Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pasar tradisional jam setengah lima pagi punya bau yang tidak bisa dipalsukan: tanah basah, sayur segar, ikan yang baru diturunkan dari truk, dan asap rokok dari kios-kios yang belum sepenuhnya bangun.
Anindya sudah hafal setiap lorongnya. Ia berjalan cepat dengan dua tas belanja besar di bahu dan daftar di saku, melewati lapak daun pisang yang selalu ia datangi pertama, lalu penjual santan di sudut yang sudah memanggilnya "Teh Anin" sejak bulan kedua. Pedagang-pedagang itu tidak tahu apa pun tentang masa lalunya. Mereka hanya tahu ia datang tiap pagi, membeli banyak, menawar sopan, dan tidak pernah lupa membayar tepat.
Hal-hal sederhana seperti itu yang membuatnya merasa utuh. Di pasar ini, tidak ada yang bertanya kenapa ia dipecat. Tidak ada yang menatapnya dengan iba atau curiga. Ia hanyalah seorang perempuan dengan daftar belanja, dan itu terasa seperti kemewahan.
"Beras tiga kilo seperti biasa, Teh?" tanya Bu Eti, penjual beras di lorong kedua.
"Lima kilo hari ini, Bu. Ada pesanan arisan."
"Wah, kemajuan." Bu Eti terkekeh sambil menimbang. "Dulu pertama datang cuma ngambil satu setengah."
"Dulu saya juga cuma bawa satu tas."
Bu Eti tertawa lagi, menyerahkan kantong besar itu, dan Anindya membayar sambil memeriksa daftarnya. Tinggal cabai rawit, bawang merah, dan kacang tanah. Ia berbalik menuju lorong sayuran dengan langkah ringan.
Dan berhenti.
Di ujung lorong, di depan lapak cabai yang lampunya masih redup, berdiri seorang perempuan dengan jaket tebal dan tas anyaman besar di lengan. Rambutnya dikuncir seadanya, bahunya sedikit membungkuk, dan ia sedang memilih cabai satu per satu dengan teliti yang tidak biasa.
Teh Lilis.
Anindya hampir mundur. Hanya hampir. Tapi kaki yang sudah belajar berdiri di depan banyak hal lebih menakutkan dari ini tidak bergerak ke belakang.
"Teh Lilis."
Perempuan itu mengangkat kepala. Wajahnya, yang dulu bulat dan selalu merona karena tertawa, tampak lebih tirus dan lelah. Matanya langsung membesar, lalu memerah, lalu menunduk, hampir dalam satu tarikan napas.
"Nin..."
"Apa kabar, Teh?"
"Teteh... Teteh baik." Suaranya serak. "Kamu... kamu sehat?"
"Sehat, Teh. Alhamdulillah."
Hening. Di sekitar mereka, pasar terus bergerak. Seorang pedagang berteriak menawarkan tomat, dua ibu berdebat soal harga bawang, motor lewat dengan bunyi knalpot yang pecah di tengah lorong. Dunia berjalan seperti biasa, dan di tengahnya dua perempuan berdiri dengan jarak yang sebenarnya hanya tiga langkah, tapi terasa jauh.
"Teteh liat video kamu," kata Teh Lilis akhirnya, dengan senyum yang bergetar di ujung bibirnya. "Yang viral itu. Teteh nonton sampai tiga kali. Kamu hebat, Nin. Hebat banget."
"Terima kasih, Teh."
"Mbak Sari juga nonton."
Nama itu jatuh begitu saja di antara mereka, dan Anindya merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya.
"Oh ya?"
"Iya. Dia nggak bilang apa-apa, tapi dia nonton. Sampai habis." Teh Lilis mengusap hidungnya dengan punggung tangan. "Dia nggak pernah bilang, tapi Teteh tahu."
"Teh," kata Anindya pelan, "Teteh mau ngomong sesuatu?"
Teh Lilis membuka mulut. Matanya bergerak cepat ke kanan dan ke kiri, seperti seseorang yang mencari jalan keluar dari ruangan yang terkunci. Bibirnya bergetar. Tangannya menggenggam tas anyaman itu erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Nin, Teteh... Teteh sebenernya..."
"Iya, Teh?"
"Mbak Sari..." Teh Lilis berhenti. Wajahnya berubah, seolah ia baru saja menginjak sesuatu yang tajam. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, menggeleng cepat, dan ketika tangannya turun lagi, air mata sudah mengalir di pipinya tanpa suara.
"Teteh nggak berhak," bisiknya. "Teteh nggak pantes ngomong ini. Teteh nggak pantes nemuin kamu."
"Teh."
"Maafin Teteh."
Perempuan itu berbalik hendak pergi, tapi Anindya melangkah lebih cepat dan memegang lengannya dengan lembut, bukan menahan, hanya menyentuh.
"Teh, dengerin saya."
Teh Lilis berhenti.
