Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Berita Kematian
Dua Hari kemudian.
Berita tentang kecelakan keluarga Davis menyebar luas menimbulkan huru-hara yang memanas antar dewan direksi. Apalagi berita juga mengabarkan kalau Isabella sang Putri Asli keluarga Davis hilang di saat tengah menjalankan tugas.
Karena berita itu, tentu meeting di adakan Sore itu. Oleh Asisten pribadi dari Matthew atas perintah Pengacara keluarga.
"Sebenarnya meeting ini buat apa? Bukankah bulan ini Nyonya dan Tuan Davis tidak di rumah?" salah seorang pemegang saham bertanya pada sosok Asisten pribadi sang Tuan. Dia tak melihat berita karena hari itu sedang dalam perjalanan menuju Tokyo.
"Ini perintah dari pengacara keluarga Davis, mungkin ada pengumuman!" kata Theo.
Penjelasan Theo tak membuat mereka tenang hingga akhir nya bisik-bisik yang terus ada di ruangan itu.
Apalagi sosok yang mengadakan meeting ini tidak kunjung datang hingga mereka semua protes tanpa henti.
"Kami masih banyak pekerjaan Tuan Theo, kenapa lama sekali?" salah seorang mulai bicara akan keterlambatan yang keterlaluan ini.
Pintu itu terbuka lebar. Sosok Lyra tiba dengan satu pria di belakangnya yang nampak tak asing.
"Nona Lyra? Jadi anda yang mengadakan meeting ini?'' salah satu orang bertanya dengan mata memicing tajam.
"Iya, saya perwakilan dari Davis ingin membahas sesuatu!" kata Lyra. Nada suaranya terdengar tegas dan tak seperti Lyra yang mereka dengar.
Tidak ada yang bersuara, Lyra akui Davis cukup pintar mengatur pegawainya.
"Nona, katakan secepatnya! Karena kami juga memiliki pekerjaan lain," tegasnya.
"Lagipula apa hak anda mengatur meeting, apa karena berita akhir-akhir ini?" salah seorang menebak dengan nada dingin.
"Itu salah satunya. Tapi ada hal yang lebih penting dari berita itu.
Mereka semua saling tatap, seolah mencari jawaban dari ucapan Lyra hari ini.
BRAK!
"Surat pengalihan saham, dan Isabella sudah tanda tangan!" salah satu dari mereka menyambar berkas itu.
Membaca dengan seksama apa yang tertulis di sana hingga putri angkat berani bicara tentang kursi kepemimpinan.
Matanya mendelik dan dia tak percaya kalau seluruh saham Davis akan menjadi milik Lyra, satu-satunya orang yang tersisa di keluarga Davis.
"Saya tidak percaya dengan ini, anda pasti berbohong, kan?"
"Berbohong? Untuk apa?" jawabnya acuh.
Mereka terdiam, dan hanya bisa saling tatap satu sama lain.
"Bagi yang tidak setuju bisa Resign secepat mungkin!"
Tidak ada yang berani menyela. Mereka tak percaya Lyra karena sejak awal perempuan inilah yang kerap membuat perusahaan hampir rusak.
"Dan kenalkan, dia Darel Marco. Mulai sekarang dia akan menjadi pimpinan kalian setelah Papa!" putusnya dengan tegas.
Namun, Lyra tak pernah tahu permainan mungkin saja baru di mulai di hari yang sama.
BRAK!
Seseorang menendang pintu ruang meeting dengan tak sopan.
Lyra meradang, dia menoleh dan dia akan memberikan pelajaran pada sang pelaku.
"Beraninya kalian masuk kedalam ruang meeting dengan tak sopan?" pekik Lyra.
"Bu, maaf tapi ini perintah?"
"Perintah dari siapa?" tanyanya kesal.
Tidak ada jawaban dan dan hanya deru napas yang tidak beraturan dari gadis muda di hadapan Lyra.
"Siapa? Jawab?" desak Lyra dengan tegas.
"Mereka ada di luar!" katanya menunjuk pada pintu ruang meeting yang terbuka lebar.
DRAP!
DRAP!
Suara langkah kaki terdengar nyaring di lantai perusahaan Davis yang mengkilap.
"Aku yang datang. Lyra!" sapanya dengan wajah dingin.
DEGH