NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

"Ini semua salahmu! Papa dan mama meninggal karenamu! Kamu yang membunuh mama, dan kamu masih punya muka di sini?!"

Suara benturan keras terdengar saat tubuhku menghantam lantai rumah sakit yang dingin. Rasa sakit menjalar di punggungku, tetapi itu tidak sebanding dengan rasa hancur di dadaku saat melihat tatapan penuh kebencian dari Kak Charles. Napasnya memburu, matanya merah karena amarah dan air mata.

Lorong rumah sakit yang tadinya sepi mendadak terasa mencekam. Beberapa perawat menoleh terkejut, namun tidak ada yang berani mendekat. Aku mendongak, memegangi lantai keramik yang dingin untuk menopang tubuhku yang gemetar.

"Kak..." suaraku tercekat di tenggorokan, serak dan hampir tak terdengar.

"Jangan panggil aku Kakak!" bentaknya lagi, suaranya menggema memantul di dinding lorong. Dia menunjuk wajahku dengan jari yang gemetar. !"

"Kakak Charles, maafkan aku". Aku berusaha meminta maaf kepada mereka karna mereka selalu berfikir bahwa akulah penyebab kematian kedua orang tua kami dan juga sang kakek.

"Aku gak butuh maafmu, aku hanya mau kamu mengembalikan papa dan mama lagi." Seru Charles sambil menangis tergugu

Kata-katanya seperti belati yang menghujam tepat di jantungku. Air mataku luruh tanpa bisa ditahan lagi. Tuduhan itu adalah ketakutan terbesar yang sejak tadi berusaha kusangkal sendirian di depan ruang ICU. Kini, kenyataan pahit itu dihempaskan tepat di wajahku.

Setelah kejadian kematian kedua orang tua kami dan juga sang kakek semuanya berubah.dan aku menjadi sosok yang tak di anggap di rumah oleh siapapun termasuk pembantu di rumah pada takut melihatku.

"Bella, kesialanmu itu mau kau tularkan ke siapa"? "Para pelayan semua takut padamu!"

"Suara dingin Kak Ethan menggelegar di koridor lantai dua, menghentikan langkahku yang hendak kembali ke kamar. Dia berdiri di sana dengan melipat kedua tangan di dada, menatapku dengan tatapan menghakimi yang begitu menusuk. Tidak ada lagi sapaan hangat atau usapan di kepala yang dulu sering ia berikan.

"Maafkan aku, Kak Ethan..." bisikku bergetar. Aku menunduk dalam-dalam, menatap ujung kakiku sendiri. Air mata kembali menggenang, membuat pandanganku kabur. Kata "maaf" seolah telah menjadi satu-satunya kosakata yang tersisa di bibirku, meski aku tahu kata itu tidak akan pernah cukup bagi mereka.

"Maaf tidak akan mengembalikan Papa, Mama, dan Kakek, Bella!" Ethan mendengus sinis, melangkah melewatiku tanpa sedikit pun berniat menyentuh atau menenangkan adiknya yang sedang gemetar menahan tangis. "Kalau kamu tahu dirimu pembawa sial, seharusya kamu mengurung diri saja di kamar. Jangan membuat orang-orang di rumah ini merasa tidak nyaman dengan kehadiranmu."

"Maaf kakak... aku"! Seru ku sambil menangis sesengukan

Jangan panggil aku Kakak!" potong Ethan cepat, suaranya mendesis tajam menembus keheningan koridor. "Kamu sudah membunuh Papa dan Mama. Aku tidak mengusirmu dari sini, itu sudah menjadi keuntungan bagimu."

Kata-katanya telak menghantam dadaku hingga rasanya aku lupa bagaimana caranya bernapas. Gelar 'adik' yang dulu melekat padaku telah tercerabut sepenuhnya dari rumah ini. Statusku kini tak lebih dari seorang penjahat yang sedang menumpang hidup atas belas kasihan mereka yang semu.

"Dan mulai sekarang, kamu tinggal di gudang lantai tiga dan jangan pernah kamu keluar kalau tidak ada hal yang penting. Kamu hanya membawa sial saja buat kami!"

Kalimat terakhir dari Ethan bergema di sepanjang lorong, mengunci takdirku di rumah ini. Gudang lantai tiga adalah tempat pembuangan barang-barang bekas yang berdebu, gelap, dan pengap. Kini, di sanalah tempat yang mereka anggap pantas untuk seorang pembunuh orang tua mereka.

Pintu kamarnya tertutup dengan dentuman keras, menyisakan keheningan yang kembali mencekikku. Aku sendirian lagi di lorong yang sepi, meresapi setiap kalimat beracun yang baru saja dilemparkan. Di rumah ini, bernapas pun rasanya seperti sebuah kesalahan besar bagi seorang Bella.

Tanpa bisa membantah, malam itu juga aku mengemas beberapa potong pakaianku ke dalam tas ransel lusuh. Tidak ada satu pun pelayan yang berani membantuku. Mereka hanya melihat dari kejauhan dengan tatapan iba yang bercampur ketakutan, lalu buru-buru memalingkan muka saat aku menatap mereka.

