Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam semakin larut ketika Jingga tiba di sebuah penginapan sederhana yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Ia sengaja memilih tempat itu karena belum memiliki cukup keberanian untuk menghubungi siapa pun, bahkan teman-teman dekatnya sendiri.
Setelah membayar kamar untuk beberapa malam, Jingga membawa kopernya ke lantai dua. Langkahnya terasa berat, karena hatinya masih dipenuhi berbagai hal yang belum selesai. Ia baru saja meninggalkan rumah suaminya. Rumah yang selama ini ia pertahankan meskipun berkali-kali membuatnya menangis.
Begitu pintu kamar tertutup, Jingga meletakkan koper di dekat lemari, kemudian duduk di tepi tempat tidur. Ruangan itu tidak terlalu luas. Hanya ada sebuah tempat tidur, lemari kecil, meja, dan kamar mandi di sudut ruangan. Namun anehnya, Jingga merasa lebih nyaman berada di tempat asing itu daripada kembali ke rumah keluarga Cendana.
Setidaknya, tidak ada seorang pun di sini yang akan menuduhnya tanpa bukti. Tidak ada yang akan membandingkan kesedihannya dengan kesedihan orang lain. Dan tidak ada Rangga yang akan datang hanya untuk menyalahkannya.
Jingga mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Rangga, disusul pesan-pesan yang masuk sejak ia meninggalkan rumah.
Awalnya, Jingga sempat berharap pria itu akan menanyakan keadaannya atau sekadar memastikan dirinya sampai dengan selamat. Namun, harapan itu kembali hancur setelah ia membuka pesan terakhir.
Rangga: [Jangan mempermalukan keluarga Cendana dengan tingkah kekanak-kanakanmu. Pulanglah besok pagi dan minta maaf kepada Mama karena sudah membantahnya tadi.]
Jingga membaca pesan itu berulang kali. Lalu ia tertawa kecil, meskipun matanya terasa panas. Bahkan setelah istrinya pergi, Rangga masih saja memikirkan nama baik keluarganya. Tidak sedikit pun pria itu bertanya apakah Jingga memiliki tempat untuk tidur malam ini.
Jingga mengetik balasan singkat.
[Besok aku akan mengurus perceraian kita.]
Setelah mengirim pesan itu, ia langsung mematikan ponselnya.
Untuk sesaat, ia hanya duduk diam sambil memandangi layar yang mulai gelap. Kata perceraian ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan ketika diucapkan. Justru yang sulit adalah menerima kenyataan bahwa pernikahannya sendiri telah sampai pada titik itu.
Dua tahun lalu, ia menikahi Rangga dengan penuh keyakinan. Ia percaya bahwa pria itu akan menjadi tempatnya pulang, orang yang akan menemaninya melewati hari-hari sulit, dan ayah yang baik bagi anak-anak mereka kelak.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dirinya harus meninggalkan rumah dengan sebuah koper dan hati yang penuh luka.
Jingga merebahkan tubuhnya. Ia ingin tidur, tetapi setiap kali memejamkan mata, bayangan putranya kembali muncul. Ia teringat suara tangisan kecil yang dahulu selalu menyambutnya sepulang bekerja. Ia juga teringat bagaimana Rangga pernah menggendong anak mereka sambil tertawa, berjanji akan menjadi ayah terbaik di dunia.
Ke mana semua janji itu pergi?
Mengapa pria yang sama kini seolah tidak peduli lagi?
Jingga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malam itu, ia menangis sampai kehabisan tenaga. Tidak ada yang mendengar isakannya, tidak ada pula yang datang untuk menghiburnya.
Namun, sebelum akhirnya tertidur, Jingga membuat janji kepada dirinya sendiri. Ia tidak akan kembali hanya karena merasa kesepian. Ia juga tidak akan membatalkan perceraian hanya karena Rangga tiba-tiba bersikap manis. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukannya seolah dirinya tidak memiliki harga diri.
Keesokan paginya, Jingga terbangun. Untuk beberapa detik, ia lupa berada di mana. Ia bahkan sempat menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong, mencari sosok Rangga seperti kebiasaannya selama dua tahun terakhir.
Namun, kamar itu tetap sunyi.
Tidak ada Rangga, ataupun suara langkah kaki dari kamar mandi. Tidak ada aroma kopi yang biasanya disiapkan suaminya ketika mereka sedang berada dalam masa-masa bahagia. Jingga duduk perlahan, kenyataan kembali menyadarkannya bahwa ia telah meninggalkan rumah mereka.
Setelah mandi dan berganti pakaian, ia memeriksa ponselnya. Ada belasan panggilan dari Rangga dan beberapa pesan baru dari ibu mertuanya.
Pesan pertama meminta Jingga segera pulang. Pesan kedua menyuruhnya berhenti mempermalukan keluarga. Sementara pesan terakhir justru membuat Jingga mengernyit.
[Jingga, Mama kecewa sekali dengan sikapmu. Dira sampai merasa bersalah karena pertengkaran kalian. Seharusnya kamu bisa lebih dewasa dan tidak membawa masalah pribadi ke hadapan semua orang.]
