Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Demam dan Batas yang Terhapus
Senin pagi, udara Dharmasraya menyambut Nadia dengan terik yang kejam.
Perjalanan enam jam dari Padang Panjang pakai bus ekonomi yang AC-nya mati suri, ditambah beban emosional habis ketemu Rizki, menguras semua sisa energi Nadia.
Saat ia menyeret koper rodanya masuk ke area mess putri, kepalanya sudah berdenyut. Tenggorokannya kering dan kasar. Tubuhnya menggigil padahal keringat membasahi punggung blusnya.
Hanya lelah, batin Nadia meyakinkan diri sendiri sambil menelan dua butir paracetamol di kamarnya. Besok juga sembuh.
Tapi tubuh punya cara sendiri untuk protes.
Sore harinya, saat Nadia seharusnya selesaikan rekap biaya angkut buah sawit, pandangannya mulai kabur. Angka-angka di layar komputer menari-nari. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, dan ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa seperti sauna.
"Nadia?"
Suara itu bikin Nadia tersentak. Ia mendongak. Arif berdiri di ambang pintu ruangannya, pegang sebuah map. Tatapannya langsung menyipit, memindai wajah Nadia yang pucat dan bibirnya yang kering.
"Pak...Arif," Nadia berusaha senyum, tapi otot wajahnya kaku. "Ada apa?"
Arif tidak jawab. Ia melangkah masuk, tutup pintu di belakangnya, dan jalan langsung ke sisi meja Nadia. Tanpa aba-aba, punggung tangan kasarnya mendarat di dahi Nadia.
Nadia tahan napas. Sentuhan itu panas, kontras dengan suhu ruangan, tapi entah kenapa terasa sangat menenangkan.
"Kamu demam," vonis Arif datar. Suaranya tidak panik, tapi rahangnya mengeras. "Suhu kamu tinggi."
"Cuma masuk angin," elak Nadia pelan, coba mundur, tapi kepalanya berputar hebat. Ia harus pegangan tepi meja agar tidak jatuh. "Aku masih bisa lanjutkan—"
Arif langsung tutup laptop Nadia dengan satu gerakan tegas.
"Kamu tidak akan lanjutkan apa-apa. Matikan Laptopnya. Kembali ke mess," potong Arif, nadanya tidak kasih ruang untuk dibantah. "Sekarang pulang. Ini perintah, Nadia."
Nadia terlalu lemah untuk debat. Ia cuma mengangguk pelan, bereskan tasnya dengan tangan gemetar, dan jalan keluar ruangan dengan langkah terseok. Di belakangnya, ia dengar Arif nelpon seseorang, "Bambang, rekap biaya angkut hari ini saya yang handle. Admin saya sakit."
Pukul delapan malam, Nadia meringkuk di atas kasur mess-nya. Selimut tebal sudah menumpuk di atas tubuhnya, tapi ia masih merasa kedinginan. Kepalanya berdenyut nyeri, dan rasa mual naik ke tenggorokan. Lampu kamar ia matikan, hanya cahaya remang dari luar jendela.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Pelan.
"Nadia?"
Suara bariton itu. Nadia memaksakan diri bangun, menyeret selimutnya, dan buka pintu.
Arif berdiri di sana. Tidak lagi pakai seragam kerja. Ia pakai kaos oblong putih polos dan celana training abu-abu. Di tangan kanannya, ia bawa nampan berisi semangkuk bubur ayam yang masih mengepul, gelas air hangat, dan beberapa sachet obat.
"Kamu..." Nadia terbelalak, suaranya serak. "Emang Dari mana kamu dapat bubur ini? Dapur umum sudah tutup jam tujuh."
"Koki mess orang baik, asal kamu tahu cara mintanya dengan benar," jawab Arif santai, melangkah masuk dan letakkan nampan di meja kecil dekat kasur. "Duduk dulu dan harus Makan."
Nadia menurut, duduk bersandar di kepala kasur. Tangannya gemetar saat pegang sendok. Baru dua suapan, rasa mualnya kambuh. Ia turunkan sendok, pejamkan mata, tahan napas.
Tiba-tiba, Arif duduk di tepi kasur. Jarak mereka sangat dekat. Nadia bisa cium aroma sabun mandi yang maskulin, bercampur samar aroma tembakau yang khas dari pria itu.
"Memaksa diri tidak akan bikin kamu sembuh," ucap Arif lembut. Ia ambil alih sendok dari tangan Nadia. "Sini, saya suapi."
Nadia buka mata, menatap Arif tak percaya. "Arif, tidak usah. Aku bukan anak kecil. Nanti ada yang lihat..."
"Pintu dikunci. Dan jam segini tidak ada yang lewat," Arif menatapnya tenang, lalu dekatkan sendok ke bibir Nadia. "Buka."
Nadia telan ludah, buka bibirnya sedikit. Bubur hangat itu masuk ke mulutnya, rasanya gurih dan menenangkan perutnya yang kosong. Arif menyuapinya dengan sabar, tanpa sedikitpun candaan atau senyum miring yang biasa ia pakai. Wajahnya serius, fokus pada tugas sederhana ini.
