Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.
Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.
Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.
Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?
"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Masa Lalu yang Kembali Datang
Jalan yang kami pilih ternyata tidak langsung menuju ketenangan yang abadi. Ia membentang di depan, sederhana, sepi, namun tak sepenuhnya bebas dari bayang-bayang yang kami tinggalkan. Kami menyewa sebuah rumah kecil di pinggiran kota — tidak jauh dari tempat asalku, cukup jauh dari kedengkian dan penghakiman yang dulu mengelilingi kami. Rumah itu sederhana: lantai semen yang bersih, dinding yang dicat warna krem lembut, halaman yang belum tertanam banyak bunga, namun penuh cahaya pagi yang masuk tanpa terhalang oleh tembok tinggi. Di sinilah kami mulai membangun dunia kami sendiri — perlahan, dengan tangan kami sendiri.
Hari-hari awal terasa seperti mimpi. Kami bangun bersama, menyiapkan sarapan sederhana, berbicara tentang hal-hal kecil — tentang bagaimana menanam sayur di halaman, tentang tempat yang ingin kami kunjungi, tentang rencana-rencana yang dulu tak berani kami ucapkan. Arga tidak lagi menjadi pewaris yang dikelilingi urusan ribuan orang. Ia hanya Arga — pria yang tersenyum saat melihatku, yang membantuku menyapu halaman, yang duduk di ambang pintu sambil menatap langit sore, seakan akhirnya bisa bernapas lega. Aku pikir kami sudah selamat. Aku pikir masa lalu tertinggal jauh di belakang gerbang besar itu. Namun takdir seringkali menyimpan sesuatu yang tak kami duga — sesuatu yang kembali, bukan untuk mengganggu, tapi untuk dihadapi.
Itu dimulai dari surat. Bukan satu, bukan dua — datang berturut-turut, amplopnya rapi, ditujukan langsung kepada Arga. Pertama dari pengacara, berisi pemberitahuan bahwa sengketa warisan memanas, bahwa kerabat yang menuntut kini semakin gigih, bahwa namanya dicatatkan di sidang pengadilan yang akan segera dibuka. Arga membacanya dalam diam, lalu melipatnya perlahan, menyimpannya di laci meja kayu sederhana yang kami beli bekas. "Aku tahu," ucapnya singkat, saat aku menatapnya cemas. "Aku tidak akan kembali ke sana. Biarlah mereka mengurusnya sendiri."
Namun surat berikutnya berbeda. Tinta di atas kertas itu terasa lebih tua, lebih bergetar, seakan ditulis dengan tangan yang gemetar. Ia dari seseorang yang tak kusangka — bibinya sendiri, wanita yang dulu diam saja saat semua orang menuduhku. Ia menulis: "Arga, aku tidak bisa diam lagi melihat semua ini hancur. Bukan harta yang membuatku cemas, tapi kamu. Kamu pergi membawa sesuatu yang belum selesai di hatimu. Sesuatu yang kamu sembunyikan bahkan dari dirimu sendiri."
Arga membaca surat itu berulang kali, wajahnya perlahan berubah pucat. Ia tidak berbicara seharian. Duduk di beranda, menatap ke kejauhan, seakan melihat sesuatu yang tak kulihat. Malam itu, saat lampu sudah padam, ia bercerita — perlahan, dengan suara yang nyaris tak terdengar — tentang hal yang ia simpan sendirian sejak masa kanak-kanak.
"Aku selalu berpikir aku melupakan itu," mulainya, tangannya menggenggam tanganku erat, seakan takut jika melepaskannya, aku akan lenyap seperti kenangan lain. "Ternyata tidak. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali."
Ia bercerita tentang ibunya — tentang bagaimana sebelum pergi, mereka pernah berjanji akan selalu menjaga keluarga tetap utuh. Tentang bagaimana ia merasa bersalah seumur hidup karena merasa tidak cukup baik, tidak cukup kuat, untuk mencegah ibunya pergi. Tentang bagaimana ia berpikir bahwa dengan meninggalkan rumah besar itu, ia bisa lari dari rasa bersalah itu — bahwa ia telah mengecewakan orang-orang yang dicintainya.
"Kami pergi demi kebahagiaan kita," katanya, matanya berkaca-kaca. "Tapi di dalam, aku merasa... aku meninggalkan mereka. Seperti ibuku meninggalkanku. Aku takut aku menjadi seperti dia — pergi, membiarkan mereka, dan tidak pernah kembali."
Aku memeluknya erat, membiarkan kepalanya bersandar di bahuku. "Kau tidak pergi karena tidak peduli. Kau pergi agar kami bisa hidup. Itu berbeda."
