NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18: Kejujuran Delia soal Gelang Si Mbah

Setelah malam yang terasa sangat panjang, kami akhirnya berhasil masuk unit apartemen.

Aku dan Hendra masih membopoh Jefry yang tak sadarkan diri. Nafasku terengah, tubuhnya berat, seperti ada beban lain ikut menempel di pundaknya.

“Taruh di sini aja.”

Shinta menepuk kasur kamar utama.

Kami mengangkat pelan-pelan, lalu merebahkannya. Jefry tetap diam. Matanya tertutup rapat, hanya bagian dada naik turun perlahan.

“Dia kayak orang pingsan biasa kan?” tanya Shinta pelan.

Aku menatap wajah Jefry. Pucat, bibirnya kering. Ketika melihat bagian siku, aku baru sadar, ia terluka, lecet seperti habis terbentur.

“Dia nggak apa-apa, tenang aja,” ucapku setelah melihat ekspresi wajah Shinta khawatir.

Kami kembali ke ruang tengah dan menjatuhkan tubuh di sofa. Rasanya semua tenaga hilang. Otakku penuh pertanyaan tapi lidahku kelu.

Beberapa menit hanya ada hening.

Bukan sunyi yang damai, tapi karena pikiran penuh banyak hal tak terjawab.

Aku melirik jam di handphone.

Waktu menunjuk tepat ke angka 3.00.

Aku menelan ludah, “Bang.”

“Hah?” Hendra menoleh. Aku memperlihatkan layar ponselku.

Dia melihat ke arah jam, lalu langsung memalingkan wajah. “Ah, sial banget.”

“Jam tiga,” kataku pelan.

Shinta ikut menatap ke arah kami, wajahnya terlihat sangat lelah.

Aku tertawa kering, memaksa terdengar santai. “Biasanya jam segini, teror mulai datang nih.”

Hendra mendesah, “Gas, jangan dibahas dulu lah.”

“Iya, Bang. Tapi ya masa iya, yang dari tadi kita alamin belum cukup?”

Shinta mulai menggigit ibu jarinya, “Gimana kalau masih ada lanjutannya?”

Aku diam.

Karena itu juga yang kupikirkan.

Beberapa saat kemudian, Shinta menarik nafas dalam-dalam.

“Mas Bagas,” suaranya pelan. “Kalo gua mau mandi gimana ya?”

Aku menoleh cepat. “Mandi? Sekarang?”

“Iya badan gua gerah banget.”

Aku dan Hendra spontan saling pandang.

Dalam kepalaku muncul kemungkinan kejadian aneh yang akan terjadi di kamar mandi.

Cermin yang berkabut secara tiba-tiba. Shower menyala sendiri. Suara air padahal kran mati.

Hendra kemudian memberikan ide, “Kayaknya nggak usah mandi deh, kita bertiga aja masuk bareng, tapi cuma cuci muka, tangan sama kaki aja. Sekalian saling nemenin.”

Aku ikut mengangguk cepat.

“Iya, bener. Daripada nanti ada cerita baru lagi.”

Shinta pun akhirnya setuju.

Kami berjalan bertiga menuju kamar mandi. Langsung disambut oleh cermin besar yang menatap balik.

Shinta berdiri di depan. Aku di dekat pintu, Hendra dekat wastafel.

“Cepetan ya, Shin,” kataku. “Kita jangan lama-lama.”

“Iya,” jawabnya pelan.

Air shower menyala. Shinta menunduk, membasuh kakinya.

Di sela suara air, aku merasa mendengar sesuatu di dapur. Aku tidak berani mencari tahu, memilih untuk memposisikan tubuh masuk lebih dalam ke kamar mandi, bergabung dengan lainnya.

Hendra berhenti mencuci tangan. “Kenapa lo, Gas?”

“Nggak apa-apa, Bang.”

Aku tidak memberitahu, tapi sepertinya ia menyadari sesuatu yang janggal tengah ku rasakan.

Shinta tiba-tiba hanya diam, membiarkan air mengalir tanpa mengenai kakinya.

Memperhatikan Shinta yang tidak bergerak, aku memberitahu Hendra, “Bang, dia kenapa tuh?”

“Yah, kenapa lagi nih anak,” keluh Hendra.

Baru saja ingin didekati, Shinta kembali bergerak. Rupanya ia sedang melamun.

“Astaga, Shin..! Ngapain ngelamun lagi kayak gitu sih!” Hendra kesal.

Ia langsung menggantikan posisi Shinta yang menurutnya sudah cukup lama berada di situ.

“Maaf, Bang. Aku mikirin korban covid tadi, gimana ya..” celetuk Shinta yang kemudian langsung dihentikan oleh Hendra.

“Shinta!”

Hendra mengangkat jari telunjuk, menempelkan ke bibirnya. Pertanda agar Shinta tidak melanjutkan ucapannya.

Selang beberapa menit, kami kembali ke ruang tengah. Sofa terasa seperti satu-satunya tempat aman, meski aku tahu, itu tidak sepenuhnya benar.

Kami bertiga sudah terlihat sangat kelelahan. “Oke, udah beres ya, kita istirahat, tinggal besok gimana, urusan nanti lah,” kata Hendra sambil berdiri.

