NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pagi itu Kila memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri, meskipun hari liburnya masih ada beberapa hari lagi. Tinggal di rumah besar yang sepi itu hanya akan membuatnya semakin memikirkan masalah Papa Adrian dan Mama Lidya. Dindingnya terlalu banyak menyimpan suara pertengkaran.

Kila berjalan keluar kamar menuruni tangga marmer, terlihat Mama Lidya dan Kak Elvar di ruang makan bersiap untuk sarapan. Tas ranselnya sudah tergantung di punggungnya, helm di tangan.

"Ehh mau kemana udah siap-siap aja pagi-pagi begini? Pakai tas segala?" tanya Kak Elvar yang melihat tas itu, kaget.

"Mau balik, Kak," kata Kila lesu, suaranya pelan.

"Kok udah mau balik, bukannya hari libur kamu masih ada beberapa hari lagi?" kata Kak Elvar bingung, karena memang dia tidak tahu apa yang terjadi kemarin di mall dan di ruang tengah. Dia pulang malam setelah Kila tertidur menangis.

"Hmm iya Kak, tapi aku udah kangen sama teman-teman ku di sana, kangen rumah juga," jawab Kila mencoba mencari alasan, padahal dia sudah tidak bisa lagi berada di rumah itu karena setiap sudutnya selalu mengingatkannya pada kejadian kemarin. Kursi kosong Papa, tangisan Mama.

"Yaudah sayang kalau gitu kamu sarapan dulu habis itu baru berangkat. Jangan perut kosong bawa motor jauh," kata Mama Lidya tersenyum lembut seperti mengerti apa yang sedang Kila pikirkan. Tatapan Mama penuh arti, tidak memaksa.

"Eh kok tumben Mama nggak nahan adek buat balik, biasanya juga Mama nahan-nahan sampai nangis," celoteh Kak Elvar bingung melihat sikap Mama Lidya yang tak biasa, yang biasanya dramatis kalau Kila mau pulang.

"Kan tadi adek kamu udah bilang kangen sama teman-teman nya, Elvar. Biarin aja, rumahnya kan memang di sana sekarang," jawab Mama Lidya singkat, mengelus punggung Kila.

Kak Elvar hanya mengernyitkan dahi, benar-benar tak habis pikir dengan dua wanita di depannya yang tiba-tiba kompak menyembunyikan sesuatu. Kila tidak menghiraukan Kak Elvar, dia memilih untuk mulai memakan makanannya tanpa berkata sepatah kata pun, menunduk.

**_

Setelah sarapan Kila pun pamit pada Mama Lidya dan Kak Elvar di teras depan.

"Ma, Kak Elvar, aku pamit ya," kata Kila sembari mencium punggung tangan Mama Lidya dan Kak Elvar dengan takzim.

"Kamu beneran udah mau balik? Mau Kakak antar nggak pakai mobil?" tawar Kak Elvar masih berusaha.

"Nggak usah Kak, kalau Kakak nganterin aku, gimana sama motor ku? Nanti motor aku kangen," jawab Kila mencoba bercanda.

"Kalau masalah motor mah gampang, nanti suruh orang aja nganterin motor kamu ke sana. Udah gampang itu."

"Nggak usah lah Kak, ngerepotin orang aja, lagian aku udah biasa kan bawa motor sendiri jauh. Aman kok," kata Kila menolak tawaran Kak Elvar dengan halus.

"Ya udah sayang, hati-hati di jalan. Kalau udah nyampe, jangan lupa kabarin Mama ya. Video call Mama," kata Mama Lidya memeluk Kila lama.

"Iya Ma, yaudah aku berangkat ya, dah Mama, dah Kak Elvar," kata Kila sembari melambaikan tangan dan tersenyum ke arah mereka, senyum yang dipaksakan agar Mama tidak khawatir.

Kila sudah berada di atas motornya dan siap untuk berangkat. Dia pun melajukan motornya meninggalkan rumah besar itu. Dari kaca spion motor, dia melihat bayangan Mama Lidya dan Kak Elvar yang melambaikan tangan di gerbang. Rasanya berat banget meninggalkan mereka, tapi lebih berat lagi kalau harus terus berada di rumah itu dengan luka yang masih menganga. Bayangan mereka pun semakin lama semakin kecil dan akhirnya menghilang dari pandangan, tertutup tikungan.

_*_

Hari itu cuaca sedikit mendung, langit abu-abu. Kila terus melajukan motornya dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dari biasanya, takut kalau-kalau nanti kehujanan di jalan yang sepi. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, tiba-tiba hujan turun. Awalnya tidak begitu deras jadi Kila terus melanjutkan perjalanan, namun lama kelamaan hujan semakin deras, anginnya kencang. Kila pun memutuskan untuk berhenti dan berteduh. Terlihat ada halte bus tua yang sepi seperti tak pernah dipakai lagi, catnya sudah pudar, dia pun menghentikan motornya dan berteduh di sana.

