinya. Walaupun begitu, dia tidak membenci wanita tersebut.

"Kamu masih marah dengan ucapanku tadi?"

"Iya! Dan asal kamu tahu, aku sangat-sangat membenci kalian!"

Rayzan kembali berdiri.

"Aku minta maaf. Aku akan mencoba menjadi suami yang baik buat kamu."

"Nggak perlu, Rayzan. Sampai aku mati nanti, aku nggak akan pernah menganggap kamu ada."

"Sampai kapan kamu terus begini? Apa kamu nggak mau mencoba berbaikan dengan aku?" tanya Rayzan. "Kalau kamu nggak bisa menganggap aku sebagai suamimu, terserah. Setidaknya, kamu jangan kasar. Nanti kamu berdosa."

"Dosa kamu bilang? Hah! Terus tuduhan kamu itu apa? Kamu nggak mikir bagaimana perasaanku?"

"Ya ... Salahku di mana? Melihat sikapmu ini, aku jadi merasa kalau kamu memang bukan perempuan baik-baik. Makanya ditinggal!"

Lagi dan lagi, lelaki itu mengeluarkan kata-kata yang membuat Nadira semakin emosi. Dia pun beranjak dari tempat duduknya.

Saat hendak memukul lelaki itu, dengan gerakan cepat Rayzan menahan tubuh Nadira dan memeluknya.

"Rayzan! Jangan kurang ajar kamu."

"Jangan marah-marah, sayang."

"Lepas, aku bilang!"

Nadira berusaha melepaskan diri, tetapi Rayzan tetap menahannya. Karena kesal, Nadira akhirnya menginjak kaki lelaki itu hingga pegangannya terlepas.

"Au! Sakit!" ucap Rayzan sambil membungkuk memeriksa kakinya.

Melihat lelaki itu lengah, Nadira langsung memukul punggung Rayzan dengan kedua sikunya.

"Rasain ini!"

"Uhuk..."

Rayzan batuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Punggungnya terasa nyeri akibat ulah wanita itu.

"Ra-Rayzan..."

"Kamu boleh benci sama Daulat, aku nggak masalah. Tapi tolong jangan lampiaskan semuanya ke aku."

Brak!

Nadira panik ketika Rayzan tiba-tiba pingsan. Dia segera menghampiri pria itu dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya.

"Rayzan, bangun!"

"Rayzan!"

Nadira terus berusaha membangunkan pria itu. Karena tidak mendapat respons, dia akhirnya memapah tubuh suaminya dan membaringkan Rayzan di atas ranjang.

Dia mulai takut jika kedua orang tuanya mengetahui bahwa mereka kembali bertengkar.

"Mama sama Papa nggak boleh tahu kalau aku bertengkar sama Rayzan. Pasti ujung-ujungnya aku yang bakal disalahin."

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!