Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Benar-benar Move On
Sebenarnya, sejak masih bekerja di rumah sakit, Jihan sudah memiliki keinginan untuk membuka apotek sendiri. Pengalamannya bertahun-tahun sebagai apoteker senior membuatnya cukup memahami bagaimana mengelola usaha di bidang farmasi.
Ia bahkan sudah beberapa kali membayangkan memiliki apotek kecil dengan pelayanan yang ramah dan nyaman bagi pelanggan.
Tidak perlu langsung besar. Baginya, memiliki apotek sendiri saja sudah menjadi pencapaian yang membanggakan.
Jihan mulai menghitung perkiraan modal yang dibutuhkan. Ia mencari tahu harga sewa tempat, biaya perizinan, perlengkapan apotek, hingga kebutuhan awal untuk pengadaan obat-obatan.
Namun, semakin lama menghitung, senyumnya perlahan menghilang.
Ternyata, uang tabungannya masih cukup jauh dari jumlah yang dibutuhkan.
Jihan menyandarkan punggung ke kursi.
"Astaga, ternyata masih banyak juga yang harus disiapkan."
Ia kembali memperhatikan saldo tabungannya.Jihan kemudian membuka beberapa situs pencarian kerja. Ia mulai mencari lowongan sebagai apoteker, terutama di rumah sakit atau perusahaan farmasi yang memiliki lingkungan kerja profesional.
"Untuk sementara, kumpulkan modal dulu. Kalau tabungannya sudah cukup, baru pikirkan membuka apotek sendiri."
Jihan tersenyum kecil.
Setidaknya, sekarang ia memiliki tujuan baru yang bisa diperjuangkan.
Ia tidak ingin lagi menggantungkan kebahagiaannya kepada orang lain. Ia ingin memiliki penghasilan sendiri, membangun usaha sendiri, dan membuktikan bahwa dirinya mampu menjalani kehidupan tanpa harus bergantung kepada siapa pun.
***
Setelah membeli ponsel baru dan memasang kartu SIM dengan nomor yang berbeda, Jihan duduk di salah satu kafe di dalam mall. Di hadapannya, secangkir kopi masih mengepulkan uap tipis, sementara layar ponselnya menampilkan beberapa lowongan pekerjaan yang baru saja ia temukan.
Awalnya, Jihan berniat melamar kembali sebagai apoteker. Dengan pengalaman bertahun-tahun bekerja di instalasi farmasi rumah sakit, ia yakin tidak akan terlalu kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Bahkan, ia sudah mengirimkan beberapa lamaran ke rumah sakit dan perusahaan farmasi.
Namun, ketika hendak mencari lowongan lainnya, tiba-tiba Jihan terdiam.
Ia teringat Hansen.
Pria itu memiliki rumah sakit sendiri, koneksi yang luas, dan cukup banyak cara untuk mencari tahu keberadaannya. Jihan tidak bisa memastikan apakah Hansen akan benar-benar mencarinya, tetapi ia mengenal pria itu. Jika suatu hari Hansen ingin mengetahui tempatnya bekerja, lisensi profesinya bisa menjadi salah satu petunjuk.
Jihan menatap layar ponselnya dengan perasaan tidak tenang.
"Kalau aku tetap bekerja sebagai apoteker, bukankah aku justru memberinya kesempatan untuk menemukanku?" gumamnya pelan.
Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Selama sepuluh tahun menjadi istri Hansen, hidupnya sudah terlalu banyak berputar di sekitar pria itu. Bahkan setelah resmi bercerai, ia masih harus memikirkan kemungkinan Hansen kembali memasuki kehidupannya.
Jihan menggelengkan kepala.
"Tidak. Kali ini aku ingin benar-benar bebas."
Ia tidak membenci profesi yang selama ini ditekuninya. Menjadi apoteker adalah pekerjaan yang ia kuasai dan banggakan. Namun, untuk sementara waktu, ia bersedia meninggalkan dunia tersebut jika itu bisa membantunya memulai hidup baru tanpa bayang-bayang mantan suaminya.
Jihan kembali mengambil ponselnya. Ia membuka situs pencarian kerja dan mulai mencari lowongan di bidang administrasi, pengelolaan dokumen, serta pekerjaan lain yang tidak berkaitan dengan dunia medis.