"Saya nggak tahu apa yang Teteh simpan," kata Anindya, suaranya rendah dan stabil. "Dan saya nggak akan maksa Teteh bilang. Tapi kalau suatu hari Teteh siap, Teteh tahu saya di mana. Gang Mawar, gerobak di depan gerbang. Jam setengah enam. Saya nggak akan ke mana-mana."
"Nin..."
"Saya cuma minta satu hal." Anindya menatap matanya langsung. "Jangan sampai Teteh nunggu terlalu lama. Karena makin lama disimpen, makin berat dibawa."
Teh Lilis menatapnya, wajahnya basah dan hancur. Dan di sela air mata itu, Anindya melihat sesuatu yang membuat dadanya sendiri terasa sesak: rasa bersalah yang begitu dalam sampai tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi.
Lalu, dengan gerakan tergesa-gesa, Teh Lilis merogoh tas anyamannya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik besar berisi cabai rawit merah menyala, segar dan mengilap, dengan aroma pedas yang menyengat sampai ke hidung.
"Ini," katanya, menyodorkan kantong itu dengan kedua tangan. "Dari kampung Teteh. Teteh bawa dari rumah. Buat sambal kamu. Katanya nggak ada yang lebih pedes dari ini."
"Teh, saya bisa beli..."
"Tolong," bisik Teh Lilis. "Cuma ini yang bisa Teteh kasih sekarang."
Anindya menatap kantong itu. Ia bisa saja menolak. Ia punya semua alasan untuk menolak. Tapi ia melihat tangan yang gemetar, dan mata yang tidak berani menatap balik, dan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang diajarkan oleh buku resep lusuh dan sebuah kalimat di halaman pertama, memutuskan sebaliknya.
Ia menerima kantong itu.
"Terima kasih, Teh."
Teh Lilis mengangguk berkali-kali, tersenyum dan menangis di saat yang sama, lalu berbalik dan berjalan cepat menjauh, hampir berlari, menembus kerumunan pasar dengan bahu yang naik turun. Anindya berdiri diam menatap punggungnya sampai hilang di balik tumpukan karung beras.
Di tangannya, cabai-cabai itu masih hangat dari genggaman seseorang.
---
Sambal kacang hari itu pedasnya berbeda.
Bukan lebih pedas, tapi lebih bulat, lebih dalam, seperti sesuatu yang tumbuh di tanah yang tidak dikenal. Pak Jajang adalah yang pertama menyadarinya, dengan mata berkaca-kaca dan mulut terbuka lebar sambil mengipas-ngipas lidahnya.
"Ya Allah, Neng! Cabainya dari mana ini?"
"Dari kampung, Pak."
"Kampung siapa?"
Anindya hanya tersenyum, menyerahkan segelas air putih, dan tidak menjawab. Tapi di dalam dadanya, ada rasa yang tidak bisa ia tafsirkan: rasa bahwa ia baru saja menerima sebuah hadiah dari seseorang yang sebenarnya sedang meminta sesuatu.
Setelah gerobak dibersihkan dan rantang-rantang dikembalikan, ia duduk di bangku plastik depan kos dengan buku tulis di pangkuan. Di halaman yang baru, ia menulis tanggal hari itu, lalu satu kalimat.
*Teh Lilis tahu sesuatu.*
Ia menatap kalimat itu cukup lama. Lalu menulis satu lagi di bawahnya.
*Mbak Sari juga.*
Dan di bawahnya lagi, hampir tanpa sadar, nama yang selama berbulan-bulan tidak berani ia tuliskan.
*Reyhan tahu atau tidak?*
Ia menutup buku itu cepat-cepat, seakan halaman-halamannya bisa menggigit.
"Neng."
Bu Heni berdiri di ambang pintu dengan dua gelas teh dan wajah yang seperti tahu lebih banyak dari yang diucapkan. Ia duduk di sebelah Anindya, menyodorkan satu gelas, dan tidak bertanya apa-apa. Hanya duduk di sana, dengan bahu yang hampir menyentuh bahu Anindya, seperti seseorang yang mengerti bahwa kadang kehadiran adalah satu-satunya jawaban.
"Neng mau denger kabar baik nggak?"
"Mau, Bu."
"Ruko di ujung jalan kampus, yang bekas fotokopi itu. Kosong. Katanya pemiliknya mau nyewain, harga bagus buat usaha makanan." Bu Heni menyesap tehnya. "Ibu udah nanya-nanya. Kalau Neng mau lihat, besok Ibu temenin."
Anindya menatap teh di tangannya, dan perlahan, sesuatu yang hangat dan mantap membangun diri di dalam dadanya, bukan semangat meledak-ledak, tapi tekad yang tenang, seperti api kecil yang sudah tahu bagaimana caranya bertahan lama.
"Iya, Bu," katanya. "Saya mau lihat."
Di luar, langit sore Bandung berubah warna dari biru ke jingga. Dan di dalam tas belanjanya yang tergeletak di lantai, sisa cabai rawit dari kampung itu masih menguarkan aroma yang pedas, hangat, dan menyimpan rahasia yang belum selesai bicara.
Bersambung ke Bab 23...