Jingga membaca pesan itu dengan wajah datar. Bahkan sekarang, Dira masih menjadi orang yang harus dijaga perasaannya.
Jingga meletakkan ponsel di atas meja, ia tidak ingin membalas. Percuma saja menjelaskan sesuatu kepada orang yang sejak awal sudah memutuskan siapa yang bersalah. Hari itu, ia harus mengurus hidupnya sendiri.
Ia menghubungi seorang teman bernama Maya, yang bekerja bersamanya di rumah sakit swasta. Jingga tidak menceritakan seluruh masalahnya melalui telepon. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya membutuhkan bantuan untuk mencari tempat tinggal sementara.
“Datang saja ke rumah sakit nanti siang. Aku sedang tidak terlalu sibuk. Kita bisa bicara,” Maya tidak banyak bertanya.
Jingga merasa sedikit lega, masih ada seseorang yang bersedia mendengarkannya tanpa langsung menghakimi.
Sebelum pergi, Jingga memastikan semua dokumen penting sudah tersimpan di dalam tas. Ia membawa kartu identitas, buku tabungan, beberapa dokumen pernikahan, serta surat-surat yang berkaitan dengan putranya.
Ketika memegang akta kelahiran anaknya, jari-jarinya sempat berhenti. Nama kecil itu masih tertulis dengan jelas. Anak yang pernah menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan kini hanya bisa ia peluk melalui kenangan.
Jingga mencium kertas tersebut sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas.
“Doakan Bunda kuat, ya, Nak,” bisiknya.
Lalu ia melangkah keluar dari penginapan.
Sementara itu, di rumah keluarga Cendana, Rangga duduk di ruang makan dengan wajah muram. Sejak pagi, suasana hatinya buruk karena Jingga tidak kunjung menjawab teleponnya.
Ia mengira istrinya hanya ingin membuatnya merasa bersalah. Selama ini, Jingga memang selalu mudah luluh setiap kali ia membujuknya, sehingga Rangga tidak pernah benar-benar percaya bahwa wanita itu sanggup pergi untuk selamanya.
“Jingga belum pulang?” tanya Bu Farah sambil duduk di hadapannya.
“Belum, Ma.”
“Kamu sudah mencoba menghubunginya?”
“Sudah. Dia malah mengirim pesan soal perceraian.”
Bu Farah langsung meletakkan sendoknya. “Perceraian? Dia pikir masalah rumah tangga bisa diselesaikan semudah itu?”
“Makanya, aku bilang dia sedang mencari perhatian.” Rangga mengusap wajahnya dengan kasar.
Dira yang duduk di sebelah Bu Farah hanya diam. Sejak tadi, ia tampak tidak tenang. Meski tidak pernah mengatakannya secara terbuka, Dira tahu bahwa keberadaannya telah menjadi salah satu penyebab keretakan rumah tangga Rangga.
Namun, ia juga tidak ingin kehilangan perhatian pria itu.
“Rangga, mungkin sebaiknya kamu bicara baik-baik dengannya,” ucap Dira akhirnya. “Jangan sampai masalah ini semakin besar.”
Rangga menoleh kepadanya. “Kamu tidak perlu memikirkan Jingga, aku yang akan mengurusnya.”
Jawaban pria itu membuat Dira terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara Rangga yang terdengar begitu meyakinkan, seolah pria itu benar-benar yakin Jingga akan kembali kapan saja.
Bu Farah mengangguk setuju. “Betul. Biarkan saja dia menenangkan diri. Nanti juga pulang sendiri.”
Rangga kembali mengambil ponselnya. Ia membuka percakapannya dengan Jingga, lalu membaca pesan tentang perceraian yang dikirim wanita itu semalam.
Awalnya, ia ingin langsung menelepon dan memarahinya. Namun, sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Jika Jingga benar-benar mengajukan gugatan cerai, apa yang akan dikatakan keluarga besar mereka? Bagaimana jika kabar itu sampai kepada rekan bisnis ayahnya? Dan bagaimana jika orang-orang mulai membicarakan alasan di balik keretakan rumah tangga mereka?
Rangga mengatupkan rahangnya. Ia tidak peduli jika Jingga menangis atau terluka, tetapi ia tidak ingin nama keluarga Cendana tercoreng.
“Dia tidak akan berani,” gumamnya.
Sayangnya, Rangga tidak tahu bahwa wanita yang selama ini selalu mengalah itu sudah mulai mengurus segala sesuatu untuk meninggalkannya. Ia juga tidak tahu bahwa Jingga tidak sedang menunggu suaminya berubah pikiran.
Jingga sedang belajar hidup tanpa dirinya. Dan ketika Rangga akhirnya menyadari bahwa ancaman perceraian itu bukan sekadar ucapan, semuanya mungkin sudah terlambat.
Sebab, seseorang yang terus-menerus disakiti bisa saja bertahan selama bertahun-tahun. Namun, ketika hatinya benar-benar menyerah, tidak ada janji manis yang cukup untuk membuatnya kembali.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu