NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 EPILOG 1 TAHUN KEMUDIAN - DARI DIASINGKAN JADI IBU DUA ANAK

Satu tahun telah lewat sejak Aisyah lahir dengan berat dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar Jombang pada tanggal lima belas Oktober dua ribu dua puluh enam jam tujuh lewat lima belas pagi. Satu tahun yang mengubah segalanya. Jika dulu aku adalah Kirana, gadis dua puluh tahun yang diasingkan karena hamil duluan, tidur di rumah bocor Mbah Wiryo di kebun karet Wonorejo dengan lantai tanah lembab, atap genteng bocor tiga titik, bilik bambu bolong dimasuki angin gunung, dan bau kemenyan kutukan Kembang Kantil yang membunuh Mira dua tahun lalu, maka sekarang aku adalah Kirana, Ibu dua anak perempuan, istri sah KUA, pemilik olshop daster bunga online.

Kontrakan cat hijau nomor empat yang dulu empat ratus ribu sebulan, sekarang sudah naik jadi lima ratus ribu sebulan. Semua harga naik, telur yang dulu delapan belas ribu sekarang dua puluh empat ribu, beras yang dulu sepuluh ribu sekarang tiga belas ribu, susu Aisyah yang dulu empat puluh ribu sekarang lima puluh lima ribu. Tapi kami tidak takut lagi karena gaji Arga bukan lagi satu setengah juta sebagai kuli bangunan di kota. Sejak tiga bulan lalu Arga diangkat menjadi satpam tetap di Puskesmas besar Jombang kota dengan gaji dua juta sebulan plus uang jaga malam dua ratus ribu. Cukup untuk bayar kontrakan lima ratus ribu, beli telur satu kilo tiap hari, beli susu Aisyah dan susu Salsa, beli beras lima kilo, dan masih bisa nabung seratus ribu di celengan ayam tanah liat yang aku beli di pasar Jombang.

Aku sendiri juga sudah tidak menjadi pengangguran yang hanya bisa menangis di bale bambu rumah bocor sambil menaruh panci di bawah bocoran atap. Aku sekarang adalah penjual daster online. Setiap pagi setelah menyapu lantai semen kontrakan, mengepel, mencuci baju Salsa dan Aisyah di kamar mandi luar, aku akan live TikTok selama dua jam dari jam sembilan sampai jam sebelas. Aku jualan daster bunga yang dulu aku pakai ketika hamil empat bulan di rumah bocor, daster yang sobek di ketiak sudah aku jahit, daster yang warnanya sudah pudar tapi masih layak pakai. Aku juga jualan kerudung coklat seperti pemberian Bu Minah tiga bulan pertama aku diasingkan, jualan baju bayi biru harga tiga puluh lima ribu seperti yang dulu dilempar Rendo dengan kasar ketika cemburu melihat aku akad siri dengan kakaknya Arga. Satu daster untung dua puluh ribu, satu kerudung untung lima belas ribu, satu baju bayi untung sepuluh ribu. Sehari laku empat sampai lima potong, untung seratus ribu, cukup untuk beli ayam kampung setengah kilo.

Salsa, anak titipan yang dulu aku kira anak yatim tetangga yang dititipkan Bu Minah karena ibunya meninggal, yang ternyata adalah anak kandung Arga dan Mira, cucu kandung Mbah Sarti dan Pak Karim, sekarang sudah berusia tiga tahun lima bulan. Salsa sudah tidak lagi memakai boneka kain sobek setiap hari. Boneka itu sudah aku cuci dan simpan di lemari plastik sebagai kenang-kenangan pengasingan. Salsa sekarang sekolah PAUD Melati di depan gang kontrakan, bayar lima puluh ribu sebulan, seragam merah putih, tas pink kecil, sepatu hitam. Setiap pagi Salsa berangkat jam tujuh tiga puluh diantar Arga naik motor butut pinjaman Pak Karim sebelum Arga jaga pagi di puskesmas. Salsa sudah pandai mengeja A B C, sudah bisa berhitung satu sampai dua puluh, sudah bisa menyanyi balonku ada lima dengan suara cempreng. Dan yang paling penting, Salsa sudah memanggilku Ibu dengan tulus, bukan Ibu titipan. Salsa memanggil Arga Bapak, memanggil Mbah Sarti Buyut, memanggil Pak Karim Kakek, memanggil Bu Minah Nenek Minah. Akte lahir Salsa yang baru sudah jadi, nama Salsa Humaira Karim, anak sah Arga dan Mira almarhumah, wali Mbah Sarti, tapi diasuh oleh Ibu Kirana.

