NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPUTUSAN AKHIR DAN AWAL YANG BARU

Langkah kaki Xiao Luo terasa jauh lebih ringan begitu ia melangkah keluar dari ruang HRD. Surat pengunduran dirinya telah resmi ditandatangani, menyisakan hak gaji proporsional yang akan ditransfer dalam beberapa hari ke depan.

Tas kerjanya kini sudah kosong, hanya berisi beberapa barang pribadi dan sebuah botol minum kecil.

​Bagi sebagian orang, kehilangan pekerjaan di perusahaan sebesar Huang Group di tengah kota metropolitan adalah sebuah bencana besar. Namun bagi Xiao Luo, ini adalah pintu keluar yang sempurna.

​Ia sudah bertekad untuk membantu keluarga Shen menjalani kehidupan yang layak di pulau pengasingan. Meskipun berasal dari dimensi yang berbeda, Xiao dengan tulus menganggap mereka sebagai keluarga.

​Jika ia hanya mengandalkan gaji sebagai seorang office girl, ia tidak yakin bisa berbuat banyak. Terlebih lagi, waktu yang dimilikinya akan sangat terbatas.

Bagaimana ia bisa membagi waktu jika masih terikat pekerjaan di sana? Terlebih setelah ia resmi menggunakan identitas Xin Xia, mobilitasnya pasti akan semakin sempit.

​Ia tidak bisa lagi terus-menerus bekerja di bawah telunjuk orang lain. Ia harus mandiri dan membangun usahanya sendiri.

​Di pulau pengasingan, pasti ada banyak sumber daya melimpah yang bisa ia manfaatkan—entah itu hasil laut ataupun hasil hutan. Urusan membuat kain sulaman indah pun bisa menjadi nilai tambah tersendiri.

​Sementara itu, Sekretaris He berdiri di samping lift, mengantar kepergian mantan bawahannya dengan tatapan campur aduk.

​"Xiao Luo," panggil Sekretaris He sesaat sebelum pintu lift berdenting terbuka. "Meskipun cara keluarmu tergolong nekat, aku harus mengakui... nyalimu cukup besar."

​Xiao Luo tersenyum tipis. "Terima kasih untuk semuanya selama ini, Nona He. Anda atasan yang baik."

​Pintu lift tertutup perlahan, membawa Xiao Luo turun menuju lantai dasar. Di dalam hatinya, ia merasa terbebas dari beban berat. Tidak ada lagi lantai marmer licin yang harus ia pel, tidak ada lagi tatapan sinis para sosialita pencemburu, dan yang terpenting: ia kini memiliki waktu penuh untuk mempersiapkan rencana besar di malam lusa.

​Setibanya di rumah, ia langsung membersihkan diri dan mandi. Pikirannya berputar kencang, menyusun daftar kebutuhan yang sangat krusial. Ia harus benar-benar siap.

​Keesokan harinya, Xiao Luo bangun agak siang karena tidak lagi terikat jam kerja. Usai sarapan, ia segera keluar untuk berbelanja kebutuhan khusus.

​Ia membutuhkan pakaian bergaya kuno yang pas untuk penyamarannya.

Selain itu, ia juga memborong berbagai macam obat-obatan dan vitamin sebagai persediaan di pulau. Ia tahu betul, berendam di air laut pada tengah malam pasti sangat dingin; persiapannya harus sempurna agar ia tidak jatuh sakit.

​Malam menunjukkan pukul 23.45 waktu setempat. Xiao Luo sudah tiba sedari tadi di pulau pengasingan lewat jalur rahasia: sumur ajaib yang menjadi jembatan penghubung antara zaman modern dan masa lalu.

​Sejak beberapa jam lalu, Xiao Luo telah melakukan persiapan matang dibantu oleh keluarga Shen dan keluarga Xin. Shen Munchen—yang kini menggunakan nama samaran Da Bao—telah menjelaskan seluruh rencana skenario ini kepada kedua keluarga tersebut.

​Di luar pos jaga, angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam dan debu pelabuhan yang pekat. Suara deburan ombak memecah keheningan malam, menghantam dinding-dinding karang di bibir pantai tak jauh dari pos jaga.

​Di dalam pos jaga berukuran kecil itu, Da Bao tampak mondar-mandir gelisah sambil berulang kali melirik jam saku kuno miliknya. Pikirannya berkecamuk hebat.

​Meskipun ia sendiri yang merancang skenario ini, risiko kegagalannya terlampau tinggi. Jika para pengawas pantai atau patroli malam mencurigai gerak-geriknya malam ini, seluruh penyamaran mereka akan hancur lebur dalam sekejap.

​Titt... Titt...

​Dari kejauhan dalam kegelapan dermaga luar, sebuah sinyal lampu senter berkedip tiga kali—tanda kesepakatan mereka.

