NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Perubahan yang Dicurigai

Kabar tentang perubahan Pangeran Keempat menyebar lebih cepat daripada yang diperkirakan Zhou Chen.

Ia sudah berusaha berhati-hati—tidak terlalu menonjol, tidak terlalu banyak bertanya, tidak terlalu sering terlihat membaca gulungan-gulungan yang bukan bacaan ringan seorang pangeran petualang. Namun di istana sebesar Kerajaan Zhou, di mana setiap sudut memiliki telinga dan setiap pelayan bisa menjadi mata bagi pihak lain, tidak ada rahasia yang benar-benar aman.

"Kudengar Pangeran Keempat sudah tiga hari tidak keluar berburu," bisik seorang pelayan di dapur istana.

"Lebih aneh lagi, kudengar dia memperbaiki teknik pedang salah satu pengawalnya sendiri," sahut yang lain. "Sejak kapan dia mengerti bela diri? Dulu dia bahkan lebih suka menghitung untung-rugi dagang beras dibanding memegang pedang."

Bisik-bisik semacam itu, sekecil apa pun, pada akhirnya akan sampai ke telinga yang tepat.

Di sayap timur istana, di sebuah ruangan mewah berhias sutra merah dan ukiran naga emas, Zhou Yun—Pangeran Kedua, yang didukung penuh oleh jajaran jenderal kerajaan—mendengarkan laporan itu sambil duduk bersandar di kursi kayu ukirnya, jemarinya mengetuk pelan meja di hadapannya.

"Pangeran Keempat memperbaiki teknik pedang?" Ia tertawa pendek, nyaris meremehkan. "Anak itu bahkan tidak lulus ujian dasar bela diri istana tahun lalu."

"Hamba juga mendengarnya aneh, Yang Mulia," kata bawahannya, seorang perwira muda bernama Liu Ang. "Tapi pengawal yang tekniknya 'diperbaiki' itu—Ah Fu—dikabarkan mengalahkan dua orang prajurit senior dalam latihan tanding kemarin. Padahal sebelumnya dia hanya prajurit biasa yang jarang menang."

Senyum remeh di wajah Zhou Yun perlahan memudar.

"...Kebetulan," gumamnya, meski nada suaranya sendiri tak lagi seyakin sebelumnya. "Pasti hanya kebetulan. Tetap saja, awasi terus. Aku tidak suka hal-hal yang tidak masuk akal terjadi di dekat perebutan takhta."

Sementara itu, jauh dari gosip dan kecurigaan para pangeran lain, Zhou Chen justru sedang menghadapi masalah yang jauh lebih mendesak: bagaimana menjelaskan perubahan dirinya kepada orang-orang terdekat tanpa membongkar rahasia sesungguhnya.

Ia duduk di ruang belajarnya bersama Guru Lin, seorang tutor tua yang dulunya nyaris menyerah mengajari Zhou Li karena muridnya lebih tertarik pada peta harta karun ketimbang kitab-kitab strategi perang.

"Yang Mulia," kata Guru Lin, menatapnya dengan campuran heran dan waspada, "boleh saya bertanya sesuatu yang mungkin lancang?"

"Silakan," jawab Zhou Chen, tanpa mendongak dari gulungan laporan militer yang sedang ia baca dengan seksama.

"Mengapa Yang Mulia tiba-tiba membaca laporan militer?"

Zhou Chen berhenti sejenak. Ia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan semacam ini sejak beberapa hari lalu.

"Aku hanya berpikir," katanya perlahan, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "kalau aku terus-menerus dianggap tidak berguna oleh saudara-saudaraku, cepat atau lambat aku akan menjadi ancaman pertama yang mereka singkirkan begitu perebutan takhta memanas. Bukan karena aku berbahaya—justru karena aku tidak berbahaya sama sekali. Orang yang lemah dan tak berguna adalah yang paling mudah dikorbankan."

Guru Lin terdiam, matanya melebar sedikit. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar muridnya berbicara dengan logika sedalam itu.

"...Pemikiran itu," katanya pelan, "sungguh tidak seperti Yang Mulia yang dulu."

Zhou Chen tersenyum tipis, menyembunyikan sedikit kepanikan di balik ketenangan wajahnya. "Mungkin hampir mati di Hutan Terlarang membuatku berpikir ulang tentang banyak hal, Guru."

Jawaban itu, untungnya, cukup masuk akal untuk tidak menimbulkan kecurigaan lebih jauh—setidaknya untuk saat ini. Namun Zhou Chen tahu, alasan semacam itu tidak akan bertahan selamanya. Cepat atau lambat, seseorang akan menyadari bahwa perubahannya bukan sekadar hasil dari "hampir mati", melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Malam harinya, setelah Guru Lin undur diri, Zhou Chen kembali membuka Kitab Langit Tanpa Akhir di kamarnya, kali ini dengan tujuan yang lebih jelas.

Ia menyadari satu hal penting: jika ia ingin bertahan di tengah kerajaan yang penuh intrik ini, ia tidak bisa hanya mengandalkan Mata Dewa dan buku secara diam-diam selamanya. Ia butuh kekuatan nyata—orang-orang yang bisa ia percaya, yang loyal bukan karena paksaan, tetapi karena benar-benar melihat manfaat dari bekerja sama dengannya.

Dan ingatan Zhou Li yang lama memberinya petunjuk yang tepat.

Bagian perdagangan.

Selama ini, Pangeran Keempat yang lama memang tidak tertarik pada politik atau bela diri, tetapi entah kenapa memiliki minat besar terhadap perniagaan—sesuatu yang dianggap remeh oleh saudara-saudaranya yang lain, yang lebih sibuk membangun kekuatan militer atau jaringan bangsawan.

Zhou Chen tersenyum tipis dalam gelap.

Kalau begitu, di situlah aku akan memulai.

Bagian perdagangan kerajaan adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang dianggap tidak berbakat oleh sektor lain—prajurit yang dibuang, pekerja yang dianggap biasa saja, orang-orang yang luput dari perhatian karena tidak terlihat istimewa di permukaan.

Tempat yang sempurna bagi seseorang dengan Mata Dewa untuk menemukan permata yang tersembunyi di antara bebatuan yang diabaikan orang lain.

Esok pagi, ia memutuskan, ia akan mengunjungi bagian perdagangan istana untuk pertama kalinya dengan tujuan yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Bukan untuk berdagang.

Tapi untuk mencari orang.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!