Aisyah, anak perempuan hasil USG enam belas weeks dua days yang dulu hanya bayangan hitam putih kecil di foto USG yang ditempel pakai lakban kardus di dinding semen kontrakan, yang dulu bapak kandungnya Rendo tidak mau mengakui dan bilang belum tentu anakku, yang dulu hampir tidak punya akte karena ibunya hanya istri siri kertas HVS tipis, sekarang sudah berusia satu tahun satu minggu. Berat sembilan kilo, tinggi tujuh puluh lima centi, sudah bisa berjalan tiga langkah tanpa pegangan, sudah bisa memanjat kasur tipis, sudah bisa bilang Ibu, Bapak, Kakak, Buyut, dan yang paling lucu sudah bisa bilang tidak mau jika disuapi bubur. Rambut hitam lebat seperti aku waktu kecil, hidung mancung seperti aku, mata bulat besar seperti Salsa, kulit putih kemerahan sehat karena tidak kurang gizi seperti Mira. Baju bayi biru harga tiga puluh lima ribu pemberian Rendo yang dulu dilempar kasar lewat pagar bambu rumah bocor, yang membuatku menangis semalaman karena merasa dihina, sekarang sudah kekecilan dan disimpan di dalam koper hitam bersama kertas nikah siri HVS tipis dan foto USG pertama sebagai kenang-kenangan. Sekarang Aisyah pakai baju pink baru beli dari hasil jualan daster.

Rumah bocor Mbah Wiryo di kebun karet Wonorejo yang menjadi saksi bisu pengasinganku selama empat bulan, rumah yang atapnya bocor tiga titik dengan suara tet tet tet air jatuh ke panci alumunium penyok, rumah yang lantainya tanah lembab membuat perutku yang hamil empat bulan dua minggu kram setiap malam, rumah yang bilik bambunya bolong dimasuki angin gunung, rumah yang berbau kemenyan dan bunga kantil, rumah yang memiliki kutukan Kembang Kantil yang membunuh Mira dua tahun lalu karena pendarahan dan kurang gizi, rumah itu sudah tidak ada lagi. Enam bulan lalu setelah Aisyah lahir, Mbah Sarti, Pak Karim, Arga, dan Rendo yang pulang sebentar dari Kalimantan bergotong royong membakar rumah bocor itu sampai rata dengan tanah. Abu-nya disebar ke kebun karet. Kata Mbah Sarti sambil memegang tongkat bambu, biar kutukan hilang, biar tidak ada lagi Kirana lain yang diasingkan karena hamil duluan dan harus tinggal di rumah angker itu. Sekarang di bekas rumah bocor itu tumbuh pohon pisang baru.

Jam delapan pagi ini, seperti satu tahun lalu ketika Mbah Sarti datang pertama kali naik angkot dua jam dari Wonorejo membawa tas kresek hitam isi ayam goreng dua potong dan amplop coklat mas kawin seratus ribu yang dikembalikan, Mbah Sarti datang lagi. Tapi sekarang Mbah Sarti tidak naik angkot sendirian. Mbah Sarti diantar Pak Karim naik motor butut. Mbah Sarti membawa tas kain batik isi kue lapis legit dua kotak, baju baru untuk Salsa dan Aisyah, dan uang seratus ribu hasil jual pisang dari kebun bekas rumah bocor.

"Kirana, Nduk, Mbah kangen sama cicit Mbah. Mbah mau gendong Aisyah, Mbah mau suapin Salsa," kata Mbah Sarti yang kini berusia tujuh puluh satu tahun, jalannya makin pelan, keriputnya makin banyak, tapi senyumnya tidak lagi kecut seperti dulu ketika mengusirku dari Wonorejo karena hamil duluan dan membawa tiga ibu PKK dengan sapu lidi.

Aku menyerahkan Aisyah yang berbobot sembilan kilo kepada Mbah Sarti. Mbah Sarti menggendong dengan gemetar tapi penuh kasih sayang. Salsa yang baru pulang PAUD jam sepuluh pagi dengan seragam merah putih kotor karena main tanah, langsung salim kepada Mbah Sarti dan mencium tangan keriput itu lama.

"Buyut, Salsa dapat bintang lima di PAUD hari ini, Buyut. Bu Guru bilang Salsa paling pinter mengeja," kata Salsa dengan bangga menunjukkan kertas bintang lima warna emas.

Mbah Sarti memeluk Salsa erat, "Pinter cucu buyut Mbah, pinter seperti buyut dulu waktu masih muda."

Siang jam dua belas, Arga pulang jaga malam dari puskesmas dengan seragam satpam coklat, peci hitam tetap dipakai, wajah lelah tapi senyum. Di tangan Arga ada dua bungkus nasi Padang, satu untuk aku dan satu untuk Salsa dan Aisyah.

"Kir, hari ini di puskesmas ada pasien baru, namanya Lestari, umur sembilan belas tahun, hamil duluan lima bulan, diasingkan keluarganya di desa sebelah, disuruh tinggal di gubuk bekas kandang kambing karena malu. Aku ceritakan kisah kamu, Kir, kisah kamu diasingkan karena hamil duluan sembilan bulan di rumah bocor Mbah Wiryo, tidur lantai tanah, makan telur dibagi dua, nikah siri kertas HVS, diusir Pak Lurah kontrakan, sampai akhirnya nikah KUA resmi dan lahiran selamat di rumah sakit besar. Pasien itu nangis dengar cerita kamu, Kir, dia jadi kuat lagi, tidak mau gugurkan kandungannya."