Aku pun beranjak, disusul dengan Shinta yang sepertinya masih penuh keraguan.

“Jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur. Minta bantuan Allah, supaya kita dilindungi,” pesan Hendra kepada kami.

Setelah masuk kamar, aku teringat ucapan Hendra. Aku pun mengucapkan doa sebelum tidur. Walau jauh dari agama, tapi untungnya aku masih hafal, “Bismika Allahumma ahya wa bismika amut.”

Tak berhenti sampai di situ, aku menambahkannya dengan bahasa Indonesia, “Ya Allah, lindungilah hamba. Maafkan hamba karena belum taat beribadah kepada-Mu. Tapi hamba mohon, berilah perlindungan-Mu. Aamiin.”

Aku terbangun dengan nafas pendek, seperti baru saja keluar dari mimpi panjang dan berat. Mataku langsung terbuka lebar tanpa proses. Bukan perlahan, tapi mendadak.

Untuk beberapa saat, aku hanya menatap langit-langit.

Aku refleks meraba sisi kasur, mencari handphone. Jemariku menyentuh sesuatu yang lembut, layarnya.

Waktu menunjukkan pukul 09.11. Aku langsung terduduk.

“Waduh kesiangan,” gumamku.

Ruang tengah sepi. Tirai belum dibuka. Aku memeriksa kamar Hendra, masih tidur. Ia terlentang di ranjang dengan mulut sedikit terbuka.

Beranjak ke kamar utama, Shinta meringkuk di ujung, seperti anak kecil ketakutan. Sedangkan Jefry juga belum bangun, dengan posisi sama seperti sebelumnya.

Hanya aku yang sudah bangun.

Aku melangkah pelan menuju balkon. Entah kenapa ingin merasakan udara luar, mungkin agar pikiranku jernih.

Begitu pintu kaca kubuka sedikit

“BRRMMMHH..”

Suara outdoor AC apartemen meraung keras. Getarannya seperti menyusup ke gendang telinga.

Aku berhenti di ambang pintu.

“Berisik banget,” keluhku.

Entah kenapa, suara itu bikin kepalaku pusing. Seperti ada yang berusaha menutup telingaku dari dalam.

Aku menutup lagi pintu perlahan, kembali ke kamar. Duduk di tepi kasur, menarik nafas.

Lalu menekan nama “My Wife” alias Delia di kontak, telepon berdering.

“Halo,” suara Delia terdengar lembut, sedikit serak. Sepertinya ia juga baru bangun.

Aku tersenyum kecil tanpa sadar. “Lagi apa?”

“Baru bangun, Pa. Kamu gimana di sana? Semalam ketiduran ya? Nggak kasih kabar”

Aku terdiam sebentar. Banyak hal menekan di benakku. Tapi yang keluar justru hal lain.

“Ma, aku mau nanya sesuatu.”

“Soal gelang yang kamu suruh aku pakai,” ucapku sambil memandang pergelangan tangan.

Gelang serabut itu masih melingkar erat tapi wajar. Melanjutkan dengan pelan, “Sebenarnya ini gelang apa sih?”

Sunyi beberapa waktu. Terdengar seperti Delia bangkit dari tidurnya, membenarkan posisi.

Lalu Delia menjawab, “Memangnya kenapa? Kamu nggak apa-apa kan?”

“Ngga ada apa-apa kok. Aku ngerasa ada sesuatu aja di gelang ini” berusaha menutupi kejadian semalam.

Kali ini Delia diam cukup lama.

“Ma?” tanyaku sedikit menegang.

“Iya, jadi gelang itu memang semacam pelindung diri, peninggalan dari si Mbah,” suaranya mulai berubah serius.

“Oh, gitu,” sahutku.

Delia melanjutkan, suaranya menurun seperti takut didengar orang lain.

“Mbah memang orang biasa. Tapi dia juga orang yang dekat sama dunia yang begitu. Gelang dibuat khusus untuk pelindung diri. Supaya sosok jahat nggak bisa menyakiti orang yang pakai.”

Aku memejamkan mata sejenak, memikirkan kata pelindung diri yang diucapkan.

“Tapi kenapa ya, kalo pakai gelang ini, aku malah sering diganggu gitu?” tanyaku pelan.

Lagi-lagi Delia terdiam sebentar, lalu menjawab.

“Itu karena efek dari gelangnya, Pa. Bukan diganggu, tapi kamu jadi lebih sensitif aja,” katanya. “Kamu jadi kayak bisa merasa, bisa lihat. Tapi selama gelang masih dipakai, Insha Allah, kamu nggak akan disakitin.”

Aku menatap gelang itu lagi. Mengingat kembali tentang kondisi Shinta, Hendra dan Jefry yang sakit-sakitan selama di apartemen ini. Sedangkan aku tidak merasa sakit apapun, selain pegal dan kurang tidur.

“Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” suaraku melemah.

“Aku takut kamu nggak mau pakai kalo aku bilang,” jawabnya jujur. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-kenapa kan? Kalo ada apa-apa, pulang aja, Pa. Jangan dipaksain.”

Giliran aku yang terdiam, lalu berusaha mengalihkan topik pembicaraan ke anakku.

“Eh, Rafa udah bangun? Video call dong,” ujarku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!