Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. EH SATU SEKOLAH
Di tengah taman yang sunyi itu, Vellora duduk membeku bak patung pualam di atas bangku besi. Tatapannya kosong, menembus jauh ke dimensi lain yang tak bisa dijangkau oleh siapa pun. Ia tampak begitu rapuh, seolah satu hembusan napas saja bisa menghancurkannya menjadi debu.
Dari kejauhan, derap langkah kaki berirama memecah keheningan yang menyesakkan itu. Nathan Kaivandra, dengan peluh yang menetes di dahi setelah lari pagi, menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Napasnya masih memburu, namun matanya terpaku pada sesosok gadis tak jauh dari tempatnya berdiri.
Bukannya itu Vellora? batin Nathan bergejolak. Sedang apa gadis dengan tatapan sendu itu sendirian di sini?
Rasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya. Nathan melangkah mendekat, memangkas jarak yang memisahkan mereka. "Vell... Vellora? Halo?" panggilnya berulang kali. Namun, suara itu seolah ditelan ruang hampa. Gadis itu sama sekali tidak bergeming, masih terperangkap erat dalam sangkar lamunannya yang gelap.
Merasa diabaikan namun didorong oleh kekhawatiran, Nathan memberanikan diri menyentuh pundak gadis itu pelan.
Tepukan kecil itu bereaksi bak sengatan listrik. Vellora tersentak hebat, tubuhnya menegang dan matanya membelalak liar penuh keterkejutan. Napasnya tertahan sejenak sebelum ia menyadari siapa yang berdiri menjulang di sampingnya.
"Hei! Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba muncul dan membuatku kaget setengah mati?!" seru Vellora, suaranya bergetar antara marah dan jantung yang berdebar tak karuan.
Nathan tersenyum canggung, menarik tangannya kembali. "Apa kamu benar-benar lupa denganku?"
Mata bulat Vellora memicing tajam, menatap cowok asing yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. "Siapa kamu? Dan dari mana kamu datang tiba-tiba berdiri di sampingku?"
"Kita memang belum pernah berkenalan secara resmi," ucap Nathan dengan nada lembut yang berusaha menenangkan. "Kenalkan, aku Nathan Kaivandra. Panggil saja Nathan. Aku cowok yang sempat menyapamu di depan gerbang sekolah waktu itu. Kebetulan, aku satu kelas dengan temanmu, Luna." Nathan mengulurkan tangannya yang hangat, menawarkan sebuah pertemanan di tengah pagi yang dingin.
Vellora terdiam sesaat. Sorot matanya yang semula waspada perlahan mereda. Dengan ragu, ia membalas uluran tangan itu. "Aku Vellora Theodore. Panggil saja Vellora," jawabnya pelan, menarik tangannya kembali dengan cepat.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Nathan, menunjuk ruang kosong di bangku panjang itu.
"Silakan," balas Vellora singkat, tubuhnya secara refleks bergeser menjauh, membangun dinding pertahanan yang tak kasat mata.
"Aku baru tahu kamu tinggal di kawasan ini," pancing Nathan, mencoba memecah kecanggungan yang menggantung tebal di udara.
Vellora menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang dingin. "Emm, iya. Aku baru saja pindah ke sini supaya lebih dekat dengan sekolah. Tempat tinggalku yang dulu sangat jauh, terlalu melelahkan," jawabnya dengan suara yang seakan kehilangan pijakan.
Nathan melirik gadis di sampingnya dari sudut mata. "Begitu ya... Ngomong-ngomong, kenapa kamu sendirian di sini? Melamun pula di pagi yang dingin begini?"
"Tidak apa-apa," potong Vellora cepat, nadanya mulai mendingin. "Hanya mencari suasana baru di hari libur. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?"
Namun Nathan belum menyerah. "Sama siapa kamu tinggal di sini?"
Pertanyaan itu memicu kilat ketidaksukaan di mata Vellora. Ia menoleh, menatap Nathan dengan sinis. "Kenapa kamu sangat ingin tahu urusan pribadiku?"
Nathan mengangkat kedua tangannya perlahan, tanda menyerah. "Hei, santai. Tidak apa-apa, aku hanya sekadar ingin tahu. Tidak ada maksud buruk."
Vellora membuang muka, menatap ujung sepatunya dengan gusar. "Aku tinggal bersama kakekku dan dua kakak laki-lakiku," gumamnya pelan.
"Emm... lalu, di mana orang tuamu?"
Bagaikan disambar petir di siang bolong, pertanyaan polos Nathan itu menghentikan detak jantung Vellora. Udara di sekitarnya mendadak tersedot habis. Memori kelam dan anyir darah yang selama ini ia kubur dalam-dalam kembali merobek kewarasannya. Bibirnya pucat pasi.
"Mereka sudah meninggal," desis Vellora dengan suara bergetar yang sarat akan luka menganga. Tanpa menunggu tanggapan, ia langsung berdiri. "Sudah ya, aku ingin pulang."