​Mata Da Bao menyipit tajam. Ia

segera memutar otak mencari alibi, lalu menoleh ke arah rekan-rekan sesama penjaga di dalam pos.

​"Paman, aku mau jalan-jalan sebentar ke luar ya. Apa kalian mau ikut?" tanyanya pura-pura santai.

​"Malas... dingin begini," jawab salah seorang rekan kerjanya.

​Da Bao tersenyum tipis. "Malam-malam begini biasanya banyak ikan yang mendekat ke tepi pantai, lho."

​Seorang petugas lain menyahut, "Kalian sedang ngobrol apa sih, kok sepertinya seru sekali?"

​"Ketua!" sapa Da Bao ramah. "Kami hanya sedang mengobrol santai. Aku bilang malam-malam begini asyik kalau cari ikan di pantai."

​Ketua regu itu bangkit dari duduknya. "Kebetulan aku juga penat. Mari kita ke sana bersama-sama."

​"Baiklah, Ayo!"

​Akhirnya, lima orang anggota pos jaga berjalan bersama menuju arah pantai. Setibanya di dekat garis pantai, sayup-sayup mereka dikejutkan oleh suara rintihan dan teriakan lemah.

​"Tolong...!"

​Tanpa pikir panjang, Da Bao langsung berlari mendahului yang lain. Begitu pula rekan-rekannya yang lain, meski kecepatan Da Bao jauh melampaui mereka.

​"Sial, dingin sekali..." rintih seseorang dengan napas terengah-engah begitu Da Bao tiba di batas pasir basah.

​Sosok itu muncul dari balik gulungan ombak kecil. Pakaiannya basah kuyup, rambut panjangnya menempel di dahi, dan ia tampak menggigil hebat. Namun, di balik akting kepayahan itu, binar mata Xiao Luo tetap tajam dan penuh perhitungan.

​Sesuai instruksi, ia mengenakan pakaian harian sederhana yang sengaja dibuat mirip dengan kepunyaan Shen Tingting.

​Da Bao dengan sigap melepas jaket tebalnya, lalu menyelimuti tubuh Xiao Luo yang bergetar hebat karena dingin.

​"Kau datang tepat waktu," bisik Da Bao dengan nada cemas yang dibuat-buat, seraya merangkul bahu Xiao Luo dan menuntunnya menjauhi terjangan ombak agar terlihat seperti korban selamat yang kelelahan. "Aktingmu luar biasa."

​Xiao Luo mendengus pelan di balik selimut tebal, berusaha mengatur napasnya agar terdengar natural. "Jangan banyak memuji. Air laut ini benar-benar sedingin es! Kalau aku sampai masuk angin parah, kau harus bertanggung jawab sepenuhnya, Da Bao."

​Mendengar nama panggilannya disebut dengan nada protes yang tertahan, Da Bao justru tersenyum miring di tengah temaram malam. Ia semakin merapatkan rangkulannya, membawa Xiao Luo mendekati rekan-rekannya yang baru saja tiba.

​Ketua regu dan para penjaga membelalakkan mata melihat kondisi gadis itu.

​"Sepertinya dia benar-benar terdampar dari kapal yang malang. Lihat, ada pecahan perahu di sampingnya," ujar salah satu penjaga menunjuk puing-puing kayu.

​"Apa dia pingsan?" tanya yang lain.

​Da Bao mengangguk cepat. "Benar. Waktu aku tiba tadi, dia sudah terkulai pingsan. Sekarang bagaimana, Ketua? Apa aku harus membawanya, atau membiarkannya mati saja di sini?"

​Ketua regu melirik Xiao Luo dari atas ke bawah, lalu terkekeh kecil. "Bukankah beberapa waktu lalu kamu bilang ingin mencari istri? Kalau gadis ini berwajah lumayan, kenapa tidak kau ambil dan nikahi saja?"

​"Kalau dia memang jodohku dan mau menerimaku, sih, tidak masalah," jawab Da Bao pura-pura salah tingkah.

​Ketua regu melambaikan tangan mengabaikan.

"Sudahlah, jangan banyak tanya lagi. Bawa dia ke tempatmu untuk dihangatkan. Besok pagi kita bicarakan lagi soal ini."

1
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍😍😍
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
lanjut thor
Fauziah Daud
trusemangattt
kaylla salsabella
kamu di cari tuan muda xiao Lou🤭🤭🤭
kaylla salsabella
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
kaylla salsabella
sabar nyonya tua
kaylla salsabella
hayo jodoh xiao Lou tuan muda atau jendral muchen
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
upnya jgn lma2 thor yg busnyk n hrs tiap hri sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪 n makacih tuk upnya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!