"Wahh hujannya deras banget, aku juga nggak bawa jaket apalagi mantel hujan. Haduh Kila ceroboh banget sih," gumam Kila pada dirinya sendiri sembari mengulurkan tangannya untuk merasakan tetesan air hujan yang dingin.

Cukup lama Kila berdiri di tempat itu sendirian, memeluk dirinya sendiri kedinginan, tiba-tiba sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depannya. Mobil SUV hitam yang elegan. Kila seperti mengenali mobil itu, tapi dia tidak ingat itu mobil siapa. Dia mencoba melihat ke dalam mobil namun tidak tampak siapa yang ada di dalam, kaca filmnya gelap, yang terlihat hanya bayangannya sendiri yang basah kuyup terpantul di kaca.

"Ngapain di situ?" tanya suara berat yang sangat familiar dari dalam mobil itu, setelah kaca mobil diturunkan perlahan.

Kila kaget bukan main, jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, seperti mau loncat. Dia terdiam beberapa saat, tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat itu. Bapak Dosen yang sudah beberapa hari tidak dia temui, yang selalu muncul di pikirannya, tiba-tiba berada di depannya di halte sepi ini.

"Saya tuh nanya, kamu ngapain di situ sendirian?" tanyanya lagi, dengan suara khasnya yang dingin, datar, tapi ada nada khawatir samar.

"Hah? Iya Pak? Saya lagi berdiri Pak, eh maksudnya saya lagi berteduh Pak soalnya hujannya deras banget," jawab Kila tak karuan, gugupnya langsung menjadi-jadi, salah tingkah. Pipinya memerah meski kedinginan.

Pak Rhaegar pun mematikan mesin mobil dan turun dari mobil, berjalan menghampiri Kila di halte. Tinggi, rapi dengan kemeja putih yang sedikit basah di ujung lengan, bahkan di tengah hujan deras sekalipun auranya tetap rapi dan wibawa.

"Kamu dari mana? Kok bisa ada di sini? Naik motor hujan-hujanan gini?" kata Pak Rhaegar setelah berada di samping Kila di halte sempit itu, menatapnya tajam.

"Saya habis dari rumah orang tua saya, Pak. Di kota sebelah. Mau balik ke rumah saya," jawab Kila masih dalam keadaan gugup, menunduk tidak berani menatap mata Pak Rhaegar.

"Kamu nggak bawa mantel lagi?" katanya dengan tatapan tajam yang menghakimi tapi peduli.

"Hehehe, iya Pak saya lupa bawa," kata Kila cengengesan, menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Kan udah dibilangin kalau bawa motor jangan lupa bawa mantel. Ngeyel," kata Pak Rhaegar, nadanya seperti dosen menghukum mahasiswa.

"Iya Pak, kan lupa. Lupa beneran," jawab Kila pelan.

Tanpa banyak bicara, Pak Rhaegar tiba-tiba membuka jaket hitam kulit yang dipakainya dan dengan gerakan cepat memakaikannya pada Kila. Jaketnya masih hangat.

Dunia Kila berhenti berputar.

Wangi parfumnya yang tidak menyengat, tapi maskulin, woody dan mahal, langsung menyusup ke hidung Kila. Jaket itu kebesaran, lengannya kepanjangan sampai menutupi setengah tangannya, hangat, masih menyimpan panas tubuh Pak Rhaegar. Rasa bahagia tiba-tiba menyusup masuk memenuhi ruang di hatinya yang kemarin remuk karena Papa Adrian. Jantungnya berdegup tidak karuan.

"Makasih, Pak. Oiya Bapak mau kemana? Kok lewat sini juga?" kata Kila setelah memakai jaket pemberian Pak Rhaegar, berusaha menutupi debaran jantungnya yang keras, menarik resleting jaket sampai atas.

"Kenapa nanya-nanya?" jawabnya dingin, kembali ke mode kulkas.

_Ishhh nih orang ya, pinter banget ngaduk-ngaduk perasaan orang, tadi bersikap manis sekarang dingin banget kayak kulkas tujuh pintu, freezer sekalian!_ gumam Kila, manyun di balik jaket kebesaran.

"Kamu bilang apa?" tanya Pak Rhaegar, seolah mendengar gumaman itu, menoleh tajam.

"Ehhh nggak kok Pak, nggak bilang apa-apa! Sumpah!" jawab Kila cepat, panik.

"Pak, saya boleh nanya nggak?" kata Kila memberanikan diri meskipun dia benar-benar gugup saat itu, memeluk jaket itu erat.

"Hmm, apa?" katanya masih dengan sikap dinginnya, tangan masuk saku celana.

"Kok Bapak mau bantuin saya?"

"Siapa yang mau bantuin kamu? Aku cuma mau berteduh juga," jawab Pak Rhaegar enteng, mengalihkan pandangan ke hujan.

