Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Sambu Dan Komponen Gelap
Tiga hari setelah ruko Jalan Sutomo diratakan dengan adukan semen padat, Medan kembali berusaha menelan traumanya. Namun bagi Faris, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Kota ini terlalu padat, terlalu riuh, dan yang paling berbahaya: terlalu banyak sampah elektronik yang berpindah tangan setiap jamnya.
Di dalam kamar kosnya yang baru di kawasan Medan Kota, Faris duduk membisu di depan meja kayu kecil. Di atas meja itu tergeletak selebaran kertas koran lokal edisi pagi. Berita utama di halaman tiga menampilkan foto kecil kawasan Pasar Sambu—pusat perdagangan barang bekas terbesar dan paling labirin di Kota Medan.
BEKAS PEMANCAR RUKO SUTOMO DIJUAL KILOAN, TEKNISI PASAR SAMBU DITEMUKAN TEWAS DENGAN TELINGA PENDARAHAN
Darah Faris rasanya membeku seketika.
Ia langsung menyambar jaket dan ponsel barunya yang sudah diatur ke mode pesawat (airplane mode), lalu berlari keluar kamar kos menuju mobil Maya yang sudah menunggu di pinggir jalan.
Maya menatap Faris dengan ekspresi serba salah dari balik kemudi. Di jok belakang, kotak besi timbal yang sebelumnya kosong kini kembali terbuka.
"Pemulung itu tidak membuangnya, Faris," kata Maya dengan suara serak, matanya yang membingkai lingkaran hitam menandakan ia tidak tidur dua hari. "Dia menjual seluruh rongsokan sirkuit dari sisa reruntuhan ruko Sutomo ke seorang penampung barang bekas di Pasar Sambu bernama Pak Ucok."
"Profesor Bahri bilang piringan utamanya sudah hancur!" seru Faris sembari membanting pintu mobil.
"Piringan tembaga utama di sumur memang hancur," balas Maya cepat sembari menginjak pedal gas. "Tapi Hendra tidak cuma buat satu sirkuit cadangan. Tahun 1998, dia merakit tiga papan motherboard sekunder untuk membagi beban transmisi. Satu di atap, satu di sumur... dan yang ketiga ada di brankas besi lantai satu ruko yang ikut terangkut oleh truk sampah!"
Minibus tua Maya membelah kepadatan Jalan Sutomo dan berbelok tajam menuju kawasan Pasar Sambu. Udara pagi yang lembap bercampur bau asam sampah, asap knalpot angkot, dan bau hanyir pasar ikan langsung menyergap ketika mereka tiba di pinggiran kompleks pasar.
Pasar Sambu adalah rimba beton. Ribuan kios sempit berdesakan di lorong-lorong gelap di bawah atap seng yang bocor. Di sini, segala macam barang bekas dijual: dari pakaian import bekas, mesin cuci rusak, hingga komponen radio dan ponsel mati dari tahun 90-an.
Maya dan Faris berjalan cepat menyusuri lorong kumuh beratap seng, melangkahi genangan air hitam yang berbau busuk. Maya memegang alat RF Signal Detector yang telah dimodifikasi di dalam tas selempangnya. Earphone kecil menempel di telinga kirinya, memantau desis frekuensi ELF.
"Kios Pak Ucok ada di lorong tiga, bagian belakang toko barang elektronik tua," bulat Maya berbisik.
Mereka berhenti di depan sebuah kios sempit berdinding papan kayu yang tertutup terpal biru. Di depan kios, beberapa pedagang lain berkumpul dengan wajah pucat, berbisik-bisik ketakutan. Garis kuning polisi terpasang alakadarnya membentang di depan pintu toko.
Dari balik terpal yang tersingkap, Faris bisa melihat tubuh seorang pria paruh baya tergeletak di atas tumpukan komponen radio bekas. Matanya mendelik ke atas, dan darah yang sudah mengering menghitam tampak meleleh dari kedua lubang telinganya hingga membasahi tumpukan kabel di lantai.
Di atas meja kayu di dekat mayat tersebut, sebuah solder listrik masih menyala, memancarkan asap tipis berbau tembaga terbakar. Pak Ucok tampaknya baru saja mencoba menyolder kembali sebuah papan sirkuit tua berdebu sebelum maut menjemputnya.
Namun yang membuat jantung Faris serasa berhenti berdetak adalah: papan sirkuit itu sudah tidak ada di meja kerja Pak Ucok.
"Sial... komponennya sudah ada yang mengambil!" desis Maya panik. Alat pendeteksi di tasnya mendadak berbunyi bip tipis namun ritmis.
Beep... beep... beep...
"Ada sinyal pasif yang baru saja menjauh dari lorong ini!" Maya menoleh cepat ke arah kerumunan warga di lorong pasar.
Faris menyapu pandangannya ke sekeliling lorong yang padat oleh pejalan kaki dan pedagang. Di ujung lorong, sekitar sepuluh meter dari mereka, seorang pemuda berjaket hitam dengan tas ransel besar tampak berjalan terburu-buru, menyikut orang-orang di depannya tanpa memedulikan umpatan warga.
Dari saku celana belakang pemuda itu, sebuah ponsel android murah berkilat-kilat cepat, layarnya memancarkan warna merah yang amat sangat dikenal Faris.
"Itu orangnya!" teriak Faris.
Pemuda berjaket hitam itu mendadak menghentikan langkahnya. Ia memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat ke belakang—sebuah gerakan patah-patah yang tidak manusiawi—menatap Faris dan Maya dengan mata yang seluruhnya berwarna putih tanpa pupil.
Bibir pemuda itu bergerak lambat, tanpa mengeluarkan suara biasa, melainkan meluncurkan desis statis nyaring langsung dari pengeras suara radio gantung di kios-kios pasar di sekitarnya:
Tek... tek... tek...
"Saluran tiga... telah terhubung."
Progres Cerita:
Bab 11 Selesai (Teror berpindah ke Pasar Sambu, terungkapnya keberadaan sirkuit cadangan ketiga milik Hendra, kematian Pak Ucok, dan munculnya 'inang' baru yang terinfeksi kode pasif di tengah keramaian pasar).