NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AROMA DI PAGI HARI

Tuan Ajimo bicara dengan khusyuk saat benda pipih itu menempel di telinganya. Tangannya yang keriput gemetar menahan benda itu, seolah benda kecil tersebut adalah satu-satunya jangkar yang menghubungkannya dengan dunia luar. Wajahnya yang pucat pasi tampak menegang, alisnya bertaut dalam.

"Tolong cari siapa yang membawa Velyn, keponakanku," ujar Tuan Ajimo memohon. Suaranya parau, tercekat oleh rasa cemas yang sudah berhari-hari mengendap di dadanya. Setiap kata yang meluncur seperti doa yang dipanjatkan dari dasar jurang keputusasaan.

Di seberang sana, suara Pengacara Frans terdengar tegas dan meyakinkan, mencoba meredakan badai di hati lelaki tua itu.

"Baik, Tuan. Aku akan mencari informasi siapa yang membawa Velyn. Serahkan padaku. Aku akan kerahkan semua koneksiku. Velyn pasti akan ketemu," ujar Pengacara Frans meyakinkan Tuan Ajimo.

Percakapan itu tidak lama, namun bagi Tuan Ajimo setiap detiknya terasa seperti jam yang berdetak begitu lambat. Setelah selesai obrolan antara Tuan Ajimo dan Pengacara Frans melalui benda pipih itu, Tuan Ajimo mengembalikan benda pipih milik Vanka dengan gerakan pelan dan penuh terima kasih. Ponsel pintar berlapis casing marmer putih itu terasa begitu kontras di genggaman tangannya yang kasar.

Setelah menghubungi Pengacara Frans, suasana ruangan menjadi hening. Hening yang pekat, seperti selimut tebal yang menutupi kami bertiga di dalam unit apartemen lantai dua puluh ini. Hanya terdengar dengung halus AC sentral dan detak jam dinding minimalis yang berderak pelan. Dari jendela kaca yang besar, cahaya pagi Jakarta memantul masuk. Keheningan itu menyimpan seribu tanya yang tak terucapkan.

Vanka tiba-tiba memecah suasana. Ia berdeham kecil, lalu tersenyum dengan ketulusan yang terpancar dari matanya.

"Kalian pasti lapar, biar aku yang masak dan menyiapkan sarapan," ujar Vanka.

Aku dan Tuan Ajimo mengangguk hampir bersamaan. Perut kami sudah mulai terasa perih, berbunyi lirih menuntut haknya. Sejak kemarin kami belum makan dengan layak karena pikiran kami tersita oleh hilangnya Velyn. Tuan Ajimo kemudian kembali ke kamarnya dan beristirahat karena tubuhnya yang belum terlalu pulih. Langkahnya gontai, punggungnya membungkuk menahan beban usia dan beban pikiran. Pintu kamar tamu yang berdesain kayu jati itu tertutup pelan, menyisakan aku dan Vanka di area living room dan kitchen island yang menyatu.

Suasana menjadi canggung. Aku yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, kini merasa seperti benalu di apartemen mewah orang. Aku melangkah menghampiri Vanka yang sedang sibuk di depan api biru yang menyala dari kompor tanam, serta wajah bulatnya yang terlihat mewah meski tanpa riasan. Cahaya biru dari api itu memantul di wajahnya, membuatnya terlihat seperti lukisan yang hidup di tengah dapur marmer putih itu.

"Sedang masak?" tanyaku seraya duduk di kursi bar yang tingginya hampir sepinggang. Kursi bludru abu-abu itu empuk dan kokoh.

Vanka menoleh, senyumnya tidak pernah pudar. Senyum itu bagaikan mentari pagi yang menyibak kabut tebal di atas gedung-gedung pencakar langit.

"Aku memasak nasi goreng spesial untuk keluarga baruku," ujar Vanka tersenyum seraya mengaduk-aduk nasi di dalam wajan keramik. Aroma bawang putih, mentega, dan smoked beef yang digoreng seketika menguar, menusuk hidung dan membangunkan selera yang sempat mati. "Semoga rasanya cocok. Aku tambahkan telur omega dan sedikit jamur truffle."

Aku terdiam. Kata "keluarga baru" itu menghantam ulu hatiku. Hangat, tapi juga asing. Aku sungguh tidak nyaman dengan pakaianku sehingga terlihat oleh Vanka, karena aku merasa gelisah dan risih. Bajuku yang sudah dua hari kupakai terasa lengket di badan, baunya pun sudah tidak sedap dan sangat kontras dengan harumnya apartemen Vanka yang wangi vanilla. Aku menarik ujung bajuku ke bawah, mencoba menutupi noda kecil di bagian perut, merasa seperti burung kecil yang bulunya kusut di antara merak yang indah.

Vanka sepertinya peka. Ia berhenti mengaduk sejenak dan menatapku dengan sorot mata penuh empati, bukan kasihan.

"Apa kau ingin mengganti bajumu?" Vanka menawarkan kebaikannya lagi. Suaranya lembut, seperti air yang mengalir tenang. "Aku punya beberapa baju oversized dan piyama sutra yang mungkin muat untukmu. Masih baru, belum pernah kupakai. Ada di walk-in closet."

Tawaran itu tulus, namun harga diriku yang sudah terkoyak menolak untuk menerimanya begitu saja. Aku merasa seperti pengemis yang terus-menerus diberi belas kasihan di tengah kemewahan.

"Tidak perlu, aku rasa ini masih bisa aku pakai lagi untuk beberapa hari," ujarku dengan jutek seraya pergi meninggalkan Vanka yang sedang menyiapkan sarapan. Nada suaraku terdengar lebih ketus dari yang kumaksud.

Aku berjalan menuju jendela kaca yang besar itu, membelakangi Vanka. Di luar, hamparan kota Jakarta terlihat kecil dari ketinggian. Embun masih menggantung di pot monstera dan lidah mertua yang diletakkan Vanka di sudut balkon. Lampu-lampu apartemen lain mulai padam satu per satu. Aku memeluk tubuhku sendiri. Sikap jutek itu adalah topeng, topeng untuk menutupi rasa malu dan rasa tidak berdaya yang menggunung di dalam dadaku.

Vanka tidak membalas. Ia hanya melanjutkan aktivitasnya dengan sabar. Suara sutil kayu yang beradu dengan wajan keramik terdengar berirama, seperti nyanyian kesabaran. Aku tahu, kebaikannya bagaikan samudra yang tak bertepi, sedangkan aku masih seperti karang yang keras dan menolak tersentuh ombak.

Beberapa menit kemudian, aroma nasi goreng itu semakin kuat. Vanka menatanya di atas piring keramik putih dengan rapi, lengkap dengan garnish daun parsley dan segelas infused water di sampingnya.

"Sarapan sudah siap," katanya pelan, hampir berbisik.

Aku membalikkan badan. Menatap piring itu, lalu menatap wajah Vanka yang tulus. Pada akhirnya, perut yang lapar dan hati yang lelah akan selalu luluh oleh kebaikan yang disajikan dengan keikhlasan.

saat hendak menikmati sarapan pagi terdengar suara ketukan pintu.

tok..tok..

Bersambung..

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!