Aku melangkah menaiki tangga menuju lantai tiga, lantai tertinggi yang jarang sekali dilewati orang. Ketika pintu gudang dibuka, bau apak dan debu tebal langsung menyengat indra penciumanku. Di pojok ruangan, hanya ada sebuah kasur lipat tua tanpa seprai dan satu lampu pijar kekuningan yang temaram.

Aku menutup pintu kayu yang rapuh itu, memisahkan diriku sepenuhnya dari dunia bawah yang penuh kebencian. Aku duduk di atas kasur yang keras, memeluk ranselku di tengah kegelapan yang sunyi. Mulai detik ini, aku bukan lagi bagian dari keluarga ini. Aku adalah tawanan di rumahku sendiri, dikubur hidup-hidup di dalam gudang lantai tiga bersama rasa bersalah yang akan terus menggerogoti jiwaku.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan sempit ini. Tidak ada gorden lembut yang biasanya menghiasi jendela kamarku yang dulu. Yang ada hanya sepasang jendela kayu tua yang engselnya sudah berkarat.

Bahkan, kacanya pun sudah retak di beberapa bagian. Aku mencoba menambal celah-celah retakan itu dengan koran bekas yang kutemukan di pojok gudang, merapatkannya sebisaku agar udara luar tidak masuk. Namun, usahaku sia-sia. Jendela itu tetap bocor.

Ketika malam semakin larut, angin malam yang menusuk tulang tetap saja lolos melewati celah kayu dan robekan koran. Angin itu berembus kencang, membuat lampu pijar di langit-langit bergoyang pelan dan menciptakan bayangan yang mengerikan di dinding.

Aku merapatkan jaket tipisku, memeluk kedua lutut di atas kasur lipat tanpa seprai ini. Tubuhku menggigil hebat, bukan hanya karena dinginnya angin malam yang meraba kulitku, tetapi juga karena rasa sepi yang teramat sangat. Di bawah sana, kakak-kakakku mungkin sedang tidur di kamar mereka yang hangat dan nyaman, sementara aku di sini, dibiarkan membeku bersama rasa bersalah yang tak pernah usai.

Tahun-tahun berlalu seperti mimpi buruk yang panjang, dan begitulah hidupku berjalan sampai sekarang. Aku telah berumur 25 tahun. Umur di mana orang-orang di luar sana mungkin sedang mengejar karier, jatuh cinta, atau menikmati masa muda mereka dengan bahagia.

Namun bagiku, waktu seolah berhenti di gudang lantai tiga ini. Aku hidup sendirian di rumahku sendiri. Rumah yang sertifikatnya mungkin masih mencantumkan nama orang tuaku, tetapi atmosfer di dalamnya terasa sangat asing. Aku menjelma menjadi orang asing bagi semua saudara-saudaraku.

Selama bertahun-tahun, aku belajar cara bertahan hidup tanpa mengusik mereka. Aku turun ke dapur hanya di sepertiga malam, saat seluruh rumah telah terlelap, hanya untuk mengambil sisa makanan atau air minum. Aku menjadi ahli dalam melangkah tanpa suara, menahan napas setiap kali mendengar derap langkah kaki di tangga, dan menelan semua rindu serta tangisku sendiri.

Sementara aku membusuk di lantai tiga, adik perempuanku hidup seperti seorang putri. Dia tinggal di lantai dua, menempati kamar utama yang paling luas, megah, dan selalu terang benderang oleh cahaya matahari. Kehadirannya dipuja, sementara keberadaanku dikutuk.

Suatu hari, rasa iba melihat seorang pelayan yang kewalahan membuatku memberanikan diri. Aku menawarkan diri untuk membantu membawakan tumpukan baju bersih milik adik perempuanku ke kamarnya. Itu adalah momen langka di mana aku menginjakkan kaki di lantai dua saat siang hari.

Begitu pintu kamarnya terbuka, mataku seketika memanas.

Seluruh lantai kamarnya dilapisi oleh karpet bulu yang sangat lembut dan tebal, kontras dengan lantai semen gudangku yang dingin dan berdebu. Dindingnya dihiasi wallpaper berwarna merah muda yang indah dan hangat. Namun, yang paling membuat dadaku sesak adalah lemari pakaiannya. Lemari besar berlapis kaca itu bahkan jauh lebih luas dan megah daripada seluruh ukuran kamar gudang tempatku bertahan hidup selama belasan tahun ini.

Aku meletakkan baju-baju itu di tepi tempat tidurnya yang empuk dengan tangan gemetar. Di atas meja riasnya, terpajang foto adikku yang sedang tertawa lebar dipeluk oleh Kak Ethan, Kak Aaron, dan Kak Charles. Mereka tampak begitu bahagia, seolah-olah ruang kosong yang kutinggalkan telah digantikan sepenuhnya oleh adikku.

Di rumah ini, batas antara surga dan neraka hanya berjarak satu lantai. Dan aku, dipaksa hidup di kerak paling bawah tanpa pernah tahu kapan hukuman ini akan berakhir.

1
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!