"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Dibalik Jendela dan Kejutan Pagi
Kamar nomor dua terasa sangat dingin. Hanya ada sebuah tempat tidur kayu sederhana dengan sprei putih bersih, lemari tua, dan satu lampu minyak yang memancarkan cahaya remang-remang di atas meja.
Naya meringkuk di atas kasur, memeluk kedua lututnya erat-erat. Suara deburan ombak di kejauhan yang tadinya terdengar menenangkan, kini berubah menyeramkan saat malam benar-benar mencengkeram Kota Sane.
Tek... tek... tek...
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari balik jendela kayu kamarnya. Naya membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyumbat tenggorokannya.
"Naya... Naya..."
Sebuah suara bisikan lembut dan halus terdengar memanggil namanya dari luar jendela. Suara itu begitu jernih, seolah-olah pemiliknya sedang berdiri tepat di luar kaca.
Naya... tolong buka jendelanya... di luar sangat dingin...
Naya menutup kedua telinganya rapat-rapat. Air mata ketakutan mulai menetes membasahi pipinya. Peringatan Devan bergema keras di kepalanya: Jangan pernah membuka jendela, jangan pernah mengintip ke luar, dan jangan pernah menjawabnya!
Kreeek... ketak!
Gagang jendela bergoyang pelan, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang mencoba mendobraknya dari luar. Hawa dingin luar biasa mendadak merembes masuk melalui celah pintu kayu. Naya menangis tanpa suara, membenamkan wajahnya ke dalam bantal sambil memeluk dirinya sendiri. Setiap ketukan dan bisikan di balik kaca terasa bagai jeratan gaib yang berusaha menarik jiwa dan raganya keluar.
Ia terus berdoa dalam hati, menutup mata rapat-rapat hingga ketukan dan suara rintihan itu perlahan menyatu dengan angin malam dan memudar tepat saat fajar mulai menyingsing.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menusuk masuk melalui celah ventilasi. Naya terbangun dengan mata sembap, tubuh lelah, dan rasa trauma yang masih tersisa.
Pukul lima pagi tepat, Naya memberanikan diri membuka pintu kamar dan turun ke lantai bawah.
Saat melangkah ke area dapur, suasana hangat mendadak menyapu rasa dingin di hatinya. Bau harum racikan kopi rempah dan nasi hangat memenuhi udara. Di sana, seorang wanita tua berwajah teduh dan bersahaja sedang sibuk mengaduk sajian di atas kompor kayu.
"Ah, kau sudah bangun, Nak?" sapa wanita tua itu sangat ramah, tersenyum tulus hingga sudut matanya berkerut hangat. "Devan sudah menceritakan semuanya. Kasihan sekali kau, cantik... tertinggal kapal sendirian."
Naya tertegun. "Nenek... Neneknya Devan?"
"Iya, Panggil saja Nenek Sanja," jawabnya lembut. Nenek Sanja mendekati Naya, merengkuh bahu mungil gadis itu dan mengusap punggungnya pelan. "Jangan takut lagi, ya? Selama ada di rumah ini, kau aman bersama kami."
Nenek Sanja lalu mengambil sepotong gaun kain katun bergaya vintage berwarna krem yang sangat bersih dan harum aroma bunga melati. "Ini baju masa muda Nenek. Cobalah, ukurannya pasti pas untuk tubuh mungilmu."
Naya berganti pakaian di dalam. Saat ia keluar kembali ke dapur, Nenek Sanja tersenyum kagum. "Cantik sekali..." ujar sang nenek sambil menuntun Naya duduk di meja kayu. Nenek Sanja menyerahkan segelas teh manis hangat ke tangan Naya. Kehangatan gelas itu dan sentuhan lembut jemari Nenek Sanja seketika meluluhkan rasa cemas yang berkecamuk di dada Naya.
Tiba-tiba, langkah kaki yang tegap terdengar dari arah teras. Devan baru saja kembali dari dermaga. Kaos oblong hitam yang melekat di tubuh tegapnya sedikit basah oleh embun pagi.
Mata sipit Devan tertuju pada Naya yang sedang duduk memegang gelas teh. Langkah kakinya terhenti seketika. Gaun sederhana berwarna krem itu membingkai tubuh mungil Naya dengan sangat pas, membuat kulit putih dan rambut gelombangnya tampak begitu memikat di bawah paparan sinar matahari pagi yang menerobos jendela dapur.
Devan berdeham pelan, mencoba menguasai kembali detak jantungnya yang mendadak tak beraturan. Ia melangkah mendekati meja makan dapur, berhenti tepat di samping Naya.
"Kau... bisa tidur semalaman?" tanya Devan, suaranya berat namun terdengar jauh lebih lembut dari kemarin.
Naya mendongak menatap Devan. Bibir bawahnya yang berisi sedikit gemetar saat ingatan mengerikan semalam kembali berputar. "Devan... semalam jendela kamarku diketuk. Gagangnya bergerak... dan suara itu memanggil namaku berkali-kali."
Raut wajah Devan seketika berubah tegang. Rahangnya mengeras tajam, memancarkan rasa protektif yang kuat. Tanpa sadar, Devan membungkuk sedikit, mengikis jarak hingga aroma tubuhnya yang hangat menenangkan Naya.
"Kau tidak menjawab atau membukanya, kan?" tanya Devan dengan suara berbisik yang amat dalam, menatap tepat di iris cokelat terang milik Naya.
"T-tidak... Aku mengingat pesanmu," balas Naya pelan.
Devan menghembuskan napas lega yang panjang. Jemari hangat Devan terangkat, mengusap pelan helai rambut gelombang Naya yang berantakan di dekat telinganya, lalu menyapu sisa rasa takut di pipi mulus gadis itu. Sentuhan lembut itu membuat Naya terpaku, dadanya berdesir hebat saat menatap ketegasan di mata sipit Devan dari jarak serapat ini.
"Bagus," bisik Devan pelan. "Selama kau patuh padaku, tidak akan ada hal buruk yang bisa menyentuhmu."
Devan lalu menegakkan tubuhnya kembali, menatap ponsel mati yang dipegang Naya di atas meja.
"Setelah kau selesai sarapan dan merapikan dapur bersama Nenek..." Devan merapikan gulungan lengan bajunya, lalu menatap Naya dengan kesungguhan di matanya. "Aku akan mengantarmu ke tebing utara untuk mencari sinyal. Kita coba hubungi keluargamu."
Mata bulat Naya berbinar seketika. "Benarkah, Devan? Bukankah tempat itu sangat jauh dan berbahaya?"
Devan menatap Naya dalam-dalam, bibir kecilnya terangkat membentuk garis tipis yang hampir menyerupai senyuman. "Jauh dan berbahaya. Tapi aku tidak akan biarkan kau pergi sendirian."
Bahaya apa yang menanti Devan dan Naya di perjalanan menuju tebing utara? Dan apakah Naya berhasil menghubungi keluarganya?