Vellora melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Perasaannya hancur. Ia benci ditanya tentang hal ini. Ia benci pada cowok yang terlalu ikut campur dengan hidupnya ini.
Menyadari kesalahan fatalnya, Nathan ikut melompat berdiri, wajahnya dipenuhi penyesalan mendalam. "Eh, Vell! Maafkan aku! Aku benar-benar tidak tahu. Pertanyaanku pasti membuatmu sangat tidak nyaman."
Vellora terus berjalan tanpa menoleh, langkahnya cepat. "Tidak apa-apa, santai saja. Aku hanya harus pulang, takut Kakek mencariku," dalihnya, berbohong demi melarikan diri dari percakapan yang mencekik itu.
"Baiklah. Aku juga harus pulang," ujar Nathan, mempercepat langkahnya hingga kini mereka berjalan beriringan dalam keheningan yang menyiksa.
Setelah beberapa saat, Nathan mencoba memecah kebisuan. "Ngomong-ngomong... aku sudah tinggal di sekitar sini sejak aku masih kecil."
"Emmm... begitu ya," balas Vellora terlampau pelan, hampir menyerupai bisikan angin.
Langkah Vellora akhirnya terhenti di depan gerbang baja yang menjulang tinggi—pintu masuk kompleks apartemen mewahnya. "Ya sudah, tempat tinggalku sudah sampai. Aku duluan."
"Eh, tunggu dulu!" seru Nathan, menghentikan tangan Vellora yang baru saja hendak mendorong gerbang.
Vellora berbalik dengan kening berkerut. "Ada apa lagi, Nathan?"
"Sepertinya kita ini bertetangga. Apartemenku tidak jauh dari sini. Tepat di depan sana, hanya tiga langkah dari batas kompleks apartemenmu," ucap Nathan dengan mata berbinar lega.
Kejutan kecil itu berhasil mengalihkan kesedihan Vellora. Ia menoleh antusias ke arah yang ditunjuk Nathan. "Benarkah? Yang mana?"
"Gedung yang paling ujung, tepat di belokan jalan itu," tunjuk Nathan.
"Emm, dekat juga ternyata," gumam Vellora, sebersit senyum tipis akhirnya terbit di bibirnya.
Namun, kedamaian kecil itu dihancurkan dalam sekejap mata.
Suara deruman mesin mobil mewah yang buas membelah keheningan pagi. Sebuah mobil sedan hitam mengilap melaju tajam dan mengerem mendadak tepat di depan gerbang. Penjaga gerbang berlarian panik untuk membukakan jalan.
Kaca jendela mobil yang gelap itu turun perlahan, menampakkan wajah Leo. Pria itu menatap lurus ke arah Nathan dengan mata yang setajam belati dan sedingin badai salju. Aura membunuh yang kental seketika menguar dari dalam mobil.
"Siapa dia?" tanya Leo dengan nada datar, rendah, namun menggema penuh ancaman yang mematikan.
Bulu kuduk Nathan meremang, namun Vellora segera melangkah maju dengan gugup. "Emm, Kak Leo sudah pulang, ya? Ini... ini temanku, Kak. Kami satu sekolah," jawab Vellora dengan suara sekecil tikus.
Leo tak mengatakan apa-apa. Mata elangnya hanya memindai Nathan dari atas ke bawah dengan tatapan dingin.
Merasakan ketegangan itu, Nathan mencoba bersikap jantan. Ia melangkah maju sambil tersenyum ramah. "Halo, Kak. Kenalkan, nama saya—"
BZZZZT.
Belum sempat Nathan menyelesaikan kalimatnya, Leo menekan tombol, membuat kaca mobil tertutup rapat tanpa ampun, memotong sapaan Nathan seolah cowok itu hanyalah sampah tak kasat mata. Dengan sekali injakan gas, mobil itu melesat masuk ke dalam area apartemen, meninggalkan Nathan yang mematung di luar gerbang.
Tangan Nathan yang menggantung di udara perlahan turun, mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Harga dirinya baru saja diinjak-injak hingga hancur berkeping-keping.
"Eh... maaf ya, Nathan," cicit Vellora, wajahnya memerah karena malu dan merasa sangat bersalah atas sikap kakaknya yang kejam. "Kakakku memang... agak dingin orangnya. Tapi aslinya dia baik kok."
Nathan menarik napas dalam-dalam, memaksa kepalan tangannya mengendur. Ia mengukir senyum palsu. "Tidak apa-apa, Vell. Ya sudah, aku pulang dulu."
Tanpa menoleh lagi, Nathan berbalik dan melangkah pergi dengan langkah berdebum. Sementara Vellora bergegas masuk ke dalam apartemen dengan perasaan campur aduk.
Di sepanjang perjalanannya menuju gedung ujung, Nathan terus menggerutu, kebencian mulai merayap naik ke ubun-ubunnya. Sialan. Apa-apaan tatapan itu? Kakaknya Vellora sombong setengah mati! Memangnya dia pikir dia siapa?! batin Nathan mendidih, menyimpan sebuah dendam tak kasat mata di balik sejuknya udara pagi itu.