NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal baru tanpa Seinara

Pagi-pagi berikutnya menyingsing dengan warna abu-abu yang suram. Kehidupan di luar sana tidak berhenti hanya karena dunia mereka bertiga terasa runtuh. Roda waktu terus berputar menuntut ketiganya untuk melangkah keluar dari lingkaran duka, kembali ke rutinitas masing-masing meski ada rongga besar yang hampa di dalam dada mereka.

Valen menjadi yang pertama bangkit dari sofa pagi itu. Matanya masih sembap dan perih, tetapi tatapan ketetapan hati mulai menggantikan keputusasaan semalam. Kata-kata Kevin di dermaga Merak terus bergema di kepalanya: Seinara pergi untuk bertahan hidup, bukan untuk menyerah. Jika Seinara sedang berjuang menyembuhkan lukanya di luar sana, maka Valen dan yang lainnya tidak boleh hancur di sini.

"Kita tidak boleh berhenti hidup," bisik Valen pelan namun tegas pada Firly dan Jessy yang mulai terbangun di ruang tengah. "Seinara melarikan diri karena dia ingin tenang. Jika kita membiarkan hidup kita berantakan, pencarian ini juga akan berhenti. Kita tetap beraktivitas, tapi kita jadikan pencarian Seinara sebagai napas kedua kita"

Kembali ke rutinitas bukan berarti melupakan, melainkan menyamarkan pencarian itu ke dalam sela-sela kehidupan sehari-hari mereka.

Valen dan Kesibukannya di Rumah Sakit

Kembali mengenakan jas putihnya di rumah sakit, Valen menjalani harinya seperti biasa—memeriksa pasien, berdiskusi dengan sesama dokter, dan mendampingi Dr. Kevin. Namun, fokusnya kini memiliki cabang baru. Setiap kali ada pasien rujukan dari daerah pesisir, pasien tanpa identitas yang masuk ke ruang darurat, atau program bakti sosial kesehatan ke pulau-pulau terpencil, Valen selalu menjadi orang pertama yang mengajukan diri. Bersama Kevin, ia secara berkala memeriksa jaringan medis daerah, berharap nama Seinara—atau seseorang dengan ciri-cirinya—muncul di salah satu klinik kecil di pelosok.

Firly dan Jaringan Pekerjaannya

Firly kembali ke dunianya yang penuh dengan mobilitas tinggi dan interaksi sosial. Namun kini, setiap perjalanan bisnis luar kota dan agenda pertemuannya memiliki misi tersembunyi. Firly memanfaatkan seluruh koneksi dan jaringannya—mulai dari pemilik penginapan lokal, penyedia jasa transportasi, hingga komunitas pekerja lepas di berbagai daerah. Di setiap kota pelabuhan atau daerah terpencil yang ia kunjungi, Firly selalu menyempatkan diri menyusuri pasar-pasar lokal dan pemukiman warga, memegang foto Seinara di dalam ponselnya, bertanya dengan tenang tanpa menimbulkan kecurigaan.

Jessy lanjut bekerja di sebuah perusahaan

Di balik meja kerjanya, Jessy tidak pernah benar-benar menutup laptopnya dari jejak Seinara. Meski Seinara telah menghapus seluruh akun utamanya, Jessy tahu bahwa di zaman modern ini, seseorang yang bertahan hidup pasti akan meninggalkan 'jejak halus'. Jessy membangun sebuah program pemantauan sederhana—sebuah script otomatis yang memantau forum-forum komunitas anonim, grup pencarian kerja lokal di daerah pesisir, hingga transaksi digital mikro yang mungkin muncul tanpa nama. Setiap malam setelah menyelesaikan pekerjaan utamanya, Jessy menghabiskan berjam-jam meneliti data-data mentah tersebut, mencari sekecil apa pun anomali yang merujuk pada keberadaan sahabatnya.

Hari-hari berlalu menjadi minggu. Suasana di kediaman mereka tidak lagi sedingin malam di mana jejak Seinara terputus. Tawa perlahan mulai kembali hadir, meski diselingi jeda rindu yang dalam setiap kali mereka melihat sudut rumah yang dulu sering ditempati Seinara.

Motor gede hitam doff milik Seinara kini terparkir rapi di garasi rumah mereka, dipindahkan oleh tim Hans atas permintaan Valen. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Valen selalu menyempatkan diri mengelap debu tipis di atas tangkinya, menyentuh helm yang terikat di sana, seolah mengirimkan pesan tak bersuara menembus jarak dan waktu.

"Kami masih di sini, Seinara," bisik Valen pagi itu seraya mengunci pintu garasi dan berjalan menuju mobil Kevin yang sudah menunggu di depan pagar. "Kami menjalankan hidup kami dengan baik... jadi, tolong bertahanlah di mana pun kamu berada, sampai kami menemukanmu kembali."