Beda sekali dengan Rizki. Kalau Nadia sakit di kampung, Rizki cuma chat, "Jangan lupa minum susu anget ya, Nad. Minum vitamin." Tidak pernah datang. Tidak pernah ada.
Di tengah suapan kelima, air mata Nadia tiba-tiba tumpah.
Ia tidak menangis terisak. Air mata itu hanya meluncur turun, membasahi pipinya yang panas, jatuh ke selimut.
Arif berhenti menyuapi. Ia letakkan mangkuk di meja, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Nadia.
"Kenapa kamu nangis? Emang Sakit sekali ya? " tanya Arif, suaranya pelan.
"Bukan," isak Nadia pelan, suaranya pecah. "Aku cuma... aku cuma lelah, Arif. Lelah sekali. Di Padang Panjang aku harus jadi calon istri sempurna. Di sini aku harus jadi admin kuat. Aku tidak pernah boleh jadi Nadia yang capek."
Arif tidak bertanya lelah karena apa. Ia tidak menyuruh Nadia berhenti nangis. Sebagai gantinya, pria itu angkat tangannya. Ibu jarinya yang kasar dan hangat menyapu air mata di pipi Nadia, lalu beralih ke pipi lainnya.
Gerakan itu begitu lembut, begitu penuh perasaan, hingga Nadia merasa dadanya sesak.
"Kamu tahu apa masalahmu, Nadia?" bisik Arif, suaranya serak dan berat di keheningan kamar itu. "Kamu terlalu lama pura-pura kuat. Kamu terlalu lama biarin orang lain atur hidupmu. Sampai kamu lupa bagaimana caranya nangis di depan seseorang tanpa takut dihakimi."
Nadia menatap mata Arif. Di sana, tidak ada penghakiman. Tidak ada ekspektasi bahwa Nadia harus jadi wanita karir tangguh, atau calon istri guru yang sempurna. Arif hanya melihatnya. Nadia yang rapuh, Nadia yang ketakutan, Nadia yang sebenarnya.
"Arif..." bisik Nadia, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku wanita yang sudah punya tunangan. Bulan depan aku nikah."
Kalimat itu terdengar seperti upaya terakhir untuk membangun tembok. Tapi tembok itu sudah runtuh sejak siang tadi saat Arif memayunginya dari hujan.
Arif tidak mundur. Justru, ia geser duduknya sedikit lebih dekat. Tangan yang tadi menyeka air mata kini menangkup rahang Nadia dengan lembut. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Nadia yang gemetar.
"Aku tahu," jawab Arif pelan, matanya menatap bibir Nadia, lalu naik menatap mata wanita itu. "Tapi di ruangan ini, di malam ini... cincin di jarimu tidak ada artinya. Kamu cuma Nadia. Dan saya cuma Arif. Dua orang yang sama-sama lelah."
Jantung Nadia berdegup begitu keras hingga ia yakin Arif bisa dengar. Aturan yang mereka buat di ruang administrasi, kita cuma teman, terasa seperti lelucon yang kejam.
Perlahan, Arif menundukkan kepalanya. Nadia tidak mundur. Ia justru pejamkan matanya, pasrah pada gravitasi yang menariknya ke arah pria itu.
Bibir Arif mendarat di dahi Nadia. Bukan ciuman yang menuntut, melainkan sebuah cap. Hangat, lembut, dan penuh dengan janji yang berbahaya. Lama. Seolah Arif ingin menyalurkan semua kekhawatirannya lewat ciuman itu.
Saat Arif angkat kepalanya, tatapannya gelap dan intens.
"Tidurlah, Nad. Besok kalau kamu masih demam, saya suruh kamu istirahat di rumah. Tapi kalau kamu sembuh..." Arif selipkan senyum tipis yang bikin lutut Nadia lemas, "...kita masih punya banyak laporan yang harus diselesaikan. Saya butuh kamu."
Arif berdiri, ambil nampan kosong, dan jalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Minum obatnya. Dan kunci pintunya dari dalam. Jangan buka untuk siapa pun kecuali saya," katanya.
Pintu tertutup dengan suara klik pelan.
Nadia terbaring di kasur, menatap langit-langit kamar. Tangannya menyentuh dahinya, tempat bibir Arif baru saja mendarat. Kulit di sana terasa panas, lebih panas dari demam yang ia derita.
Ia menoleh ke arah tangan kirinya. Cincin Emasn putih dari Rizki berkilau temaram di bawah cahaya lampu. Cincin itu terasa seperti borgol besi yang dingin.
Malam itu, Nadia tidak tidur. Ia sadar, ia sudah melewati garis yang tidak bisa ditarik kembali. Ia tidak lagi hanya bermain api. Ia sudah terbakar.
Dan yang paling menakutkan, ia suka rasa terbakar itu. Ia suka diperhatikan seperti ini. Dihadirkan, bukan cuma diperintahkan lewat chat.
Di luar, suara boiler pabrik masih berdengung. Hujan rintik mulai turun lagi. Dan di mess putra yang jaraknya dua puluh meter dari mess-nya, Arif juga gak bisa tidur. Ia duduk di tepi kasur, menatap tangannya sendiri yang masih terasa hangat bekas air mata Nadia.
Bersambung