NovelToon NovelToon
Aura Clarissa

Aura Clarissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:681
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.

Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.

Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Tanda Tanda Yang Tercecer

Suara dering alarm yang sangat nyaring memecah keheningan kamar, memaksa sang pemilik terbangun. Tangan Aura terangkat kaku, mematikan alarm tersebut lalu langsung bangkit duduk di tepi ranjang. Pening hebat langsung menghantam tempurung kepalanya, menyisakan rasa pengar yang luar biasa menyiksa.

Aura meraba nakas, meraih kacamata tipisnya dan memakainya. Seperti biasa, ia sempat diam mematung beberapa menit untuk mengumpulkan kesadarannya yang tercecer.

Saat ia mulai melangkah pelan menuju kamar mandi, matanya tak sengaja menangkap bayangan di cermin besar di sudut ruangan. Langkah Aura seketika terhenti. Seluruh tubuhnya membeku.

Betapa terkejutnya Aura saat melihat pantulan dirinya mengenakan mini dress merah ketat yang sangat terbuka dan menonjolkan lekuk tubuhnya.

Aura bahkan sampai terjatuh ke lantai saking syoknya. Dengan lutut gemetar, ia merangkak mendekati cermin besar itu. Polesan riasan tebal di wajahnya belum dihapus sama sekali, dan warna merah menyala dari lipstik di bibirnya membuat dadanya sesak oleh rasa jijik.

Aura mengusap kasar bibirnya menggunakan punggung tangan hingga memerah, meraba wajahnya yang terasa asing, lalu menarik paksa gaun merah itu dari tubuhnya. Rasa mual dan risih membakar habis ketenangannya.

Tanpa membuang waktu, perempuan itu berlari masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang menusuk kulit.

Beberapa menit kemudian, Aura keluar dengan piyama longgar yang tertutup rapat. Langkah kaki telanjang yang masih sedikit basah dan gemetar karena kedinginan membawanya ke depan lemari pakaian. Ia menggeser pintu kayu itu hingga terbuka lebar.

Siapa sangka, pemandangan di dalam sana justru makin menghancurkan jiwanya. Deretan dress seksi dan berani koleksi rahasia Clara terpampang jelas di depannya.

Dengan tangan yang makin gemetar hebat, Aura meraih salah satu dress hitam di atas lutut bermerek mahal yang sama sekali tak pernah merasa ia beli.

Aura tak sanggup menahannya lagi. Ia menarik paksa semua baju yang tak pernah ia akuinya itu keluar dari lemari, melemparkannya begitu saja ke lantai. Air matanya sudah berkaca-kaca, membendung beban misteri yang kian menindih dadanya.

Namun, saat hendak menarik gaun terakhir, ponselnya di atas nakas berdering nyaring. Nama seorang dokter psikiater yang baru beberapa hari lalu sempat ia cari muncul di layar.

"Bisa datang ke rumah sakit sekarang? Aku dengar kamu mencariku beberapa hari yang lalu," ujar dr. El begitu panggilan terhubung.

Aura terdiam kaku. Lidahnya kelu.

"Nona Aura?" panggil dr. El lagi.

"Saya... saya akan sampai dalam 30 menit, Dok," bisik Aura pelan, lalu mematikan telepon tanpa menunggu balasan.

Aura menjatuhkan tubuhnya ke lantai, terduduk di atas gunungan baju seksi milik Clara yang sebelumnya tak pernah ia temukan serapi itu di lemarinya.

Setelah membuang napas berat, Aura akhirnya bangkit. Ia memilih memakai dress panjang putih yang sopan dilapisi blazer hangat. Tanpa riasan tebal, tanpa lipstik hanya polesan pelembab berwarna merah muda tipis pada bibirnya yang pucat.

Pakaian-pakaian milik Clara biarkan berserakan begitu saja di lantai kamar. Aura melangkah melewati tumpukan itu begitu saja tanpa sudi meliriknya lagi.

....

"Kamu harus sering-sering terapi dengan saya! Kenapa baru bilang, Aura? Kondisi kamu sudah makin parah!" omel dr. El tegas.

Dokter senior itu telah setia merawat Aura sejak ia berumur delapan belas tahun, sejak kecemasan dan insomnia parah melandanya selama setahun penuh hingga pihak panti asuhan membawanya ke ruangan ini.

Aura meremas kedua tangannya kaku di atas pangkuan. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat untuk menahan getaran di tubuhnya.

"Baiklah, kita cerita mulai dari awal apa yang terjadi," ujar dr. El, menurunkan intonasi suaranya menjadi lembut dan menenangkan.

"Saya... Saya menemukan baju-baju yang tidak pantas untuk dipakai... C... Cukup banyak, Dok," bisik Aura. Suaranya bergetar hebat, seolah kata-kata itu teramat berat untuk diucapkan.

dr. El mencatat tiap detail dengan cermat. Ia mendengarkan seluruh keresahan pasiennya dengan saksama. Perempuan di depannya tampak sangat lelah dan rapuh. Wajahnya terus menunduk dalam, bibirnya kering dan terdapat bekas luka kecil yang mengering—seperti bekas gigitan atau benturan.

"Mabuk? Tidur dengan lelaki asing?" dr. El terkejut mendengar penuturan itu. Pikirannya makin cemas menyadari kebiasaan amnesia berkala Aura telah membawa dampaknya sejauh ini.

"Aura, jangan banyak begadang. Minum obat yang saya berikan dengan rutin, tanpa ada hari libur!"

"Dok, saya sudah memasang alarm setiap pukul 22.00 dan saya sangat yakin kalau meminumnya!" sahut Aura penuh keyakinan, membela dirinya sendiri.

dr. El menghentikan penanya, lalu menjulurkan tangan. "Berikan botol obat itu ke saya."

Dengan gerakan ragu dan lambat, Aura merogoh tasnya dan menyerahkan botol obat tersebut.

Begitu dr. El mengocok botol bening itu, kening sang dokter berkerut dalam. Botol yang seharusnya sudah hampir habis itu ternyata masih terisi penuh hanya berkurang beberapa tablet saja.

Aura menatap botol itu dengan tatapan kosong dan memudar. Ia tidak pernah tahu bahwa setiap kali alarm pukul 22.00 itu berbunyi, kesadarannya mati... dan sisi dirinya yang lain yang terbangun untuk membuang obat-obat itu tanpa pernah ia minum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!