**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Surat Bertanda "D"
Ibu yang memutuskan lebih dulu, dan ia melakukannya tanpa menaikkan suara.
"Surya, kamu tidak naik bus itu."
Pak Surya mendongak. Lampu bus yang menyapu bangku mereka membuat wajahnya tampak seperti topeng lilin. "Bu Wulan, saya harus menyerahkan ..."
"Kamu akan menyerahkan diri, tapi tidak malam ini dan tidak ke Polda." Ibu mengambil buku catatan hitam itu dari tangan Laras dan memasukkannya ke tasnya sendiri. "Kalau nama Wulandari ada di buku ini, kita tidak tahu siapa yang sedang menunggumu di Semarang. Kamu ikut kami. Malam ini kamu tidur di rumah saya."
"Di rumah Ibu?" Pak Surya terbata. "Setelah semua yang saya ..."
"Bapakmu, eh, Bapak anak-anak ini memaafkanmu lebih dulu. Aku masih belajar." Ibu menatapnya lurus. "Belajar itu lebih mudah kalau orangnya ada di ruangan yang sama."
Bus ke Semarang membunyikan klakson terakhir, lalu bergerak keluar peron tanpa Pak Surya. Ia mengangkat kopernya sendiri, dan Bima, yang sejak tadi mengepalkan rahang, mengambil alih koper itu tanpa berkata apa-apa.
---
Rumah di Jalan Kenanga gelap ketika mereka tiba. Sekar menyalakan lampu ruang makan, dan di tengah meja, tempat terakhir ditinggalkan, masih tergeletak kotak sepatu lusuh milik Ratna.
"Aku belum membuka bagian bawahnya," kata Dimas pelan. "Kemarin kami cuma ambil buku tabungan dan foto."
"Kita buka sekarang," ujar Laras.
Mereka berkumpul mengelilingi meja, Sekar dan Dimas di satu sisi, Ibu duduk di ujung dengan tangan terlipat, Bima berdiri bersandar di bufet seperti kebiasaannya. Pak Surya menolak duduk, hanya berdiri kaku di dekat pintu dapur.
Dimas mengeluarkan bundel surat yang diikat karet gelang. Surat pertama, yang ditujukan kepada Ibu, sudah mereka baca. Di bawahnya masih ada belasan amplop lain, kertasnya lebih rapi, tintanya hitam, tulisan tangan kecil dan tegak seperti huruf cetak. Berbeda sekali dengan tulisan Ratna yang miring.
Sekar membuka salah satunya dan membaca bagian bawahnya.
"Ini bukan tulisan Bulik," katanya. "Tanda tangannya cuma satu huruf. *D.*"
"D?" Laras mengambil amplop lain. Semuanya sama. Tanggalnya melompat-lompat selama dua puluh tahun: Agustus 2003, Maret 2008, Desember 2014. Setiap surat pendek, tak lebih dari lima baris, seperti pesan yang ditulis dengan tergesa lalu langsung dikirim.
*Rat, aku sudah cek. Dia belum tahu kamu pindah ke Magelang. Tetap jangan pakai nama lamamu di sekolah anak itu.*
*Rat, jangan transfer ke rekening yang sama lagi. Mereka mulai memantau. Aku ganti jalurnya, nanti kukabari.*
*Rat, Dimas kelas satu SMP sekarang? Jangan lupa, jangan sebut nama bapaknya di depan siapa pun, bahkan guru.*
Dimas mengambil satu surat dari tumpukan itu dan membacanya dua kali. Suaranya menegang.
"Dewi," katanya. "Ibu pernah menyebut nama Dewi. Teman lamanya di Cilacap, katanya. Aku pikir dia teman kerja di pabrik."
"Ipda Ratna Kusuma Dewi," kata Laras. "Namanya sama dengan nama Bulik. Ratna."
"Karena Ibu saya yang memintanya pakai nama lain di rapat-rapat." Dimas menunjuk salah satu surat. "Di sini tertulis, *Biar nama kita tidak tertukar kalau mereka menyadap, aku pakai nama tengahku saja.* Jadi dia memilih dipanggil Dewi."
Hening. Hanya detik jam dinding.
"Dua puluh tahun," bisik Sekar. "Dia mengawasi Bulik dan Dimas dari dalam kepolisian selama dua puluh tahun. Dan Darmawan mengira dia salah satu informannya."
"Atau kebalikannya," kata Bima. Ia tidak lagi bersandar. "Dia benar-benar bekerja untuk Darmawan, dan semua surat ini cuma alat supaya Bulik Ratna merasa aman. Kita tidak tahu."
"Bim."
"Mbak, hari ini sudah tiga orang yang kita kira penolong ternyata punya rahasia." Ia menunjuk Pak Surya tanpa menoleh. "Aku mau dengar suaranya sebelum percaya."
Tak ada yang membantah.
---
Surat paling bawah bertanggal Mei tahun lalu, dua bulan sebelum Ratna meninggal. Amplopnya lebih tebal dari yang lain dan ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalamnya. Sekar membukanya perlahan dan sebuah kartu nama kecil meluncur keluar, jatuh berputar di atas taplak meja.
Tak ada nama. Hanya satu nomor telepon yang ditulis tangan di sisi belakangnya.
Lembar suratnya hanya tiga kalimat.
*Rat. Kalau Hartono sudah tiada dan kamu sudah tidak ada, suruh anak-anakmu menelepon nomor ini. Hanya setelah itu. Aku sudah menunggu dua puluh lima tahun, aku bisa menunggu sedikit lagi.*
Dimas meletakkan surat itu dengan hati-hati. Ia menatap kartu itu seakan benda itu bisa menggigit.