"Apakah mereka mengerti?" suaranya pecah. "Atau mereka melihatku sama — anak yang pergi, yang tidak peduli?"
Pertanyaan itu belum terjawab, ketika kedatangan berikutnya terjadi — bukan surat, melainkan seseorang. Pagi itu, saat aku sedang menyiram tanaman di halaman, sebuah mobil berhenti di depan pagar kayu kami. Pintu terbuka, dan Rania turun — mengenakan pakaian yang rapi, wajahnya tampak lelah, tidak seperti biasanya yang selalu tenang dan percaya diri. Ia berdiri di sana sejenak, menatap rumah kecil itu, lalu menatapku.
"Boleh aku masuk?" tanyanya pelan.
Aku membiarkannya. Tidak ada amarah di hatiku, hanya keinginan untuk tahu — mengapa ia datang, apa yang dibawanya. Kami duduk di meja kecil di teras, Arga keluar menyusul saat mendengar suaranya. Wajahnya berubah saat melihatnya — bukan senang, bukan marah, hanya terkejut.
"Kau datang untuk apa?" tanyanya, duduk di sampingku, menjaga jarak yang jelas.
Rania menarik napas panjang, menatap kami berdua bergantian. "Aku tidak datang untuk memisahkan kalian. Jangan takut. Aku datang karena ada hal yang harus kalian ketahui — hal yang tidak dikatakan siapa pun, karena takut."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan jujur. "Sengketa warisan ini bukan sekadar soal harta. Orang-orang yang menuntut itu bukan sekadar kerabat yang serakah. Mereka menggunakan kesedihan lama — kesedihan tentang ibumu, Arga — untuk memecah belah. Mereka berkata kau tidak pantas mewarisi karena kau tidak pernah benar-benar mencintai keluarga ini. Bahwa kau pergi begitu saja, tanpa peduli."
Ia menatap Arga lekat-lekat. "Dan banyak yang percaya. Bukan karena mereka membencimu, tapi karena mereka tidak mengerti mengapa kau pergi. Tidak ada yang tahu kau pergi bukan karena ingin meninggalkan mereka, tapi karena kau tidak bisa hidup di tempat yang tidak menginginkan istrimu. Tidak ada yang tahu itu."
Arga terdiam. Tangan yang menggenggam milikku perlahan mengencang. "Mengapa kau memberitahu ini?"
"Karena aku tidak bisa diam lagi," jawab Rania jujur. "Aku pernah berpikir... seandainya aku di tempat Lia, mungkin aku bisa membuatmu tetap tinggal. Tapi aku salah. Kau tidak pernah melihatku seperti melihatnya. Dan aku menyadari — jika aku benar-benar peduli padamu, aku tidak akan membiarkanmu hancur sendirian."
Ia berdiri, menatapku sebentar, lalu kembali ke Arga. "Masa lalu tidak akan pergi begitu saja, Arga. Ia kembali bukan untuk menyakiti, tapi untuk diselesaikan. Jika kau terus lari, ia akan mengejarmu selamanya. Jika kau menghadapinya, mungkin... mungkin tidak semua akan kembali seperti dulu, tapi setidaknya kau tidak akan membawa beban ini ke mana-mana."
Mobilnya pergi, menyisakan debu tipis di jalan tanah. Kami duduk diam berdua, mendengarkan suara angin yang menyapu dedaunan. Apa yang dikatakan Rania benar — masa lalu tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Ia menempel di kaki, di hati, di setiap keputusan yang kami ambil.
"Kau ingin kembali?" tanyaku pelan, menatapnya.
Arga menatap ke arah jalan yang kosong, lalu ke arahku. "Aku takut. Takut kembali ke tempat yang menyakitimu. Takut melihat mereka yang menatapku dengan kecewa. Takut aku tidak cukup kuat untuk menghadapinya."
Ia menarik napas panjang, menggenggam tanganku lebih erat. "Tapi aku lebih takut jika kita menghabiskan sisa hidup kita lari. Jika kita selalu melihat ke belakang, takut ada yang mengejar. Itu bukan hidup yang aku inginkan untukmu."
Malam itu kami berbicara hingga larut — tentang pilihan yang sulit, tentang kemungkinan yang menyakitkan, tentang keberanian yang harus dikumpulkan dari tempat yang paling dalam. Masa lalu sudah kembali. Ia berdiri di depan pintu, mengetuk pelan. Dan kami tahu — pintu itu tidak bisa tetap tertutup selamanya.