"Hah? Kan Bapak bawa mobil, ngapain juga berteduh? Kan di dalam mobil juga nggak kehujanan," jawab Kila heran mendengar alasan Pak Rhaegar yang tidak masuk akal.

"Hujannya deras banget, jadi jalanan nggak terlihat jelas. Bahaya nyetir," jawabnya masih ngeles.

"Emmm, masa sih, terus kenapa Bapak ngasih saya jaket? Kan Bapak jadi kedinginan?"

"Nggak ngasih, cuma dipinjamkan. Balikin nanti," katanya tegas pada kata dipinjamkan, menekankan.

"Ishh ya gitu maksudnya Pak, kenapa Bapak pinjamkan saya jaket Bapak? Baik banget?"

"Kenapa memangnya, nggak mau? Mau saya ambil lagi?" katanya menatap Kila dengan tatapan tajam yang membuat lutut Kila lemas seketika, tapi ada kilatan jahil di matanya.

"Nggak gitu Pak maksudnya! Mau! Mau banget! Hangat kok!" kata Kila menundukkan kepalanya, wajahnya memerah seperti kepiting rebus di balik jaket hitam itu.

"Hmm, ya udah hujannya udah reda, saya duluan," kata Pak Rhaegar sudah berjalan menuju pintu mobilnya, meninggalkan Kila yang masih mematung.

"Iya Pak, eh maaf Pak jaketnya gimana? Mau saya balikin sekarang?" kata Kila membuka resleting jaket yang dikenakannya tadi bermaksud ingin mengembalikannya.

"Kamu pakai aja dulu, lagian masih sedikit gerimis, lain kali aja balikinnya. Pakai sampai rumah," katanya sudah membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi, menatap Kila sekali lagi.

"Baik Pak, sekali lagi makasih banyak ya Pak."

"Iya, yaudah saya jalan dulu," katanya sudah menyalakan mesin mobilnya, mobil hitam itu meraung halus.

"Iya Pak, hati-hati di jalan."

"Hmm iya, udah sana kamu pulang juga, jangan lama-lama di halte sepi," katanya lagi dengan sikap dinginnya tapi perhatian.

"Iya Pak."

Kila menatap punggung mobil Pak Rhaegar yang semakin lama semakin menjauh, sampai benar-benar hilang ditelan tikungan dan rintik hujan. Setelah memastikan mobil Pak Rhaegar tak terlihat lagi, dia pun memutuskan melanjutkan perjalanan. Dia kembali melajukan motornya di tengah jalan yang basah karena bekas air hujan tadi, dengan jaket hitam kebesaran yang wanginya masih menempel. Di atas motor, Kila tak henti-hentinya tersenyum lebar kala mengingat perlakuan Pak Dosen tampan itu. Senyumnya merekah sampai ke telinga.

Padahal kemarin hatinya hancur berkeping-keping karena keluarga, tapi hari ini, hanya karena sebuah jaket hitam kebesaran yang dipinjamkan, hatinya berbunga lagi seperti taman.

"Huffftt, bikin orang bingung aja sih Pak Rhaegar ini. Dingin tapi hangat. Aneh," kata Kila menghela napas panjang, tapi senyumnya tidak hilang sama sekali, malah makin lebar.

Setelah kurang lebih satu jam lamanya, Kila pun sampai di tempat tujuan, yaitu rumahnya sendiri yang sudah menjadi tempatnya melewati hari-hari selama kurang lebih 4 tahun lamanya, rumah pemberian Kak Elvar yang paling nyaman di dunia. Kila pun masuk dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu, matanya berputar melihat setiap sudut rumah kesayangannya.

"Baru ditinggal beberapa hari sudah banyak banget debu," kata Kila beranjak dari duduknya memutuskan untuk bersih-bersih, masih memakai jaket hitam itu.

_**

"Ahhh akhirnya selesai juga, capek banget," kata Kila setelah selesai bersih-bersih satu rumah, berkeringat tapi puas.

Kila pun memutuskan untuk mandi karena rasanya badannya sudah sangat lengket. Dia berjalan menuju kamar, dengan membawa semua barang yang tadi diletakkan di dekat sofa. Lagi-lagi matanya tertuju pada jaket hitam yang ukurannya lumayan besar untuknya, yang dia letakkan dengan hati-hati di atas kasur, ya itu adalah jaket Pak Rhaegar. Senyumnya kembali merekah, bayangan Pak Rhaegar lagi-lagi menerobos masuk membangkitkan ingatannya. Senyum tipis Pak Rhaegar yang jarang terlihat itu sangat jelas berbekas dalam ingatannya.

Cukup lama dia terhanyut dalam lamunannya sambil memeluk jaket itu, akhirnya dia tersadar dan melanjutkan niatnya untuk mandi, dengan jaket hitam itu masih tergeletak manis di atas kasurnya, menunggu untuk dikembalikan.

Dan menunggu alasan untuk bertemu lagi.

---

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!