"Pakai pengeras suara," kata Ibu. "Semua orang harus dengar."
Dimas mengetik nomornya di ponsel. Dering pertama. Kedua. Ketiga. Pada dering keempat, tepat ketika Laras mengira tak akan ada jawaban, sambungan terbuka tanpa suara selama dua detik.
"Siapa?" suara perempuan, rendah, serak, tenang.
"Ini ... Dimas Prasetyo." Dimas menelan ludah. "Anak Ratna. Saya menelepon nomor dari surat ..."
"Jangan sebut apa pun lagi."
Dimas terdiam.
"Kamu di rumah Hartono? Berapa orang?"
"Delapan."
"Ada orang kepolisian di antara kalian?"
"Tidak."
"Ada Surya?"
Pak Surya menegang di dekat pintu. Dimas melirik ke arahnya. "Ada."
"Bagus." Perempuan itu menghembuskan napas panjang di ujung sana, seperti orang yang baru menurunkan beban dari bahu. "Dengar baik-baik karena aku hanya akan mengatakannya sekali. Aku Dewi. Ratna Kusuma Dewi, kalau kalian sudah membaca daftar itu. Aku bukan anak buah Darmawan. Aku di dalam sana atas perintah seseorang yang sudah lama meninggal, dan perintahnya belum selesai."
"Siapa yang memerintah?" tanya Laras.
"Hartono." Jawabannya seperti pukulan. "Dua puluh lima tahun lalu dia menemuiku di warung kopi dekat terminal. Aku polisi baru dua tahun, masih naif. Dia minta aku masuk ke lingkaran Darmawan dengan nama samaran dan mencatat semuanya, orang demi orang."
"Bapak ... menyuruh Ibu menyusup?" Sekar berbisik.
"Bukan menyuruh. Memohon." Suara itu melembut sedikit. "Dia bilang dia tidak tahu harus minta tolong siapa lagi."
Ibu memejamkan mata. Laras melihat jemarinya mengusap pelan ujung taplak meja.
"Dengar," lanjut Dewi, kembali tegas. "Kalian sedang memegang buku besar Darmawan salinan Surya. Jangan serahkan ke Polda, jangan serahkan ke Ratih Wulandari. Ayahnya ada di buku itu, tapi bukan alasan utamanya. Ratih sendiri baru saja menerima transfer dari rekening bayangan Sentosa Karya, dua hari sebelum pemakaman Hartono. Aku sudah memeriksa."
"Dua hari sebelum?" ulang Bima.
"Pagi sebelum kalian membaca wasiat, dia sudah tahu semuanya." Dewi berhenti sebentar. "Itu sebabnya dia tiba di Sentosa Tower tepat waktu."
Laras merasa tengkuknya dingin. Ratih datang bukan karena panggilan video itu. Ia datang karena sudah diberi tahu.
"Tapi Darmawan ditahan," kata Dimas. "Kenapa dia mengirim polisi sendiri untuk menangkap majikannya?"
"Karena Darmawan sudah selesai." Suara Dewi dingin. "Dia terlalu emosional. Terlalu banyak bicara. Orang-orang yang membayarnya, yang sebenarnya, tidak mau dia membuka mulut lebih jauh, jadi mereka membiarkan dia jatuh dengan caranya sendiri."
"Orang-orang yang membayarnya?" Laras mencondongkan badan ke arah ponsel. "Darmawan bukan yang paling atas?"
"Darmawan itu perantara, Nak. Dia mengurus uang, tanah, dan mulut. Yang membuat semua ini mungkin adalah orang lain, orang yang tidak pernah turun ke lapangan, dan sudah tiga puluh tahun menikmati hasilnya dari jauh." Dewi menarik napas. "Dan Hartono tahu siapa orangnya. Dia menyimpan namanya di tempat yang tidak ada di buku besar Surya."
Pak Surya melangkah maju dengan wajah pucat. "Bu Dewi, saya menyalin semuanya. Setiap halaman. Tidak ada yang saya lewatkan."
"Kamu menyalin semua yang *Hartono suruh* kamu salin, Surya." Nada Dewi tidak kasar, hanya lelah. "Halaman empat puluh satu sampai enam puluh di buku aslinya sudah dirobek, jauh sebelum kamu menyentuhnya. Hartono sendiri yang melakukannya, empat belas tahun lalu."
"Kenapa?" tanya Ibu, nyaris tanpa suara.
Hening yang panjang di ujung sana. Lalu suara Dewi turun menjadi bisikan.
"Karena nama yang tertulis di halaman-halaman itu bukan orang luar, Wulan. Itu orang yang selama ini duduk di meja makan kalian."
Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bernapas.
Dan di ujung sambungan, sebelum telepon terputus dengan satu bunyi klik pendek, Dewi menambahkan satu kalimat terakhir:
"Besok subuh, jam lima, di warung depan stasiun lama. Datang berdua saja, Dimas dan Laras. Jangan beri tahu siapa pun di ruangan itu, termasuk orang yang paling kalian percaya."
Laras perlahan mengangkat pandangan dari ponsel yang sudah gelap. Ia melihat Ibu, Sekar, Bima, Pak Surya, Dimas, satu per satu. Delapan wajah di bawah lampu kuning yang sama.
Dan satu di antara mereka, ia tiba-tiba sadar, sedang menghindari tatapannya.