Langkah kaki mereka bertiga kini penuh tekad. Kehidupan boleh saja menuntut mereka untuk terus berjalan, tetapi ikatan persahabatan itu telah menjangkau lebih jauh dari samudera tempat Seinara menghilang—menunggu hari di mana takdir akan mempertemukan mereka kembali.

##########

Sinarnya pagi tak lagi terasa sepenuhnya dingin bagi Valen. Di balik tumpukan tugas medis dan kerinduan yang mengendap pada sosok Seinara, ada satu tempat yang perlahan menjadi ruang aman baginya: Puskesmas Pembantu (Pustu) di pesisir, tempat ia dan Dr. Kevin menghabiskan waktu bertugas bersama.

Pustu yang sederhana itu—berdinding cat putih mengelupas dengan aroma khas antiseptik dan angin laut yang berembus masuk lewat jendela kayu menjadi saksi bagaimana ikatan profesional antara Valen dan Kevin berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

Setiap kali jadwal dinas di Pustu tiba, dinamika di antara mereka selalu terasa berbeda dibandingkan di rumah sakit besar. Di sini, fasilitas terbatas menuntut mereka untuk saling melengkapi tanpa perlu banyak bicara. Tatapan mata dan isyarat tangan sudah cukup untuk memahami apa yang dibutuhkan saat menangani pasien—mulai dari anak-anak nelayan yang demam hingga para lansia yang membutuhkan pemeriksaan rutin.

Di sela-sela kesibukan itu, Kevin selalu menemukan cara untuk memperhatikan Valen. Ia tahu betul betapa dalamnya rasa lelah dan beban mental yang dipikul Valen semenjak Seinara menghilang.

"Lupakan sebentar tentang data pasien, Valen. Minum ini dulu," ujar Kevin suatu siang, meletakkan secangkir teh hangat beraroma melati di meja periksa Valen.

Valen menengadah, mengulas senyum tipis yang tulus. "Terima kasih, Mas Kevin. Padahal tadi aku baru mau mengambilnya."

"Aku tahu," balas Kevin lembut, menyandarkan tubuhnya sebentar di tepi meja. Matanya menatap Valen dengan kehangatan yang konsisten sebuah jangkar yang membuat Valen tetap berpijak di tengah badai emosi yang kerap datang tiba-tiba.

Perubahan ikatan mereka tidak terjadi dalam semalam, melainkan tumbuh dari momen-momen kecil yang jujur.

Suatu sore setelah pelayanan Pustu selesai dan para warga telah pulang, hujan lokal turun menyiram pesisir. Valen berdiri di beranda Pustu, menatap rintik air yang jatuh ke atas permukaan laut di kejauhan. Keheningan itu kembali membawa ingatan tentang Seinara dan malam kelam di Merak.

Kevin berjalan mendekat, menyelimuti bahu Valen dengan jas laboratorium miliknya sendiri. Tanpa kata-kata puitis yang berlebihan, Kevin meraih tangan Valen dan menggenggamnya erat memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan Valen.

"Kamu tidak harus berpura-pura kuat di depanku, Valen," bisik Kevin pelan. "Aku di sini. Kita jalani ini bersama-sama."

Valen membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman itu. Matanya sedikit berkaca-kaca, tetapi kali ini bukan karena keputusasaan, melainkan rasa syukur. Di dalam genggaman Kevin, ia menemukan kepastian dan ketenangan yang selama ini hilang.

"Aku merasa... bersama Mas Kevin, aku punya alasan untuk tetap tersenyum di tengah semua rasa kehilangan ini," aku Valen jujur, menatap manik mata Kevin.

Kevin tersenyum, menyibak sedikit helai rambut Valen yang ditiup angin pesisir. "Dan aku akan memastikan senyum itu tidak akan hilang."

Sejak sore itu, hubungan mereka melangkah ke babak baru. Mereka bukan lagi sekadar rekan sejawat atau senior-junior di bidang medis, melainkan sepasang kekasih yang saling menguatkan.

Perubahan itu mewarnai hari-hari mereka di Pustu dengan kehangatan baru. Ada gestur-gestur kecil penuh kasih yang kini mengalir alami:

Tawa Kecil di Sela Tugas: Candaan lembut Kevin di tengah tumpukan resep obat yang membuat lelah Valen terangkat seketika.

Saling Menjaga: Valen yang kini tanpa ragu merapikan kerah baju Kevin atau memastikan Kevin tidak lupa makan siang di tengah jadwal operasi rujukan.

Misi Bersama: Setiap kali Kevin membuka jaringan medis daerah untuk mencari informasi keberadaan Seinara, jemari mereka sering bertautan di atas meja, mengukuhkan janji bahwa cinta mereka tumbuh seiring dengan perjuangan mencari sahabat terbaik mereka.

Di Pustu yang sederhana di tepi laut itu, Valen dan Kevin menemukan tempat untuk merajut harapan. Cinta mereka menjadi bahan bakar baru—memberi Valen kekuatan ekstra untuk terus melangkah, menjalankan tugas medisnya, dan menjaga api pencarian Seinara agar tidak pernah padam.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!