NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Mahapatih

Balai kepatihan berdiri di sisi utara istana, bangunan besar dari bata merah dan kayu jati dengan tiang-tiang setebal pelukan dua orang. Pada fajar yang masih berkabut itu, halamannya sepi, hanya beberapa prajurit berjaga di gerbang dengan wajah sekeras patung.

Raka melangkah di belakang Mpu Kalandara, telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Ia mengenakan pakaian cantrik paling bersih yang ia punya, rambutnya disisir rapi, dan ia berulang kali menghafal pesan pertapa itu semalam: jawab sedikit, jangan menatap langsung, jangan berbohong terang-terangan.

Semuanya mendadak terasa tidak mungkin dilakukan.

Seorang pejabat muda menyambut mereka di serambi dan mengantar masuk melewati lorong panjang berpilar. Di ujungnya, sebuah pintu kayu ukir terbuka lebar. Ruangan di baliknya luas tetapi sederhana: lantai berlapis tikar anyaman, sebuah meja rendah dari kayu jati, dan di belakangnya sebuah jendela besar yang menghadap taman. Tak ada hiasan emas, tak ada singgasana.

Dan di meja itu, membelakangi cahaya fajar, duduk seorang lelaki.

Gajah Mada tidak tampak seperti legenda. Ia berbadan kekar dan agak pendek, wajahnya persegi dengan rahang yang kokoh, dan tangannya yang besar sedang menggoreskan sesuatu di atas selembar lontar. Ia mengenakan kain biasa, hanya selempang kecil di bahu yang menandakan pangkatnya. Namun ketika ia mengangkat wajah, ruangan itu terasa menyempit.

"Duduklah," katanya. Suaranya dalam, tenang, tanpa ancaman. Dan justru itu yang menakutkan.

Mereka duduk bersila di hadapannya, menunduk. Pejabat muda itu mundur dan menutup pintu.

"Pandita Kalandara," kata Gajah Mada. "Dua puluh satu tahun sejak terakhir kali aku melihatmu di balai ini. Kau tampak menua."

"Hamba memang menua, Gusti Mahapatih. Itu hukum alam."

"Hukum alam." Ia menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. "Orang yang berbicara tentang hukum alam biasanya orang yang sedang menyembunyikan sesuatu."

Mpu Kalandara tak menjawab.

"Dan ini?" Mata Gajah Mada beralih pada Raka. Tatapannya menembus seperti mata pisau. "Murid barumu?"

"Cantrik Raka, Gusti. Dari negeri jauh. Hamba menemukannya di lereng Wilis."

"Dari negeri jauh." Gajah Mada mengulang pelan. "Jauh seberapa?"

Raka merasakan seluruh darahnya berhenti mengalir. Ia tahu ini ujian pertama.

"Sangat jauh, Gusti," jawabnya, mengangkat wajah sedikit tapi menjaga mata ke bawah. "Terlalu jauh untuk dijelaskan dengan kata-kata yang hamba miliki."

Hening.

Lalu, tanpa diduga, Gajah Mada tertawa. Tawa pendek, kering, seperti suara batu yang saling menggesek.

"Jawaban yang cerdik. Tidak berbohong, tidak juga jujur." Ia meletakkan stylusnya. "Kalandara, kau selalu memilih murid yang pandai berkelit."

"Hamba hanya mengajarkan yang hamba tahu."

Gajah Mada tidak menyuguhkan teh, tidak mengucapkan basa-basi. Ia melipat tangan di atas meja dan berbicara dengan nada seorang jenderal yang sedang menjabarkan situasi perang.

"Aku akan jujur pada kalian, supaya kalian jujur padaku. Sudah lama aku tahu kau bukan orang biasa, Kalandara. Dua puluh satu tahun lalu kau datang ke istana tanpa asal, tanpa keluarga, tanpa kerabat, dengan pengetahuan naskah yang tak dimiliki pendeta mana pun. Ratu Tribhuwana menerimamu, dan aku membiarkannya."

"Mengapa?" tanya Mpu pelan.

"Karena kau tak pernah menyakiti siapa pun. Dan karena orang yang berguna lebih baik dibiarkan hidup daripada dicurigai." Gajah Mada menatapnya lurus. "Aku tak peduli dari mana kau berasal. Tapi aku peduli pada hal-hal yang mengancam kerajaan ini."

"Dan Gusti merasa kami mengancam?"

"Tidak. Tabib itu."

Raka menahan napas.

"Dia datang tiga pekan lalu," lanjut Gajah Mada. "Dalam waktu singkat, dia sudah dikenal seluruh Trowulan. Meramalkan kebakaran. Menyembuhkan orang sakit. Para pejabat mulai membicarakannya seperti seorang resi. Beberapa bahkan berbisik bahwa dia utusan para dewa." Matanya menyipit. "Dan dia berkali-kali meminta menghadap Baginda Rajasanagara secara pribadi."

