Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Kakek dan Aroma Mint
Sore hari di mansion utama The Wirasena Compound terasa mencekam.
Evan berdiri tegap di depan meja kerja jati milik kakeknya. Rahangnya mengeras menahan kesal.
Bagi Evan, ruangan ini selalu terasa menekan. Setiap sudutnya dipenuhi barang antik mahal yang seolah ikut mengadili kesalahannya dalam mengurus pernikahan ini.
Kakek Baskara menyesap teh hangatnya dengan santai, lalu menatap cucu pertamanya.
"Evan, Kakek panggil kamu untuk kasih penawaran," ucap Kakek Baskara membuka obrolan. "Kalau mau jabatan CEO dan semua fasilitasmu balik, ada syaratnya."
Evan menyipitkan mata waspada. Otak bisnisnya langsung berputar cepat, menebak jebakan apa lagi yang sudah disiapkan oleh orang tua berkuasa di depannya ini. "Apa syaratnya, Kek?"
"Ikut Aira kerja di bengkel."
"Bengkel?!" Evan tersentak. Alisnya bertaut dalam. Bayangan tempat kumuh dan bau bensin langsung memenuhi kepalanya. Bagaimana mungkin seorang pewaris Wirasena Group disuruh mengotori tangannya di tempat seperti itu?
"Ngapain?"
"Belajar kerja nyata."
"Aku tidak paham mesin, Kakek! Di sana kotor, bising, penuh oli."
"Justru karena kamu tidak paham, kamu harus ke sana," potong Kakek tegas.
Beliau mengetuk tongkat kayunya ke lantai marmer. "Selama ini kamu cuma tahu duduk manis di ruangan ber-AC, lihat angka, sama perintah orang. Kakek mau lihat kamu punya nyali atau tidak."
Evan mendengus pelan, merasa gengsinya tersenggol. "Ini tidak adil. Aku sudah memberikan seluruh waktu dan hidupku untuk memimpin Wirasena Group, tapi sekarang Kakek malah membuangku ke bengkel jalanan?"
"Tidak ada adil-adilan. Kakek minta kamu di sana satu minggu penuh."
"Satu minggu?!" desis Evan horor. Tujuh hari di tempat berdebu dan panas tanpa AC bisa bikin dia gila. Harga dirinya pasti hancur total jika sampai ada rekan bisnisnya yang melihat.
"Satu hari."
"Tidak bisa. Satu minggu."
"Dua hari," tawar Evan dingin, mencoba mempertahankan posisi tawarnya yang sudah di ujung tanduk.
"Tiga hari," potong Kakek mutlak. "Mulai besok pagi sampai lusa sore. Ambil atau jabatanmu Kakek coret selamanya."
Evan terdiam. Di dalam otaknya, dia menghitung cepat. Tiga hari masih jauh lebih mending daripada harus mendekam seminggu penuh di sana. Tiga hari adalah batas toleransi maksimal pertahanan tubuh dan mentalnya.
"Baik," jawab Evan ketus, mencoba menyembunyikan rasa leganya dibalik wajah datar. "Tiga hari. Tapi aku tidak mau sentuh kerjaan kotor seperti membersihkan ceceran oli hitam atau mengelap mesin mobil yang berkerak."
Kakek Baskara terkekeh puas. "Kita lihat besok. Jam tujuh pagi jangan terlambat."
*
*
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, halaman depan mansion sudah sepi karena Surya dan Helena sudah jalan subuh tadi menuju bandara.
Udara pagi yang dingin menusuk kulit, tapi ketegangan di antara dua orang. Di lobi paviliun timur, Aira sudah berdiri menunggu. Dia memakai wearpack kargo abu-abunya yang agak longgar, tapi justru bikin penampilannya kelihatan ramping dan tangguh.
Aira menoleh saat pintu paviliun terbuka, lalu memperhatikan penampilan Evan dengan tatapan tidak percaya.
Mantan CEO itu tampil beda hari ini. Dia memakai kemeja linen berwarna hitam santai yang lengannya di gunung asal sampai siku, dipadukan jins gelap dan sepatu kasual mahal. Kelihatan keren dan modis, tapi tetap terasa aura mahalnya.
Sebelum Aira sempat protes soal transportasi mereka, kakek Baskara mendadak muncul dari pintu utama mansion bersama Tama.
"Fasilitas mobil Evan masih Kakek sita," ujar Kakek Baskara lantang sambil menunjuk ke halaman. "Jadi, kalian berangkat bersama. Pakai motor itu." Kakek menunjuk lurus ke sebuah motor sport merah menyala hadiah dari Sean.
DEG.
Aira dan Evan langsung saling lirik dengan tatapan panik.
"Gue nggak mau bonceng lo, ya!" bisik Aira ketus.
"Siapa juga yang mau dibonceng gadis sepertimu?" balas Evan tidak kalah sinis. Pria itu langsung merebut kunci motor dari tangan Aira.
Tama segera melangkah maju mendekati mereka, menyodorkan dua buah helm. "Ini helmnya, Tuan Muda dan Nona Aira."
Evan menyambar helm hitam miliknya, lalu bergegas mendekati motor sport merah itu. Dia ingin segera menyudahi tatapan usil dari kakeknya yang sejak tadi tersenyum penuh arti.
Dia melangkahi jok depan dengan gerakan luwes, langsung memposisikan diri di balik kemudi. Mau tidak mau, Aira mendengus pasrah. Dia ikut naik ke jok belakang.
Begitu Aira duduk di belakangnya, posisi mereka mendadak jadi sangat dekat. Angin pagi meniup aroma parfum mint yang segar dari tubuh Aira, langsung menusuk indra penciuman Evan. Sialan, wangi ini membuat fokus Evan mendadak buyar dan dadanya terasa berdesir aneh. Bayangan bibir tipis Aira yang dia cium semalam langsung terlintas jelas tanpa bisa dia cegah.
Bahu Evan mendadak kaku. Dia mati-matian menatap lurus ke depan, enggan menoleh sedikit pun ke belakang.
"Jangan modus lo, ya! Awas kalau lo sengaja ngerem mendadak di jalanan nanti!" ketus Aira dari belakang. Kedua tangannya sengaja memegang besi pegangan motor paling ujung di belakang jok dengan sangat kuat agar tubuh mereka tidak menempel.
"Kamu yang jangan mengambil kesempatan. Duduk diam dan pegangan dengan benar kalau tidak mau terlempar ke aspal," balas Evan dingin dengan suara baritonnya yang tegas.
Pria itu langsung menekan tombol starter. Mesin motor sport merah berkapasitas besar itu raung keras dan bertenaga. Evan menarik gas perlahan, membawa kendaraan roda dua itu melaju cepat membelah jalanan pagi yang mulai ramai.
Melihat motor sport merah itu meluncur keluar dari gerbang, Kakek Baskara tersenyum penuh kemenangan.
"Tama, dengar saya," bisik sang Chairman.
"Selama tiga hari ini, kalau Evan telepon kamu buat minta jemput diam-diam atau mengeluh soal panas... tolak! Biarkan anak itu belajar mandiri dan tahu rasanya berjuang di dunia nyata tanpa bantuan uang."
Tama menahan tawa dalam hati sampai perutnya kaku, lalu membungkuk takzim mematuhi perintah rahasia bos besarnya. "Siap dilaksanakan, Tuan Besar!"