NovelToon NovelToon
The Yakuza’S Cold Princess

The Yakuza’S Cold Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: KimiHaruka

Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Es Arktik

​Di panggung tertinggi dunia bisnis Asia Pasifik, nama Itachi Uchiha adalah sebuah mitos tentang kesempurnaan yang dingin. Di usianya yang baru berusia 27 tahun, sang CEO Uchiha Group dijuluki sebagai "Sang Arktik"—sebuah gunung es abadi yang tak tersentuh, bergerak dengan logika matematis yang sempurna, serta ketenangan yang sanggup mengintimidasi jajaran miliarder gaek dalam setiap negosiasi saham.

​Namun, di balik setelan jas tailor-made buatan Brioni dan Tom Ford yang membalut tubuh tinggi tegapnya, Itachi menyimpan dua sisi kehidupan yang berjalan paralel dengan sangat rapi.

​Untuk urusan privat, selera kelas atas Itachi memancar dari deretan aset mewah yang ia miliki. Selain triplex penthouse di Roppongi Hills, sang pria es memiliki lima supercar impian dunia yang terbagi di dua tempat. Dua unit terparkir di garasi privat penthouse-nya—sebuah Koenigsegg Regera (Light Blue Metallic), McLaren Senna (Hitam) —yang biasa ia kendarai sendiri saat membutuhkan ketenangan di jalanan tol layang Tokyo pada tengah malam. Tiga unit lainnya tersimpan di garasi utama kediaman Uchiha: Koenigsegg Jesko (Putih), Pagani Huayra (Blue Carbon), Tesla Cybertruck (Perak), yang kemarin sempat dipinjam oleh Sasuke.

​Di menara lantai lima puluh Uchiha Group di Marunouchi, kelancaran takhta sang Arktik ditopang oleh dua sekretaris utama yang memiliki pembagian peran yang sangat kontras.

​Sekretaris pertama adalah Haneda—pria dingin berusia 30 tahun yang irit bicara. Haneda adalah anggota klan Yakuza Uchiha yang memegang akses langsung ke dunia bawah tanah. Tugas Haneda khusus mengurus dokumen rahasia, pengawalan tingkat tinggi, serta berkoordinasi secara privat dengan Hatake Kakashi dan sang Patriark. Publik hanya mengenal Haneda sebagai kepala pengawal korporat, tanpa pernah tahu bahwa tangan pria itu sama berdarahnya dengan para eksekutor Yakuza.

​Dan sekretaris kedua adalah seorang wanita berusia 27 tahun bernama Izumi.

​Berbeda total dengan atmosfer kaku dan menegangkan di lantai eksekutif, keberadaan Izumi adalah satu-satunya "anomali" di kehidupan Itachi.

​Izumi adalah mantan teman satu angkatan Itachi saat menempuh pendidikan di universitas. Berasal dari keluarga pengusaha kaya di Hiroshima, Izumi sama sekali bukan cewek "aji mumpung" atau pemburu harta. Dengan pendidikan terbaik dan gaji fantastis sebagai sekretaris eksekutif CEO, Izumi secara finansial sangat mandiri. Dia mengenakan pakaian kerja bermerek Chanel dan Dior milik pribadi tanpa perlu menumpang pada kekayaan Uchiha.

​Satu-satunya hal yang membuat staf Uchiha Group heran setengah mati adalah: Izumi sama sekali tidak takut pada Itachi.

​Di saat dekan, direktur, hingga pejabat pemerintah gemetar menatap mata es Itachi, Izumi justru bisa nyelonong masuk ke ruangan sang CEO tanpa ketukan kaku, mengomeli Itachi yang lupa makan siang, atau mengoceh panjang lebar soal hal-hal sepele. Dan anehnya... sang Arktik yang terkenal kejam pada kesalahan sekecil apa pun, selalu melunak dan memanjakan Izumi.

​Satu hal yang tidak pernah diketahui Izumi adalah identitas asli keluarga Uchiha sebagai penguasa Yakuza. Bagi Izumi, Uchiha Group hanyalah konglomerasi bisnis raksasa, dan keluarga Itachi adalah keluarga bangsawan lama yang terpandang. Izumi hanya mengenal Sasuke, karena tugas Izumi juga mencakup mengawasi anak perusahaan M-Model Agency tempat Sasuke bernaung.