Penghasilannya mungkin tidak akan sebesar gaji yang biasa ia terima sebagai apoteker senior. Ia juga harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tanggung jawab yang baru. Akan tetapi, Jihan tidak keberatan.
Baginya, mendapatkan ketenangan jauh lebih berharga daripada mempertahankan pekerjaan bergaji besar, tetapi membuatnya terus dihantui ketakutan akan ditemukan Hansen.
Setelah beberapa saat mencari, Jihan menemukan sebuah lowongan staf administrasi di perusahaan distribusi barang. Persyaratannya cukup sesuai dengan kemampuannya. Pengalaman mengelola data obat, menyusun laporan, dan mengatur persediaan selama bertahun-tahun membuatnya yakin bisa mempelajari pekerjaan tersebut.
Tanpa membuang waktu, Jihan mulai mengirimkan lamaran.
Setelah itu, ia menemukan beberapa lowongan lain dan melakukan hal yang sama. Ia tidak berharap langsung mendapatkan pekerjaan. Untuk saat ini, ia hanya ingin berusaha membuka jalan menuju kehidupan yang berbeda.
Selesai mengirimkan lamaran, Jihan mematikan layar ponselnya dan mengembuskan napas panjang.
"Semoga kali ini aku bisa menjalani hidupku sendiri," bisiknya.
Pikirannya sempat melayang pada Hansen. Ada bagian dalam hatinya yang masih merindukan pria itu, tetapi Jihan segera mengingat kembali bagaimana pernikahan mereka berakhir.
Hansen sendiri yang meminta perceraian. Hansen sendiri yang memutuskan bahwa pernikahan mereka harus berakhir.
Karena itu, Jihan tidak ingin lagi mengharapkan apa pun darinya.
Ia bahkan tidak ingin tahu apakah Hansen merindukannya atau tidak. Ia hanya ingin sembuh dari luka yang selama ini disimpannya sendirian.
Setelah menghabiskan kopinya, Jihan meninggalkan kafe dan pulang ke rumah. Sesampainya di sana, ia menyimpan ponsel barunya di atas meja, kemudian berjalan menuju kamar.
Ponsel lamanya masih tersimpan di dalam laci meja rias, dalam keadaan mati. Jihan sempat menatap laci itu beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
Ia tidak berniat menyalakannya kembali.
Nomor lama itu menyimpan terlalu banyak kenangan, termasuk semua percakapan dengan Hansen yang terkadang masih ingin ia baca meskipun hanya untuk menyakiti dirinya sendiri.
Sekarang, Jihan ingin berhenti melakukan hal tersebut.
Ia ingin belajar menjalani hari tanpa menunggu pesan dari seseorang yang sudah bukan lagi suaminya.
Sementara itu, di Jepang, Hansen masih sibuk menangani pasien penting yang menjalani perawatan di rumah sakit tempatnya bertugas sementara. Jadwal operasinya padat, rapat dengan tim medis berlangsung berjam-jam, dan berbagai urusan pekerjaan membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat.
Namun, di sela kesibukannya, pikirannya sesekali kembali kepada Jihan.
Kalung berlian yang dibelinya beberapa hari lalu masih tersimpan dengan baik. Setiap kali melihat kotaknya, Hansen membayangkan bagaimana reaksi Jihan saat menerima hadiah tersebut.
Entah mengapa, ia ingin melihat perempuan itu tersenyum.
Sayangnya, Hansen belum menyadari bahwa Jihan telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia tidak tahu bahwa mantan istrinya sudah berhenti bekerja di rumah sakit tempatnya bernaung, membeli ponsel baru, dan mulai mencari pekerjaan di bidang yang sama sekali berbeda.
Lebih dari itu, Hansen tidak tahu bahwa Jihan sedang berusaha menjauh sejauh mungkin darinya.
Ia masih berpikir bahwa ketika kembali ke Indonesia nanti, ia akan bisa menemui Jihan seperti biasa.
Hansen belum menyadari bahwa kali ini, bukan Jihan yang menunggunya pulang.
Melainkan Jihan yang sedang berusaha meninggalkan seluruh kenangan tentang dirinya.
Bersambung....