Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kelopak mata yang terasa amat berat itu perlahan terangkat. Cahaya lembut dari lampu gantung bergaya klasik menyapa pandangan Maya. Sambil menyesuaikan penglihatannya yang remang, hidungnya menghirup aroma wewangian terapi lavender yang menenangkan, sangat bertolak belakang dengan bau obat-obatan menyengat yang biasanya ada di fasilitas kesehatan umum.
Maya mencoba menggerakkan jemarinya. Seprai sutra yang begitu halus menyapu kulitnya. Saat ia mengedarkan pandangan, rasa heran yang mendalam seketika menyergap benaknya. Ia tidak berada di bangsal sempit berpintu kusam. Ruangan itu sangat luas, berkarpet tebal, dilengkapi sofa kulit eksklusif, televisi layar lebar, dan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan taman kota yang asri.
"Aku di mana...? Kenapa aku bisa ada di ruangan semewah ini?" batin Maya penuh kebingungan. Memori terakhir yang diingatnya hanyalah guncangan gempa bumi dahsyat, rasa sakit dari pukulan balok kayu Lexa, dan dentuman lemari tua yang merobohkan mereka berdua.
Sebelum pertanyaan di kepalanya terjawab, pintu kayu jati tebal di ujung ruangan terdorong terbuka. Papa dan Mama Lexa melangkah masuk dengan raut wajah yang memancarkan kecemasan luar biasa. Begitu melihat mata di atas ranjang itu terbuka, sang mama langsung menghambur maju, memeluk tubuh itu dengan sangat berhati-hati seraya mengalirkan derai air mata haru.
"Lexa! Ya Tuhan... Sayang, akhirnya kamu sadar!" bisik mamanya dengan suara bergetar, mengecup dahi dan pipinya bertubi-tubi. "Mama takut sekali, Nak... Dokter bilang kamu sempat kritis setelah tertimpa lemari itu!"
Papanya berdiri di samping bed, mengusap lembut rambutnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Maafkan Papa ya, Lexa... Papa janji tidak akan bentak-bentak kamu lagi. Yang penting kamu selamat dan sembuh, Nak."
Maya membeku total. Jantungnya berdegup kencang bagaikan genderang perang. Sentuhan lembut, rasa khawatir yang mendalam, dan panggilan "Lexa" dari kedua orang tua terpandang itu membuat otaknya serasa hendak meledak. Kenapa mereka memperlakukannya bagaikan putri kandung tercinta?
Dengan tangan yang gemetar hebat, Maya mendorong pelan selimut sutranya. Pandangannya bergulir liar ke sudut ruangan, hingga tertambat pada meja rias bermaterial marmer yang memiliki cermin tinggi berukir emas. Dari balik kaca yang jernih itu, terpantul bayangan seorang gadis berselimut putih dengan stiker sensor medis di dadanya.Bukan kacamata tebal atau kulit pucat bersahaja milik Maya.
Di dalam cermin itu, terpampang paras cantik menawan dengan rambut panjang bergelombang milik sang ratu sekolah sosok bully yang selama ini menyiksa dan menghancurkan hidupnya.
Maya membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan. "Aku... aku ada di dalam tubuh Lexa?!"
Kenyataan mistis yang mustahil itu menghantam jiwa Maya tanpa ampun. Tubuh yang kini dihuninya terbaring nyaman di dalam fasilitas perawatan khusus (VVIP suite) di sebuah rumah sakit elit paling bergengsi di pusat kota. Di tempat ini, tim dokter spesialis terbaik dan perawat pribadi bersiaga dua puluh empat jam, memastikan setiap ketidaknyamanan fisik langsung teratasi dengan obat-obatan dosis tinggi paling efektif. Bahkan rasa sakit akibat insiden gempa kemarin hampir tak terasa berkat perawatan medis kelas atas tersebut.Sementara itu, di tempat yang sangat bertolak belakang...
Di sebuah rumah sakit daerah kelas bawah yang padat dan bising, suasana terasa begitu menyiksa. Dinding-dinding semennya mengelupas, dan aroma antiseptik murah bercampur bau keringat menyergap udara. Di dalam satu ruangan bangsal kelas tiga yang berdesakan dengan lima pasien lainnya, Lexa yang kini terperangkap di dalam tubuh Maya terbangun dalam penderitaan tiada tara."Ssshh... Aaghh! Sakit!" jerit Lexa melengking seraya mencengkeram besi ranjang kusamnya.Setiap kali ia bernapas, tulang rusuk di dalam tubuh kurus itu terasa bagaikan ditusuk ribuan jarum. Memar-memar kebiruan akibat pukulan balok kayunya sendiri kini berdenyut hebat. Tidak ada dokter spesialis yang berdiri di sampingnya, tidak ada obat pereda nyeri mahal yang mengalir di selang infus murahnya. Hanya ada kipas angin tua yang berdecit lambat di langit-langit, sama sekali tak mampu mengusir hawa panas yang membakar kulitnya.
"Sabar ya, Maya Sayang..." tangis ibu penjual sayur pecah seraya mengusap dahi Lexa dengan handuk basah yang sudah kusam. "Ibu cuma sanggup bayar obat generik dari puskesmas. Dokter bilang kita harus nunggu giliran pemeriksaan rontgen besok karena antriannya panjang..."
"Lepasin! Gue bukan Maya! Gue Lexa!" teriak Lexa histeris, menepis tangan wanita itu. Namun suaranya yang keluar dari tenggorokan Maya terdengar begitu serak, lemah, dan tak berdaya.Ibu Maya hanya bisa memeluk tubuh itu sambil menangis, menganggap putri tunggalnya sedang mengigo berat akibat trauma benturan keras di kepala saat bencana gempa terjadi.Jeritan Lexa tenggelam di antara suara rintihan pasien lain dan kebisingan lorong rumah sakit rakyat tersebut. Penderitaan fisik yang teramat sangat, dinginnya lantai keramik kusam, keterbatasan fasilitas, serta rasa diacuhkan kini menyergap diri Lexa tanpa ampun. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia meresapi secara langsung pahitnya menjadi seorang Maya manusia kelas bawah yang tak memiliki kuasa dan harus menerima nasib dalam kepasrahan.
Dari balik jendela kaca bangsalnya yang berdebu, Lexa menatap ke arah gedung perkotaan di kejauhan. Di sana, di dalam rumah sakit mewah bertingkat tinggi, ia tahu betul bahwa tubuh aslinya sedang menikmati fasilitas perawatan istimewa dengan kasur empuk dan perhatian penuh dari kedua orang tuanya.
Rasa iri dan dengki yang sangat pekat membakar dada Lexa hingga air matanya menetes meratapi takdir.
"Harusnya gue yang ada di sana!",jerit Lexa di dalam hatinya dengan kepalan tangan yang meremas seprai kasar. "tu rumah sakit mewah tempat keluarga gue! Itu orang tua gue! Kenapa si anak penjual sayur kotor itu yang malah menikmati tempat mewah gue, sementara gue harus membusuk di tempat kotor ini?!"
Namun, takdir tidak mendengarkan amarahnya. Roda karma telah berputar mutlak. Di atas ranjang rumah sakit mewah, Maya perlahan menutup mata, menghela napas dalam kedamaian baru yang tak pernah ia sangka. Sementara di atas ranjang besi yang dingin, Lexa terus mengerang kesakitan terjebak dalam raga sang korban, menanggung setiap incinya rasa sakit dan penderitaan dari perbuatannya sendiri.