Aku mengangguk sambil menyuapi Aisyah bubur ayam. Cerita pengasinganku yang dulu adalah aib, sekarang menjadi inspirasi bagi perempuan lain yang diasingkan karena hamil duluan.

Sore jam empat, aku live TikTok lagi di depan kontrakan cat hijau lima ratus ribu sebulan. Background bukan lagi bilik bambu bolong, tapi dinding semen bersih dengan foto keluarga besar berbingkai kayu yang baru aku beli dari hasil jualan daster. Foto itu ada aku, Arga seragam satpam peci hitam, Salsa seragam PAUD merah putih, Aisyah digendong aku pakai baju pink, Mbah Sarti kebaya coklat, Pak Karim batik, Bu Minah rantang opor, dan Rendo kemeja putih di Kalimantan yang fotonya aku print dari HP.

"Mbak Kirana, daster bunga biru yang Mbak pakai waktu hamil empat bulan di rumah bocor itu masih ada, Mbak? Aku mau beli, Mbak, aku juga lagi hamil duluan diasingkan mertua, Mbak," tulis pembeli di kolom komentar live.

Aku menjawab dengan suara bergetar, "Masih ada, Kak. Daster ini adalah saksi bisu aku diasingkan karena hamil duluan satu tahun enam bulan lalu di rumah bocor Mbah Wiryo, tidur lantai tanah, atap bocor tiga titik, makan tempe saja, nikah siri kertas HVS tipis, diusir Pak Lurah kontrakan, sampai akhirnya punya buku nikah hijau, punya akte lahir Aisyah, punya kontrakan tidak bocor. Daster ini pembawa berkah, Kak. Beli daster ini, semoga Kakak juga kuat seperti aku."

Sore itu laku lima daster, untung seratus ribu.

Malam jam delapan, hujan turun deras seperti satu tahun lalu baik di rumah bocor maupun di kontrakan cat hijau. Tapi genteng kontrakan tidak bocor, tidak ada lagi suara tet tet tet air jatuh ke panci alumunium penyok. Kami makan malam bertujuh? Tidak, bertiga plus dua anak. Aku, Arga, Salsa tiga tahun lima bulan, dan Aisyah satu tahun satu minggu. Lauk ayam kampung goreng pemberian Mbah Sarti pagi tadi, telur dadar satu butir dibagi empat, tidak dibagi dua lagi seperti dulu, nasi banyak wangi, sambal terasi Bu Minah.

Jam sembilan malam, Salsa dan Aisyah sudah tidur di kasur tipis yang sama, memeluk boneka kain sobek yang sama dari Wonorejo satu tahun lalu yang sudah dicuci bersih. Aku dan Arga duduk di lantai semen kontrakan yang bersih, melihat dinding foto keluarga.

"Kir, terima kasih ya sudah mau menjadi Ibu Tiri yang baik untuk Salsa yang ternyata anak kandung Mas dari Mira, dan menjadi Ibu kandung yang kuat untuk Aisyah yang ternyata anak kita berdua di mata negara meskipun darahnya Rendo," kata Arga pelan sambil menggenggam tanganku yang sekarang sudah tidak kasar lagi karena tidak mencuci baju di sumur belakang rumah bocor.

Aku mengangguk, mengelus perutku yang sudah langsing kembali, tidak buncit sembilan bulan lagi.

"Mas, terima kasih juga sudah mau menjadi Bapak yang sah untuk Aisyah yang bukan darah Mas, tapi darah Rendo yang dulu tidak bertanggung jawab, dan menjadi Bapak kandung yang baru tahu untuk Salsa yang selama dua tahun Mas kira anak yatim tetangga."

Malam ini kami tidur tidak lagi pisah jarak satu meter dengan syarat kedua. Salsa dan Aisyah di kasur tipis, aku dan Arga di kasur tipis yang sama, satu selimut, satu bantal. Karena pengasingan telah selesai. Karena hamil duluan telah memiliki buku nikah hijau. Karena Ibu Tiri telah diterima sebagai Ibu kandung.

Dari diasingkan karena hamil duluan satu tahun enam bulan lalu di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah lembab atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan Kembang Kantil, diusir Mbah Sarti dengan sapu lidi, diusir warung Bu Lasmi, didobrak pagar bambu oleh Rendo yang melempar baju bayi biru tiga puluh lima ribu dengan kasar, diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA, sekarang menjadi Ibu dua anak perempuan di kontrakan kota lima ratus ribu sebulan tidak bocor, memiliki toko daster online untung seratus ribu sehari, memiliki suami satpam gaji dua juta, memiliki Mbah Sarti yang dulu mengusir sekarang menggendong cicit dengan kasih sayang, memiliki Rendo yang dulu kabur ke Kalimantan sekarang mengirim susu dua ratus ribu tiap bulan sebagai penebusan dosa.

Judul Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan telah tamat malam ini di BAB dua puluh enam. Tapi judul baru Aku Menjadi Ibu Tiri Dan Ibu Kandung Yang Bahagia Di Kontrakan Kota baru saja dimulai.

Dan itu cukup untuk malam ini dan untuk selamanya.

TAMAT SEMENTARA...

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!