​Pagi itu di ruang kerja CEO yang berdinding kaca raksasa menatap menara Tokyo Tower, suasana ruangan sangat hening.

​Itachi sedang duduk di balik meja kayu mahoni gelapnya, jemari panjangnya yang dihiasi jam tangan Patek Philippe Grandmaster Chime menari di atas layar iPad, memeriksa berkas akuisisi saham. Aura dingin dan serius memancar pekat dari wajah tampannya.

​TAK.

​Pintu ganda ruang kerja terkuak tanpa ketukan formal.

​Izumi melangkah masuk membawa sebuah nampan perak berisi cangkir porselen hangat dan sekotak kue pastry berpita emas dari toko pastry paling eksklusif di Ginza. Wanita berusia 27 tahun itu tampil sangat anggun dengan blus sutra warna cream dan rok pensil hitam yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna, rambut cokelat panjangnya terikat rapi di belakang.

​"Itachi! Kan sudah kubilang berulang kali, jam sembilan pagi itu waktunya minum kopi dan makan sarapanmu dulu, bukan malah langsung menatap angka triliunan yen!" celetuk Izumi dengan suara cerianya yang renyah, melangkah santai menuju meja kerja sang CEO.

​Haneda yang berdiri tegap di sudut ruangan dekat pintu hanya membungkuk tipis, lalu menggeser tubuhnya mundur untuk memberikan privasi pada mereka.

​Itachi tidak marah atau menyemprot Izumi karena masuk tanpa mengetuk. Pria itu menaikkan pandangan matanya yang tajam, menatap Izumi yang sedang meletakkan cangkir Espresso hangat tepat di sebelah dokumen pentingnya.

​"Laporannya belum selesai, Izumi," sahut Itachi pelan. Suaranya yang berat dan datar biasanya bikin orang gemetar, tapi di depan Izumi, ada intonasi lembut yang tak tersirat.

​"Laporan itu tidak akan lari ke mana-mana dalam waktu sepuluh menit," omel Izumi santai sambil berkakak pinggang. Dia membuka kotak kue Ginza di meja, mengambil sebuah croissant almond hangat, lalu menyodorkannya langsung ke depan wajah Itachi. "Ayo makan. Aku sudah susah payah menyuruh supir mengambilkannya dari toko sebelum buka. Kalau kamu sakit, yang repot aku juga kan?"

​Itachi menatap croissant di tangan Izumi sejenak. Pria berwajah es yang biasanya tak tersentuh oleh siapa pun itu perlahan menghela napas pendek. Dengan gerakan anggun, Itachi memajukan wajahnya dan menerima gigitan kecil dari kue yang disodorkan Izumi.

​Izumi tersenyum manis, matanya berbinar riang melihat sang CEO mau mendengarkan omongannya. "Nah, begitu dong! Bagus."

​"Kamu sendiri sudah makan?" tanya Itachi pelan, menyerap kopi hangatnya.

​"Sudah tadi di jalan," jawab Izumi sambil menarik kursi di hadapan meja Itachi, duduk dengan santai sambil memangku dagunya. "Oh iya, tadi pagi si Sasuke telepon ke ruangan. Dia protes katanya jadwal pemotretan majalah Vogue minggu depan tabrakan sama jadwal latihan band-nya. Bikin pusing saja anak itu."

​Itachi menyunggingkan senyum yang sangat tipis—hampir tak terlihat—di bibirnya. "Potong saja honor pemotretannya lima puluh persen kalau dia banyak protes."

​"Ih, jahat banget sama adik sendiri!" tawa Izumi pecah, suara tawanya yang hangat memenuhi ruangan dingin bernilai triliunan yen tersebut.

​Tanpa banyak bicara, Itachi menggeser sebuah kotak perhiasan kecil berbalut beludru biru gelap dari laci mejanya ke hadapan Izumi.

​Izumi mengerutkan keningnya, menatap kotak mewahkan itu. "Ini apa?"

​"Koleksi terbaru dari Graff Diamonds di Jenewa," sahut Itachi datar seolah-olah sedang membicarakan harga kaleng minuman. "Bros platinum berbentuk bunga dengan bertahtakan berlian merah. Kemarin staf lelang mengirimkannya ke kantor."