"Untuk apa?" tanya Mpu.

"Untuk 'mengajarkan ilmu baru', katanya. Cara mengatur pajak. Cara membangun saluran air. Cara melatih prajurit." Ia mengetukkan jari di meja. "Semuanya terdengar masuk akal. Semuanya terdengar bermanfaat. Dan itulah yang membuatku curiga."

Raka mengangkat wajah tanpa sengaja. "Gusti curiga karena terlalu bagus?"

Pandangan Gajah Mada beralih padanya. "Orang yang menawarkan terlalu banyak dengan terlalu manis, biasanya menginginkan lebih banyak lagi." Ia menyipitkan mata. "Kau mengenalnya."

Itu bukan pertanyaan.

Raka memandang Mpu Kalandara, yang mengangguk nyaris tak kentara.

"Ya, Gusti," jawab Raka. "Kami mengenalnya. Dari tempat yang sama dengan asal kami."

"Dan?"

"Dia bukan orang jahat, hamba kira. Tapi dia yakin dia benar. Dan itu berbahaya."

Gajah Mada mengamatinya lama sekali. Lalu, perlahan, ia bersandar dan melipat tangan di dada. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, bahunya sedikit mengendur.

"Itu jawaban yang kuinginkan," katanya.

Pembicaraan berlangsung hampir sejam. Gajah Mada mengajukan pertanyaan demi pertanyaan, tajam, efisien, tanpa basa-basi: apa kemampuan Hendar, apa kelemahannya, apa yang ia inginkan. Mpu Kalandara dan Raka menjawab sebisanya, berhati-hati memilih mana yang boleh diungkapkan. Mereka tidak menyebut soal gerbang, soal perubahan sejarah, soal Sekar.

Tetapi di tengah percakapan, Gajah Mada tiba-tiba berhenti dan bertanya santai:

"Siapa gadis di Kampung Pandean?"

Raka merasa dunianya miring.

"Seorang prajurit Bhayangkara melaporkan kegaduhan di sana kemarin pagi," lanjut Gajah Mada tanpa mengubah nada. "Lurah Anggada hendak membawa seorang gadis desa atas perintah si Tabib, tapi dihalangi oleh Wirabhaya. Aku ingin tahu mengapa seorang komandan Bhayangkara repot-repot melindungi gadis desa biasa."

"Dia seorang tabib desa, Gusti," kata Raka, suaranya terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan. "Dia menolong hamba ketika hamba tersesat. Hamba merasa berutang budi. Dan Gusti Wirabhaya... menghormati hal itu."

Itu separuh kebenaran. Tiga perempat, malah.

Gajah Mada memandangnya lama. Terlalu lama.

"Separuh kebenaran," katanya akhirnya, pelan, "adalah kebohongan yang paling sulit dibantah."

Raka tak menjawab.

"Tapi aku tidak akan mendesakmu. Belum." Gajah Mada mengambil kembali stylusnya. "Aku tak suka rahasia, Cantrik. Tapi aku lebih tak suka orang yang membuka rahasia pada saat yang salah."

Lalu, seolah tak ada yang terjadi, ia melanjutkan dengan nada urusan kerja:

"Mulai besok, kalian berdua tinggal di dalam kepatihan. Kalandara akan menjadi penasihat tamu. Kau, Raka, akan bekerja sebagai juru tulis di bawah pengawasanku langsung. Itu cukup dekat bagiku untuk mengawasi kalian, dan cukup dekat bagi kalian untuk mengawasi Tabib itu bila ia bergerak."

"Kami... diperintahkan memata-matai Hendar?" tanya Raka.

"Aku tidak memerintahkan apa pun. Aku hanya menawarkan tempat yang aman." Gajah Mada tersenyum tipis. "Tapi kalau kalian kebetulan melihat sesuatu, aku akan senang mendengarnya."

Mereka berpamitan. Mpu Kalandara berdiri pelan, membungkuk dalam, dan Raka mengikutinya. Mereka sudah hampir mencapai pintu ketika suara Gajah Mada kembali terdengar, kali ini lebih rendah, nyaris seperti gumaman.

"Kalandara."

Mpu menoleh. "Gusti?"

"Katakan pada pandai besi di Pandean," kata Gajah Mada, tanpa mengangkat wajah dari lontarnya, "bahwa aku masih mengingat Wiratanu."

Raka merasakan seluruh tubuhnya membeku. Di sampingnya, Mpu Kalandara menahan napas.

"Dan bahwa ia tak perlu takut padaku," lanjut Gajah Mada pelan, goresan stylusnya tak berhenti. "Belum."

Lalu ia menunduk kembali pada pekerjaannya, tak mengucapkan sepatah kata pun lagi, dan mereka terpaksa keluar dengan jantung berdentam keras dan lutut gemetar.

Lorong berpilar itu terasa jauh lebih panjang dari saat mereka datang.

1
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
mimief
iy bener..
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!