​Izumi memelototkan matanya, membuka kotak tersebut dan terperanjat melihat pendaran bros berlian yang harganya pasti mencapai puluhan juta yen. "Itachi! Ini kemahalan! Kamu gila ya?! Aku ini cuma sekretaris eksekutifmu, bukan ibumu atau pacarmu!"

Cr. Pinterest

​"Kamu yang membantuku menyelesaikan berkas akuisisi minggu lalu," balas Itachi tenang, menatap mata Izumi tanpa berkedip. "Ambil saja. Atau mau kubuang ke tempat sampah?"

​"Jangan dibuang, dasar pria pemboros!" cerceh Izumi panik sambil cepat-cepat menyelamatkan kotak perhiasan itu, membuat Itachi lagi-lagi terkekeh sangat rendah di balik cangkir kopinya.

​Di mata publik, Itachi adalah pria yang tidak tersentuh dan teramat sangat sulit didekati. Namun bagi Izumi, Itachi adalah sosok teman seperjuangan sejak masa kuliah yang sangat royal, perhatian dengan caranya yang serba diam, dan selalu memanjakannya dengan segala barang mewah yang bahkan tak pernah minta dibelikan oleh Izumi.

​Beberapa saat kemudian, telepon privat di meja Itachi berdering. Izumi berdiri dengan sigap merapikan cangkir kopi.

​"Aku keluar dulu ya, mau mengecek draf kontrak untuk agensi Sasuke," pamit Izumi riang.

​"Hm. Jangan terlambat makan siang," sahut Itachi pelan.

​Begitu pintu ganda tertutup rapat dan langkah kaki Izumi menghilang di lorong, atmosfer ruang kerja CEO seketika berubah 180 derajat. Aura dingin dan mematikan kembali menyelimuti ruangan.

​Haneda melangkah maju dari balik bayangan pintu, membungkuk hormat lima puluh derajat di hadapan Itachi.

​"Tuan Itachi," lapor Haneda dengan suara berbisik yang sangat tegang. "Tuan Kakashi baru saja mengirimkan kabar dari kediaman utama. Tim pengintai klan Yokohama yang mendekati sirkuit balap semalam telah dibersihkan sepenuhnya. Namun, mereka mulai mencurigai jalur keuangan Uchiha Group."

​Mata Itachi menyipit tajam. Aura es Arktik di wajahnya memancar begitu pekat, sanggup membekukan darah siapa pun.

​"Bekukan seluruh aset rekening cangkang milik klan Yokohama di Swiss malam ini," perintah Itachi dengan suara berat yang tanpa ampun. "Buat perusahaan mereka gulung tikar dalam waktu empat puluh delapan jam. Jangan biarkan sampah-sampah itu mengganggu Yoona atau menyadari keberadaan klan kita."

​"Baik, Tuan Itachi!" sahut Haneda tegas.

​Itachi menyandarkan punggungnya di kursi eksekutifnya, menatap ke luar jendela kaca besar menembus pemandangan kota Tokyo. Pria itu mengelus bros berlian lain di jarinya.

​Tanpa diketahui oleh siapa pun—bahkan oleh Izumi sendiri—di balik kesibukan mereka sejak masa kuliah hingga detik ini, ada sebuah benang merah gaib yang tak terlihat oleh mata biasa.

​Seperti yang pernah disaksikan oleh penglihatan batin sang Patriark, benang merah di jari kelingking Itachi memang belum menampakkan bentuk yang pekat seperti milik Yoona dan Kakashi. Namun, setiap kali Izumi berdiri di dekat Itachi, pendaran benang merah di jari kelingking sang Arktik selalu bergetar tipis—sebuah bibit takdir tak terpisahkan yang perlahan tapi pasti mulai menyala di balik dinginnya dunia Yakuza.

​Itachi memejamkan matanya sejenak, menikmati sisa aroma parfum bunga lembut milik Izumi yang tertinggal di ruang kerjanya, sebelum kembali menjelma menjadi raja bisnis tanpa cela yang siap meratakan musuh-musuhnya.

...----------------...

FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.

Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!